
"Sat masuk dulu yuk!" Ajak Naina.
"Enggak lain kali aja ya, aku buru-buru."
"Bentar doang." Naina menahan lengan Satria.
"Aku sudah ditunggu sejak tadi, maaf Nai aku pergi dulu ya." Satria segera menancap gas motornya dan melaju menuju kampus UNIBRAW.
Satria terus saja berdoa dalam hati semoga Alya tidak marah.
Sampai di depan kampus, Satria segera menghentikan motornya. Firasatnya mulai tak enak, melihat pintu keluar kampus yang mulai senyap.
Satria segera menghubungi Alya. lelaki itu sempat terkejut, ternyata Alya sudah menelepon puluhan kali.
Satria kini yamg dibuat panik, Alya tak kunjung menerima panggilannya.
"Alya, kamu sudah dimana? Kamu pasti kesal nunggu aku lama. maaf ya. Sekarang aku sudah di depan kampus, tapi kamu nggak ada, aku pulang ya, kita bertemu di rumah." Satria terpaksa meninggalkan pesan suara.
Sampai di kontrakan Satria tenang melihat sepatu Alya sudah bertengger di dekat garasi. Satria senang Alya baik-baik saja.
"Sayang! Alya! kamu dimana?" Satria teriak-teriak memanggil istrinya.
Alya tidak mendengar karena wanita itu berada di kamar mandi menggunakan shower.
Satria tahu Alya baru tiba. Satria segera membuka kulkas dan membuat minuman segar untuk istrinya.
Melihat di meja hanya ada Nasi. Satria segera mengeksekusi telor dan mi instan. Setelah semuanya siap Satria segera bersembunyi di balik tirai.
Alya masih menyelesaikan lulur dan rangkaian mandi lainnya selama hampir tiga puluh menit, Alya segera mencari handuk. "Tuhan, aku lupa membawa handuk." lirih Alya.
Alya tadi buru-buru ke kamar tanpa sehelai benang, Satria terkejut melihat tingkah istrinya ketika sedang sendiri di rumah.
Takut Alya malu Satria hanya diam dalam persembunyiannya. Setelah Alya Memakai baju santai, barulah Satria keluar.
"Sayang!" Satria memeluk Alya yang sedang bercermin.
"Mas, kapan kamu pulang?" Alya terkejut suaminya sudah menanggalkan semua seragam kantor dan menyisakan celana pendek serta bertel*njang dada.
"Lumayan lama." jawabnya singkat sambil mengecupi tengkuk istrinya yang wangi. "Aku tadi melihat anda yang sangat seksi Nona."
"Mas, jadi kau!" Alya membalikkan badan dan memukul dada bidang suaminya terakhir Alya mencubit tonjolan hitam di dada suaminya.
"Suami nakal."
"Istri ceroboh, tidak mengunci pintu depan tapi mondar mandir tanpa baju seperti tadi, atau memang sengaja menggodaku. Ayo katakan kau sudah tahu aku datang kan?"
"Siapa yang menggoda? jujur aku tidak tahu kalau kamu sudah pulang, Mas." Alya menempelkan kepala di dada suami, sengaja agar wajahnya tak terlihat. Dia sangat malu. Satria melihat semuanya dalam keadaan hari masih terang-benderang.
Mereka berdua terdiam untuk sesaat, tidak ada yang bersuara. Tiba-tiba ingatan Alya kembali pada Satria yang tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Mas kamu tadi mampir kemana? aku hubungi tidak bisa, aku tadi sangat panik." Alya mendongak menatap wajah tampan suaminya yang terlihat kebingungan.
"Aku, aku, baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir." Satria memeluk Alya makin erat, mencium keningnya berulang kali."
"Apa ban kamu kempes, Mas? atau kenapa?" cecar Alya.
"Aku tadi mengantar anak Pak Arya lebih dulu. Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi aku sudah meluncur ke arah kampus, dan tidak sengaja kita bertemu di jalan dan dia meminta aku berhenti, Jujur aku tadi sempat bingung." Satria menjelaskan dengan raut bersalah.
"Tidak apa -apa Mas, aku mengerti posisi kamu pasti bingung banget, apalagi dia anak atasan kamu."
Alya lega ternyata suaminya mengantar anak bosnya, tanpa Alya tahu kalau anak bos yang dimaksud itu seorang wanita. Alya mengira dia seorang laki-laki seusianya.
"Kamu nggak marah Al?"
"Ya enggak lah Mas, apa yang kamu lakukan itu sudah benar, aku pasti akan melakukan hal yang sama jika di posisi kamu saat itu, cuma jangan sering-sering, aku juga ingin diperhatikan sama kamu Mas."
"IngsaAllah, Nggak." Satria mengecup jemari Alya yang tersemat cincin pernikahan di salah satunya.
"Mas, cincin kamu mana?"
"Iya, ada kok, nanti aku pakai." Sepertinya memakai cincin pernikahan ide yang bagus, dengan begitu Naina akan tahu kalau kalau dia sudah menikah.
"Yang aku lapar," Rengek Satria manja.
"Bentar aku masakim dulu, tapi aku belum belanja Mas adanya cuma mie sama telor."
"Sudah nggak apa, uangnya habis ya?" tebak Satria.
"Nggak apa-apa seadanya aja, besok kalau gajian kita makan enak." Satria menggandeng Alya ke ruang makan. Alya terkejut melihat masakan sudah siap."
"Kamu yang masak semuanya, Mas."
"Nggak." Satria menggoda istrinya.
"Aaaaa, maaf ya, aku tadi niatnya mau m mandi dulu, baru masak."
"Nggak apa-apa, sekarang sudah matang. kita makan seadanya ya." Satria menatap Alya penuh rasa kasihan.
"Mas, nggak usah sedih gitu, ini udah enak banget kok. kemaren aku masih makan gurami bakar, dan kamu makan bebek goreng. Nggak apa-apa sekali-kali makan sederhana, biar kita jadi sering-sering bersyukur pas dikasih kenikmatan."
"Pinter banget istriku." Satria mengacak rambut hitam Alya. Alya merapikan rambutnya kembali menyisir dengan jarinya.
Mereka berdua kini memulai makan. mie dan telor ceplok, menu andalan malam ini.
Ting! Tung!
"Mas, kayaknya ada tamu, deh." Alya urung melahap mie.
"Siapa ya, kamu ada janji sama Dewi." Satria balik tanya.
__ADS_1
"Nggak, kok. lusa dia baru bisa kesini, lihat rumah kita."
"Kontrakan Kita." protes Satria.
"Iya, sama aja," gerutu Alya.
Alya meminta Satria meneruskan makannya. Alya sendiri yang akan membukakan pintu.
"Alyaaaaa!"
"Ayah! bunda!" pekik Alya. Mereka berpelukan penuh kerinduan, padahal baru dua hari Alya dan Satria menempati kontrakan barunya.
"Alya, bunda kangen kamu sayang." seolah tak puas bunda mencium pipi menantunya, kini memeluk tubuh Alya sangat lama.
"Ayah, makasi sudah datang."
"Ayah dan bundamu semalam nggak bisa tidur, Kepikiran kalian terus, apalagi Satria tak mau menerima bantuan apapun dari kami," tutur Damar usai tangannya di cium oleh Alya.
"Masuk Yah, bunda." Alya segera mempersilahkan mertuanya duduk di ruang tamu.
"Satria mana Alya?"
"Mas, ada Bunda, sama Ayah!" pekik Alya dari ruang tamu yang sudah pasti di dengar oleh Satria karena jaraknya tak terlalu jauh. "Mas, lagi makan bunda."
Tak lama Satria keluar. "Bunda kok nggak ngomong mau kesini."
"Nggak surprize donk kalau mau kesini bilang dulu." kata bunda sambil menelisik kontrakan anaknya yang kecil tapi rapi.
"Satria, gaji pertama kamu lumayan banyak ya, bisa beli perhiasan untuk ibuk, untuk Alya, masih bisa untuk ngontrak."
"Alhamdulilah Ayah, Bunda, semua karena do'a kalian, bukankah bunda selalu bilang kalau kita menikah karena Allah, maka Allah akan memberi kita rezeki yang tak pernah putus , dan ridho istri membuka pintu rezeki bagi suami."
"Iya, Sat, dan sekarang terbukti kan, kamu sudah dapat pekerjaan meski belum wisuda?"
"Oh iya, sayang sekali kamu sudah makan Sat, padahal bunda tadi bawakan kamu masakan kesukaan kamu dan Alya, banyak banget."
"Nggak apa-apa bunda. perut Satria masih muat kok, kita makan lagi aja." ujar Satria.
"Ya udah kalau masih muat, kita makan lagi aja, tapi Sat itu perut apa gentong. waktu kita datang kata Alya kamu masih makan.
"Ya Allah Bunda, Satria cuma makan mie tadi."
"Apa cuma makan mie," kata Bunda terkejut.
"Iya Bunda, aku dan Alya baru pulang, jadi ca makan mie"
"Alya, Satria, nggak boleh sering sering ya"
"Iya Bunda. Baru sore ini aja kok."
__ADS_1
Mereka berempat segera menuju ruang makan dengan perasaan gembira.
Alya segera mengambil empat piring dari rak kecil. dan tak lupa membuat es sirup di sebuah teko.