Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Kecurigaan Alya.


__ADS_3

"Elisa pingsan!"


"Alya, Elisa sepertinya tidak pura pura dengan sakitnya, kita harus bantu dia." Satria menarik lengan Alya dengan tergesa. Mengajak ke tempat para mahasiswi berkerumun.


Mereka terlihat panik, melihat Elisa yang terkenal enerjik Tiba-tiba menjadi lemah.


Satria dan Alya membelah para mahasiswa yang berkerumun.


"Alya apa yang kita lakukan?" Satria meminta persetujuan istrinya.


"Ya dibawa ke rumah sakit, Mas."


Alya masih tak percaya kalau Elisa mengidap penyakit berbahaya, bukan tanpa alasan, tapi mang tak ada tanda-tanda. jika memang Leukimia, pasti wajahnya pucat, atau rambutnya rontok kemaren saja dia berkata begitu angkuh dan sombong, tenaganya sangat kuat saat mendorong dan mengikat dirinya di gudang.


"Alya izinkan aku menggendongnya." Satria sudah bersiap menggendong Elisa.


"Mas, kenapa harus kamu. Tunggu sebentar, aku akan meminta tolong Fajar atau Sadewo."


Alya menahan lengan Satria yang sudah siap membopong tubuh yang tergeletak di depannya sedangkan kepalanya di pangku oleh temannya. Elisa terus saja mencari perhatian Satria.


Satria tak bisa memaksakan diri, Alya adalah istrinya, wanita yang berhak penuh atas tubuhnya.


"Fajar! Sadewo! Sini!" panggil Alya sambil melambaikan tangannya.


Merasa namanya dipanggil Fajar dan Sadewo tentu segera mendekat. apabila yang memanggil si cantik.


"Ada apa memanggil kita berdua cantik?" Dewo suka menggoda Alya dengan kalimat bercandanya.


"Dewo tolong kamu angkat dia ke mobil sehat, Satria pinggangnya encok."


"Yang bener Sat, kebanyakan main sih lu." Dewo bersungut-sungut.


Alya segera mengunci lengan Satria dengan terus menggandengnya.


"Dewo tolong ya, menolong sesama akan banyak pahalanya," goda Alya.


"Dewo tunggu!? berani sentuh dia kita putus." Kata Dewi yang membuat Alya dan Satria tercengang.


"Apa! kalian sudah jadian. Jahat banget sih nggak kasih tau kita." protes Alya.


"Dewi, kamu harus hati-hati. Baru saja dikelas tadi dia bilang jomblo ngenes." Satria mengerjai mereka berdua.


"Benarkah dia bilang begitu? berani ngaku jomblo kamu ya, padahal kita baru jadian." Dewi sudah menunjukkan taringnya, matanya membola. "Kita lebih baik ...."


"Jangan! aku nggak mau putus, Kalau aku dan Dewi sampai putus kamu harus bertanggung jawab Satria."


Satria hanya tertawa.


Alya makin bingung mendengar semuanya, tadi Dewi juga masih kecentilan di depan Aditya, mungkin ini yang dinamakan masa berpetualang, berusaha mencari yang mampu memberi kenyamanan. Atau Dewi hanya berusaha menutupi semuanya supaya hubungannya tak terendus oleh Alya dan Satria.


Mau tidak mau Fajar yang membopong Elisa.


Satria tau Alya benar-benar tak mau ada wanita lain di dekatnya. "Alya, maaf ya." Satria minta maaf sudah membuat Alya di posisi tak nyaman.


"Aku istrimu, aku berhak melarang mu menyentuh siapapun. termasuk Elisa." Kata Alya merajuk.


"Baiklah Sayang." Satria mencubit hidung lancip istrinya lalu menggandengnya dan mengajak duduk di sebuah kursi.


Elisa kesal, dalam hati dia sungguh melaknat Alya, bisa bisanya dia menahan Satria untuk menggendongnya. dan meminta fajar yang menggendong, Teman Satria yang lumayan tampan dan berambut gondrong.

__ADS_1


'Sial, Alya sepertinya memang tak bisa diremehin beda sekali dengan Rosa, Rosa lebih mudah aku bodohi, sepertinya Alya sedikit sulit,' batin Elisa ketika masih dalam gendongan fajar dan menatap ke arah Alya meski terlihat memejamkan mata. Alya tersenyum kearah Elisa yang artinya aku tahu sandiwara kamu, dan secepatnya Satria akan aku beri tahu.


Elisa menyesal pura-pura pingsan, rencananya tidak sesuai ekspetasi. kalau dia sadar sekarang dan tidak mau dibawa ke rumah sakit, akan makin jelas kalau dia tidak sakit.


Elisa pura-pura menggeliat dikala sudah dekat dengan mobil sehat.


"Jar bawa ke mobil milik gue aja, nanti ada dokter spesial yang akan nanganin gua di rumah."


"Oke siap, aku mah siap aja gendong kamu sampai pelaminan juga." goda Fajar sambil merebahkan dirinya pelan-pelan.


"Udah pergi sana."


"Yakin mau nyetir sendiri."


"Kepo aja lu, sebentar lagi sopir keluarga gue datang."


"Baguslah kalau gitu, gue balik kampus lagi ya."


"lya,"


***


Alya dan Satria masih ada di tempat kejadian, melihat Fajar kembali Satria dan Alya segera menghampirinya, mau dirawat di RS mana Jar."


"Dia sudah punya dokter spesialis untuk penyakitnya katanya, jadi dia tidak mau dibawa di RS. Dia kelihatannya juga sudah baikan, nggak usah terlalu khawatir.


"Mas, benar dugaanku, Elisa itu nggak serius sakit berat." kata Alya, ingin memberitahukan kecurigaannya.


"Alya, di dunia ini nggak ada orang mau sakit, apalagi pura-pura sakit. jangan su'uzon gitu, aku tau kok kamu nggak begitu care sama Elisa, tapi jangan ngejelekin juga dong."


"Kamu ini Mas yang gak bisa terima kenyataan, aku curiga juga ada faktanya. Kalau kamu ingin selalu ada disisinya nggak apa aku ikhlas kok." Alya berkata dengan netra berkaca.


"Sana pergi temani dia," usir Alya. sambil menjatuhkan lengan Satria di pinggangnya.


"Nggak aku mau sama kamu aja disini."


"Entar Elisa ngambek."


"Biar dia yang ngambek daripada istriku yang ngambek." Satria baru tahu kalau Alya memiliki cemburu yang luar biasa terhadap dirinya.


Satria menggoda Alya dengan mencubit dagunya yang runcing.


"Bener tuh, kalau bini yang ngambek siap-siap aja gak dapat jatah. Kamu pasti nyeseknya berabat-abat.


***


Hari ini Alya pulang diantar oleh Dewi atas permintaan Satria. Sedangkan Satria segera menuju perusahaan tempatnya bekerja.


Sampai di rumah Alya menawari Dewi untuk masuk dulu. "Masuk Wi, sekalian makan siang."


"Dirumah ada siapa saja?"


"Mungkin ada Mas Aditya sama Mbak Kinan, mertua lagi pergi."


"Alya, hati-hati tinggal sama mantan, apalagi dia kelihatannya masih sayang sama kamu, kalau aku mending tinggal di kontrakan.


"Mau aku juga gitu Wi, tapi belum dapat kontrakan yang pas sesuai kantong. Satria bilang suruh sabar sampai bulan depan."


"Masuk yuk!" Ajak Alya.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga pengen tahu foto pernikahan kalian, Satria genteng nggak waktu di dandani jadi pengantin."


"Sama aja, Dia gak ada berubahnya."


"Kamu dan Satria lucu ya, bisanya nikah, nggak nyangka, padahal kalian dah sering ketemu, tapi kayak nggak kenal gitu dulunya."


"Hehehe, iya."


"Bang Aditya selama ini cuma jagain jodoh adiknya."


"Itulah bedanya rencana Manusia dan tuhan. Manusia bisa berencana tapi tidak bisa tahu apa esok yang terjadi.


Dewi dan Alya beriringan naik ke kamar Alya, lalu dia merebahkan diri di ranjang yang empuk."


"Nikmat banget hidup kamu Alya, kamar kamu luas dan empuk, pasti kalian senang menghabiskan waktu berdua di kamar ini.


Alya hanya tersenyum sebelum masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Dewi memutari kamar dan berhenti di dekat jendela.


'Indah sekali pemandangan sekitar jika dilihat dari kamar ini.' gumam Dewi. Di depan kamar mandi ada kolam renang yang lumayan luas dan sejuk.


"Alya aku mau berenang!"


"Ya, tapi aku nggak bisa temani, aku lelah Dew."


Luna ingin memejamkan mata, dia ingin memulihkan tenaganya yang setiap malam terkuras habis. Alya tidak mau membuat Satria kecewa dengan pelayanan yang buruk.


Ketika Dewi berenang, Alya memilih tiduran di sofa sambil menonton acara TV.


Saat sudah cantik dan segar dengan rambut basah karena habis keramas, Satria menelepon Alya dengan panggilan video call. Satria kepikiran tidak mengantar Alya pulang lebih dulu, apalagi ninggalin Alya sendirian tanpa ada bunda di rumah.


"Sore Sayang."


"Sore Mas."


"Duh cantik banget, pasti sudah wangi?"


"Wangi dong."


"Jadi makin nggak sabar pengen pulang."


"Katanya lembur, Mas."


"Kalau dia udah ngamuk gini, lemburnya bisa batal. daripada kerja nggak konsen, mending pulang aja"


"Jangan dong Mas, nanti Bos kamu marah."


"Lihat nanti aja ya. Nggak enah nahan kangen itu, mending nahan lapar."


"Bisa aja sih, Mas."


"Byurrrr, Suara Dewi naik turun kolam sesuka hati."


"Siapa yang berenang." Tanya Satria yang mendengar suara air beriak.


"Dewi Mas, dia aku ajak mampir"


"Oh, ya sudah, kamu lanjutin aja mainnya."


"Oke Mas." Alya tersenyum sangat manis sebelum Satria menutup ponselnya.

__ADS_1


Satria sekarang sedikit tenang ada Dewi bersamanya.


__ADS_2