
"Mas, kita harus sembelih kambing aqiqah untuk Raja," kata Alya sambil memangku buah hatinya.
"Iya sayang, aku sudah pesan kambingnya."
"Kirain kamu lupa Mas," ujar Alya lagi yang sibuk mengeluarkan ASI dan memasukkan ke dalam botol kecil lalu disimpan di freser.
"Nggak lah Sayang, masa buat anak aku lupa." Satria memeluk istrinya dari belakang, membungkuk sedikit lalu mengecup keningnya.
"Terima kasih sudah selalu ada buat aku dan Raja, Mas."
"Aku yang berterima kasih, Raja adalah pelita buat mahligai kita, semoga dengan kehadiran dia, rumah tangga kita akan semakin kokoh. Apapun coba'an yang kita hadapi kedepannya kita akan bisa melalui setiap rintangan yang datang.
"Amin." Alya tersenyum sambil mendongak ke atas menatap wajah suaminya yang selalu tampan dan memesona.
Melihat Raja sudah tidur, Saatnya Alya dan Satria berbicara dari hati ke hati. Satria selalu membicarakan segala masalah yang ada pada istrinya sebelum kantuk datang menyerang.
"Sayang!"
"Hmmm?" Alya dan Satria sama-sama menatap cermin.
"Sepertinya Mas Aditya mulai jatuh cinta lagi," ujar Satria.
"Masa sih? sama siapa?" Alya mengerutkan keningnya. Karena setahu Alya mas Aditya hanya fokus pada cahaya.
"Dokter Rosa."
"Mas, kamu ada-ada aja. Mas Aditya hanya beberapa hari bertemu dokter Rosa, dia tidak akan semudah itu jatuh cinta."
__ADS_1
"Sayang, aku memergoki dia berdua dengan dokter Rosa, dan Mas Aditya ...."
"Apa yang dilakukan Mas Aditya?" Alya jadi penasaran.
"Mereka bergandengan tangan." ujar Satria, dia sudah berkata jujur pada istrinya.
Wajah Alya yang tadi terlihat tak percaya sekarang tersenyum. "Mas nggak bohong?"
"Enggak Sayang, buat apa Mas bohong soal Mas Aditya."
"Good news, kalau begitu kita buat mereka makin dekat saja dengan cara buat lebih sering bertemu," kata Alya dengan wajah berbinar.
"Mas sependapat dengan kamu Sayang," kata Satria bahagia.
Alya lalu berbaring di ranjang sambil memeluk Raja, Sedangkan Satria tidur dibelakang Alya dan memeluk istrinya dari belakang.
"Iya, nanti biar Mas kabari. Sekarang tidur, biar besok kalau raja rewel nggak ngantuk."
-
-
"Iya, Mas jangan deket-deket, aku takut ada yang bangun." canda Alya pada suaminya.
"Kalau pipa rucika ini sudah bangun sejak tadi Sayang, cuma Mas kasian sama kamu, ngelahirin itu sakit, Mas nggak tega kalau mau minta dalam waktu dekat ini. Mas akan sabar sampai kamu sendiri yang minta."
"Terimakasih sudah pengertian Mas, Aku jadi makin sayang," kata Alya mencubit dagu suaminya.
__ADS_1
"Ih, kamu nakal sekarang, dah berani goda," kata Satria mengecup istrinya gemas.
"oekk, oek." Raja nangis karena merasa diabaikan
"Papa, raja iri minta di gendong kayaknya." Raja menolak minum ASI lagi.
"Duh anak papa, nggak bisa tidur ya, berisik ya dengan papa dan mama ngobrol terus. Sini papa gendong." Satria menggendong putranya yang terlihat ingin dimanja. Sejak pulang kerja tadi Satria belum menggendongnya sama sekali.
"Mas, gendongnya yang bener dong." Alya ikut bangkit dan membantu Satria menggendong Raja.
"Mas diajarin dong Sayang, kan belum terbiasa." Satria takut Raja jatuh, dia memeluknya sampai tak bisa bergerak. Alhasil dia malah nangis kencang.
Bunda Aisyah yang dengar cucunya menangis segera mendatangi kamar bayi. "Satria, Alya, Raja kenapa?"
"Ini lho bunda, Raja ngantuk, tapi susah mulainya."
"Oh, Bunda pikir kenapa-kenapa."
"Sini biar bunda gendong."
"Nggak usah Bunda, biar Satria saja, bunda pasti lelah."
"Bunda nggak lelah, Satria. Bunda justru ingin gendong Raja terus. kamu dan Alya sama aja, nggak ngijinin bunda gendong Raja lama-lama.
"Maaf Bunda, bukannya nggak boleh, kita cuma nggak mau bunda capek. Dulu Bunda sudah merawat dan membesarkan Satria, sekarang giliran bunda istirahat dan lihat anak cucu bahagia," kata Satria memberi pengertian pada bunda Aisyah.
Bunda hanya bisa mwnaeih nafas panjang, Satria dan Alya sama-sama tak mau membuat bunda lelah.
__ADS_1