
Beberapa hari telah berlalu, kini kondisi Naina sudah lebih baik, Naina sudah bisa berjalan normal.
Arka dan Satria berinisiatif untuk dinner bersama di luar hotel. seminggu hanya keliling sekitar hotel membuat bosan mulai menghampiri.
Arka dan Satria memilih dinner sambil liburannya di sebuah rumah makan yang terdapat taman, semua itu usul dari Alya.
Mereka jarang sekali datang ke rumah makan yang bernuansa romantis seperti itu.
Seperti biasa Naina masih suka memakai gaun yang seksi dan menggoda, sedangkan Alya selalu dengan baju panjang, Alya nampak serasi dengan baju coklat toska, senada dengan kemeja Satria.
Saat memasuki taman, tangan Satria dan Alya tak pernah lepas bergandengan walau sedetik pun.
Sampai di taman Alya segera memilih nomor meja yang tidak jauh dari Arka dan Naina nanti.
Sedangkan Naina terlihat enggan digandeng oleh Arka. meski Naina tidak lagi menolak Arka tetapi Naina enggan menunjukkan kemesraan di depan Satria dan alya.
"Naina, kamu suka nggak tempatnya."
"Suka sih, tapi kayaknya terlalu biasa ya? harusnya kamu milih yang lebih bagus dari tempat ini dong, malam ini kan dinner spesial untuk kita berempat. jarang-jarang ya kan kita ada momen seperti ini." Naina menunjukkan rasa kurang suka pada resto pilihan Alya malam ini.
Alya hanya mengangguk.
"Emang sih kalau untuk gadis sekelas kamu tempat ini sederhana, tapi kalau menurutku ini sudah lebih dari spesial. semua terasa spesial karena kita ditemani oleh orang yang spesial."
"Iya juga sih, kamu bener."
Dan di sini kita bisa membuat sendiri makanan yang kita inginkan, sedangkan pihak restoran sudah menyiapkan semua bahannya.
"Ribet banget ya, Kalau aku sih suka tinggal pesan langsung makan aja." lagi-lagi Naina tidak suka dengan ide cemerlang dari alya.
"Sudahlah kita nikmatin saja nanti kamu juga akan suka."
Alya mengerti kenapa Naina selalu bersikap jutek padanya, Satria yakin Nayna masih menyimpan rasa untuk suaminya.
"Naina, kamu tahu nggak Mas Arka itu baik banget lho, dia yang selalu support Satria sampai di titik ini, aku berharap suatu saat dia akan menemukan wanita baik dan juga cantik untuk menemani hari-harinya. istrinya yang pertama selingkuh, sedangkan dia tipe lelaki yang setia, jadi dia tidak mudah untuk jatuh cinta lagi, tapi kelihatanya dia mulai mencintai seseorang deh."
"Kamu kok bisa tahu banyak? kamu dekat banget yang sama Mas Arka?"
"Enggak juga, hanya saja aku sering dengar dari Satria, mereka juga sering main ke rumah jadi sedikit banyak aku dengar."
"Baiklah, aku mengerti, semoga saja Mas Arka kamu itu dapat wanita seperti yang kamu inginkan.
Saat Alya dan Naina berbicara panjang lebar, Para lelaki sibuk membuat agar pasangannya terharu pada malam ini.
Satria terlihat sibuk membuat kue special, lelaki itu sesekali melambaikan tangan pada Alya. Alya sangat senang Satria begitu semangat. Arka pun sama, sayangnya Naina hanya tersenyum tipis.
Alya juga penasaran, kira-kira kue apa yang sedang dibuat oleh Satria di malam special ini. atau jangan jangan itu kue yang belum pernah dimakan seumur hidup.
Satria dan Arka membuat kue yang berbeda, tentunya sesuai dengan kesukaan pasangan ngedate malam ini.
Arka segera memanaskan oven dan mengaduk bahan dengan semangat, sedangkan Satria masih dalam proses pemanggangan. Kue Satria sudah mengeluarkan aroma harum.
__ADS_1
Tak lama kue Arka juga mengeluarkan aroma yang sama.
Naina, sudah sangat malas menunggu, baginya acara seperti ini hanya buang-buang waktu saja.
Tentu saja karena Naina tidak menyukai Arka, jadi apapun yang dilakukan oleh Arka tidak terasa spesial.
Kue buatan Satria sudah matang, tapi Satria sengaja lebih dulu menghampiri Naina dan mempersembahkan kue buatannya.
"Naina, ini aku membuatnya sudah sepenuh hati, Semoga kamu menyukai."
"Repot sekali ya, katanya mau ngedate, tapi sekarang malah bau asap begini."
"Nai, Kamu tidak suka kuenya? kalau tidak suka biar aku berikan pada orang lain saja." Arka mulai lelah, Naina yang baik selalu saja bersikap dingin dan sombong di depannya.
"Tunggu, Baiklah taruh di meja kuenya, nanti kita makan berdua, tapi kita nunggu kue Satria matang dulu."
'Akhirnya.' batin Arka.
Arka selalu sabar menghadapi Naina, Arka yakin wanita itu sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama meski hanya sedikit, hanya saja Naina masih malu mengakuinya.
"Suka kok, taruh saja disitu, nanti kita makan bersama, nunggu kue punya Alya yang dibuatkan Satria." kata Naina.
Arka duduk di depan Naina, sedangkan kursi didepan Alya untuk Satria tetapi masih kosong.
Karena Satria terlihat memberi kesempatan pada Arka, Alya juga beranjak dari tempat duduknya.
Satria memanggil Alya dengan alasan meminta bantuan mengeluarkan kue dari loyangnya.
"Entahlah, aku tiba-tiba malas makan apapun, apalagi makanan yang beraroma menyengat."
"Kamu sudah coba periksa ke dokter?"
Naina menggeleng. "Belum, aku malas, mungkin aku hanya masuk angin biasa saja."
Arka segera menggenggam tangan Nayna." Nai, Bagaimana kalau one night yang kita lalui ternyata menghasilkan seorang anak?"
"Apakah itu mungkin? aku saat itu sedang terpengaruh dengan alkohol, mana mungkin aku bisa hamil."
"Bisa saja Nay, Baiklah besok kita coba untuk ke dokter, kita periksakan kondisi tubuh kamu.
"Mas, terus kalau aku hamil gimana? aku belum siap." Naina terlihat menitikkan airmata.
"Kita harus menikah, entah suka atau tidak karena ini bukan sebuah pilihan, jika bayi lahir dia harus melihat ayah dan ibunya bersama.
"Jadi mulai dari sekarang aku mohon kamu mulai terima aku apa adanya, aku berjanji akan membuat kamu bahagia. Naina aku tahu aku bukan pertama kalinya untukmu, tapi aku bisa menerima apapun masalalu kamu."
"Apa yang kamu katakan, Mas?" Naina kini semakin sedih, tidak menyangka Arka bisa berkata seperti itu, jelas dia yang melakukam pertama kali, dan dia merasakan sakit luar biasa hingga memanggil dokter untuk mengobatinya.
"Aku tidak melihat bercak merah di seprei saat melakukannya di malam itu."
"Jadi karena tidak ada noda merah, Mas Arka meragukan keperawanan ku?"
__ADS_1
"Maaf nai, Aku sebenarnya tidak masalah, hanya saja aku ingin tahu siapa laki laki yang pertama mengambilnya.
"Meski aku tinggal di kalifornia, tapi aku bisa menjaga semuanya, dan maslah noda itu memang sudah pecah saat aku mencoba belajar naik motor dan terjatuh."
"Ja-jadi aku yang pertama untukmu Nay?"
"Iya Kak, engkau yang pertama."
"Nay benarkah?"
"Iya, Kenapa sangat senang sekali, dan kenapa baru sekarang kebahagiaan itu terlihat."
"Tidak Nay, sungguh aku tak menyangka kalau aku yang pertama untukmu, Menikahlah denganku Nay, Aku janji aku akan membahagiakan kamu.
"Iya, buat apa aku harus berbohong Mas."
Arka pindah posisi sekarang memeluk Naina dengan hangat. Naina lama-lama jadi luluh juga, Bagaimana tidak, Arka selama ini yang selalu ada untuknya.
Arka dan Naina mulai menyantap kue yang sudah dibuat sendiri oleh Arka dan khusus di persembahkan untuk makan malam spesial hari ini.
Naina tidak menyangka kalau kue buatan arka ternyata sangat nikmat, Naina memakan kue buatan arka lumayan banyak.
"Auh, apa ini?" Naina terkejut ketika ada sesuatu yang keras di lidahnya.
Naina baru tahu ternyata arka memberi sebuah kejutan berupa hadiah cincin yang sengaja ditaruh di dalam kue.
"Mas kau menaruh cincin di dalam kue ini."
"Iya aku sengaja menaruhnya, Aku berharap kau suka dengan cincin sederhana yang aku beli secara mendadak itu. ide itu baru ada tadi sore."
Naina memperhatikan cincin yang dikatakan oleh Arka dibeli secara mendadak itu, menurut Nayla itu bukan cincin murahan, cincin itu memiliki mata dari berlian, dan harganya bisa diperkirakan sampai 50 juta.
menurut Nayna, seorang lelaki membelikan hadiah semahal itu, itu sudah luar biasa sekali. Jika lelaki itu bukan dari golongan orang kaya, berarti lelaki itu memiliki keseriusan yang patut untuk diacungi jempol.
"Naina? Apakah kau suka dengan pemberianku yang pertama kali ini?"
"Maaf ini sangat sederhana, tapi aku berharap kamu menyukainya."
"Bagus kok, aku suka dengan hadiahnya. Mas Arka pasti kerja keras sekali untuk bisa membelikan aku cincin ini."
"Tidak juga, ini gaji terakhirku dari papa kamu." Arka tersenyum lalu mengambil cincin dari tangan Naina dan memakaikan di jari manisnya.
Cincin itu begitu cantik tersemat dijari manis Naina.
"Naina, anggap saja cincin ini sebagai bukti, kalau aku sayang sama kamu. Dan kamu berhutang jawaban padaku.
Jika kamu sudah siap, katakan padaku kalau kau menerima lamaranku.
***
.
__ADS_1