Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Satria yang berubah.


__ADS_3

Sejak tadi Satria mengabaikan kedatangan Alya yang begitu senang.


Dokter sudah selesai melepas beberapa alat yang tidak dibutuhkan oleh Satria lagi.


Setelah selesai, dokter mengizinkan keluarga untuk mendekat.


Aditya mendorong kursi roda Alya sedikit lebih maju. hingga Alya bisa melihat suaminya dengan jarak lebih dekat, para orang tua mengalah, mereka melihat dari jarak sedikit jauh. Memberi kesempatan agar Alya lebih leluasa.


"Mas!"Alya senyum sumringah menatap Satria yang masih terlihat lemah, tapi wajah Satria tidak menggambarkan ekspresi bahagia.


Satria menatap Aditya dan Alya dingin.


"Mas, aku sangat bahagia hari ini, berhari-hari aku mengkhawatirkan kamu," ujar Alya dengan mata berkaca karena saking bahagia.


Satria hanya menatap Alya sebentar, lalu kembali lagi menatap langit-langit.


Alya sangat merindukan Satria dipeluknya tangan suaminya sesekali menempelkan wajahnya di lengan itu, Alya juga menciumi berulang kali menandakan rindu yang amat besar.


Alya mengabaikan sifat cuek suaminya. Dia hanya berfikir kalau Satria mungkin masih lelah, dan merasakan sakit luar biasa ditubuhnya. oleh sebab itu dia tak begitu merespons perhatiannya.


"Mas, aku sudah tak sabar pengen jalan sama kamu lagi, kamu cepet sembuh ya, kita makan di lesehan tempat pertama kali kamu ajak aku kulineran, Enak Mas disana, sambil makan kita bisa melihat banyak ikan di sekeliling kita" Alya masih terus berbicara, meski Satria lebih banyak diam.


"Em ... Sat, Kakak juga mau kasih satu mobil buat kamu, biar nggak lagi kehujanan dan kepanasan lagi, selain kamu baru sembuh dari sakit, kasian Alya juga." kata Aditya menunjukkan rasa sayangnya.


"Mas Adit nggak usah, pake motor juga nyaman," jawab Alya keberatan.


"Iya, tapi motor Satria masih rusak, lagipula, Satria baru sembuh, nggak boleh naik motor, ini juga demi kenyamanan kamu, Dek.


Alya terdiam, tidak tahu keputusan Satria nanti, menolak ataupun menerima.


"Satria, kok diam saja, Alya ngomong sama kamu sejak tadi, dia begitu khawatirkan kamu, Sayang," ujar Bunda Aisyah yang mulai merasakan perubahan sifat Satria ke Alya.


"Aku hanya butuh sendiri, aku ingin istirahat dulu," jawab Satria lirih tanpa ekspresi.


"Baiklah Nak, jika mau istirahat kami semua akan keluar, Ayo Mas, kita kasih kesempatan Satria untuk istirahat, Adit kamu ikut keluar ya, biar Alya yang temenin Satria." mereka semua keluar, tinggal Aditya dan Alya.


"Alya, aku keluar dulu ya, jika butuh sesuatu kamu bisa kabari aku, atau langsung panggil saja, aku ada didekat pintu."


Alya mengangguk, senyum tipis terbit untuk Aditya yang banyak membantunya terakhir ini.


"Alya, kamu juga keluar, Mas Adit juga, aku ingin sendiri, jika masih ada seseorang di dekatku aku sulit untuk tidur," ujarnya dingin.


Satria sambil menggeser tubuhnya membelakangi mereka berdua. Alya hanya diam terpaku melihat punggung Satria.


"Sat! kenapa kamu berubah begini? Apa karena kecelakaan membuat kamu lupa siapa jati dirimu? kamu suami dari Alya, jangan cuekin dia seperti ini." Aditya tak tahan melihat Satria yang tidak peduli Alya lagi.


"Tolong keluarlah, aku bilang aku butuh istirahat." Satria keras kepala.


Alya tentu saja tak bisa menahan airmatanya, dia segera meminta Aditya untuk mendorong kursi rodanya keluar. " Kita keluar Mas, mungkin Mas Satria memang sedang ingin sendiri." ujar Alya dengan bibir bergetar.


Sedikit marah, Aditya mendorong Alya keluar, dia tidak menyangka Satria akan berubah drastis setelah sadar dari koma.

__ADS_1


Diam-diam Aditya juga konsultasi dengan dokter mengenai perubahan sikap Satria, Dokter mengatakan kalau pasien akan sensitif, gampang tersinggung dan mudah marah dalam beberapa hari ke depan.


Aditya lega mendengar ucapan dokter, setidaknya sikapnya tidak akan lama menyakiti Alya. Dihampirinya wanita itu yang tak mau meninggalkan jauh dari pintu tempat Satria dirawat


"Dek, biarkan saja Satria ingin sendiri, kata dokter hal ini wajar dialami pasien yang baru sadar dari koma. Satria mungkin masih syok atas keadaan yang menimpanya." Aditya tiada henti terus menghibur Alya.


"Mas, Satria tidak seperti ini, dia sangat mencintaiku, tapi saat ini aku tidak melihat dia seperti Satria yang aku kenal, sorot matanya dingin, dia tidak merindukan aku lagi," kata Alya sambil terisak.


Aditya bingung harus mengatakan apa lagi pada Alya. Dia hanya bisa menemani Alya sa'at ini.


"Kita makan dulu, kalau kamu bosen makan menu dari RS, aku belikan makanan kesukaanmu."


Lelaki dengan penampilan rapi itu meninggalkan Alya, melajukan mobilnya menuju restaurant dimana dia dulu sering sekali datang, Alya sangat suka sushi, dibelinya banyak sekali sushi dengan aneka macam bentuk dan rasa.


Setelah meminta pada pelayan restaurant untuk take away saja, pelayan segera membungkus pesanan Aditya.


Aditya segera kembali setelah sushi kesukaan Alya sudah ada di tangannya.


Saat kembali Aditya tak menemukan Alya lagi di depan ruangan Satria, wanita itu sudah kembali masuk menemui suaminya dengan diam-diam.


Satria yang belum tidur dia melihat kedatangan Alya. Bodohnya dia malah pura-pura tidur.


''Mas, kamu marah sama aku? maafkan aku yang membuatmu seperti ini, andaikan aku tak meminta berhenti diwaktu itu pasti Elisa tidak akan kembali mencelakaimu. Mas, maafkan aku." Alya berbicara sambil menangis. Diusapnya airmatanya yang tak mau berhenti menetes dengan punggung tangannya.


'Maafkan aku Alya, akan terlalu banyak rintangan yang kita hadapi jika terus bersama, tadinya aku yakin bisa melindungi mu, tapi apa, Aku tak mampu melakukan apapun untuk semua ini.'


'Jika bersama Mas Aditya hidupmu akan sempurna, Mas Aditya akan melindungi mu. Apalagi saat ini Elisa kembali melarikan diri, selama dia masih berkeliaran dia akan terus menjadi bayangan buruk untukmu.' Satria terus berbicara dalam hatinya. Dia saat ini sedang lemah mental, percaya dirinya hilang. Belum lagi Naina yang terlihat begitu terosebsi dengannya. Bagaimana jika dia mengenal Alya dan bersikap seperti Elisa.


Tidak, Alya harus baik baik saja, menurut Satria lelaki terbaik bagi Alya adalah Aditya, dia sudah sukses.


"Mas Adit, aku sedang menemani Mas Satria, dia pasti kesepian di dalam sendiri."


"Satria sedang tidur, pasti efek samping obat yang diminumnya membuat dia nikmat tidur."


Alya tidak menjawab terus dipandangi wajah Satria yang bibirnya kering dan pucat.


"Alya aku belikan sushi kesukaanmu, direstaurant yang dulu menunya sangat kamu sukai, pasti kamu sudah lama nggak kesana."


Alya mengangguk membenarkan ucapan Aditya, tapi dia sama sekali sudah tak ingin makan disana. Semenjak menikah dengan Satria, dia tidak lagi suka makanan produk luar negeri, Menurut Alya kuliner Indonesia tak kalah enaknya.


"Alya aku sudah belikan untukmu, masa kamu tidak mau makan, ayolah makan walau sedikit," bujuk Aditya yang tahu Alya pasti lapar, sejak pagi wanita itu tidak memasukkan apapun ke mulutnya.


"Nanti saja Mas, nunggu Satria bangun."


"Alya ini sudah siang, kamu mau sembuh atau terus sakit? Lagipula Satria belum boleh makan-makanan kasar."


Alya akhirnya terdiam. Mau mengelak seperti apapun, tak bisa di bohongi kalau Alya saat ini sudah sangat lapar.


Diamnya Alya berarti setuju, Satria kembali membantu Alya untuk keluar ruangan, mencari tempat yang enak untuk makan siang, Aditya membawa Alya ke taman, selain udaranya sejuk disana lebih santai.


Aditya menyuapi Alya dengan sushi kesukaannya. Alya menerima suap an beberapa potong sushi dari Aditya. karena lama tak makan Alya merasakan sushi kali ini sangat enak.

__ADS_1


"Gimana, enak kan?" tanya Aditya.


"Iya." ujar Alya sambil mengunyah. "Sejak dulu rasanya nggak berubah."


Disini tempatnya sejuk, banyak Nitrogen dari tumbuh-tumbuhan, Kita disini sebentar lagi ya," kata Aditya usai menyuapi Alya.


"Iya." Alya mengangguk. tiba-tiba doa teringat bayi mungil yang menggemaskan. "Cahaya sama siapa, Mas?"


"Oh, cahaya sama asisten baru, kamu kangen sama dia ya."


"Dia lucu dan cantik," jawab Alya


"Iya, wajahnya seperti Kinan. Kinan sebenarnya juga cantik, tapi sayangnya aku tidak bisa mencintai dengan tulus, Terlalu banyak kecurangan yang dia lakukan padaku. Andaikan dia dulu tidak melakukan kebodohan, aku dan kamu pasti sudah bahagia."


Alya terdiam, dia hanya mendongak, sesekali melihat pohon hijau berdaun rimbun yang memberi rasa sejuk.


"Alya jujurlah padaku, selama dengan Satria apakah kamu bahagia?" Tanya Aditya, menatap Alya dengan tatapan yang dalam, memohon jawaban kejujuran.


"Aku juga tidak menyangka, Aku bisa sangat bahagia saat bersama dia Mas, kukira dulu jika tanpamu aku akan mati, tapi nyatanya. Cintaku tidak sedalam lautan seperti yang diungkapkan pujangga."


"hehehehe." Aditya terkekeh. Alya pun sama.


Aditya lalu melipat bibirnya ke dalam, sambil mengangguk, Jawaban Alya sangat berbeda dengan kenyataan yang dia alami. meski Aditya sudah rela melepas Alya untuk Satria. Namun hati tetap tak bisa berbohong.


"Baguslah. Aku ikut senang," jawab Aditya tertawa gemas sambil sesekali mengelus puncak kepala Alya.


Satria melihat mereka berdua semenjak di taman. Meski tak mendengar jelas pembicaraan mereka, Satria melihat Aditya dan Alya begitu bahagia. Senyum sesekali menghiasai wajah istrinya. Satria juga melihat betapa telaten Aditya menyuapi dan mengusap sisa makanan di pipi Alya.


"Mas Satria, anda tidak boleh terlalu lama terkena angin, sebaiknya kita kembali saja ke ruangan." Suara suster membuyarkan lamunan Satria.


"Baiklah, Sus. Tolong antarkan aku."


Satria yang bosan tidur di ranjang ingin melihat suasana alam bebas, berminggu di atas brankar tulangnya terasa linu dan ototnya kaku. Namun, peringatan suster membuatnya harus segera kembali.


Naina dan Pak Arya juga sangat senang mendengar kabar Satria siuman. Bapak dan anak itu segera meluncur menemui Satria.


Naina membawa banyak sekali oleh-oleh untuk Satria, tak lupa dia memoles wajahnya secantik mungkin meski berpakaian tidak terlalu seksi.


Naina, kita akan ke rumah sakit, kenapa kamu harus secantik ini?"


"Papa kayak nggak pernah muda aja."


Pak Arya hanya terkekeh kecil melihat tingkah putrinya, lelaki itu belum tahu kalau Satria sudah menikah.


"Satria! Syukurlah kamu sudah siuman." Naina segera menghambur pada Satria yang tengah terlentang, menempelkan kepalanya di dada bidang lelaki idaman.


"Satria aku senang kamu sudah baik-baik saja, Semoga kerja sama kita tak akan berhenti sampai disini. Aku juga memiliki kabar gembira untukmu. Ada rekan bisnisku yang suka sekali dengan hasil kerja kamu, dia ingin kamu membantunya dalam pembangunan hotel bintang lima, dan jangan tanyakan gajinya, Dia berani bayar kamu berlipat. Hanya saja tempatnya di Kor*a Utara "


"Tapi aku belum sembuh, dan proyek pembangunan di perusahaan anda juga belum selesai," jawab Satria.


"Siapa bilang belum selesai? Kamu sudah menyelesaikan dengan sempurna, untuk praktek dilapangan nanti kamu bisa bekerja sama dengan Naina."

__ADS_1


Satria sudah paham maksud Pak Arya, tetapi dia tidak langsung menyanggupi. Satria masih harus memulihkan tenaga dan pikirannya terlebih dulu.


"Satria ini peluang emas, gaji yang kamu dapatkan berupa Won bisa kamu bayangkan jika dikalikan dengan rupiah," bisik Pak Arya memberi iming-iming dengan sebuah kesuksesan.


__ADS_2