Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Cemburu tak diakui


__ADS_3

Pagi ini mentari begitu terik, langit pun berwarna biru. Berdiam diri di kamar rasanya sangat bosan Alya memilih duduk di gazebo belakang sambil menunggui satria yang pergi entah kemana. 


Alya tahu sejak telepon dari wanita yang bernama Rosa, anak jurusan kedokteran itu membuatnya tak tenang. Rosa yang dia ketahui selama ini dia adalah anak orang berada dan juga cantik. 


Sangat berbeda dengannya, dia masuk AKBID saja sudah ngoyo. Umi dan Abi sudah mati-matian kerja keras. 


Alya mengambil setangkai mawar merah yang tumbuh subur di taman belakang. Menciumnya berulang kali, berharap menemukan ketenangan dari aroma bunga itu.


Tiba-tiba dari arah belakang lengan besar nan berbulu kasar itu merengkuh pinggangnya.


"Sendirian, Dek."


"Mas!" Pekik Alya.


"Apa dek? Biasanya kamu suka kalau aku memelukmu tiba-tiba begini. Mas kangen sama kamu, Dek"


"Kamu gila Mas!" Alya segera menghempaskan tangan besar itu dari pinggangnya.


"Dek, kamu harus tau, aku sangat mencintaimu sampai sekarang, cintaku padamu tak pernah berkurang, justru semakin bertambah. Setiap kali kamu dan Satria bersama itu menyakiti hati, ku Dek." 


"Terus apa yang kamu inginkan, Mas? Kamu yang mulai semua ini!"


"Yang ku inginkan masih sama dek, jangan pernah sudi disentuh Satria, karena aku akan kembali padamu, kita pergi dari rumah ini, kalau perlu dari negara ini. Kita akan membina mahligai yang dulu pernah kita impikan berdua."


"Kamu jahat sekali, Mas. Itu akan membuat semua orang-orang terluka." Lirih Alya sambil menarik nafasnya panjang.


"Dek, aku akan buktikan padamu jika anak itu bukan anakku." Kalimat memuakkan yang entah berapa kali terus keluar dari bibir Aditya.


"Terus anak siapa? Kamu kira Kinan itu gadis murahan?" Alya tersenyum dalam kepahitan.


"Tidak, hanya saja saat aku merasa dia menjebakku, Dia sudah pernah melakukannya dengan lelaki lain. Tidak ada noda darah sama sekali usai kita tak sengaja melakukannya.


"Kejam sekali Mas, kamu merusaknya sekarang kamu bilang seperti itu."


"Dia sangat berbeda denganmu Dek, dia tak sungkan menggoda lelaki lebih dulu. Apa namanya kalau bukan gampangan. Jangan pertaruhkan hubungan kita hanya demi wanita itu. 


"Dan ada yang harus kamu tahu, Satria itu sedang menemui kekasihnya. Kalau nggak percaya aku ada bukti buktinya." Aditya menunjukkan ponselnya, memang disana terlihat Satria dan seorang wanita sedang duduk berdua, minuman di depannya masih utuh, obrolan yang mereka ciptakan terlihat santai. 


Mas, kamu jangan memfitnah Satria, dia lelaki yang baik, bagaimanapun dia sudah membuat keluargaku selamat dari aib. Dia sudah menyelamatkan harga diriku sebagai mempelai wanita." Alya tidak mau menelaah mentah-mentah berita dari Aditya.


"Nih dek, aku tadi minta tolong salah satu teman buat ikutin dia. Kamu lihat dia sedang sama siapa ini?" Aditya makin mendekatkan ponselnya.

__ADS_1


Alya melihat Satria dan Rosa sedang bicara berdua di sebuah cafe. Sebenarnya Satria datang kesana ingin memberi tahu pada Rosa kalau dia sudah tak sendiri lagi. Dirinya sekarang sudah menikah. 


Hal itu Satria rasa Rosa juga perlu tahu. Karena Satria tidak mau Rosa selalu datang dan memberi perhatian lebih. 


"Kalian berdua sudah sama Mas.Sama sama hebat, Terus apa ada lagi kehebatan dari kalian yang ingin kau tunjukkan padaku."


"Makanya kamu pikirkan dek, jika mau mantapkan hati pada dia," imbuh Aditya lagi.


Alya pergi meninggalkan Aditya sendiri, dia masuk ke kamar dan ingin langsung tidur. 


Sementara di sudut lain Alya melihat Kinan sedang mengawasinya dengan mata berkaca kaca. Wanita itu sepertinya cemburu, karena suaminya hanya memperhatikan istri orang lain daripada dirinya yang sedang hamil dan butuh kasih sayang. 


Alya duduk di kamar sambil menatap pantulan dirinya di depan meja rias. 


Meski berusaha menampik dan tidak lagi percaya pada Aditya tapi jujur foto Satria dengan wanita itu membuatnya merasakan sebuah rasa sakit yang dia sendiri tak tahu apa namanya. Entah cemburu atau hanya merasa tak dihargai.


"Jadi wanita itu memang spesial bagi Satria." Lirih Alya sambil memejamkan matanya. 


Alya menitikkan air mata konyolnya. Bagaimana dia bisa menangis melihat Satria hanya makan bersama dengan wanita lain, sedangkan selama ini dia tidak ada niat membuatnya supaya betah di sisinya.


Alya mengobati lukanya sendiri dengan salep dari dokter, dia berharap luka itu segera sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti hari biasa. 


Saat ingin membuat surat lamaran pekerjaan, Alya bisa melihat sebuah paperbag yang masih utuh dengan isinya di antara tumpukan buku-buku Satria. 


Alya merogoh isinya. "Kemeja warna putih tulang, kainnya halus, merk nya juga tak tanggung. Produksi luar negeri yang bisa dibilang tidak murah. 


'Satria, you re my best friend, hope you like' begitulah isi dari kertas yang ada di dalamnya.


Adalagi arloji dengan merk Al*ba khusus cowok. Alya berulang kali membolak-balik benda merk mahal itu. 


'Teman baik, Sebaik apa hubungan Mereka.'


Mendengar ada langkah kaki semakin mendekat, Alya segera mengembalikan dua benda itu dengan asal. Lalu duduk kembali di di depan meja rias, menyeka airmatanya dengan kasar.


"Alya,belum tidur," Suara Satria dan suara derit pintu yang dibuka nyaris bersama.


"Belum." jawab Alya tanpa menoleh. Setelah berhasil duduk di kursi kecil di depan meja rias. 


Satria membungkukkan tubuhnya di belakang Alya. Alya berusaha menetralkan nafasnya, 


Satria melihat beberapa luka yang belum diberi salep mungkin karena tak bisa dijangkau oleh tangannya sendiri. 

__ADS_1


Sini aku bantu pakaikan salepnya. Satria meraih kotak salep di atas meja rias. 


"Tidak perlu aku bisa sendiri." Alya segera mengambil dan menggenggamnya. Ada yang beda dengan sikap Alya dengan beberapa jam yang lalu dan sekarang.


Melihat mata Alya yang basah Satria jadi penasaran ingin tahu perihal apa yang membuatnya demikian.


"Kamu kenapa lagi Al?"


"Tidak kenapa-napa, aku baik baik saja, aku hanya butuh istirahat."


"Alya aku bukan anak kecil yang tidak bisa merasakan perubahan sikap kamu." Satria menggenggam tangan Alya yang memberontak tak mau disentuh. 


"Kamu dan Mas Aditya itu sama, tidak jauh berbeda."


Satria hanya terbengong, tak mengerti dengan maksud ucapan dari Alya. Alya menatap Satria tajam, mata indah itu berubah sedikit lebih galak.


 "Katakan alasan dari ucapanmu. Apa ada yang mempengaruhi kamu? Oh iya, tentu ada, pasti mas Aditya." Satria duduk jongkok di depan Alya, menunggu wanita itu berbicara terus terang.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Satria lagi dengan memohon penjelasan.


"Tidak ada." Alya menghindar, kini ingin tidur saja. Alya berdiri membuat kursi yang diduduki berderit, Toh Satria yang ditunggu sudah pulang.


"Alya, kamu kenapa susah banget sih, bicara jujur saja sama aku. Kamu Kenapa?" Satria belum puas dengan diamnya Alya. 


"Nggak apa-apa, aku cuma kasih selamat ke kamu aja, seneng kan habis ketemu sama pacar!" Alya menarik paksa bibirnya selebar mungkin. Lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Pacar! Aku habis ketemu pacar! Rosa maksud kamu?" Satria meremas rambutnya, lalu menggosok ujung hidungnya kasar. "Ini salah paham, kayaknya aku harus jelasin ke kamu, aku dan Rosa tidak ada yang special, kita cuma sahabat." 


"Tapi dia sayang kamu," sela Alya.


"Kalau itu belum tentu benar, yang aku tahu selama ini kita cuma sahabat, nggak pernah lebih." Satria kini duduk bersila sedangkan Alya terlentang sambil menatap Satria. Dengan membuka selimut hingga sebatas dada.


"Belum tentu benar, juga belum tentu salah." Alya menatap intens wajah Satria.


"Kamu Cemburu?" tanya Satria


"Tidak, apa aku berhak untuk cemburu?" Alya menjawab cepat.


"Kamu berhak cemburu, karena aku suami kamu." Satria mengelus rambut Alya yang hitam dan lembut.


Alya membiarkan jemari panjang suaminya menyentuh rambut indahnya. Alya mulai mendamba sentuhan lembut Satria.

__ADS_1


__ADS_2