Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Gaji pertama.


__ADS_3

'Mas Adit, kamu sekarang bisa merendahkan aku, tapi percayalah Tuhan akan mendengarkan doa ku. aku pasti akan menjadi orang sukses nantinya. 'Batin Satria nelangsa. Bagaimanapun Satria juga malu direndahkan di depan mertuanya.


"Alya, Umi pulang dulu, ingat pesan Umi tadi, kamu dan Satria harus segera cari kontrakan," kata umi setelah menyerahkan semua oleh-olehnya untuk Alya.


"Insha Allah, Umi," jawab Satria sambil mencium tangan Umi.


Sampai di kamar, Satria duduk bersila diatas ranjang, sedangkan Alya, memberikan jamu dari Umi.


"Jamu apa ini, Al?"


"Entah, ini umi yang bawa."


Satria terkekeh. "Umi, ada-ada aja. Nggak pakai ini aku juga sudah kuat? Kamu mau aku lebih kuat lagi?"


"Nggak Mas, yang semalam aja sudah bikin aku mau klenger." Alya bergidik ngeri membayangkan semuanya. 


Satria lalu menyandarkan tubuhnya sambil mengelus basookanya yang sebenarnya sudah bangkit sejak tadi. Tapi Satria masih kasihan sama Alya yang kesakitan banget.


Satria tetap meminumnya, apapun itu, pemberian orang tua, selalu dia anggap bentuk pwrhatian yang tak boleh kita siakan.


"Kata umi biar aku cepat hamil, tapi jujur aku belum siap untuk punya anak, Mas." kata Alya.  Wanita itu berpikir jangka panjang, kasihan sama Satria yang sebentar lagi akan menghadapi wisuda untuk diri sendiri dan juga dirinya. Sedangkan saat ini Alya tahu Satria punya hutang dimana-mana.


"Lalu ini apa Al?" Satria merogoh peperbag dan melihat isinya mirip kelambu.


"Mas!" Alya merebut dari tangan Satria. Wajahnya langsung berubah bersemu merah, Aluna sungguh malu"Jangan dilihat, umi memang lagi iseng. Makanya beli begituan.


"Sini, aku ingin lihat." Satria makin penasaran, dia berusaha memeluk Alya untuk bisa merebut benda yang keukeuh tak boleh dilihat itu.


"Alya, sini aku mau lihat!" Satria memeluk Alya makin kuat hingga wanita itu berteriak dan tertawa sekaligus. 


 


Satria segera berlari di dekat ranjang setelah berhasil merebut paperbag.


"Mas, kembalikan."Alya merengek sedih.


Melihat Alya yang terlihat meminta dengan wajah iba, Satria urung melihatnya, sebenarnya dia sudah paham sejak melihat pertama kali tadi.


Alya segera mengambil dari tangan Satria dan masukkan ke dalam lemari lalu menguncinya.


Saat membalikkan badan betapa Alya sangat terkejut Satria sudah mendekapnya. "Alya dengar ya, tanpa gaun itu, kamu sudah sangat cantik, kamu tak perlu memakainya jika belum siap."


"Apakah laki-laki suka sekali melihat wanita berpakaian seperti itu Mas?"tanya Alya.


"Mungkin, tapi aku suka kau memakainya tanpa ada paksaan, dan keinginan itu muncul dari hati kamu sendiri." ujar Satria sambil memutar tubuh Alya. "Bagiku kamu sangat cantik dan selalu menggairahkan seperti bunga mawar. Cantik berwarna cerah, menggairahkan karena selalu harum,"


"Makasi, Mas." Alya menempelkan kepalanya di dada Satria.


Saat mereka mulai menautkan bibir satu sama lain, menyesap rasa manis yang tercipta lebih dalam lagi. Tiba-tiba ponsel di saku Satria bergetar, rupanya sebuah notif pesan masuk.


[Satria, aku sudah menuju ke rumah kamu, presentasi dimajukan satu jam, siap-siap sekarang ya]

__ADS_1


"Al, sepertinya aku harus ke kantor sekarang."


Alya segera mengambilkan kemeja dan celana oxford terbaru hadiah dari Pak Arya.


"Alya, Aku berangkat ya, kamu istirahat aja. Jangan capek-capek." ujar Satria mencium kening istrinya. Satria terpaksa harus menyimpan rasa yang sudah membuncah tadi untuk malam nanti. 


"Hati hati, Mas." kata Alya tersenyum sangat manis. ,"Mas, sepertinya ada yang tertinggal." 


"Apa?" Alya mendekat dan mencium pipi Satria,  Satria tersenyum sambil memegangi pipinya yang basah bekas kecupan Satria. 


"Em, terimakasih sayang." Satria lalu beranjak pergi. 


"Mas! Tunggu aku bilang ada yang tertinggal!"


"Bukannya sudah ya? Apalagi sayang?" Kini Satria mengecup pipi Alya lebih dulu sebagai balasan.


"Taraaa, ini yang tertinggal Mas," Alya menunjukkan dasi milik suaminya. Satria harus geleng kepala, ternyata istrinya selalu saja bisa membuatnya tersenyum. 


" Terimakasih ya, Sayang sudah diingatkan."


"Hati-hati Mas," Alya memasang dasi di leher Satria, Selama memasang dasi pandangan Satria tak berpaling sedikitpun. Hanya tertuju pada Alya dengan kedua tangannya di pinggang Alya. 


"Iya, Sayang, biar nanti bang Arka aku suruh hati-hati." Satria memeluk Alya sangat erat, pelukan hangat dan ciuman mesra tak henti terjadi di pagi ini.


"Dirumah dulu ya, jangan terlalu banyak kegiatan, entar malam aku akan bikin kamu lelah lagi." Pinta Satria di balas anggukan oleh Alya.


"Tiin! tiin!


Mereka berdua turun beriringan. Arka tersenyum menyaksikan kemesraan Alya dan Satria. 


"Duh, pengantin baru. Maunya nempel terus." Celetuk Arka saat baru turun dari mobil, dan sontak Alya langsung melepaskan kaitan tangannya di lengan Satria. 


"Iya, nih Bang. Rasanya pengen deket aja." Satria membalas ledekan Arka.


Satria pamit dengan istrinya, Alya mencium tangan Satria lalu melambaikan tangan pada lelaki yang baru saja menghempaskan bokongnya di kursi empuk mobil mewah Arka. 


"Sat, kalian sudah saling jatuh cinta? Aku baru tahu dari Dewo kalau kalian menikah karena terpaksa."


"Iya, Bang. Cinta banget."


"Elisa gimana? Dia beberapa hari ini iring-uringan." Arka ingin tahi perasaan Satria dengan Elisa, adiknya.


"Abang kan tahu, aku dan Elisa sudah kayak adik dan kakak. Nggak ada cerita Kakak nikahi adiknya." 


Arka tersenyum sambil menatap Satria. " Elisa terlanjur sayang sama kamu, aku sudah tak henti kasih pemgertian ke dia, tapi ya gitu, masih keras kepala. Kamu jangan benci dia ya, kamu kasih dia pengertian pelan-pelan, kalau kamu yang ngomong dia akan mengerti."


"Iya, Bang." Satria mengangguk. 


"Cinta emang tidak tahu kapan datangnya. Begitu cinta itu mendapat balas, itu menjadi anugerah terindah, tapi ketika cinta yang kita harapkan bertepuk sebelah tangan, rasanya akan sakit, aku berharap Elisa bisa dewasa setelah berada dalam fase ini, Cinta tak bisa dipaksakan."


"Terimakasih sudah jadi Abang yang pengertian." Satria menatap Arka dan mereka saling melempar senyum.

__ADS_1


Di kantor, Satria dan Arka segera menuju ruang meeting, diruang itu ternyata masih kosong. 


"Aku sengaja ajak kamu datang lebih cepat, karena kamu harus benar-benar siap untuk mempresentasikan hasil kerja kamu. Siapkan semuanya sekarang. Aku akan ke ruanganku sebentar."


"Iya Bang."


Satria segera mengeluarkan gambar yang terlihat rumit serta miniatur perusahaan jika sudah jadi nanti.


Di saat semua sudah siap, petunjuk perusahaan mulai berdatangan, mereka menduduki kursi masing-masing. Hanya ada satu kursi yang kosong. Kursi itu ada di dekat Pak Arya. Dan Satria segera menempati.


Salah seorang manajer membuka meeting hari ini. Setelah diawali do'a bersama.


"Ini karya Mas Satria untuk yang pertama kali ya, menurutmu ini sudah bagus, kayaknya Mas Satria sudah kelihatan bakatnya, ujar Direktur produksi.


"Ya karya pertama aja bagus banget, semoga karya-karya berikutnya lebih keren dari ini." ujar Direktur pemasaran.


Semua yang hadir tepuk tangan memberi semangat pada Satria


"Terima kasih semuanya penilaian positifnya, kalau boleh saya jujur disini, daripada mendapat pujian saya sebenarnya lebih mengharapkan sebuah kritik dan saran. Karena kritik dan saran itu membuat saya lebih baik dan selalu lebih hati-hati untuk kedepan. Tetapi jika yang saya dapat hanyalah sebuah pujian mungkin saya akan merasa hebat dan selalu bisa lebih hebat. Saya tidak ingin ada di posisi itu. Pak Arya,terimakasih sudah percaya kan ini semua pada saya, ini adalah awal kerja sama kita, semoga nanti hasil akhir bisa membuat kita semua puas, baik itu dari segi bentuk bangunan, anggaran yang kita butuhkan dan kenyamanan para karyawan."


Fungsi setiap ruangan, dekorasi dan hiasan yang dibutuhkan untuk mempercantik ruangan, serta jumlah anggaran yang akan harus tersedia semua sudah terperinci dengan detail, Satria yakin semua dana yang dibutuhkan tidak akan jauh melenceng dari perkiraan. 


"Menurut perkiraan yang sudah saya peroleh, bangunan nanti akan menghabiskan dana sekitar lima ratus miliar.


Tepuk tangan kembali menggema dalam ruangan. Mereka makin kagum dengan pembawaan Satria yang kalem dan berwibawa. Satria sendiri tidak menyangka dia akan menjadi pusat perhatian dalam meeting hari ini.


Usai menjelaskan semuanya, kini Satria duduk, giliran Direktur keuangan berbicara. "Ya, mumpung semua berkumpul di sini, Bapak Direktur utama dan Direktur bagian. Kita harus perhitungkan untuk gaji Tuan Satria Selaku orang yang bekerja pertama kali dalam proyek ini. Gaji tuan Satria adalah satu persen dari dana yang akan kita habiskan. Jika rancangan anggaran lima ratus milyar maka tuan Satria pendapat gaji sebanyak lima ratus juta, dibayar berkala hingga bangunan selesai. Dan disini sudah dijelaskan kalau dalam waktu kurang dari sepuluh bulan bangunan sudah harus jadi." Kata direktur keuangan membicarakan gaji Satria.


Satria terkejut dengan gaji yang akan diterima, meski hal itu sudah hitungan umum haji seorqnh Arsitek. Tapi sebagai pemula, Satria jujur belum merasa pantas digaji demikian besar.


"Bagaimana Pak? Apa gaji segitu cukup?" Tanya direktur keuangan.


"Alhamdulillah, itu rezeki yang tak pernah saya duga sebelumnya." kata Satria dengan tubuh gemetar dan gugup. 


"Selamat bergabung dengan tim, semoga kerjasama kita akan berjalan tanpa halangan." ujar Pak Arya yang sejak tadi mendengar para direktur bagian berbicara. 


"Selamat menerima gaji pertama. Semoga kamu makin semangat," Bisik pak Arya yang mendengar notif pesan di ponsel Satria.


Satria tak berani membuka pesan ketika masih dalam ruangan meeting.


Satria segera keluar ketika para direktur sudah kembali ke ruang masing-masing.


Betapa terkejutnya lelaki yang nampak lebih tampan dan gagah ketika memakai kemeja dan dasi itu melihat nominal yang tertera di layar ponselnya, tentunya notif pesan dari Bank.


Menerima gaji pertama, uang senilai lima puluh juta bagi Satria rasanya seperti mimpi.


Satria segera menempati ruang kerja pribadinya. Satria tak sabar ingin memberitahukan semua pada Alya tentang kabar gembira ini.


"Alya aku sudah gajian, ini semua pasti berkat do'a istri seperti kamu, Sayang," lirih Satria sambil menduduki kursi empuk yang ada di ruang kerjanya.


.

__ADS_1


 


__ADS_2