
Setelah makan bersama, Aisyah dan Damar pamit untuk pulang.
Alya dan Satria kini kembali tinggal berdua saja. Alya mencuci piring bekas makan keluarga, dan Satria membantu menatanya di rak.
"Sudahlah Mas, biar aku sendiri, mending kamu selesaikan aja tugas buat skripsi"
"Nggak apa-apa aku ingin membantu, biar lebih cepat selesai. kamu juga harus belajar."
Alya hanya tersenyum, membiarkan Satria yang keras kepala.
Saat asyik di dapur, tiba-tiba ponsel Satria berdering. "Mas, telepon kamu bunyi tu."
"Siapa lagi? pasti Dewo." ujar Satria.
"Angkat aja gih, siapa tahu penting."
Satria mengelap tangannya lalu mengambil ponsel di kamar.
"Hallo, siapa?" tanya Satria. Karena yang meneleponnya nomor baru.
"Hallo, Satria. lagi ngapain kamu?"
"Naina! kami kok tahu nomor aku?"
"Satria, kamu lupa ya, kamu itu pegawai papa, jadi semua identidas kamu ada di kantor."
"Oh iya aku lupa." Satria menggaruk rambutnya yang tak gatal. Alya melihat suaminya yang sedang telepon, sesekali melempar senyum dari kejauhan.
"Satria, aku cuma mau berterima kasih, tau nggak di jalan tadi panas banget, jadinya aku sedikit maksa kamu buat anterin."
"Iya, nggak apa-apa."
"Oh iya Sat, kamu lagi ngapain malam ini? kalau nggak sibuk mau nggak temenin aku makan malam, soalnya aku belum ada temen yang akrab di sini, baru kamu aja."
"Oh, makan malam ya, sorry! aku nggak bisa, aku habis makan banyak banget tadi. sekarangasih kenAng banget."
"Duh sayang banget ya, padahal aku lagi boring banget nie."
"Kenapa nggak ajak Bang Arka."
"Kamu ini gimana sih Sat, pengennya keluar sama kamu, tapi malah nyuruh pergi sama bang Arka."
"Iya, soalnya aku nggak mungkin bisa temenin kamu, aku sudah menikah Nay."
"Hahaha, kamu bercanda ya, aku tidak percaya, Satria kamu pikir aku anak kecil yang mudah kamu bodohin."
"Naina, aku sudah berkeluarga, jadi aku nggak bisa main sesuka hati, ada tanggung jawab yang harus aku penuhi. Ada hati yang harus aku jaga."
"Biar kamu percaya, aku panggilkan istriku ya," tantang Satria.
__ADS_1
"Boleh, mana istri kamu, aku pengen bicara."
"Alya, sini Sayang. Ada yang pengen kenal sama kamu." Satria mengangkat satu lengannya meminta Alya mendekat.
"Siapa Mas." Alya yang baru melepas celemek segera menghampiri suaminya.
"Namanya Naina, dia anak Pak Arya, yang aku ceritakan tadi siang. Sekarang dia jadi teman kantor aku juga."
"Naina? Jadi anak Pak Arya itu seorang wanita Mas."
Alya kini ingat satu hal, jadi Satria tadi siang telah mengantarkan seorang gadis dan membiarkan dirinya menunggu di gerbang kampus seorang diri.
Alya mengambil ponsel dari tangan Satria, dengan ragu dia mengucapkan beberapa kata. "Hallo Mbak Nai apa kabar?"
"Kabar aku baik, kabar kamu gimana? oh ya, apa benar kamu istri Satria?"
"Iya bener Mbak, saya istrinya. kami baru menikah dua bulan yang lalu."
"Wah selamat ya, pengantin baru nih, jadi nggak sabar pengen ketemu kamu, istri Satria pasti cantik."
"Mbak pasti juga sangat cantik, semua wanita di dunia ini cantik Mbak." kata Alya berusaha bersikap bijaksana.
"Yayaya, kamu memang benar, Wanita pasti cantik, kalau laki-laki baru tampan." kelakar Naina. "Boleh tahu siapa nama kamu?"
"Bisa panggil saya Alya saja, Mbak."
"Oh iya, aku masih mau beres-beres, Mbak masih mau bicara lagi sama suami saya?" tanya Alya.
Ayah mengembalikan ponsel Satria dengan raut wajah cemberut, Satria merasakan sebuah firasat yang buruk. Alya terlihat sedang cemburu.
Satria langsung mematikan ponselnya, dia tidak bicara walau sepatah kata. Dan mengejar Alya ke kamar tamu.
"Alya, kamu kenapa?" Satria merasakan sikap Alya tiba-tiba berubah.
"Aku baik-baik saja, Mas kenapa tidak bilang dari awal kalau anak pak Arya itu cewek."
"Kamu kan nggak tanya? Lagian mas nggak nutupin apapun dari kamu Alya, buktinya aku cerita sesungguhnya pada kamu apapun yang aku lakukan tadi siang, tidak ada yang aku tutupi lagi dengan status kita, kalau aku sudah menikah."
Alya terdiam, hanya saja dia tak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes.
"Tapi dia ada rasa sama kamu, Mas."
"Kamu tau darimana?"
"Buktinya dia ngajak kamu makan malam."
"Aku sudah menolaknya."
Alya makin tergugu sambil duduk di pinggiran ranjang, sedangkan Satria berdiri sambil bersandar dengan. kusen pintu.
__ADS_1
Melihat istri yang dicintainya menangis tanpa alasan ynag jelas Satria bingung apa yang harus dia lakukan.
Satria mendekati Alya dan membungkukkan badan, diraihnya kedua bahu seputih susu itu, sambil menatap bola mata yang selama ini dia kagumi.
"Aku hanya sayang sama kamu."
"Tapi aku tidak yakin kamu akan bertahan dengan setiap godaan di luar sana, Mas."
Dibelainya rambut hitam istrinya penuh kasih. "Ingat Alya, ucapan istri itu do'a. Do'akan yang baik supaya aku bisa melewati semuanya. Aku butuh kamu untuk mendampingiku, memberiku kekuatan dalam setiap langkah. Bukan air mata seperti ini. Bukan dengan terus mencurigaiku.
"Tapi Mas, kamu juga manusia, aku takut kamu akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Mas Aditya. Aku tidak akan sanggup jika semua itu terjadi. Aku tidak bisa menahan luka yang lebih menyakitkan lagi. Jika kemaren ada kamu yang jadi obat untuk lukaku, tapi esok ...."
"Alya pikiran kamu terlalu jauh, jika rasa takutmu itu membuatmu terluka dan terus menangis, biarlah besok aku berhenti saja."
Satria memeluk istrinya dengan erat. tangis Alya semakin histeris di pundak Satria.
"Cengeng, aku ngantuk, ayo kita tidur."
"Aku tidak ngantuk."
"Kalau gitu temani aku saja. Cukup duduk di sisiku"
"Tidak mau, aku lagi marah sama kamu, Mas. Karena telat bilang kalau anak bos itu seorang gadis."
"Iya aku minta maaf." Direngkuhnya tubuh Alya dan di bawa ke tempat peraduan yang ada di sebelah kamar tamu.
Alya bersandar di sisi ranjang sedangkan Satria duduk di depannya, mengusap mata istrinya yang basah.
"Jika kamu terus seperti ini. Baiklah besok aku akan cari kerja yang lain." Satria menarik selimut untuk menutupi tubuh Alya hingga sebatas dada. Lalu merebahkan diri di samping sang istri.
Tak lama Satria sudah terlelap. Alya makin sedih Satria malam ini melewatkan ritual yang selalu dia lakukan sebelum terlelap.
Alya memilih membaca artikel di ponselnya, tentang cara membuat pasangan sangat menyayangi wanitanya dan terhindar dari pelakor.
Banyak tips-tips bermanfaat yang Alya dapatkan. Seperti membuat suami selalu terkesan dengan istri hingga tak ada niat selingkuh, terutama memberi pelayanan saat makan, di ranjang dan dimanapun yang kiranya penting. jika suami merasa dirinya diperlakukan spesial, maka dia akan membalasnya jauh lebih spesial.
"Yang, kok belum tidur juga. Taruh ponselnya, entar mata kamu sakit loh." Satria mengambil ponsel Alya dan menaruh diatas nakas. Direngkuhnya tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan dan mereka berdua kini berada dalam naungan selimut yang sama.
"Mas kamu nggak minta malam ini?"
"Aku takut kamu menolak, mood kamu kan lagi buruk."
"Siapa bilang, aku baik-baik saja, Mas. maaf jika aku kekanakan."
"Jadi malam ini aku boleh minta nieh?" Satria langsung bangkit dan terlihat bersemangat.
"Boleh Mas, itu hak kamu, selagi aku tidak halangan kami bisa minta setiap saat." Satria mengecup puncak kepala istrinya yang wangi.
Satria lalu menarik tangan Alya kedalam selimut, menyentuhkan pada basoka saktinya yang menegang bagai pentungan satpam. "Sejak tadi sebenarnya aku juga belum tidur, dia nggak mau tidur sebelum ketemu sama si cantik."
__ADS_1
Alya tersenyum mendengar sebutan baru untuk miliknya.