Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Luka luar dan dalam.


__ADS_3

"Rosa sudah pulang Sat?"


"Sudah, Bun." 


"Kamu istirahat, biar bunda obati lukanya." 


"Iya Bun."


Satria beranjak ke ruang tengah. Lalu duduk di depan TV sambil membiarkan Bunda mengobati lukanya. 


"Sat, Kakak kamu memang belum bisa lupakan Alya, jadi kamu harus sabar jika tiba-tiba dia marah, tapi kalau dia main pukul, harusnya kamu jangan diam saja, kamu menghindar dong." Mama mengajari putranya seolah Satria masih putranya yang kemaren sore.


"Sepertinya pilihan Satria menikah dengan Alya ini salah Bun."


"Lha kok malah ngomong begitu, bukannya dulu kamu yang minta." Bunda menatap putranya yang sepertinya sedang memikul beban yang amat berat. Sampai-sampai canda tawa Satria yang dulu selalu didengar oleh seisi rumah kini tak pernah terdengar lagi. 


Kinan yang ada di kamar langsung keluar dengan wajah meringis menahan sakit, begitu melihat Satria pulang. "Satria, tolong dong, mas Aditya suruh pulang sekarang. Aku kurang enak badan, dan perutku seharian ini beberapa kali kram. 


Bunda yang mendengar keluhan Kinan tentu ikut terkejut. "Sejak kapan Kinan? Cepat Sat, telepon Aditya. Bunda kok jadi khawatir, takut bayinya kenapa-napa." 


Kinan menjatuhkan bobotnya di sebelah Satria, mengelus perutnya yang buncit. 


"Sakit banget ya Mbak? Kalau nunggu mas Aditya pasti lama, aku juga tidak tahu dia sekarang dimana, aku antar ya ke Bu bidan Ropi'ah."


"Kok ke bidan Sat, pengennya sekalian USG, kalau ke bidan nanti cuma diperiksa dan dikasih vitamin. Soalnya aku takut kenapa napa, beberapa hari ini sering banget kram," eluh wanita hamil itu membuat Satria kasihan. 


"Ya udah kalau gitu aku antar ke rumah sakit, Mbak ganti baju. Aku juga akan siap-siap." 


Satria naik ke kamarnya sebentar, rupanya laki-laki itu ganti baju, kini Satria mengenakan celana yang sobek di lutut dan kaos yang mencetak dada bidangnya. 


Satria segera membonceng Kinan menggunakan motor besarnya dengan hati-hati dan pelan. 


Kinan berpegangan kuat di pinggang Satria karena selain sakit yang dirasakan, dia juga takut jatuh.


Satria tiba-tiba ingin mencari tahu sesuatu dari Kinan. Satria mulai bertanya-tanya tentang hal yang sekiranya tidak terlalu privasi dan sekitarnya tidak membuatnya tersinggung. 


"Mbak, ketemu sama mas Adit dimana sih?"


"Kenapa Sat?"


"Pengen tahu aja, Mbak."


"Aku kerja di kantor mas Adit, tujuh bulan yang lalu sebagai sekretarisnya."


Mas Adit itu baik banget Sat. Sama kayak kamu sekarang ini, wanita mana coba yang nggak klepek klepek kalau ada cowok tampan dan baik.


"Tapi mbak tau nggak, kalau mas Adit sudah punya pacar! Alya." 

__ADS_1


"Tau sih. Tapi nyatanya Mas Adit juga nggak bisa menolak aku kan Sat. Sekarang buktinya perutku sudah melar besar gini" 


'Astagfirullah hal adzim, jadi benar mas Aditya selingkuh dari Alya dan blackstreet dengan Mbak Kinan.'


Ya, Kinan tadinya menerima konsekuensinya jadi selingkuhan Aditya, tanpa menuntut dinikahi. Tapi Kinan berubah fikiran saat perutnya besar dan tetangga mulai membicarakannya dan terus mengolok kedua orang tuanya hingga ibunya jatuh sakit. 


Sebelum semua terlambat lebih jauh, Kinan sudah mengatur semuanya dengan rapi dan mencari waktu yang tepat, dimana Aditya tak bisa lagi lari dari tanggung jawab. Akhirnya dia putuskan mendatangi Aditya ketika dia melangsungkan peenikahannya.


Satria tidak bertanya lagi, jawaban Kinan baru saja seolah sudah mewakili semua tanda tanya yang ada di hatinya. 


Satria, menghentikan motornya di depan RSU. Lalu mengekor di belakang Kinan dan mempertemukan dengan dokter spesialis kandungan. Sambil menunggu Kinan selesai di periksa, Satria memilih duduk-duduk di depan parkiran.


Satria terbelalak ketika melihat mobil kakakknya juga bertengger di urutan paling depan, Satria yakin pasti mobil itu datang ketika hari masih pagi. 


"Alya!"


Tiba tiba Satria khawatir dengan kondisi Alya, Satria takut Alya terluka.


 Mungkin karena mereka suami istri jadi batin Satria menjadi lebih peka.


Satria segera menuju petugas informan rumah sakit yang sedang berjaga.


"Mas, tolong cari nama Khairunisa alyanti. Kira-kira dia datang baru pagi tadi," terang Satria sambil membungkukan badan dengan siku bertumpu pada meja kerja informan.


"Oke tunggu sebentar ya Mas." Lelaki itu segera mengutak atik layar komputer di depannya.


"Jadi benar Alya sedang dalam kondisi tidak baik. Tapi kenapa bisa seperti ini, bukankah Alya tadi pergi bersama Mas Aditya." 


Tanpa membuang waktu, Satria segera menuju ruang kelas satu seperti yang dikatakan pegawai rumah sakit tadi. 


Setelah membaca tulisan di papan yang berada di atas pintu. Satria sudah yakin tak mungkin salah lagi, Satria segera mengetuk pintu dengan tak sabar, ketukan punggung jemarinya membuat Aditya yang sedang membantu Alya makan segera menghentikan aktivitasnya.


Aditya membuka pintu pelan. Air mukanya berubah menjadi kesal begitu tau yang datang adik kandung sekaligus musuh bebuyutan itu. 


Satria mengacuhkan wajah kakaknya yang menatapnya dengan sebal. Dia berlari mendekati Alya dan membungkukkan punggungnya mengusap kening Alya yang berkeringat dingin.


"Alya, kamu kenapa bisa seperti ini."


"Aku nggak sengaja terpeleset dan jatuh Sat," jawab Alya sambil menatap manik mata hitam yang begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Jatuh!" Pekik Satria kaget, Seketika pikiran Satria langsung bisa menebak kalau Aditya pasti membawa istrinya ke perkebunan teh, karena disitulah tempat favorit mereka dulu.


"Iya Sat," Alya menatap Satria dengan air muka sedih.


"kamu juga terluka." Alya berusaha meraba pipi Satria yang masih terdapat lebam. 


Satria memejamkan mata merasakan sentuhan yang mungkin ini pertama kalinya dilakukan Alya dari hati. 

__ADS_1


"Kita sama-sama terluka, Alya." Satria mengusap pipi Alya pelan. 


"Kok bisa sampai terpeleset."


"Karena aku tidak hati hati."


"Kamu masih saja ingin melindungi lelaki bajingan itu." Satria makin kesal dengan kakaknya, berlebih saat dia mendengar pengakuan Kinan tadi. "Apa kamu dipaksa melakukan sesuatu?"


"Tidak."


"Jangan bohong!"


Satria kali ini benar-benar marah dia tidak bisa mengontrol emosinya lagi. 


Aditya yang hendak keluar karena tak tahan melihat kedekatan Adik dan mantan kekasihnya itu. Langkahnya seketika terhenti oleh teriakan Satria yang menghina dirinya 


"Berani kau bilang apa tadi?"


"Ya aku bilang kakak lelaki bajingan."


"Kurang ajar." Aditya kembali mengepalkan tangan dan siap melayangkan bogem mentahnya.


Alya yang terus menerus menjadi saksi pertengkaran adik kakak itu hanya bisa menangis dan meminta untuk berdamai.


"Belum puaskah kalian terus bertengkar seperti ini. Jika belum puas, kenapa kalian tidak bunuh aku saja. Biar semua masalah selesai." pinta Alya dengan suara mengiba. 


Aditya menurunkan kepalan tangannya. Dia hendak meminta maaf pada Alya karena membuatnya sedih.


"Aku tegaskan padamu sekali lagi Mas, sebaiknya kau jauhi Alya." ucap Satria 


"Kau yang harus menjauh dari Alya." Aditya tak mau kalah telak. 


Karena kesal, buru-buru Satria mengatakan keadaan Kinan. "Mbak Kinan ada di poli kandungan, aku yang mengantar kesini karena suaminya tidak waras, punya istri hamil masih saja sibuk urusin istri orang."


"Oh, jadi sengaja nieh, bawa Kinan biar aku bisa ninggalin kamu dan Alya berdua."


"Sudah Mas, tengok sana, jadilah calon ayah yang baik untuk anakmu. Jukum karena di dunia ini masih berlaku


Satria sekarang bisa tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Aditya terdengar mengumpat berulang kali sebelum pergi. 


Setelah Aditya pergi Satria segera mengunci pintunya dan memasang senyum di wajahnya. 


Satria mengambil nasi yang baru dimakan beberapa suap oleh Alya karena tak nyaman saat Aditya yang menyuapi tadi.


"Diterusin makannya."


Alya mengangguk dan membalas senyum Satria. "Mau, tapi disuapin ya."

__ADS_1


"Idih, manja nie." Satria menarik kursi lalu duduk didekat Alya sambil membawa nasi kotak di tangannya.


__ADS_2