
Alya dan Satria kembali mereguk manisnya cinta di bathup.
Satria benar-benar kerja keras untuk membuat bayi tumbuh di rahim istrinya. Dengan keyakinan cinta dan kepercayaan akan semakin besar jika ada buah hati diantara mereka.
"Umpp." Alya melenguh ketika satria mulai meng*lum buah beri, memainkan dengan lidah dan sesekali menyesap mirip bayi.
Desisan mirip ular kobra terus saja terdengar sepanjang permainan.
Alya menggeliat dan tatapannya menjadi sayu. binding cerah terasa sepeti bergoyang begitu pula dengan Bola lampu diatasnya.
Alya tanpa sengaja menyentuh benda berdiri tegak tapi bukan pentungan satpam itu.
Dengan malu-malu Alya mulai berani mengelus dan memainkannya.
Satria keloj*tan tombak saktinya yang menegang mendapat perlakuan istimewa dari sang istri, sebelumnya Alya belum pernah memperlakukannya demikian istimewa mungkin karena masih merasa canggung atau memang belum mengerti.
Nafas Satria semakin memburu, matanya terpejam merasakan sentuhan lembut dari tangan halus. Aktifitasnya sedikit berkurang kini dia lebih banyak menerima dari pada memberi.
Dalam hati Satria memuji Alya yang makin pandai saja menyenangkan tongkat berpeci itu.
Satria mendesah bebas, pusaka panjang beruratnya ingin sekali segera menerobos di tempat yang paling disukainya.
"Sayang, kau lelah?"
Alya menggeleng, "Tidak, aku justru sangat bahagia.
Satria kemudian memangku tubuh Alya dan mengarahkan miliknya untuk masuk.
Sempit, Satria terus saja berusaha dan akhirnya berhasil.
Alya dan Satria kembali merasakan kenikmatan yang tiada Tara, tidak ada yang dipikirkan selain rasa hangat yang semakin menjalar di seluruh tubuh.
Alya dan Satria sama sama terbius oleh rasa. hentakan demi hentakan membuat air di bathup terus bergoyang, dan tak sedikit yang tumpah.
Alya mencengkeram punggung Satria hingga meninggalkan bekas, tidak hanya di punggung, rupanya di leher juga ada, ketika lidah lelaki itu dengan lincah terus menari indah di puncak kurma.
Satria benar-benar sudah gila, semalam tidur sendiri bertemankan guling dan bantal membuatnya hari ini semakin menggila.
***
__ADS_1
Arka sudah selesai mandi dan makan, dia sudah tak sabar bertemu Satria untuk ngopi berdua, lagi pula ini sore, belum waktunya tidur.
Selain ngopi Arka ingin tahu banyak tentang Naina pada Satria, karena Arka tahu Satria paling dekat dengan wanita itu.
Arka sudah tiba di depan kamar Satria, Arka menggerutu pada kelakuan Satria yang bisa dibilang sudah menjadi kebiasaan, lupa mengunci pintu.
"Dasar ceroboh, bagaimana kalau ada maling," ujar Satria saat mendapati ruangan paling depan tengah sepi.
Baru beberapa langkah masuk, Arka sudah mendengar suara Satria melenguh dan Mend*sah tak karuan.
"Sial, masih sore sudah main aja, nggak bisa apa nunggu malam lebih larut dikit, ini baru saja jam tujuh malam" Arka mengumpat dalam hati, sebagai seorang duda yang pernah merasakan nikmatnya milik wanita, tentu miliknya langsung berdiri dengan cepat, ketika mendengar suara-suara erotis yang membuat bulu kuduk meremang.
Arka buru-buru pergi, dia tak meninggalkan jejak apapun yang mungkin akan membuat diri sendiri malu.
"Alya dan Satria masih setia dengan aktifitasnya, pergulatan mereka di air, tapi tubuh mereka tetap mengeluarkan peluh.
"Sayang, kamu nggak bohong kan? kalau sudah tak minum obat laknat itu lagi?"
"Nggak, kalau nggak percaya, bisa cek saja di tas atau koper yang aku bawa, Mas. Buat apa aku bohongin kamu, sama saja dengan aku bohong pada diri sendiri."
"Baiklah aku percaya." ujar Satria sambil menatap sebuah kejujuran di mata Alya.
Bosan di dalam Air, selain tempatnya kurang luas, tak ada banyak gaya yang mereka mainkan, Alya dan Satria kini menggendong tubuh Alya dan berbaring di atas ranjang.
Alya tak bisa menolak sedikitpun dengan perlakuan Satria yang terlihat ingin terus memakannya.
Sekarang tak perduli lagi dengan makanan di meja yang sudah dingin.
Alya dan Satria sama-sama tak ingin terlepas satu-sama lain. hingga akhirnya pertahanan Alya runtuh untuk pertama kali.
Satria tak ingin menyiksa Alya, dia terpaksa berhenti sejenak bermain main di inti Alya yang sudah mencapai puncak tertinggi.
"Maaf, akhirnya aku kalah." Alya yang kelelahan mulai mengatur nafasnya yang tersengal, pencapaian pertama membuat tubuhnya harus istirahat.
"Baiklah, kita makan dulu, setelah itu aku ada meting kedua di hari ini, setelah meting pertama di pagi tadi."
Satria bangkit dari mengungkung tubuh mungil Alya, dan memakaikan baju kimono tanpa perlindungan dalam.
Rasanya sangat tidak nyaman, meski hanya di pakai untuk keliling kamar, tanpa perlindungan pada setiap titik sensitifnya.
__ADS_1
Sayang kita makan dulu. Satria menggendong tubuh Alya dan mendudukkan di pangkuannya.
"Mas, apakah seperti ini yang disebut honey moon?"
"Bisa dibilang iya, bulan madu memang tidak jauh beda dengan yang kita lakukan hari ini. Berdua di kamar yang ada hanya kita memadu kasih, jika bosan kita bisa keliling tempat indah di kota ini, tapi bedanya bulan madu tidak memikirkan pekerjaan, sedangkan aku harus tetap bekerja.
Satria mulai makan malam di dalam kamar saja berdua dengan Alya, membantu membuka cangkang lobster dengan gunting, lalu mengambil daging lobster dengan capit.
Melihat Satria sangat sibuk Alya meminta duduk sendiri saja.
Alya seperti anak kecil yang menunggu suapan dari sang ayah, hanya duduk tanpa melakukan apapun karena Satria melarang Alya untuk membuat tangannya kotor.
Satria lalu menyuapi Alya daging lobster yang dimasak sangat gurih dan nikmat itu. Alya menerima suapan dari Satria dengan senang hati.
Satria sesekali tersenyum melihat Alya yang ternyata suka sekali dengan daging lobster.
"Sepertinya kamu suka sekali Sayang?"
"Iya Mas aku suka, Tapi sayangnya aku menghindari makan lobster dan kepiting karena tidak bisa membuka cangkangnya."
"Baiklah, habiskan ini. Aku sudah mengeluarkan dagingnya." Satria terus menyuapi Alya.
Tiba-tiba ponsel Satria terus berdering. mengganggu acara makan malam mereka " Naina." pekik Satria..
Satria mendorong kursi lalu berdiri, menggeser piring Alya hingga tepat di depan istrinya.
Sayang, maaf aku lupa ada meeting dadakan, aku tidak tahu mereka membuat jadwal, yang jelas aku sudah ditunggu.
"Mas, tapi makan dulu, setidaknya untuk menunda lapar sampai meting selesai."
"Baiklah, sayang, kau takut sekali aku kehilangan banyak tenaga." Satria menerima beberapa suap nasi dan daging lobster dari tangan istrinya.
Satria segera membersihkan dirinya terlebih dulu di bawah guyuran air shower. Setelah tubuhnya kembali segar, Satria segera keluar dari kamar mandi.
Alya segera menyiapkan baju yang pantas dipakai Satria saat meting dadakan nanti.
Mas, pakai kemeja ini ya?" ujar Alya sambil memegangi baju kemeja warna putih dengan corak warna biru. Satria mengangguk setuju.
"Mas kamu sudah rapi dan tampan." puji Alya yang terlihat bangga sekali memiliki suami seperti Satria.
__ADS_1
"jangan kemana-mana, tunggu aku kembali." Satria pamit pada Alya dan mengecup keningnya sebelum pergi.