Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Ancaman Aditya


__ADS_3

"Mas Aditya!" 


Alya terkejut di parkiran kampus ada Aditya. Ekspresi wajahnya terlihat sekali sedang marah.


"Alya!" Satria tak mengira Alya kembali lagi.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini!" Tanya Alya pada dua orang yang kini tengah berdiri, berhadap-hadapan, dan ekspresi keduanya itu yang membuat Alya curiga serta khawatir mereka akan baku hantam lagi. 


"Dek, aku mohon sekarang juga kamu minta cerai dari dia, dia nggak cinta kamu Dek, dan apa yang bisa kamu andalkan dari lelaki macam dia. Kamu belum lupa dengan janji kita dulu kan?" Aditya terlihat sudah emosi. Entah apa yang membuat lelaki itu mudah emosi.


"Kamu yang lupa lebih dulu dengan janji kita Mas, kamu bilang hanya cinta sama aku, sayang sama aku, kamu juga selalu bilang kalau di dunia ini hanya aku satu-satunya wanita yang paling kamu sayangi, ingin kamu bahagiakan! Tapi apa?!Wanita itu datang dan hamil anak kamu? Katakan padaku janji mana yang aku lupakan, Apakah aku harus setia pada laki-laki yang sudah menghamili wanita lain?" Alya terlihat berusaha keras untuk bisa menyelesaikan kalimat panjangnya. Isak tangisnya begitu memilukan.


"Dek, kamu tidak tahu masalah yang sebenarnya, aku tidak mencintai Kinan,"


"Kalau tidak mencintai, kenapa kamu menghamili. Kamu harusnya tahu apa akibatnya pada hubungan kita." Alya masih menangis sesenggukan. Satria menghampiri Alya dan mengusap air mata yang lolos begitu saja tanpa dikomando menggunakan ibu jarinya, Alya biarkan Satria melakukan semua itu di depan aditya. 


Aditya yang melihatnya tentu makin meradang. Bagaimana tidak, selama ini hanya dia yang menyentuh wanita itu, selama ini tak ada pria lain yang berani menyentuh dia tepat didepannya. Tapi kali ini bahkan dia tidak bisa melakukan apapun untuk wanita yang telah meluluh lantakkan hatinya hingga tiada sisa itu. 


"Alya, masuklah ke kelas dulu, aku akan menyusul. Aku akan bicara dengan Mas Adit sebentar," bisik Satria di dekat telinga Alya.


"Tidak Sat, aku mau kita masuk bersama." kata Alya, menarik lengan Satria. Padahal jelas kelas mereka berjauhan. Alya tidak mau mereka baku hantam.


"Baiklah, ayo kalau begitu. Maaf Kak aku harus anterin istriku ke kampus dulu, tumben dia manja, mungkin dia sedang mengandung anak kami. Mas, mending pergi dari sini."


Aditya malah tertawa. "Satria kamu kira aku percaya. Alya bukan cewek yang gampangan, kamu pasti belum sentuh dia, oh iya noda di seprei yang kalian pamerin kemaren aku baru ingat. Alya itu kalau datang bulan pasti tanggal sepuluh sampai tanggal tujuh belas, dan di tanggal itu, aku hafal betul dia pasti akan sakit pinggang dan jadi sensitif." 


Alya terkejut Aditya masih ingat semuanya. Alya tahu laki-laki itu yang selalu membelikan obat penghilang nyeri disaat dia sakit, bahkan dia akan selalu telepon dalam hitungan jam dan menanyakan apakah sudah baikan atau belum, sudah makan apa belum, apapun jawabannya kurir pasti sudah di depan pintu. Masa itu juga menjadi moment yang sulit dilupakan.


"Sat, Ayo kita pergi dari sini," pinta Alya dengan mata memohon.


"Sebentar Alya, aku ingin tahu seberapa jauh hubungan kalian dulu."


"Sat, Please." Alya menangkupkan tangannya.


Satria tercengang mendengar kata-kata kakaknya yang memang benar adanya. Satria tak percaya ternyata Aditya ingat semuanya. Jika Alya dan Aditya selalu terbuka, kenapa dengan dirinya tidak. 


Aditya kembali melihat Alya. Entah kenapa tatapan yang dulu begitu menghangatkan jiwanya bagai mentari, kini terlihat begitu menakutkan bagaikan bara api.


"Mas, Alya tidak suka Mas lagi, sejak wanita itu datang, cinta Alya untuk mas sudah hilang. mending sekarang, Mas lupakan Alya. dan mulailah perbaiki hubungan dengan Mbak Kinan."

__ADS_1


"Kamu banyak omong Satria, kamu tidak akan pernah bikin Alya bahagia!" Aditya sudah siap memberi pukulan pada adiknya.


"Cukuuuup!!"


"Mas Aditya! Satria! jika kalian mau terus berkelahi, lakukan saja cara kampungan ini. Ya, jadilah jagoan. Aku kecewa dengan kalian berdua." 


Alya langsung berlari meninggalkan tempat motor sudah berjajar rapi, Dia tak sekalipun menoleh. Alya kembali dalam dilema, cinta yang dia alami semakin rumit saja.


Alya kini duduk di bangku yang ada di depan perpustakaan, dia menangis disana, kebetulan dini hari, perpustakaan masih sepi. 


Satria menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dia berharap ketegangan dengan kakaknya tidak menjadi pusat perhatian anak kampus lainnya. 


Aditya sepertinya juga buru-buru harus ke kantor. Dia tidak bisa lagi lama-lama di kampus, pagi ini dia juga ada janji dengan kliennya.


***


"Alya!" Dewi yang baru saja datang segera menghampiri sahabat karibnya itu dan duduk di dekatnya.


"Kamu kenapa nangis?"


"Nggak ada apa apa Wi, lagi pengen aja." Alya mengusap airmatanya dan berusaha tersenyum. 


"Alya, di kampus akan ada kegiatan kamu pasti nggak tahu."


"Kita disuruh buat sebuah pertunjukan gitu, buat acara perpisahan salah satu rektor kita.


Jadi nanti akan ada pembagian peran temanya kalau nggak salah drama gitu. Kamu dan Satria kayaknya cocok deh jadi peran utamanya, Satrianya juga pas banget tu, anaknya ganteng."


Dewi rupanya tidak tahu kalau Alya dan Satria sudah menikah, Alya lupa, dia sengaja tidak mengundang sahabatnya saat akad nikah di rumah calon suaminya waktu itu, karena Alya dan Aditya memiliki rencana khusus yaitu akan mengadakan pesta di gedung,dan rencananya tamunya nanti khusus kaum muda dari teman kuliah Alya dan teman kantor Aditya, biar jadi kejutan untuk teman-teman.


tak tahunya semua itu tinggal impian semata, pernikahan itu batal, jika dipaksa diadakan pesta di gedung, kasihan Satria dapat uang dari mana. 


Kalau bisa jangan aku Dewi. Kamu lucu deh, mana bisa aku jadi peran utamanya. 


"Siapa lagi coba? kemaren teman-teman pengennya kamu"


"Ya udah yuk masuk, kita diskusikan lagi di dalam kelas aja." Dewi dan Alya berjalan bersama-sama melewati kelas Satria.


Satria bisa melihat kesedihan Alya. Membuat tekat Satria lebih kuat lagi untuk membahagiakan Alya, salah satunya mencari pekerjaan yang lebih baik.

__ADS_1


Untuk sementara ini dia akan bersabar bekerja menjadi pegawai restoran. nanti dia bisa tanya-tanya pada pelanggan yang datang soal pekerjaan yang lebih baik.


"Satria, ngelamun aja!" Sadewo dari belakang menepuk pundak Satria.


"Bisa nggak sih, jangan ngagetin."


"Abis gue perhatiin sejak tadi kamu perhatiin Alya melulu, sadar bro, dia tunangan abang, Lo."


'Kamu nggak tau aja Wo, Alya itu sekarang sudah jadi istri gue.' batin Satria.


"Wo, gue mau pinjem duit, entar gajian aku balikin."


"Buat apa? kok gue nggak yakin Elo kerja sekarang?"


"Iya, habis gue pengen cari duit sendiri, bosen minta orang tua melulu.


"Hebat elu, biasanya juga kalau gue ajak cari kerja pasti jawabannya, entar, besok, ntar, sok."


"hehehe, manusia bisa berubah, gue harus mulai belajar mandiri, apalagi tahun depan wisuda, mau atau enggak, tetep cari kerja lah, masa anak kuliah nganggur kan nggak seru di dengarnya."


"Bener cuma lima ratus ribu?" Sadewo mengeluarkan dompetnya.


"Iya, tapi balikin nya gajian ya, awas, kalau elo tagih sebelum gajian."


"Udah pake aja, gue belum butuh." Sadewo menutup kembali dompetnya lalu memasukkan ke dalam saku celana samping.


Satria sangat senang mendapatkan uang pinjaman dari Sadewo. setidaknya dia akan menggunakan uang itu untuk membahagiakan Alya, Satria sudah tak sabar kalau harus menunggu gajian akhir bulan.


-


-


Jam istirahat sudah tiba, Alya dan Dewi terlihat menuju kantin dan memesan makanan. Alya memesan minuman dan pancake isi sayur. Satria baru tahu kalau Alya tak suka daging.


Dari kejauhan Satria terus mengawasi Alya yang sedang berbicara pada sahabatnya itu, bibirnya kadang tersenyum, mengerucut dan sesekali tertawa. Alya memang suka lupa dengan masalah pribadinya ketika sedang bersama gengnya.


Alya terlihat makin cantik dan Anggun. bahkan dia yang memiliki kulit paling bersih dan cerah diantara kawannya. tak heran jika banyak jagoan kampus yang diam-diam juga suka dengannya.


"Satria terus memperhatikan istrinya itu dari kejauhan, dan aksinya dilihat oleh Sadewo yang suka kepo. "Sat, kalau gue perhatikan, sepertinya kamu benar-benar naksir sama Si Alya. Kamu benar-benar deh, jadi pebinor abang lo sendiri."

__ADS_1


"Bisa nggak Lo diam Dewo." pungkas Satria.


"Banyak omong Lo, makasi ya uangnya. ingat aku balikin akhir bulan."


__ADS_2