Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Alya bertemu Elisa.


__ADS_3

Alya segera duduk di sebelah Dewi. Dewi sudah stanby sejak tadi di kursinya menunggu Alya dengan cemas.


Alya, kamu lupa hari ini pelajaran Dosen Adam. 


"Ya, aku ingat, cuma masalahnya si merah mogok. Mogoknya kebetulan jauh dari bengkel lagi, untung ada Mas Aditya yang membawanya ke bengkel."


"Cieee,mau balikan sama mantan nie? Bukannya dia sudah menikah."


"Itu tidak mungkin Dew, lihat cincin ini, inisial nama siapa?" Alya menunjukkan jarinya. Kemaren saja dia tidak mau ada orang yang tahu pernikahannya dengan Satria Tapi hari ini justru dia ingin memberitahu pada dunia kalau Satria miliknya. 


"Huruf S, siapa Al?" Dewi terperanjat.


"Yang jelas dia suami aku." Alya menunjukkan lebih dekat dan Dewi menyentuhnya. Cincin warna putih berinisial S membuat Dewi sangat tertarik. 


"Alya sebutin saja suami kamu siapa?"


"Entar kamu akan tahu sendiri." kata Alya memancing penasaran Dewi.


"Anak kampus sini juga?" 


"Iya," jawab Alya sambil menganggukkan kepala.


"Apa dia Satria?" Dewi langsung menebak dengan benar, Satria pernah ditemuinya sedang bersitegang dengan Aditya di parkiran. Dan menurut Dewi kemungkinan besar yang menikahi Alya hanya Satria, karena mereka masih keluarga.  


"Alya suami kamu Satria? Dan kamu merahasiakan semua ini dariku? Kamu jahat Alya." Dewi menutup buku yang dibacanya dengan kasar lalu pergi. 


Dewi memang diam-diam suka Satria, tapi wanita itu mana mungkin berani bersaing dengan Elisa dan Rosa yang notabene kembang kampus. 


Hingga akhirnya Dewi merasa tak pantas untuk Satria, berusaha keras ingin melupakan lelaki itu. dan kini mengejar cinta si jomblo, Sadewo.


Dewi berlari ke belakang kampus, disana kebetulan sedang sepi, hanya ada satu dua mahasiswa nakal yang sedang merokok. Dewi tidak bisa mengendalikan sikapnya yang berlebihan menanggapi pernikahan Alya dan Satria. 


'Kenapa aku harus sedih, Bukannya Alya adalah sahabatku, harusnya aku senang kabar pernikahannya yang kandas, kini ada laki laki yang mau menggantikan posisi calon suaminya, meski itu Satria. Lagi pula Satria tidak pernah melihatmu, kau terlalu kecil untuk terlihat menarik dimata nya.' Dewi mengusap air matanya sendiri karena Alya semakin mendekat. 


Alya yang tak tahu apa-apa tentang rasa yang dimiliki Dewi pada Satria, dia segera mendekati sahabatnya. Dipeluknya tubuh yang sedikit lebih berisi darinya, "Alya, kamu jahat banget."


"Maaf Dewi, acara pernikahanku memang tak sesuai rencana, maaf banget aku merahasiakan pernikahan ini dan tidak jujur padamu. Aku sengaja tak memberitahu siapapun, karena aku tidak siap. Ini awalnya sangat mengejutkan bagiku. 

__ADS_1


Sesungguhnya aku dan Mas Aditya akan menggelar pesta khusus untuk kolega dan sahabat ketika akad sudah terlaksana, tapi apa yang terjadi sungguh tak sesuai ekspetasi, Mas Aditya menghamili wanita lain. Dan Satria menggantikan kakaknya menikahi diriku."


"Aku yang minta maaf Alya, selama ini kamu pasti sedih banget. Tapi sebagai sahabat bagaimana bisa aku tidak tahu semuanya. Aku berharap Satria bisa mencintaimu dengan tulus, bukan sekedar ingin menebus kesalahan kakaknya."


"Jangan sedih lagi ya, sekarang kamu sudah tahu semuanya."


Dewi memeluk Alya sambil dalam hati terus merutuki kebodohannya yang cemburu dengan sahabat karibnya.


"Aku minta maaf Alya, aku belum kasih hadiah untuk pernikahan kalian."


"Sudah nggak usah repot, kemari kita selali bertautan seperti ini, adalah hadiah terindah bagiku, semoga kita akan selalu menjadi sahabat, yang tak terpisah oleh jarak dan waktu. Jika diantara kita ada yang salah, maka langsung ingatkan saja, jangan diem-dieman."


Dewi mengangguk. Mereka segera baikan, lalu kembali ke kelas dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dosen Adam. 


Di kelas, Dewi berulang kali melirik pada Alya, merasa Alya begitu beruntung mendapat suami tampan dan idola cewek cantik di kampus ini. Dan Dewi yakin banyak cewek lain selain Rosa dan Elisa yang mencintai Satria dalam diam, karena wajah Satria yang memiliki hidung lancip, tatapan mata yang menenangkan serta setiap kali tersenyum cekungan di pipinya makin dalam, Belum lagi didukung oleh bentuk tubuhnya yang Atletis. 


"Dewi, apa kamu kurang enak badan?" Tanya Alya. 


"Tidak, aku masih nggak percaya saja, Satria adalah suami kamu. Apa yang kalian lakukan kalau sedang berdua."


Alya tersenyum pada Dewi, sedangkan Dewi terus saja bertanya banyak hal hingga Dosen Adam meminta Dewi dan Alya mengerjakan tugas di luar kelas. 


 


Dewi, dan Alya mengerjakan tugas di bawah pohon yang ada di depan kelas, disana dia malah bisa leluasa mengobrol. 


Tiba-tiba Elisa dari dalam kelas lain terlihat panik. Rosa yang melihat kepanikan Elisa juga ikut bergabung.


"Tidak mungkin aku lupa, aku lepas kalung liontin  itu dan memasukkan ke dalam tas ini, dan aku taruh di sebelah tempat aku duduk saat mengemudi." kata Elisa yang masih terlihat panik. 


"Sudahlah Elisa biarlah hilang, uangmu kan banyak, kamu bisa beli lagi kan." ujar salah satu mahasiswi yang kebetulan tahu kepanikan Elisa. 


"Iya, entar aku belikan deh sepuluh deh, kalung yang ada liontinnya kayak gitu. Paling juga nggak sampai lima juta."


"Gue itu bukan karena kalungnya, tapi masalahnya itu kalung hadiah dari orang yang spesial buat gue, gue nggak akan terima kalau sampai


 ada yang mencurinya."

__ADS_1


"Emang kamu sama siapa saja saat berangkat tadi?" Tanya Rosa. Kalau kamu melepasnya saat berangkat, artinya hilangnya saat kalian ada di jalan."


Elisa segera menghampiri  Alya yang kini sedang mengerjakan tugas.


"Alya, maaf ya bukannya mau nuduh, tapi  aku kehilangan kalung emas, yang ada liontinnya, masalahnya liontin itu berharga benget, itu hadiah dari Satria waktu ulang tahunku tahun ini."


"Liontin? Tapi aku nggak tahu, dan juga nggak lihat bentuknya kayak apa, lagipula aku nggak mungkin mengambilnya."


"Boleh nggak aku lihat tas kamu, barangkali ada, maaf ya Alya soalnya hadiah itu berharga banget buat aku." Elisa sedikit memaksa Alya.


"Elisa, kamu tidak sedang menuduhku mencuri kan?"


"Tidak Alya, siapa tahu nggak sengaja masuk ke tas kamu." ujar Elisa lagi.


Dari tas satu pindah ke tas lainnya, tapi Elisa bilang itu tidak menuduh. 


Untuk membuktikan semuanya, akhirnya Alya mengambil tasnya di kelas, setelah Alya memeriksanya sebentar dia segera membawanya keluar. 


"Ini tas aku, cari jika di dalamnya ada barang kamu yang katanya jatuh itu." Alya melempar tasnya pada Elisa untuk di periksa.


"Kok nggak ada ya?" Elisa panik dia tidak menemukan benda miliknya yang jelas jelas tadi dia masukkan ke dalam tas Alya.


Sekarang Elisa yakin barang itu ada pada Alya, tapi jika dia langsung menuduh tapi ternyata Alya sudah membuangnya sama saja dia cari perkara. 


"Gimana Elisa? Apa kamu sudah menemukan barang yang kamu cari itu di tas aku? Coba cari di tempat lain mungkin kamu akan menemukannya."


"Baiklah teman teman tolong periksa di bangku dan di tas temannya, atau si tubuh wanita ini?" kata Elisa memerintahkan teman genknya. Rosa dan Elisa hanya melihat, teman-temannya mulai memeriksa Alya dengan mengacak acak sakunya, dan juga tas Dewi tak luput dari jarahan kawanan Elisa.


Setelah teman sama-sama menyerah tak menemukannya.


Alya akhirnya mendekati Elisa, tersenyum kecil lalu membisikkan kata-kata." Elisa yang sangat dipercaya oleh Satria sebagai gadis baik, kira-kira apa yang akan dipikirkan setelah wanita itu menyakiti istrinya." 


"Satria tidak cinta kamu Alya, dia hanya kasihan, buktinya selama kalian menikah, dia tidak sudi menyentuhmu," teriak Elisa melampiaskan amarahnya.


"Jika dia cinta sama kamu tidak mungkin dia membiarkan kamu tetap perawan sampai saat ini. Aku akan membuat kamu cerai sama Satria, karena hanya aku yang pantas untuk dia." teriak Elisa lagi.


Rosa di sebelahnya tersenyum masam, bisa-bisanya Elisa begitu percaya diri berkata demikian, sedangkan sudah jelas dirinya selama ini yang memiliki cinta paling besar pada Satria. 

__ADS_1


__ADS_2