
Alya dan Satria sudah sampai di rumah. Bunda rupanya sudah menunggu dengan cemas.
"Alya, Satria. Kalian ini bisa nggak sih kabarin bunda kalau pulang telat," omel bunda Aisyah.
Alya sudah menunduk karena rasa bersalah, tapi Satria malah tertawa cengengesan. "Bunda nggak pengertian banget sih. Kita ini pengantin baru, Bun. Pasti bunda bisa nebak lah, kita kemana."
"Maksud bunda, kabarin orang rumah Satria." kata Bunda lagi dengan wajah kesal.
"Iya Satria minta maaf. Lupa bunda." Satria mengecup pipi bundanya lalu menggandeng wanita yang memiliki tinggi hanya sepundak anaknya itu.
"Alya juga minta maaf Bunda," Alya mencium tangan mertuanya.
"Kamu baik-baik saja kan nak?" soalnya Satria sudah kebiasaan begitu, makanya bunda omelin, kamu jangan ikutan kayak dia ya, bunda beneran panik tadi," wanita berusia setengah abad itu memeluk Alya dengan sangat erat.
Kinan yang melihat Alya selalu mendapat pelukan hangat dari bunda hatinya memanas, dia tak pernah sekalipun dipeluk oleh bunda tulus seperti saat dengan Alya.
Kinan menata makanan dengan sedikit kasar untuk melampiaskan emosinya.
"Satria kamu ajak mandi istri kamu lalu kita tunggu di meja makan, keluarga sudah menunggu kamu sejak tadi."
Satria menarik tangan Alya. Alya segera ikut Satria dan mengekor di belakangnya.
"Ahh, Mas, jangan cepat-cepat dong jalannya."
"Kenapa? kamu keseleo!" Satria segera memeriksa kaki Alya.
"Belum sih. Tapi kaki ku pegel Mas." Alya kalo begini lelah begini terlihat manja dan imut.
"Aku gendong ya," tawar Satria.
"Naik tangga?" Alya terbelalak. Sekuat itukah suaminya.
"Nggak percaya." Satria segera memindahkan tasnya yang ada di punggung ke dada.
Dia sudah berjongkok siap untuk menggendong Alya.
"Mas, aku malu dilihat orang rumah." Alya terpaksa harus menoleh pada bunda dan orang orang yang kebetulan bisa melihat keberadaannya, termasuk aditya yang tengah mengambil minum.
"Kenapa malu? Ayolah, Alya."
Alya tidak mau membuat Satria menunggu lama, dia akhirnya menurut di gendong oleh Satria di punggung.
Aisyah dan Damar yang melihatnya hanya bisa tersenyum.
"Nggak nyangka Bun, Satria bisa jatuh cinta beneran sama Alya."
__ADS_1
"Kenapa nggak nyangka. Justru mereka kelihatannya serasi banget. Satria pasti bisa membuat Alya jatuh cinta lagi."
Kinan kehilangan selera makannya melihat Bunda Aisyah terus saja menilai Alya yang paling baik.
Sedangkan Aditya yang baru saja melihat Alya dan Satria di jalanan begitu mesranya, Kembali tersakiti melihat Satria menggendong Alya naik tangga yang menciptakan tawa keduanya pecah.
Aditya kecewa dengan Alya yang mudah jatuh cinta. Seharusnya dia tidak menyakiti hatinya hingga sedalam itu. Bisakah dia tidak perlu memamerkan kemesraan di depannya.
"Mas, lepasin aku, kita sudah sampai."
Alya meminta Satria agar menurunkan di depan pintu saja.
Satria tak kunjung menurunkan, dia berhasil membuka pintu dengan satu kakinya, Alya tak biasa mengunci kamar karena nanti ada asisten yang akan membersihkan kamar.
Satria membaringkan Alya di ranjang, melihat tubuh istrinya terlentang demikian pasrah, Satria segera melepas tasnya dan kembali lagi mencondongkan tubuh diatas istrinya.
Mereka saling pandang dan senyum mengembang di bibir masing masing.
"Mas, aku mandi dulu." kata Alya dengan suara bergetar.
Sepertinya Alya hari ini nervous berat berada dalam jarak sedekat ini dari Satria. Jantung mulai berdetak kencang sulit sekali untuk dikendalikan.
Satria tak mengindahkan kata-kata Alya, Satria sudah tak sabar membenamkan bibirnya di bibir Alya yang sudah lama menggodanya.
"Mas, aku mandi dulu."Alya mendorong tubuh kekar Satria, Alya tidak mau melakukan ciuman pertamanya dengan tidak percaya diri, karena dia mandi terakhir sudah pagi tadi.
Alya mengambil handuk yang sudah kembali terlipat rapi dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Alya masuk ke bathup, hari ini dia ingin mandi sebersih mungkin. Entah kenapa Alya ingin sekali membuat Satria suka dengan apa yang ada pada dirinya.
Apakah Alya mulai agresif?" bisa dibilang iya, tapi pada suami sendiri, tak ada yang salah.
Sedangkan Satria juga mandi. di kamar sebelahnya yang hanya ada shower dan bak mandi. Antara kamar mandi dipisahkan kaca tebal, jika ingin mengintip hanya bayangan tidak jelas yang terlihat.
Alya selesai mandi lebih dulu, dia saat ini mulai mengeringkan rambutnya yang basah.Tubuhnya hanya tertutup oleh handuk kimono.
Aroma sabun dan sampo khusus yang dipakai Alya menguarkan aroma yang wanginya menguar hingga memenuhi kamar.
Satria segera keluar kamar mandi. hidungnya langsung mengendus Aroma harum yang berasal dari tubuh Alya.
Netra Satria langsung tertuju pada seorang wanita cantik memakai handuk pink dengan tali mengikat di pinggangnya, yang membuat lekukan bak gitar spanyol kian jelas.
Wanita yang kini sedang duduk dengan memamerkan rambut hitam panjangnya yang melebihi punggung itu tersenyum.
Satria terpana melihat Alya yang sangat cantik dan wangi, belum lagi senyum itu.
__ADS_1
"Mas, kamu sudah selesai mandinya." Alya terkejut Satria mandi lebih cepat daripada biasanya, karena saat mandi Satria bisa menghabiskan waktu hingga setengah jam lebih.
Alya melihat bayangan Satria melalui kaca meja rias tepat di depannya.
"Alya," Satria hanya terbengong melihat istrinya sangat cantik.
"Mas, kamu kenapa? Aku bertanya Lho?"
"Nggak Alya kamu malam ini cantik sekali."
"Aku hari ini cantik hanya untukmu Mas."
Alya tak percaya dia bisa berkata seperti itu, andai ada yang mendengar, duh malunya pasti nggak akan ketulungan sampai akhirat.
"Benarkah Alya?" Satria berulang kali menelan salivanya kasar hingga jakunnya naik turun.
Alya mengangguk, lalu dia berdiri dan duduk di meja rias, tanpa berani berpose menantang namun bagi Satria Alya malam ini seperti seorang Dewi.
Satria mendekat, dari jaraknya yang sekitar dua meter kini tinggal setengahnya.
"Alya, kamu cantik sekali," puji Satria.
"Diam-diam kamu pandai ngegombal juga." Alya mencubit bulatan hitam kecil di dada Satria.
"Auhh, Sakit Alya." Satria meringis.
"Biarin kamu nakal," jawab Alya.
Satria jadi makin gemas, Satria kini mendekati Alya lebih dekat lagi, hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka berdua.
Satria mengelus bibir merah yang terlihat ranum dengan jari jempolnya. Alya sangat menikmati sentuhan jemari Alya itu.
Keadaan lantai dua yang sepi membuat suasana romantis tak terusik oleh suara apapun.
Satria dan Alya sudah sama-sama hanyut dalam sebuah rasa yang disebut cinta.
"Satria, benarkah kamu saat ini sudah mencintaiku?" kata Alya seperti sebuah bisikan. wajahnya mendongak menatap Satria yang menatapnya dengan kekaguman. Deru nafasnya semakin lama semakin hangat menerpa leher Satria.
Hal yang sama dialami oleh Satria. Lelaki itu merasakan ada yang berbeda, Alya seolah menyalakan lampu hijau untuk Satria agar melakukan apapun yang diinginkan.
Alya saat ini bagaikan padang tandus yang membutuhkan setitik oase agar bisa bertahan, jika Satria tak membantunya dia bisa mati.
"Satria," Tatapan sayu tertuju pada Satria, Alya melingkarkan tangannya di tengkuk Satria dan menarik kepala suaminya supaya lebih dekat lagi.
Satria berlahan menggerakkan jemarinya, mengelus rambut lurus Alya lalu menarik dagunya. Wajah Alya mendongak tepat di depan hidung Satria.
__ADS_1
Alya memejamkan matanya berlahan dan membuka bibirnya.
Dua insan yang tengah mabuk asmara itu sama-sama memejamkan mata, Satria mendekati bibir Alya yang sedikit terbuka, mereka sudah siap bertarung untuk saling memberi kepercayaan satu sama lain.