
"Mas!" Alya memundurkan langkahnya karena Satria terus saja mendesak maju.
"Mas, maaf." bibir Alya tak berhenti minta Maaf.
dug!
Tubuh belakang Alya terbentur dengan dinding. Alya kehilangan ruang gerak.
Satria menarik dagu Alya membuat wajahnya mendongak ke atas membuat mata indah itu berulang kali mengerjab dan bibir merah yang terlihat sangat nikmat seperti hidangan sore.
Satria kini menatap dengan jarak kurang dari satu jengkal. "Kamu harus membayarnya sekarang."
"Membayar?" Alya memasang wajah bingung. "kenapa aku jadi berhutang," kata Alya polos.
Satria tak menjawab lagi, dia langsung menyergap bibir Alya yang sejak tadi terus menggoda.
Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut, Satria segera membopong Alya ke ranjang, melucuti semua baju yang melekat di tubuhnya.
"ishh." Alya mendesis kala Satria melepaskan tautan bibirnya. dan bibir Satria mulai meninggalkan jejak di leher dan dada.
Suara Alya semakin berisik kala dua bukit yang semakin membusung itu mendapat perlakuan istimewa dan lembut, sesekali Satria mengecup dan menghi**apnya seperti bayi.
"Sayang ini hukuman untukmu." Sesekali saja Satria memanggil Alya 'sayang' terutama ketika mereka bermain di ranjang. tapi di kampus cukup dengan nama saja.
"Bagaimana kau suka sekali hukuman hari ini."
"Dasar mesum uhh." Alya mencubit pinggang Satria.
Satria hanya bisa tersenyum nakal. "Aku hampir gila karena jamu cepat hamil pemberian ibu itu,"
Satria segera membuang kain persegi yang menempel ditubuhnya, mengarahkan basookanya tepat di inti Alya, setelah meregangkan kedua kakinya.
"Meski tak sesulit pertama kali karena harus menuai beberapa kali kegagalan dan istirahat ber jam-jam, tapi Alya tetap saja merasakan sakit dan penuh di miliknya.
Satria mencoba memberi yang terbaik hari ini, dia tidak mau Alya kecewa sedikitpun. Satria memaju mundurkan tubuhnya dengan ritme pelan, semakin lama semakin cepat.
Alya memejamkan matanya merasakan tubuhnya diterpa gelombang cinta yang besar tak terkira.
Deritan ranjang sayup-sayup terdengar. Suhu AC rendah tak mampu membuat peluh berhenti menetes. Rintihan, dan erang*n tak henti keluar dari bibir Alya.
"Jangan siksa aku terlalu lama." Alya merasa ingin mengakhiri semuanya ada yang ingin meledak keluar setelah bergerilya dia atas ranjang selama satu jam.
Satria sore ini membuatnya ingin pingsan lagi, meski belum berani melakukan macam-macam gaya.
Tubuh Satria Ambruk setelah mereka melakukan pelepasan bersama. Sesuatu di bawah sana berdenyut-denyut menambah nikmat tiada tara di akhir penuntasan.
Satria mengecup seluruh wajah Alya sebelum berguling ke samping.
Mereka berdua mengatur nafasnya yang tersengal, lalu saling memandang sesaat.
"Maafkan aku, apa masih sangat sakit." Satria membelai rambut lembut yang tergerai di depannya.
__ADS_1
Alya mengangguk. Namun batinnya merasakan puas, jujur permainan kedua ini dia mulai bisa merasakan sensasi beda. Rasa nikmat, bahagia dan nyeri bercampur menjadi satu.
"Mandilah, sebentar lagi malam tiba, aku juga harus mandi lagi."
"Iya." Alya beranjak, tapi satria menarik tubuh Alya hingga kembali tumbang di dada bidang lelakinya.
"Sebelum pergi beri aku satu kecupan sebagai rasa terimakasih. karena aku menghukum kamu dengan hukuman yang sangat menyenangkan."
"Tidak mau, kau curang, hukuman ini sangat menyakitkan, sudah membuatku belang seperti ini."
Alya melihat sekujur tubuhnya yang sudah dipenuhi tanda merah di dada leher bahkan di paha.
Satria tertawa, dia nikmati wajah cemberut istrinya yang turun dari ranjang dengan perlindungan sehelai selimut.
Alya melepaskan selimut ketika di depan kamar mandi.
Sebelum mandi Alya mengambil cermin di dinding untuk memastikan tubuhnya masih baik-baik saja.
Alya segera mengembalikan cermin dan menceburkan diri ke bathup, begitu melihat tubuhnya sudah mirip macan tutul.
"Sebenarnya dia itu monster penghisap darah, atau drakula, dua kali bermain, tapi aku sudah belang seperti ini." gerutu Luna kesal.
Sedangkan Satria memilih mandi dengan shower.
Setelah keduanya selesai, Satria dan Alya memilih memakai baju couple. Baju itu dibeli Satria ketika pulang kerja tadi. Satria ingat malam ini adalah malam spesial bagi seseorang.
"Den, semua sudah siap." ujar bibi dari balik pintu.
"Sama-sama Den, Den malam ini kalian berdua serasi banget."
"Masa sih," Satria mengamati diri, yang malam ini sengaja dandan rapi, rambut di sisir ke belakang, nampak sangat tampan dan memesona.
Lagi-lagi keluarga sudah siap lebih dulu. Kinan terpukau melihat Satria yang rapi dan tampan. berulang kali mengelus perutnya, pasti berharap anaknya nanti akan setampan Satria.
"Akhirnya kalian turun dan bergabung, akhir-akhir ini kalian selalu terlambat, tapi bunda memaklumi, sebagai pengantin baru kamar adalah tempat favorit kalian," ujar Bunda.
Aditya menghentikan makannya melihat Alya begitu cantik. Nasi di mulutnya tertahan hingga beberapa menit.
Baju yang dipakainya benar-benar menarik perhatian Aditya, dan belum pernah dilihatnya sekalipun Alya memakai baju itu. Artinya semua baru, tapi darimana Satria dapat uang. apalagi setelah menikah dia terus menolak uang dari bunda, Satria membuktikan kata-katanya kalau dia bisa bekerja untuk keluarga kecilnya dengan usaha sendiri.
Satria segera memeluk bunda, dan membisikkan ucapan mesra untuk Bunda. " Selamat ulang tahun wanita hebat. semoga tuhan selalu memberi engkau kesehatan dan tetap cantik seperti ini.
Alya juga memberi ucapan selamat ulang tahun pada bunda dan memeluknya. Acara ulang tahun bunda hanya dihadiri keluarga saja, dan kali ini Aditya dan Satria sama-sama memberi hadiah untuk bunda.
Aditya yakin hadiah darinya pasti lebih mahal.
"Bunda kenapa hadiahnya tidak dibuka sekarang." tanya Aditya usai potong kue.
"Baiklah anak-anak, seperti biasa bunda akan buka hadiahnya."
Dengan hati-hati Bunda membuka hadiah dari Aditya lebih dulu.
__ADS_1
Bunda senang sekali mendapatkan cincin dari Aditya, Apapun hadiah dari anak-anaknya bunda selalu senang.
"Biar aku pakaikan Bun." Aditya membantu memakaikan cincin di jari bunda.
"Terima kasih Aditya, bunda akan pakai hadiah dari kamu." Bunda memamerkan hadiah dari Aditya ke semuanya.
Kali ini giliran Bunda membuka hadiah dari Satria. "Punya Satria dibuka dikamar aja Bun, paling juga sepotong daster," ujar Aditya dengan nada mengejek.
"Adit, apapun hadiah dari adik kamu kita harus menghargainya, Hadiah itu tidak dilihat dari nilainya tetapi niat dan ketulusan seseorang yang memberi." ujar bunda menasehati.
"Tapi hadiahnya memang selalu murah kan bun,"ejek Aditya.
Di sini Alya sadar, kalau selama ini dia hanya dibutakan cinta Aditya, tanpa tahu sifat asli lelaki yang dipacarinya bertahun tahun itu.
Meski kenyataan sesungguhnya, selama ini hadiah Satria memang selalu lebih murah. tak sepantasnya dia bersikap demikian.
"Satria Bunda buka hadiah dari kamu." Bunda tersenyum pada Satria.
"Iya Bunda, Tapi apa nggak sebaiknya ikut saran Kak Aditya saja kalau hadiah dari Satria dibuka di kamar aja."
"Sudahlah Sat, apapun hadiah dari kamu Bunda akan senang sekali." Bunda mengacak rambut satria yang sudah rapi dengan gemas.
"Batal ganteng deh," Satria merapikan rambut menyisir dengan kelima jarinya.
Satria dan Alya hanya tersenyum sambil mengeratkan pegangan tangannya satu sama lain.
"Mas kamu belikan hadiah Bunda, Apa?" bisik Alya di telinga Satria
"Nanti kamu juga akan tahu Al, aku juga sudah siapkan hadiah untuk kamu." Satria membalas bisikan Alya.
"Mas, Kenapa harus belikan aku juga, aku nggak sedang ulang tahun."
"Kelamaan nunggu ulang tahun." Satria menatap istrinya yang malam ini memang paling cantik. sudah tak sabar ingin menggigit bibir cerewetnya, tapi Satria tak mau kemesraannya disaksikan Aditya.
Alya merebahkan kepalanya di bahu Satria,wali hanya demikian, mampu membuat dada Aditya kembali bergemuruh.
"Satria, kamu." bunda terbelalak melihat gelang cantik dari emas.
"Maaf bunda, kalau kurang suka." Satria salah paham mengartikan ekspresi bunda.
Aditya tak percaya jika itu emas. "Bunda itu pasti imitasi, atau hasil mencuri, kerja apa dia bisa dapat uang dengan cepat," ejek Aditya lagi.
Dituduh demikian hina, Satria kehilangan kesabaran. Ditarik kerah baju kakaknya dan di dorong hingga menempel di dinding ruang makan. Aditya mengalah tanpa perlawanan di depan kedua orang tuanya. "Mas, selama ini aku selalu diam dengan apapun yang kamu lakukan, tapi ingat Mas, kesabaran seseorang pasti ada batasnya." Aditya pasrah ketika Satria hendak melayangkan bogem di rahangnya tapi Alya segera menarik lengan suaminya.
Tak biasanya Aditya pasrah begitu, pasti semua trik untuk menarik simpati kedua orang tuanya.
"Mas, ini ulang tahun bunda, jangan melakukan hal rendahan ini, biarlah cara-cara ini dilakukan oleh orang yang memang berjiwa rendah."
Bunda Aisyah dan Ayah Damar sudah panik, takut kalau anaknya akan baku hantam, tapi syukurlah Alya mengingatkan Satria disaat yang tepat.
"Alya terimakasih, beruntung aku punya kamu yang bisa memadamkan api amarahku, tetaplah menjadi air dan jangan pernah jauh dariku," ucap Satria lalu melepaskan tangannya dari kerah baju Aditya. Alya meraih tangan Satria dan mengajaknya ke taman, acara akan dilanjutkan dengan membakar ikan gurami yang sudah disiapkan bibi sejak sore tadi.
__ADS_1
*Jangan lupa ritualnya ya Sayang, kasih emak like, komen, dan vote, hadiah bunga juga boleh banget.