Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Tinggal di kontrakan baru.


__ADS_3

"Rendi, aku lelah." Kinan mulai lelah karena Rendi tak memberinya waktu istirahat yang cukup.


"Kamu diam saja, biar aku yang bekerja. kamu cukup nikmati saja, bukankah ini yang kamu inginkan dari suamimu."


Rendi melakukannya dengan pelan, karena dia tidak mau menyakiti bayi Kinan. Kinan nampak menurut saja dengan apa yang dikatakan Rendi.


Nyaris semalam mereka tak tidur karena Rendi bekerja keras membantu Kinan membuat jalan lahir untuk anaknya.


Keesokan hari, Kinan bersiap untuk pulang. Namun tubuhnya terasa letih, untuk bergerak saja rasanya malas.


Rendi yang sudah selesai mandi segera memberikan Kinan handuk.


"Mandilah, lalu aku antar kamu pulang, aku khawatir Aditya akan menyusul ke rumah orangtuamu. Jika tak menemukanmu disana, pasti akan ada prahara."


"Kamu kira Adit akan mencariku seolah aku adalah istri yang dia damba, dan dia akan panik setelah aku tak ada di rumah bapak, Kamu salah besar."


"Aditya mungkin saat ini sedang kelelahan dan tidur pulas bersama mantannya" kata Kinan kesal.


"Sudah jangan kesal, bukankah semalam kamu sudah membalasnya dengan kejam" Rendi mengungkung tubuh Kinan dan mengecup bibirnya. Kinan mendorong laki-laki itu karena pagi ini gairahnya sudah hilang setelah tersalurkan semalam.


Kinan bangkit dari ranjang dan segera mandi lalu bersiap untuk pulang.


Sedangkan Rendi sudah kembali dari luar rumah dengan membawa dua bungkus nasi.


"Sarapan dulu, habis itu aku antar ke rumah suamimu."


"Makasi Ren, kamu sudah jadi teman curhatku."


Rendi mengangguk. "Kinan, aku mau tanya sama kamu, aku tanya begini karena masih sayang dan perhatian sama kamu." ujar Rendi di sela -sela makannya.


"Aku sampai detik ini masih sayang sama kamu, jika butuh teman curhat langsung aja datang kesini, tapi tentu saja dengan main cantik, aku tidak mau suami kamu tau semuanya dan membuat hidupku makin sulit."


"kamu tenang saja dia tidak akan perduli dengan hidupku."


Usai sarapan dan santai sejenak, Kinan akhirnya diantar oleh Rendi pulang, Rendi segera memakai seragam ojol dan mengeluarkan motornya.


Setelah tiga puluh menit dalam perjalanan Kinan sudah sampai. Rendi segera pamit pada Kinan dan Wanita hamil itu buru-buru masuk.


Aditya mengintip Kinan yang baru saja turun dari boncengan ojol lewat jendela atas, dia sama sekali tak ingin marah dengan Kinan yang membohonginya. Aditya tahu Kinan tak akan pernah berubah.


"Mas Aditya aku pulang." Kinan mengetuk kamar Aditya.


"Hem. baguslah, kukira kamu nggak akan kembali lagi." jawab Aditya membuka pintu lalu berbaring lagi.


"Mas, kamu kenapa?" Kinan terkejut melihat Aditya babak belur.


Aditya enggan menjawab. dia memilih memainkan benda pipih miliknya.


***

__ADS_1


Alya dan Satria sudah menemukan kontrakan, meski bisa dibilang sederhana. letaknya tidak jauh dari kampus dan tempat kerja Satria.


Untuk sampai kampus bisa ditempuh dengan waktu 10 menit, untuk sampai perusahaan bisa ditempuh dengan jarak 20 menit.


"Pak ini baru saya DP dulu ya, untuk bayar kurang nya bagaimana kalau bulan depan."


"Oh, nggak apa apa Mas, bulan depan tapi janji dilunasin ya."


"Hehehe, iya Ingsaallah saya akan lunasi bulan depan semuanya."


Satria memberikan uang yang diambil dari tangan Alya sebesar sepuluh juta, masih kurang sepuluh juta lagi.


"Gimana? suka kan sama rumahnya?" tanya pemilik kontrakan, usai melihat-lihat setiap ruangan.


"Suka Pak. kelihatannya nyaman." Satria merengkuh pundak Alya. Alya juga mengangguk.


Usai pemilik kontrakan pergi, Alya segera masuk ke kamar dan menata baju Satria dan miliknya ke dalam lemari.


Satria melepas kemeja dan celananya hingga meninggalkan celana pendek dan kaos tanpa lengan warna putih.


"Mas mau mandi? bentar aku belikan sabun dulu."


Satria mengangguk. "Uangnya apa masih ada? kalau masih sekalian beli beras, dan kebutuhan dapur."


"Iya, masih ada, Mas." Alya tersenyum lalu meninggalkan baju yang belum selesai di tata.


"Kenapa minta maaf, Mas."


"Kamu harus merasakan hidup susah seperti ini, karena aku menikahimu."


"Siapa bilang hidupku susah Mas, justru aku sangat bahagia bersama kamu." jawab Alya, lagi-lagi dengan senyum manisnya.


Satria meneruskan pekerjaan Alya menata baju ke dalam lemari, sedangkan Alya mencari warung terdekat yang jualan sembako.


Alya menemukan warung sederhana yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


"Mau beli apa, Neng," sapa penjual.


"Bu, saya, mau beli beras dua kilo, minyak satu kilo dan gula satu kilo."


Ibu penjual dengan cepat mengambilkan belanja yang diucapkan Alya.


"Nambah apa lagi Neng!"


"Sabun satu hampir lupa Bu, sekalian sikat gigi dan pasta gigi."


"Sudah Neng, semua totalnya seratus ribu," kata ibu penjual.


"Makasi Bu." Alya segera membawa pulang dua kantong kresek belanjaan berisi kebutuhan pokok.

__ADS_1


Belum terlampau jauh, ibu penjual itu terus mengamati wajah cantik Alya. "Warga baru ya Neng."


"Iya Bu, kenalkan saya Alya, dan suami saya namanya Satria. Saya tinggal di gang dua ini juga. Permisi Bu." Alya pamit dengan sopan.


Alya harus berhemat sampai Satria gajian, karena semua ini dia yang minta, dia yang ingin segera tinggal di kontrakan.


Sampai di rumah Alya segera memberikan perlengkapan mandi pada Satria, Alya melihat baju sudah tertata rapi di lemari, dia sangat senang.


"Mas, karena kamu sudah menata baju, sekarang aku masak ya. Nanti sayur dan ikannya take away dulu."


"Iya, terserah kamu aja, Mas."


Alya segera menyalakan magic com kecil yang dibawa dari rumah, hadiah pernikahan dari saudaranya waktu itu. Ternyata sekarang sangat bermanfaat.


Dua puluh menit kemudian nasi sudah matang, Satria juga sudah segar dan makin tampan, usai mandi.


Satria menyusul Alya ke dapur dan memeluk dari belakang. " kamu wangi banget, Mas."


"Iya, katanya disuruh keluar beli sayur jadi sama lauk."


"Kalau mau ikut kamu juga mandi sana, biar segar, pasti capek ya, seharian berberes."


"Biar capek, tapi senang Mas."


"Sama, aku juga lebih tenang, semoga setelah ini kamu cepat hamil ya, Aku nggak sabar pengen jadi papa."


Alya hanya tersenyum, membiarkan Satria terus memeluknya dan mengelus perutnya.


"Jangan dipeluk terus Mas, kapan aku mandinya." Alya membalikkan tubuhnya dan kedua tangannya bergelayut manja di tengkuk Satria.


Satria mendudukkan Alya di meja makan, mencium bibirnya. Alya membalas dengan agresif ciuman Satria.


"Sayang aku bantu lepas bajunya ya."


"Nggak mau ah, modus. Entar malam aja baru boleh di bantuin. Sekarang masih bisa sendiri."


Alya melepaskan diri dari jeratan Satria, kalau sampai terperdaya rayuan maut suaminya , bisa-bisa warung yang akan didatangi keburu tutup.


Setelah Selesai mandi singkat Alya segera memakai make'up tipis dan memakai gamis serta jilbab segi empat. Meski pakaian yang dikenakan sederhana. Namun, Alya nampak cantik.


Satria sesaat terkesima dengan penampilan Alya, seakan tak rela mengajaknya keluar, karena diluar sana akan ada banyak mata lelaki yang ikut menikmati pesona istrinya.


Alya sudah tak ragu lagi berpegangan erat di pinggang Satria saat naik motor, bahkan tak menyisakan jarak walaupun satu senti.


"Duh, punggungku bisa-bisa bolong nie." Satria menggoda Alya ketika dia bukit menyentuh punggungnya.


"Ih, sebel sama kamu, Mas." Alya menggeser duduknya.


*Buat teman yang suka cerita ini bisa kasih Vote.

__ADS_1


__ADS_2