Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Wanita masalalu.


__ADS_3

"Aaaa." Alya mengejan sangat panjang, membuat Satria semakin iba. lelaki itu ikut menangis, melihat betapa payahnya perjuangan wanita dalam melahirkan bayi.


"Kamu pasti bisa. Sayang," ucap Satria lirih sambil terus mengusap rambut Alya yang tergerai. Kerudungnya entah sudah dimana.


"Dokter apakah masih lama?" tanya Satria sambil menyeka keringat dan matanya mulai bengkak.


"Tidak, bayinya sudah terlihat, Ayo Nona mengejan lagi."


"Aaaaa." Alya mengikuti instruksi dari Dokter dan tak lama terdengar tangis bayi menggema.


"oeeeee, oeeee." Si mungil menangis sangat kencang.


Alya mengambil nafas dalam lalu menghembuskan lega.


Satria segera mengambil segelas air putih supaya Alya segera meminumnya.


"Minum Sayang," pinta Satria.


"Alya mengangguk, lalu meneguk satu gelas air putih hingga tandas ke perutnya.


"Bayi anda sangat tampan, Mas Satria," kata Dokter.


"Boleh aku melihatnya, Dokter?" pinta Alya dan Satria nyaris bersama.


Alya tersenyum melihat bayinya yang begitu tampan, mereka mirip dirinya dan juga Satria.


"Kombinasi kita berdua, Mas."kata Alya.


"Iya." Satria mengecup pipinya lembut. Lalu mengecup puncak kepala Alya.


"Biar saya bersihkan dulu, setelah itu bayi harus diazdani ." kata Dokter membawa si mungil pergi.


Dokter segera membawa bayi Satria untuk dibersihkan, lalu di bedong. Perawat membantu Dokter, dia tak henti mengagumi bayi mungil itu.


Diruang bersalin, Alya memberitahukan sesuatu pada Satria. Sesuatu yang sejak tadi ingin dia katakan.


"Mas, kenapa aku merasa mengenali suara dokter itu, entah dimana, aku merasa tidak asing." Alya berfikir keras


"Iya, aku juga merasakan hal sama."


"Mas, lihat dia, mungkin saja dia akan melepas maskernya saat berdua dengan bayi kita, aku jadi khawatir dengan bayi kita, bagaimana kalau dia Elisa." Alya takut kejadian buruk akan menimpa buah hatinya.


Satria segera menyusul ke ruang khusus bayi, menemui dokter dan juga bayinya yang sudah bersih.


Benar, dokter itu mencoba berbicara dengan si kecil dan dia terlihat begitu gemas.


"Rosa!"

__ADS_1


"Eh, Sat. kamu kesini."


"Iya, aku kesini karena aku tadi ...."


"Selamat ya Satria, bayi kamu tampan, mirip kamu."


"Iya Rosa, makasi yah? kamu sekarang berubah ya."


Rosa tak mengerti apa maksud 'berubah' yang diucap oleh Satria.


"Kamu berubah gak kayak dulu lagi, setiap ketemu teman langsung nyapa, nah sejak tadi kita sudah satu ruangan, tapi kamu malah kek menutup diri gitu."


"Jadi sejak tadi kamu sudah tahu itu aku?"


" Nggak yakin sih, habis kamu sekarang beda," kata Satria.


"Beda gimana?"


"Kamu makin dewasa dan cantik."


Rosa terkekeh. "Gombal tau nggak Sat. kamu yang sekarang lebih banyak berubah, kamu sudah jadi Arsitek, sekaligus pengusaha sukses, padahal kamu dulu itu suka banget bolos," kata Rosa sambil memberikan si kecil ke gendongan Satria.


"Kamu masih inget aja. Oh iya kamu dah nikah belum?"


Rosa terdiam. 'Mana bisa aku lupain kamu dan menikah dengan pria lain Sat, sampai detik ini saja, aku masih sangat cinta dan sayang sama kamu. Aku nggak nikah kayaknya nggak masalah deh, asal lihat kamu bahagia kayak gini.'


"Belum kepikiran, aku masih enjoy sendiri gini aja dulu, lagipula mana ada cowok yang mau sama gadis susah move'on kayak aku. Sampai detik cuma ada nama kamu Sat dihati ini. Sedangkan kamu sudah bahagia dengan yang lain," kata Rosa jujur, terlihat airmatanya berkaca-kaca.


"Rosa, kamu tau kan kita nggak mungkin bersama, Alya sudah beri aku buah hati, perhatian, cinta dan semuanya. Rasanya seumur hidup aku harus tetap mencintai dia seorang, hanya dia." kata Satria sambil mengendong si kecil ke ruang bayi. Satria akan mengazdani di depan Alya, Satria juga mau si kecil segera meneguk asi pertama yang diyakini mengandung kekebalan untuk si kecil.


Rosa mengekor di belakang Satria, kali ini dia tidak memakai penutup mulut lagi.


Di ruang bersalin Alya sudah menunggu Satria dan bayinya. Alya sedikit terkejut melihat wanita dibelakang Satria adalah Rosa.


"Mas." Alya memanggil Satria, terlihat wajah Alya langsung berubah begitu melihat Rosa. Alya tahu Rosa adalah wanita yang pernah ada di hati Satria, dan begitu sebaliknya.


"Alya, kamu harus menyusui bayi kamu, dia sepertinya sudah haus." Rosa menyentuhkan jemari ke bibir si kecil yang ada di gendongan Satria, hibir si kecil segera mengejar jemari Rosa.


"Alya, selamat ya, bayi kamu lucu dan tampan." kata Rosa.


"Makasi Rosa." Alya tersenyum.


"Satria, segera mengadzani putranya di telinga kanan, Rosa dan Alya mendengarkan sambil menunggu. Setelah selesai Rosa segera membantu Alya menyusui bayinya.


Bayi sehat itu segera menyusu dengan lahap, Alya sesekali meringis geli.


"Sayang, sisain buat papa satu ya, jangan diambil semuanya," ujar Satria sambil mengelus rambut si kecil.

__ADS_1


Rosa dan Alya tertawa. "Dasar kamu, nggak mau ngalah sama anak sendiri." Rosa mencebikkan bibirnya.


"Ya sudah karena Si kecil sudah bersih, aku akan kasih tahu ke Tante Aisyah dan keluarga Alya supaya segera masuk. mereka pasti sudah nggak sabar lihat cucu yang sudah ditunggu selama berbulan bulan."


"Rosa, makasi ya, sudah bantu aku lahiran." kata Alya kemudian.


"Sudah tugas aku Alya, lagi pula aku dibayar, sama pihak rumah sakit hehehe."


"Iya, tapi kamu tetep aja sudah nolong nyawa aku. kamu sudah sabar banget ngadepin aku yang cengeng tadi," kata Alya malu.


Rosa memilih keluar, meninggalkan Alya dan Satria yang kini tengah berbahagia bersama putranya.


Mungkin karena kurang fokus dengan jalanan, saat di belokan Rosa tanpa sengaja menabrak seorang lelaki yang tak lain Aditya.


"Dokter ma-ma-af. Kamu tidak apa apa?" kata Aditya sambil memegangi keningnya yang sakit.


"Ti-tidak, aku yang harusnya minta maaf. aku sedang kurang fokus tadi." Rosa juga melakukan hal yang sama keningnya sepertinya akan membiru.


"Dokter melamun ya?" tanya Aditya.


"Hehe iya."


"Dokter aku tadi sebenarnya mau cari Anda, beberapa hari ini putriku diare, apa anda bisa membantu saya memeriksa dia."


"Bisa, dimana putri anda?" Biar aku periksa."


"Terima kasih Dokter, dia masih ada di mobil, biar langsung aku bawa ke UGD."


"Baik aku akan segera kesana. tolong anda ikut bersamaku."


Di UGD, Cahaya nampak lemas di gendongan pengasuh. Rosa segera menyuntikkan jarum infus ke tangan si kecil.


Rosa takut bayi yang tubuhnya sudah berubah pucat dan kuning itu mengalami dehidrasi.


Setelah selesai diberi cairan tubuh dan obat, Cahaya lalu tidur dengan pulas.


"Dimana ibu si kecil?" tanya Dokter Rosa.


"Kami sudah bercerai."


"Kasian ya, padahal dia butuh kasih sayang kalian berdua."


"Ya, gimana lagi, diantara kita tidak ada kecocokan, kita beda prinsip. Dan rumah tangga kami begitu hambar."


"Ya, susah memang kalau bicara soal hati." kata Rosa sambil tersenyum ke arah Aditya.


#jangan lupa mampir di karya emak yang baru juga ya.

__ADS_1



__ADS_2