Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Naina hancur.


__ADS_3

Setelah keadaan lebih baik Naina segera meminta untuk kembali ke kamarnya saja, sesungguhnya Naina sangat benci dengan Arka, tetapi saat ini wanita itu tidak bisa mengusirnya karena dia sedang tidak berdaya.


"Jika belum baikan tinggallah di sini, Aku janji tidak akan menyakitimu lagi."


"Aku ingin pulang, selalu di dekatmu dan melihat wajahmu membuat aku merasa ingin mati saja." ujar Naina terkesan dingin.


"Segitu besarkah kau membenciku Padahal aku ini diam-diam suka sama kamu


"Cukup! cukup! jawabannya Aku tidak akan pernah suka sama kamu mengerti," kata Naina kasar.


Anda Sepertinya harus banyak belajar mengenal tentang cinta.


"Sesungguhnya banyak wanita seperti anda yang mencintai Satria melakukan apa saja tapi di antara mereka nyatanya tak ada satupun yang berhasil meluluhkan hati Satria dan membuatnya berpaling dari istrinya, Lagipula apa hebatnya coba? menjadi wanita perebut suami orang."


Kau sama bodohnya dengan Elisa tapi wajar dia bodoh Dia masih labil. usianya jauh lebih muda, sedangkan kau memiliki usia yang lebih tua, seharusnya cara berpikir lebih kamu lebih dewasa dan matang," terang Alya panjang lebar.


"Diam!!"


Naina kembali membentak Arka karena lelaki itu terus berbicara.


"Sebaiknya kau diam, mengerti Apa soal cinta, andai kau lelaki benar tak mungkin istrimu pergi meninggalkan mu."


Arka diam ketika Naina mengungkit masa lalunya yang kelam, dia sebenarnya bercerai karena istrinya berkhianat. dan bekasnya masih menyisakan luka.


Daripada terus bersama Naina membuat mood Arka lebih hancur, lelaki berusia tiga puluh dua itu memilih untuk pergi, Namun lelaki itu tak lupa meninggalkan makanan dan obat dari dokter.


"Baiklah Naina aku sudah berusaha untuk baik-baik denganmu, tapi aku lihat kamu memang tak membutuhkan aku, Aku pergi dulu." Arka terlihat lelah, membujuk seperti apapun sepertinya tak ada guna.


Arka meninggalkan kamar Naina, lelaki itu tidak kembali ke kamarnya melainkan bingung kemana, Arka memutuskan ke tempat Satria.


Setelah kepergian Arka, Naina menangis sangat keras, menumpahkan segala rasa yang berusaha dia pendam sendiri, Naina sangat marah dengan dirinya yang bodoh dan mudah mengambil keputusan.


Obat dari Arka dia obrak abrik hingga berantakan ke lantai.


"Gue hancur!! gue kotor. Menjijikkan." Naina menangis dan mencakar tubuhnya yang terdapat noda merah dengan kuku panjang.


Setelah itu dia duduk dengan memeluk lutut diatas ranjang.

__ADS_1


Naina menangis hingga sore tiba.


Lelah menangis Naina kembali tidur, kali ini dia meminta office boy untuk membelikan obat tidur yang sangat banyak.


Naina berharap setelah bangun nanti semua kenyataan ini tidak akan terlintas lagi dibenaknya. Naina masih berharap semua ini hanya mimpi.


***


Arka dengan langkah lesu berjalan menyusuri koridor. Arka berharap dia cepat sampai di kamar Satria.


Arka berharap laki-laki itu tidak sedang, olahraga seperti kemarin.


sepanjang jalan Arka terus berpikir, antara menceritakan masalahnya dan tidak, namun Arka butuh teman untuk memecahkan masalahnya.


Ya, Arka akan bercerita pada Satria, hanya saja dia tidak akan menyebut nama Naina sekalipun.


sampai di kamar Satria, Arka melihat Satria dan Alya sedang duduk santai sambil melihat acara TV, Alya tiduran dengan kepalanya berasa di pangkuan Satria, sedangkan Satria duduk sambil mengelus rambutnya, sambil menikmati kentang goreng.


begitu melihat Arka Alya segera beranjak dari pangkuan Satria dan masuk ke kamar, wanita itu mengambil hijab dan bergegas ke dapur untuk membuat kopi.


Setelah kopi selesai dibuat Alya segera mengantarkan pada kedua lelaki yang tengah duduk bersebelahan itu.


"Makasi Alya." Arka menatap Alya sekilas lalu kembali beralih pada ponselnya.


"Ada apa Bang? kelihatannya kusut banget. Semoga bukan masalah pekerjaan.


"Sat, benar kata kamu, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Aku sedang dalam masalah berat, tolong aku Sat. Sepertinya hanya kamu yang bisa aku percaya untuk mengetahui semua ini.


"Masalah apa bang? katakan saja kelihatannya kok serius banget?" Satria menanggapi ucapan Arka dengan tawa kecil di bibirnya.


"Kamu jangan senyum senyum Sat, masalah Abang ini memang berat"


Melihat Arka tidak sedang bercanda, Bahkan kini wajahnya terlihat sangat serius, Satria mulai menanggapi keluhan Arka dengan wajah serius.


"Cerita bang, cerita aja, aku akan mendengarnya." Satria genggam tangan lelaki yang sudah seperti abangnya itu.


Namun kelihatannya Arka sungkan dengan keberadaan Alya yang juga ada di ruang kecil paling depan.

__ADS_1


"Mas, karena ada Mas Arka yang temani kamu, aku tidur dulu ya."


"Iya sayang, nanti aku nyusul." Alya segera ke belakang dan merebahkan diri di ranjang, karena susah tidur Alya memilih menghubungi Dewi.


Mereka bercerita banyak hal, ya sudah berbicara dengan Dewi tak ada lagi ngantuk yang mendekat.


"Mas, katanya mau cerita."


"Arka semalam gue telah tidur dengan seorang wanita."


"Maksudnya salah kamar? tapi cuma tidur aja kan?nggak ngapa-ngapain."


"Bukan salah kamar, Sat. Tapi gue dan wanita itu sama-sama mabok, dan kita melakukan hal terlarang itu hingga berulang kali, sampai aku membuatnya dia terluka. Tapi jujur aku sebenarnya ingat, hanya saat itu aku tidak bisa mengendalikan diri, waktu itu aku seakan tidak mengenali diriku sendiri. Aku membuat surga terlarang untuk diriku sendiri dan aku tidak ingat lagi kapan Aku mengakhiri pergulatan itu. Karena setelah aku dan dia bangun, sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.


Menurutmu apakah aku harus menikahi wanita itu? tapi jujur saat perbuatan semalam aku tidak melihat ada bercak darah di seprei. Ah tapi itu bukan masalah, aku hanya ingin bertanya apakah aku harus menikah dengan dia?"


"Bagaimana ya Bang aku juga kurang tahu, tapi setahuku kalau kita sudah melakukan penyatuan, sebaiknya kita menikah saja karena takut hasil dari hubungan itu nanti menghasilkan seorang bayi."


"Nah aku juga berpikir sama kayak kamu Sat, Aku juga ingin menikahi wanita itu, tapi sayangnya dia bersikeras menolak, karena sudah ada laki,-laki lain yang mengisi hatinya. Apakah mungkin aku harus sedikit memaksa, dan seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh dengan sendirinya seperti yang kau lakukan pada Alya dahulu.


"Kalau saran aku bang, menikah saja dengan wanita itu, apalagi Abang kelihatannya ada rasa dengan dia, kalau tidak ada rada mana mungkin Abang bela belain ke sini."


Satria diam-diam sudah tahu siapa wanita yang dimaksud Arka itu.


Hanya saja Satria membiarkan Arka merahasiakan yang menjadi masalah pribadinya.


"Nikah saja sama dia bang, lagi pula kasihan kalau nggak Abang nikahin. apalagi kata Abang tadi sampai melakukannya berkali-kali," kata Satria setengah bercanda agar tidak terlihat terlalu tegang.


"Andaikan aku tahu siapa wanita itu akan aku bantu bujuk Bang. tapi sayangnya, aku tidak tahu. semoga urusan Abang sama tu cewek cepat menemukan titik terang, tapi satu nih yang harus Abang lakukan, Wanita itu suka sekali dengan perhatian. Abang bisa mengambil hatinya dengan hal kecil sebagai bentuk perhatian."


"Baiklah Sat, aku akan coba untuk kasih perhatikan ke dia."


"Nah gitu dong bang, semangat ya, semoga sukses. Aku berharap Abang emang benar-benar berjodoh sama dia."


"Kamu kayak tahu anaknya aja, Sat. ntar kalau udah waktunya juga bakal tahu, sekarang jangan dulu ya." ini arka terlihat sedikit lega, dicecapnya kopi buatan Alya. ternyata rasanya enak, Arka kembali meneguknya hingga habis.


Setelah kopi buatan Alya, dia minum hingga tandas di perutnya, Arka beranjak dari kamar Satria dan pergi menemui Naina. Arka ingin tahu apakah Gadis itu sudah makan apa belum. Apalagi hari sudah kelewat siang.

__ADS_1


Sampai di depan kamar Naina, Arka segera menghubungi Naina lewat ponsel. Namun, hingga panggilan ke tiga kali, Naina tak membalas panggilan Arka.


"Angkat Nai, please, aku sedang khawatir dengan keadaan kamu. pinta Arka begitu dia tak kunjung mendapat jawaban dari Naila.


__ADS_2