
"Sayang kau akan jadi papa," kata Alya ketika dalam pangkuan Satria. Alya semakin manja ketika tahu dirinya hamil. Selalu pengennya ada di dekat Satria.
Karena saking senangnya Satria segara menghubungi keluarga dan mertuanya. mereka melakukan panggilan dengan videocall bersama.
Aditya ikut serta dalam video call. Aditya juga nampak bahagia.
"Selamat Satria akhirnya kamu dan Alya akan memiliki buah hati."
"Iya Mas, Alhamdulilah sudah dipercaya sama yang kuasa," kata Satria.
"Alya kamu ngidam apa?" tanya Aditya pada Satria.
"Belum ada ngidam Mas, masih mual saja."
"Kalau ngidam jangan yang mudah ya, ke'enakan tu calon papa kamu kalau kamu ngidamnya mudah di dapat."
Sontak semua keluarga tertawa mendengar ucapan Aditya yang agak aneh di dengar.
"Jangan dengerin paman kamu ya, Nak. Ngidamnya yang mudah aja, biar papa nggak susah carinya." Satria mengelus perut rata Alya dan mengecup pipi istrinya.
"Mas Aditiya kapan cari ibu untuk cahaya?" tanya Alya.
"Entahlah belum kepikiran nikah lagi, lihat kalian berdua bahagia, kayaknya aku sudah bahagia," kata Aditya terdengar bijak.
"Mas, aku doakan kamu supaya lekas dapat pengganti wanita yang terbaik, Mas Aditya juga berhak bahagia,"kata cicit Alya terlihat sedih
"Entahlah, untuk saat ini aku fokus pada cahaya, untuk sosok seorang istri aku akan tetap mencari, seiring berjalannya waktu, aku pasti akan menemukan," kata Aditya yang membuat Satria merasakan hatinya sedikit teriris.
Satria kasihan pada sang kakak yang betah menduda.
"Satria, kehamilan istrimu masih sangat muda, kalian nggak boleh begituan sering-sering."Bunda Aisyah tiba-tiba ikut bicara, obrolan tentang masalah hati harus segera diakhiri
"Bunda bicaranya yang jelas donk, begituan apa sih?" Satria sudah mengerti hanya saja dia suka menggoda
"Kamu jangan pura pura nggak tahu, pokoknya pesan bunda ini diingat, justru kalau Alya sudah hamil tua kalian boleh main sering."
"Duh bunda, Satria sudah tahu, dikasih tahu sama dokter kemaren, Satria pasti akan jaga calon cucu bunda dengan baik."
"Benar ya, awas kalau kamu tidak jaga Alya dan calon bayi kalian dengan baik, itu cucu pertama bunda, Sat."
"Bunda, kan cahaya cucu pertama bunda." protes Aditya, wajahnya terlihat kesal.
"Iya, Sayang, maksud bunda itu cucu dari darah daging putra bunda yang pertama."
__ADS_1
"Kenapa bunda nggak anggap cahaya itu sudah seperti cucu kandung saja, kan tidak susah.
"iya, iya, maaf bunda salah bicara."
"Alya, Satria, Mas ke kamar dulu ya, temani Cahaya," kata Aditya yang terlihat sedikit tersinggung dengan ucapan bunda.
"Iya Mas, Mas maafin Satria ya kalau ada salah."
"Yang banyak salah itu aku, Sat, mas doakan kamu dan Alya akan terus bersama dan bahagia bersama anak cucu kalian. Kalian akan bersama sampai Nini dan Kakek.
"Aditya, Umi doakan kamu dapat pengganti Alya yang lebih baik dari Alya Nak Adit. Sudah biarin saja Alya sama Satria, Alya itu manja emang cocoknya sama Satria aja." kata umi menghibur Aditya.
"Iya Umi, harusnya dulu umi melahirkan satu lagi anak gadis biar nikah sama Aditya," canda Aditya.
"Nisa saja kamu ini Adit.
Satria, bunda, aditya dan umi memilih mengakhiri obrolan. karena mereka harus segera tidur, sedangkan Aditya harus lembur.
karena selisih waktu Korea dan indonesia hanya dua jam saja.
Satria sekarang harus bekerja meski mengerjakan pekerjaan di ruang kerja yang ada di kamar hotel. Karena tahu Alya hamil, Satria lebih semangat bekerja.
Satria segera membuat desain dan mulai merancang bangunan terindah untuk calon apartemen senilai ratusan milyar itu.
sedangkan Alya akan membuka klinik pribadi khusus untuk anak dan ibu hamil.
_
Naina murung dalam kamar, dia bingung apa yang harus dikatakan pada orang tuanya, tadinya ingin merebut hati Satria, dengan menjauhkan dari Alya, justru semua rencana itu malah mengantarkan mereka honey moon. Bagaimana tidak, Alya menyusul Satria dan dia selalu bersama setiap saat.
"Naina aku bawakan teh hangat untukmu," Arka membuyarkan lamunan Naina.
"Buat apa? teh aku juga bisa buat sendiri," jawab Naina ketus
"Untuk memberimu rasa hangat."
"Naina, sampai kapan kau terus menolak aku seperti ini?" Arka duduk nyaris bersimpuh di depan Wanita yang kini tengah gundah itu.
"Apakah anak kita baik-baik saja disini?"
"Naina hanya diam saja. Dia masih bingung apa yang harus dilakukan pada dirinya, pergi jauh, namun ada janin Arka yang tumbuh di rahimnya.
"Mas Arka apakah kau bisa menerimaku? disaat aku belum mencintai dirimu?"
__ADS_1
"Apakah bisa bersabar menghadapi semua sikapku?" Naina bertanya dengan tatapan kosong.
"Tenanglah, berlahan aku akan membuatmu jatuh cinta. Anak di dalam rahimmu berlahan yang akan menyatukan kita."
Arka menyodorkan teh dan Naina menyesap tanpa menyentuh gelasnya
Dia terus saja mual, dan saat ada Arka disisinya rasa itu bisa berkurang. Naina jadi berfikir kalau bayi itu ingin di dekat calon papanya.
Naina seperti kehilangan kesempatan untuk mencari suami idaman bagi dirinya. Mau tidak mau dia harus menerima lamaran Arka.
Melihat Naina lelah duduk di sofa, Arka berinisiatif membawanya ke ranjang, menidurkan Naina dan nenarik selimut untuk menutup tubuh yang terlihat tak ada selera makan itu.
"Nay apakah kita pulang saja?" aku akan memintamu langsung pada Pak Arya? aku akan menikahimu secepatnya sebelum rahasia kehamilanku tersebar di kantor.
Naina mengangguk. " jika itu memang terbaik." kata Naina pasrah. Naina juga sudah mengantuk, tiba tiba Naina memiliki keinginan tidur dengan kepala dibelai Arka.
"Apa ini juga keinginan si bayi?" kenapa jika aku tidak cinta aku ingin dibelai lelaki ini."
"Ya sudah tidurlah, aku akan menunggumu sampai lelap, biarlah aku duduk di sofa." Arka takut Naina terganggu dengan keberadaan dirinya didekatnya.
Arka beranjak tapi Naina mencegah lengan kekar itu itu pergi.
Aku ingin kamu disini saja, tapi jangan terlalu percaya diri kalau aku sudah mencintaimu, ini hanya keinginan sang bayi.
Tentu dengan senang hati Arka menerima permintaan Naina.
Lelaki itu segera duduk di dekat Naina dan mulai membelai rambut wanita yang lama dicintai itu dengan sentuhan lembut.
"Naina, apakah meminta dibelai seperto ini?" Arka mulai mengelus rambut lembut warna pirang itu berlahan.
"Iya seperti itu, lakukan sampai aku tertidur." jawab Naina sambil menatap lelaki yang juga menatapnya.
Kelopak mata Naina berlahan mengatup, Arka mengira Naina sudah tidur. lelaki itu harus segera pergi. Dia tidak mau kesalahan yang terjadi terulang lagi. Ya! jujur Arka tidak bisa melupakan malam itu, darahnya berdesir kencang saat mengingat malam itu.
Sekuat hati Arka akan menahan sampai Naina memberi izin untuk menyentuhnya lagi.
Arka memindahkan kepala Naina yang ada diatas pahanya dengan lembut ke bantal. Arka harus pergi, saat ini juga sebelum semakin tersiksa dengan benda yang mengembung membuat celananya sesak.
*Maaf ya, Seyengnya emak. Kemaren libur update dua hari. tani sebelumnya sudah update banyak kan.
* Cerita ini akan tamat beberapa bab lagi. Tapi tenang emak sudah siapkan cerita baru, yang akan up beberapa hari lagi.
Sekretaris Nakal ( Balas Dendam)
__ADS_1