Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Batu kerikil sebuah hubungan


__ADS_3

"Apa yang menarik diluar sana?" tanya Dosen Adam dengan wajah galak.


"Em, tidak ada, Pak."


"Lalu kenapa lihat kesana? mau diluar aja, berjemur di lapangan voli di bawah terik matahari iya?" Dosen Adam mendekati Alya dan duduk di meja.


Hati Alya sudah ketar ketir, kira-kira hukuman apa yang akan diberikan oleh Dosen Adam. "Enggak pak, besok aja ya, kalau cuaca panas, sekarang mendung."


"Benar juga ya. kamu keenakan di luar nanti, "


"Ya sudah kerjakan semua nanti aku akan kesini setelah tiga puluh menit. aku mau sarapan dengan Bu Prily."


"Huuuuuuu." Mahasiswa, terutama laki-laki bersorak. Mahasiswi bersyukur karena Dosen Adam tidak galak lagi ketika bucin.


***


Jam istirahat Alya menghampiri Satria.


Wanita memakai hijab saat ke kampus itu tentu menjadi pusat perhatian lelaki disana.


"Ada cewek bening banget datang kesini," ujar lelaki yang ada di kelas menatap Alya dengan tatapan berbeda-beda.


"Sat disamperin bini Lo tu." Dewo melihat wanita yang dimaksud oleh kawan-kawan.


"Dewo, aku dah nggak punya hutang lagi ya, entar siang aku traktir," ujar Satria sebelum pergi.


"Nikmat banget hidup Lo, dapat bini cantik, dapat kerjaan bagus,"seloroh Sadewo.


"Semoga ini awal yang bagus, Semua tak luput dari dukungan kalian semua. Sekarang aku tinggal dulu ya."


"Iya, mau kemana sih?"


"Nggak tau, diajak istri ngikut aja, cuaca dingin gini siapa tahu dikasih kehangatan."


"Duh, kamu sat, bikin jiwa para jomblo makin ngenes."


Satria segera mendekati Alya, Alya segera menggandeng meninggalkan kelas.


"Ada apa sih, Sayang? baru sebentar ditinggal masa sudah kangen," goda Satria sambil menggandeng istrinya.


"Siapa yang kangen." Alya mengerucutkan bibirnya.


"Buktinya sampe nyusul ke kelas."


"Aku khawatir sama kamu, karena datang terlambat tadi, Mas."


"Alya aku laki-laki, kalaupun dihukum sudah biasa."

__ADS_1


"Tapi aku nggak mau punya suami banyak catatan buruk, Mas." Alya melepaskan tangan Satria ketika sampai di perpustakaan.


Alya sebenarnya tak mau Elisa punya kesempatan sedikitpun mendekati suaminya.


Alya sempat mendengar percakapan Elisa dan kawan-kawan. Wanita itu pamit akan ke ruangan Satria. Dengan cepat Alya segera mendahului.


"Mas, apakah Elisa itu sahabat terbaikmu? Jika kamu dulu cintanya sama Rosa kenapa kau korbankan perasaanmu demi wanita itu?"


"Ada yang tidak kamu ketahui tentang Elisa, Alya," kata Satria.


"Cerita dong," bujuk Alya.


"Nanti kalau sudah waktunya aku akan cerita." Satria mengambil buku di depannya dan membuka acak.


"Mas, aku merasa Elisa sangat cinta sama kamu, dia menyekap ku saat kamu ada janji dengan Pak Arya di perusahaan.


"Lain kali hati-hati ya, terutama jika tak ada aku," ujar Satria. Tapi Alya kelihatannya tak puas dengan jawaban Satria yang tak kaget sedikitpun.


Hanya menyuruh hati-hati tanpa berucap lain, atau jangan-jangan Satria tidak pernah cinta tulus dengan dirinya.


"Satria, aku tidak mau dia dekat dengan kamu."


"Aku sudah berjanji pada Bang Arka, untuk turut serta menjaga adiknya. kebaikan Bang Arka sangat banyak padaku Alya."


Alya makin cemas. "Tapi Mas, aku nggak suka sama kedekatan kalian."


Alya di ruang perpus yang nampak sepi.


Alya merasakan keningnya basah, hatinya menghangat. "Aku yakin dengan kekuatan cinta yang kita miliki saat ini, kita bisa melewati semuanya," ucap Satria. Kalimat itu seakan mengandung makna tersirat.


Alya dan Satria melanjutkan membaca buku cerita bergenre fantasi di tangannya. Namun Alya tidak fokus membaca.


"Mas katakan sejujurnya saja, nanti aku nggak bisa tidur."


Satria terkekeh. "Nggak bisa tidur karena kita tiap malam olahraga."


"Bukan, tapi aku kepikiran kamu yang tidak bisa jauh dari Elisa."kata Alya.


"Elisa mengidap penyakit berbahaya, hidupnya tak lama lagi. Aku tidak bisa membuat dia sedih di sisa umurnya."


"Serius Sat?"


"Iya, yang tahu hanya Rosa, Bang Arka dan aku."


Alya tak percaya, gadis yang terlihat begitu sehat ternyata mengidap penyakit berbahaya. Yang membuat Alya heran kenapa dia masih saja bersikap jahat.


"Kamu jangan cemburu sama dia lagi ya, jika kami dekat itu murni karena persahabatan."

__ADS_1


Alya mengangguk mengerti. "Jika aku tahu yang sebenarnya, aku pasti akan melakukan hal yang sama."


Aku tahu istriku wanita yang baik." Satria mengusap lembut pipi Alya dengan jari jempolnya. Merasakan sentuhan lembut dari suaminya Alya merasakan sebuah ketentraman.


Kenapa cobaan peenikahannya selalu silih berganti, jika dirumah ada Aditya, di kampus ada Elisa.


Satria lalu bangkit dari duduk, dia berjalan mengelilingi rak buku, memilih buku yang kiranya menarik untuk dibaca, jujur Satria bukan lelaki yang hobi membaca. Dia suka sekali dengan olahraga yang menurutnya ekstrim.


Alya mengekor di belakang Satria, entah kemana para kutu buku, kampus hari ini begitu sunyi, hanya ada mereka berdua.


"Alya kemarilah, aku sudah sangat merindukanmu." Satria menatap istrinya dengan tatapan sendu. Satria sudah ada di sudut yang sulit di jangkau oleh kamera CCTV


"Sat, bagaimana. kalau ada yang memergoki kita." Alya celingukan melihat sekeliling.


"Tenanglah tidak ada." Satria menarik tubuh Alya. Aku nanti malam lembur, mungkin akan pulang larut, aku sudah kangen kamu Alya."


"Mas, kamu ternyata tak ada bosannya ya."


"Stt, jangan bicara lagi."


Satria mendekatkan bibirnya ke bibir Alya. lidah mereka saling membelit dan kembali bertukar saliva.


Alya melenguh kala Satria memperdalam ciumannya. Satria mendorong tubuh Alya hingga menempel ketat di rak, Satria semakin mendesak tubuh Alya hingga tak ada lagi ruang gerak.


Alya merasakan basooka suaminya di balik celana telah kembali menegang. Akan sangat menyeramkan jika Satria tak mampu mengendalikan dirinya disini.


"Umpph." Alya membebaskan bibirnya dari jeratan Satria. "Mas, nanti ada yang melihat."


"Biarkan, apa yang bisa mereka lakukan, kita sudah menikah."


"Emang nggak ada, tapi malu, seperti nggak ada tempat lain aja." Alya mendorong tubuh suaminya. merapikan blazer dan baju panjang yang di kenakan.


"Kamu nanti pulangnya diantar Dewi dulu ya, aku langsung ke kantor." Satria merapikan jaketnya, tapi tetap aja yang menyembul di bawah tak bisa dilipat, membuat celana Satria mendadak menjadi sesak.


Satria dan Alya berjalan menuju pintu keluar, betapa terkejutnya dia melihat Elisa sudah ada di dalam perpus dengan air mata berlinang.


Satria tidak tahu sejak kapan wanita itu berdiri ditempatnya.


"Satria, kamu dulu sering bilang katanya aku spesial buat kamu, kamu sering belikan aku banyak hadiah, kamu beri aku harapan-harapan yang indah, tapi nyatanya apa yang aku dapat? Kamu justru memilih wanita ini?"


"Elisa kamu dan Alya sama-sama spesial. Alya istriku dan kau sahabatku," ujar Satria berusaha menenangkan Elisa.


"Aku benci kamu Satria, aku benci." Elisa berlari keluar perpustakaan, Satria hendak mengejarnya. Namun Alya mencegah gerakan tangan Satria.


"Mas, biarlah dia belajar menerima kenyataan, sampai kapan kita terus berbohong."


"Alya, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Elisa." Satria melepaskan pegangan Alya di tangannya.

__ADS_1


Alya kecewa dengan Satria yang begitu perhatian dengan Elisa, Sedangkan setahu Alya wanita itu sudah tahu pernikahannya sejak lama dan dia baik baik saja.


__ADS_2