
"Elisa dia ada di belakang! Cepat sedikit Elisa."
"Sudah tenang aja," jawab Elisa santai."
Elisa menambah kecepatan laju mobilnya. Membuat Alya sedikit tenang.
Alya bisa bernafas lega, dia kini menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang dia duduki.
"Elisa makasi ya."
"Sama-sama Alya." Elisa tersenyum. "Sekarang kamu ikut aku aja ya, aku jamin akan aman."
"Baiklah." Alya begitu mudahnya percaya dengan Elisa dan kata maafnya tempo hari.
Elisa segera membawa Alya ke rumah orang tuanya yang ke dua, Rumah itu kosong hanya ada bibi yang bekerja disana.
"Ini rumahku, untuk sementara kamu bersembunyi dulu disini," kata Elisa, setelah mobilnya terhenti di garasi.
Alya percaya untuk saat ini Elisa adalah Dewi penolongnya. dengan polosnya Alya mengekor di belakang Elisa yang mulai menapakkan kaki di Mension ke dua itu.
Alya kamu tinggal di kamarku dulu. aku akan menemui Satria ke kantornya, bukankah ponsel kamu di bawa oleh Preman tadi. Ponselku juga ketinggalan.
Alya menunjukkan kamar yang terlihat mewah, kamar dengan fasilitas lengkap seperti bintang lima.
Alya menelisik kamar didominasi warna merah muda dengan banyak boneka, kamar yang sangat indah. hati kecilnya berdoa semoga suatu hari dia akan memiliki ranjang peraduan seindah itu.
Alya duduk di tepi ranjang. Menetralkan nafasnya yang terengah-engah.
Tiba-tiba bibi dengan senyum ramah mengetuk pintu kamar.
Nona jika mau mandi atau istirahat, tidak usah sungkan-sungkan Nona bisa manfaatkan fasilitas di rumah ini, sebentar lagi saya akan datang kemari dan mengantarkan makanan.
"Terima kasih Bi." Alya tersenyum ramah pada bibi. Bibi juga membalas senyum Alya.
Nyaris malam Satria dan Elisa tak kunjung datang.
Alya mulai lelah menunggu, perut mulai keroncongan. Alya segera menghampiri makanan yang disiapkan bibi diatas nakas.
Dimakannya pempek isi ikan tuna hingga habis dua potong. Karena sambalnya terlalu pedas Alya ingin segera minum.
Karena terburu-buru tanpa sengaja Alya menumpahkan teh yang sudah disediakan oleh Bibi. "Awww. panas"
Karena insiden itu Alya bisa melihat teh itu mengandung zat lain, ada bubuk putih di endapannya.
__ADS_1
Alya mencoba mengendus, dan benar, ada aroma obat di dalamnya.
Alya mulai merasakan ada sebuah kejanggalan, dia mencoba mengingat setiap kejadian, yang baru saja terjadi, Alya mulai curiga saat tadi di jalan, jarak mobil Elisa dan lelaki bayaran itu tidaklah jauh, kenapa mereka tidak berusaha untuk menghentikan laju mobil Elisa atau berupaya menghentikan dengan segala cara. mereka justru menghilang entah Kemana.
Alya mulai turun dengan langkah pelan, berharap ada petunjuk yang dia dapatkan.
Alya mendengar bibi sedang menerima telepon seseorang di kamarnya.
Alya mencuri dengar obrolan bibi yang dikatakan Elisa, kalau wanita itu asisten satu-satunya.
"Nona Aku sudah melakukan tugas yang anda perintahkan, aku sudah mencampurkan bubuk yang nona beri tadi ke dalam minuman
wanita itu."
"Pastikan dia meminumnya, dan segera katakan padaku kalau obat itu sudah bereaksi dengan sempurna.
Elisa yang di duga oleh Alya sudah menemui Satria. Rupanya dia menemui dua preman itu untuk memberi tugas tambahan.
"Kalian pas5ri tertarik dengan wanita itu? jika malam ini kalian bisa menghancurkan harga dirinya aku akan kasih tips yang sangat besar gimana?"
Pertama kalian akan dapat kenikmatan bermalam dengan wanita cantik, kedua kalian dapat bonus gede."
"Tapi itu sangat beresiko Bos, kami harus terima dulu imbalannya?"
"Oke, ini seratus juta kalian bagi dua, tapi ingat jangan pernah sebut namaku dimanapun kalian berada. Setelah tugas selwsai akan ada tips tambahan untuk kalian berdua.
"Ya, jangan lupa minum ini penambah stamina!" Elisa melempar kaleng berisi minuman beralkohol pada dua pria bayaran.
"Mampus kamu Alya, setelah ini pasti kamu akan tamat, Satria tidak akan pernah percaya lagi padamu, lagipula Satria akan jijik mendapati istrinya telah digagahi laki-laki lain hahaha." Elisa tertawa jahat membayangkan rencananya malam ini sudah separuh jalan.
Elisa tidak akan membiarkan Satria dimiliki wanita manapun. Hanya dia yang berhak atas lelaki pemilik sejuta pesona itu, Semua yang ada pada Satria, Elisa menyukainya.
***
Alya mengendap keluar kamar menuju meja makan, dia segera meminum teh yang ada dimeja, lalu menuangkan teh sisa yang sudah diberi obat tadi kedalam teh lain yang ada di meja makan.
Setelah selesai menumpahkan kekesalannya Alya segera kembali ke kamar sambil membawa gelas kosong, Alya lalu pura-pura tidur.
Tak lama, Alya mendengar suara langkah kaki seseorang. Alya yakin pasti bibi yang hendak mengecek makanan yang diantar tadi.
Alya pura-pura tidur pulas, tidak melihat kedatangan bibi yang sudah di depan pintu. Wanita itu segera kembali dengan wajah puas.
Alya tahu pasti dia akan melapor perihal minuman yang sudah habis, untung Alya juga sudah mengelap bekas teh yang tumpah tadi.
__ADS_1
"Nona, wanita itu sudah meminumnya hingga habis, sekarang dia tertidur pulas." kata bibi melaporkan hasil kerjanya.
"Baiklah, aku akan segera memberi kejutan untuknya. Dia pasti akan membuat suaminya kaget bukan main, dan aku yakin Satria tidak sudi lagi dengan istrinya hahaha." Elisa terus saja tersenyum puas.
Elisa menjadi gadis seiko semenjak tahu hubungan Satria dan Alya semakin dekat, Ambisinya melebihi akal sehatnya.
Elisa segera memerintahkan dua orang suruhan menuju rumah keduanya. Lelaki bayaran yang kini keberadaannya tak jauh dari rumah ke dua segera datang.
Mereka makin tak sabar untuk bisa merasakan wanita secantik Aluna.
Lalu Elisa memberitahukan Satria untuk datang ke alamat yang dia berikan. Elisa menghubungi Satria dengan menggunakan nomor rahasianya.
Satria yang sudah panik karena Alya tak bisa di hubungi sejak siang tadi tentu segera datang begitu ada info keberadaan istrinya.
Satria mengemudikan motornya tanpa memiliki rasa takut, firasatnya Alya dalam keadaan tak baik baik saja.
Alya yang merasa berada dalam jebakan, dia segera berusaha melarikan diri. tapi Bibi yang melihat Alya kabur lewat pintu belakang segera menghadangnya.
Bibi heran kenapa Alya masih baik baik saja, ia mengira obat yang diberikan tidak bereaksi apapun.
"Lepaskan aku atau bibi akan menyesal."
"Maafkan aku Nona, aku tidak bisa melepaskan anda karena uang yang dijanjikan majikan kami terlalu besar," aku bibi.
"Kenapa bibi tega, padahal bibi tahu Elisa itu salah, apakah bibi tidak takut kalau masalah ini akan membuat hidup bibi sulit." Alya mohon dilepaskan celalan tangannya, karena bibi meski berusia lima puluh tahun, tapi dia memiliki tenaga yang kuat.
Bibi terlihat bimbang, dia akhirnya melepaskan Alya dan meminta untuk segera kabur.
Tapi nasib baik belum berpihak pada Alya. Dua lelaki yang sudah kehilangan kontrol karena minuman dari Elisa itu, tiba di gerbang masuk dan segera menangkap tubuh ringkih Alya.
"Tolong! Tolong lepasin aku Elisa aku tidak bersalah!"
"Mau kabur kemana kamu?" Elisa ikut turun dari mobil pribadinya dan ikut membantu para begundal itu menyeret tubuh Alya masuk kembali. "Apa kamu bilang tadi? tidak bersalah, kamu itu bersalah Alya, kamu mengambil Satria dari ku, tidakkah kamu tahu, Satria itu hanya milikku, tidak ada yang bisa miliki dia selain aku. Jika aku tidak bisa memilikinya maka kamu juga tidak akan pernah memilikinya ngerti!!"
Diseret oleh tiga orang sekaligus, Alya tentu tak bisa melawan. kini tubuhnya sudah penuh dengan memar dan biru. baju yang dikenakan juga sudah robek di bagian lengan dan pinggang.
Dihempaskannya tubuh Alya di ranjang yang begitu bersih, Alya segera bangkit dan turun tapi Elisa dengan bringas menampar dan memukul tubuh Alya.
"Kamu juga seorang wanita, kenapa kami sejahat ini?" Alya merasa kesakitan di ujung bibirnya.
"Aku jahat hahaha! Tentu aku ini tidak jahat, aku hanya berjuang demi cinta."
"Cinta kamu buta Elisa, jika cara kamu seperti ini aku yakin Satria tak akan sudi berteman denganmu."
__ADS_1
Elisa makin geram, tangannya meraih leher Alya dan mencekiknya, Alya beberapa kali tersedak. "Kukira kamu sudah meminum obat yang aku taruh di minuman itu, cukup cerdas juga kamu rupanya.
"Jika kamu seperti ini, sudah kupastikan kamu tak akan pernah jadi dokter, tak ada dokter kejam sepertimu Elisa." Alya kembali menjatuhkan mental Elisa dengan setiap kata-katanya. berharap Elisa sadar dengan perbuatannya, namun Elisa bukan sadar, dia malah berbuat semaunya.