
"Empph."
"Mppph."
"Mas, lepas, aku tak bisa nafas." Alya merasa Satria tak memberinya jeda untuk sekedar menghirup oksigen.
"Mas kamu udah …."
Belum selesai bertanya Satria sudah kembali menyergap bibir merahnya.
"Empph." Alya kembali melenguh.
Satria kali ini menyergap bibir luna lebih lama. Satria yakin Alya belum sering melakukannya dengan kakaknya. Permainan Alya masih kaku dan amatir.
Mungkin karena terlalu lama menahan gejolak di dadanya, Satria kini susah untuk di kendalikan.
"Mas, mmph." Alya membebaskan diri dan memalingkan wajahnya.
'Pertama kali kenapa segila ini,' Alya benar-benar tak percaya Satria akan membuat dirinya kehabisan oksigen seperti hari ini.
Satria mengusap bekas bibirnya di bibir Alya.
Alya merasakan bibirnya seperti tebal dan kulitnya semakin tipis, sampai Alya menyentuhnya dengan jarinya untuk memastikan.
"Alya apakah aku jahat jika melakukannya padamu." Satria tiba-tiba teringat kakak yang selama ini menyayanginya dengan tulus. "Kau wanita kesayangannya." Satria kembali mengelus rambut Alya yang masih setengah basah.
"Satria, disaat seperti ini kenapa kau justru mengingatkan aku pada orang lain." Alya kecewa, dia mengelus kedua pipi Satria lalu menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangan mungilnya.
Dipandanginya wajah yang beberapa hari ini selalu dia perhatikan ketika tidur lelap.
"Sudah ku bilang Aku ingin mulai semuanya dari awal dengan Kamu Mas."
"Alya hendak pergi dari depan Satria yang membuatnya kesal. Tapi ternyata sekarang kamu yang meragukan aku. Kamu nggak peka!" teriak Alya
"Jangan bilang aku tidak peka Alya, aku belum punya penghasilan, aku lebih tepatnya malu pada diri sendiri" Satria merasa tak pantas sebelum bisa memenuhi hak berupa materi pada Alya.
"Terus dimana masalahnya kamu takut kita berdua kelaparan? Oke aku akan bantu kamu kerja.
"Bukan itu maksudku Alya, aku belum bisa membahagiakan kamu sama sekali. Aku belim bisa memenuhi keinginan kamu seperri yang Mas Aditya berikan padamu."
"Aku sekarang bahagia memiliki kamu Satria. Aku bahagia lebih beruntung dari wanita lain yang diam-diam mencintai kamu, namun hanya sebatas cinta tanpa bisa memiliki aku tak akan pernah membiarkan siapapun dekati kamu."
"Jadi kamu cemburu Alya, Karena itu kamu bersikap seperti ini?
" Ya, aku cemburu. Aku tak mau kamu terus di dekati oleh Elisa, Rosa atau siapalah" jawab Alya cepat dan singkat.
Satria segera mengejar Alya terlihat kecewa dengan pola pikir Satria yang sempit.
"Baiklah Alya, akan ku buktikan kalau aku serius di sayang sama kamu. Satria mendorong Alya ke dinding dan mengunci tubuh mungil istrinya.
Satria kembali Melu**t bibir Alya dengan rakus. Alya mulai membalas dengan agresif, lidah mereka bertarung saling membelit dan bertukar saliva.
Jantung Alya dan Satria saling memburu, tubuh berdua menghangat dan nafas juga kian memanas.
__ADS_1
Alya mulai melenguh pelan begitu Satria terus menahan kepalanya agar tak bergerak.
"Satria!" rancau Alya begitu tautan bibir mereka terlepas. Satria merasakan bibir Alya berdarah begitu juga dengan bibir miliknya.
"Maaf, bibir kamu terluka." Satria mengusap bibir Alya dengan jari besarnya.
"Tidak apa-apa, aku senang." Alya tersenyum tulus. Satria memeluknya dengan begitu erat.
Tidak bisa dipungkiri, bazooka Satria sudah menegang. Satria sepertinya sudah bertekad akan mengakhiri status jejaka yang masih di sandangnya sampai saat ini.
Satria menghujani wajah Alya dengan kecupan bertubi, Alya pasrah menerima perlakuan Satria.
Satria kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Alya, tubuhnya membungkuk. meninggalkan banyak jejak merah di leher Alya. Alya terus saja menekan kepala Satria agar tidak segera melepas kegilaannya.
Satria lalu menggendong tubuh Alya ke ranjang. Satria tersenyum bisa meninggalkan banyak jejak merah di leher istrinya.
***
Tok! Tok! Tok!
"Satria! Alya! cepat turun Nak." kita semua sudah menunggumu sejak tadi."
"Satria! Alya! makan dulu baru tidur!"
"i-iya bunda, kami akan segera turun." jawab Alya dengan gugup dan nafasnya tersengal.
Satria tersenyum melihat Alya yang nervous. dia juga bahagia melihat hasil maha karyanya di leher yang putih bersih itu.
"Mas, kita turun dulu, nggak baik membuat semua orang menunggu. Mereka pasti sedang lapar.
"Baiklah, kita turun saja sekarang," Satria menjauh dari Alya lalu mengambil baju santai berupa kaos dan celana pendek.
Alya juga memakai baju panjang santai motif bunga.
"Tutup mata kamu Mas, aku malu jika kamu melihat semuanya sekarang. Belum waktunya."
"Nanti aku juga lihat semua, Basooka sakti ini bahkan sudah mengamuk saja." Satria menggoda istrinya yang pemalu. "kamu juga jangan ngintip sekarang.
"Idih Siapa yang lihatin kamu. Mas."
"Entar nggak surprise lagi kalau kamu sudah tahu sekarang, dijamin bikin ...."
Alya memang melihat ada sesuatu yang menyembul besar di balik handuk Satria. Alya membayangkannya saja bulu kuduknya sudah bergidik ngeri.
Alya dan Satria segera turun usai ganti baju, berusaha menahan gejolak yang sudah meletup-letup di dada, demi tidak ingin membuat keluarga menunggu.
Alya dan Satria segera menduduki kursinya, mereka menempati tempat yang tak pernah berubah, yaitu berhadapan dengan Kinan dan Aditya.
"Lama banget sih, nggak tau aku sudah lapar sejak tadi." kata Aditya ketus pada Satria.
"Ya, Maaf. kita emang baru pulang dan harus mandi juga."
"Alasan," pangkas Aditya.
__ADS_1
"Aditya, kalau kamu lapar, buruan aja makan, nggak usah marah-marah." ujar Bunda.
Malam ini giliran Satria yang memimpin Do'a. Alya terus saja menatap suaminya ketika melafalkan bacaan doa sebelum makan. Makin lama Alya merasa cintanya semakin besar saja pada Satria. Lelaki yang terkadang sangat romantis, kadang cuek dan kadang juga kocak itu, seolah sudah menjadi paket lengkap, tak ada Alasan Alya untuk tidak berpaling dari cinta lama ke cinta yang baru, jika yang baru membuatnya lebih nyaman.
Semua orang sudah mengambil nasi, tapi kini Alya bingung akan mengambil menu yang mana. semua menu malam ini nyaris rasanya pedas.
Alya mengambil sepotong tahu goreng dan tempe saja yang belum terkena sambel.
"Alya, kalau makan kamu cuma tempe goreng mana bergizi, ayo makan yang banyak. bunda nggak mau kamu makin kurus karena tinggal di dumah ini."
"Bunda, ta-ta-pi ...." Alya menghentikan kalimatnya. Alya tahu menolak keinginan bunda saat ini pasti tak akan bisa.
"Sudahlah Alya, nurut sama bunda, kalau kamu nggak makan banyak dan bergizi, nanti kamu nggak hamil-hamil, Satria harus segera punya anak. Biar dia makin semangat kerjanya.
"Oh, jadi udah kerja? kerja apa? paling juga jaga warteg kayak kemaren hahaha"
"Kerja apa aja, yang penting halal, Satria kan masih kuliah, jadi sementara dia hanya bisa milih pekerjaan yang bisa maklum dengan kondisinya." kata Bunda yang selalu cenderung membela Satria. Bunda masih kesal dengan Aditya yang sudah menghamili wanita lain sebelum menikah.
Sedangkan Alya dan Kinan sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.Tak mau ikut campur urusan pria.
Satria mulai mengambil daging rendang serta sambal balado kesukaannya. " Aku sih sejak dulu mau kerja apa aja kok Mas, yang penting ada pengalaman yang bisa kita ambil. Jadi nggak melulu ngejar soal uang, pengalaman juga penting."
"Ya, baguslah." Aditya senyum mencibir.
"Auh! Auhh! Perih banget." Satria segera mengelap bibirnya yang terluka akibat pertarungan lidah dengan Alya baru saja.
Alya buru-buru menuangkan air dari dalam teko.
"Minum mas, kayaknya hindari makan pedas dulu deh." Alya menatap Satria panik.
"Empph, iya kenapa perih pake kebangetan gini ya."
"Alya kayaknya kamu jangan makan yang pedas dulu deh, aku khawatir kamu juga merasakan perih sama kek aku, soalnya bibir kami pasti lebih sensitif." Satria menatap Alya dan melihat bibirnya yang terlihat makin merah dan kulitnya tipis.
"Em kalian berdua ini nggak kontrol, maaf Alya Bunda nggak ngerti, sini biar mama yang makan nasi milik kamu yang udah mama kasih sayuran pedas.
"Kamu ambil aja tempe dan tahu goreng lagi," canda Bunda. Wanita yang sehat diusianya setengah abad itu baru nggeh kenapa sejak tadi makanannya nggak disentuh, rupanya takut mengalami nasib seperti Satria.
"Satria kamu buas banget sih, aku juga sempat lihat leher Alya belang-belang lho."
"Mbak Kinan, jangan bikin malu Alya lah, dia pemalu Mbak kalau bahas begituan." Satria nggak mau membuat Alya serba salah.
"Wah berarti Satria sudah dapat lampu hijau nih, cepat hamil ya Al, aku ikut menunggu kabar terbaiknya.
"I-iya Mbak," Alya sejak tadi hanya menunduk. Dia risih dengan tatapan tajam Aditya yang mengintimidasinya. Alya takut Aditya akan nekat menyakiti Satria seperti yang terjadi di awal pernikahan mereka.
"Kalau begitu, alhamdulilah, bunda senang dengan kemajuan hubungan kalian. "Bunda mengelus kepala Alya.
"Prang!" Aditya membanting sendok di piringnya yang kosong.
"Adit!! jaga sikap kamu!" Kali ini Ayah damar juga marah, Aditya sudah dinilai tidak sopan di depan orang tua.
*Yuk Mom cantik, Emak dikasih Like, Vote dan Bunga ya, Apalagi secangkir kopi, Emak bakal rajin update nie.
__ADS_1