Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Miliki aku


__ADS_3

(yang belum menikah skip aja ya, untuk keamanan bersama)


"Good night Alya!" ujar Satria dengan nafas memburu ketika tautan bibir mereka terlepas.


"Good Night too, Satria." Alya mengerjab pelan.


"Yakin semua tugas kuliah kamu sudah selesai?" tanya Satria nya dengan suara serak.


"Iya Mas, Sudah." Alya menutup buku-buku di depannya.


"Gimana pekerjaan kamu sendiri Mas," tanya Alya balik.


"Untuk hari ini sepertinya cukup, Aku nggak fokus, sedang kepikiran kamu." Satria mengeratkan pelukannya, menarik dagu Alya dan menatapnya penuh damba.


"Yakin mau mencoba sekarang?" tanya Satria memastikan. Tatapan Satria tertuju pada kedua bola mata Alya, Satria tak ingin ada penyesalan dihari nanti.


"Kamu sendiri gimana, Mas?" tanya Alya dengan membalas menelisik wajah Satria. Alya meneguk salivanya pelan.


"Aku sudah sangat siap malahan." kata Satria. Sambil mengecup kening Alya.


Diangkatnya tubuh Alya yang beratnya standar itu dari kursi. Alya mengalungkan lengannya di tengkuk Satria.


Satria membaringkan Alya dengan berlahan di kasur empuk yang masih baru itu.


Hujan kembali turun namun malam ini tak ada badai ataupun petir yang menggelegar. Menjadikan malam menjadi sahdu.


Nafas Alya kian memburu, detak jantungnya bertalu-talu bagai genderang ditabuh.


Mereka kembali menautkan bibir untuk yang kesekian kalinya. Alya dan Satria tak mampu lagi menahan gejolak di dada.


Dinginnya udara malam ini tak mampu memadamkan bara yang kian lama kian membara. Bahkan bara yang terus mendapat hembusan angin kini mulai menyala-nyala menjadi kobaran api ga*rah yang siap membakar keduanya.


Suhu kamar yang tadinya dingin mendadak menjadi panas, bahkan AC tak mampu menghentikan deraian keringat keduanya


"ishhh." Alya mendesis kala Satria mulai menurunkan wajahnya hingga leher dan memberi beberapa tanda merah di sekelilingnya.


Satria suka sekali meninggalkan jejaknya di kulit bersih seputih susu itu.


Melihat tubuh wanita yang dicintai kini terlentang pasrah di bawahnya. Satria segera membuka kaos seksi yang mencetak pahatan indah miliknya.


Diam-diam Alya suka sekali melihat Lekuk tubuh Satria yang begitu menggoda. Yah, Satria adalah pemain basket di kampus, otot ototnya kuat dan tentu memesona terutama lengan dan perutnya. Bisa dibilang Satria adalah cowok yang sangat enerjik.


Sensasi geli dan nikmat oleh sapuan lidah Satria membuat Alya terhipnotis. kecanggungan yang terjadi seakan sirna.

__ADS_1


Satria lalu bangkit dan mematikan lampu utama, hingga menyisakan lampu tidur diatas nakas.


Alya yang tadi terlentang kini menggeser tubuhnya, bersandar dengan sisi ranjang, menarik selimut dengan tangan gemetar. Jujur dia takut akan membuat Satria kecewa di malam pertama ini, karena dirinya yang minim pengalaman. Di satu sisi juga takut kalau rasanya akan sangat sakit.


Kamar berukuran empat kali lima meter itu nampak suram hanya dengan cahaya temaram dari lampu kecil. Satria kembali mendekat dengan tangan disembunyikan di belakang.


Satria lalu jongkok di depan Alya. "Alya aku bertanya satu kali lagi, Apakah kamu sudah meyakinkan dirimu untuk menjadi milikku seutuhnya?


"Ya Mas, aku bersedia."


Satria lalu tersenyum. Sekarang sudah tidak ada keraguan lagi, Alya sudah berulang kali mengatakan kalimat yang sama.


Satria mengeluarkan sekuntum mawar merah yang wangi dari belakang tubuhnya.


Alya menerima bunga pemberian Satria dengan senang, tangannya terulur meraih dengan hati-hati.


Diciumnya mawar pemberian Satria berulang kali. Alya tidak menyangka Satria akan seromantis ini.


"Kamu suka bunga mawar?" Tanya Satria.


"Suka sekali." Alya tersenyum dan mencium bunga pemberian Satria kali.


"Apakah kamu juga menyukai orangnya."


Satria merasakan sensasi geli di tubuhnya membuat hasratnya kian membara.


Satria mendorong tubuh Alya hingga wanita itu kembali terlentang. Satria segera mengungkung tubuh mungil Alya dan melorotkan gaun malam yang dipakai lalu menaruhnya asal.


Satria mengambil bunga dari tangan Alya dan menggunakan untuk menggelitik tubuh Alya. Sebagai balasan dengan apa yang dilakukan tadi.


Satria kembali mengecup tubuh putih yang kini hanya tertutup sepotong kain kecil saja.


Sampai dalam tahap ini Alya mulai malu, baru kali ini tubuhnya dilihat oleh seorang lelaki.


Namun Satria tak pernah kehilangan akal, dia kembali mencumbu bibir ranum Alya yang sudah terasa perih. pipi, hidung dan leher tak luput dari serangan Satria.


Alya menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara, ketika Satria mulai menyentuh lembut kedua buah ranum yang mulai menegang.


Satria tersenyum. dalam kegelapan pun senyum Satria nampak sangat manis.


Setiap sentuhannya sangat lembut menandakan betapa berharganya wanita di depannya.


Alya membalas senyum Satria, dia juga mempererat pelukannya di tengkuk lelakinya. Alya seolah tak ingin Satria menjauh walau sejengkal.

__ADS_1


Satria menelusupkan satu tangannya ke punggung Alya dan tak lama "Tak." Pengait itu terlepas.


Mata Satria terbelalak melihat keindahan didepannya. ini pertama kalinya dia melihat tubuh seindah milik istrinya.


"Umph," Alya melenguh. Ketika satria mulai memanjakan kedua bukitnya, sesekali mengecup dan menghi**p pelan seperti bayi.


Tubuh Alya berulang kali melengkung ke atas, tak tahan dengan sensasi geli bercampur nikmat yang membuat tubuhnya ringan dan seolah terbang ke nirwana.


Melihat Alya sudah kejang tak karuan. Satria semakin semangat untuk memanjakan istrinya.


Wanita yang sudah tak berdaya itupun sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Dengan sentuhan lembut dan mendamba Satria melakukan step demi step adegan selanjutnya.


Satria tak ingin Alya kesakitan, meski itu tak mungkin.


Air mata Alya mulai berderai ketika bazooka sakti mulai mengetuk gawang yang masih terkunci rapat.


Sebenarnya Satria tak tega untuk terus melanjutkan, tapi Alya menahan tubuh Satria yang hendak membebaskannya dari siksaan ini.


"Mas, aku sudah ikhlas." Mohon Alya agar satria tak berhenti.


Dengan mata terpejam Satria mencoba menghentakkan dengan sedikit keras. cengkeraman Alya salin kuat di punggung Satria hingga meninggalkan jejak kuku yang lumayan dalam.


Alya memekik keras, Satria segera membekap bibir istrinya agar tak ada yang mendengar teriakan. Meski kemungkinan itu sangat kecil karena peredam sudah dipasang di kamar ini sejak lama.


"Maafkan aku tega membuatmu seperti ini."


"Ini salah satu kewajibanku Mas, kau berhak mendapatkannya sejak malam pertama pernikahan kita."


"Terimakasih sudah menjaganya untukku. Aku bersyukur memiliki kamu." Satria mengecup kening Alya dan mulai menggerakkan pinggulnya berlahan.


Satria hampir dua jam berjuang membobol gawang yang masih bersegel itu.


Ternyata Basooka saktinya harus bekerja sangat keras untuk mencapai keberhasilan.


_____


Alya begitu kelelahan, tenaganya terkuras habis setelah berulang kali berhasil mencapai puncak.


Alya sudah tidur lebih dulu sebelum mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Tulang-belulangnya seperti dilolosi dari dagingnya.


Satria segera menutupi tubuh Alya dengan selimut, dan mengecup kepala wanita yang tergolek lemah tak berdaya karena ulahnya itu sebagai ucapan selamat malam.

__ADS_1


Satria lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Alya dan memeluk pinggangnya dengan erat.


__ADS_2