Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Satria putus asa


__ADS_3

"Satria kenapa kamu harus melindungi wanita pembawa sial itu. Seharusnya kamu biarkan saja dia mati!!" 


Elisa kini menyesal setengah mati telah menabrak lelaki yang dicintainya. Bahkan saat ini Elisa tidak tahu bagaimana kabar Satria. Setelah dia tergeletak tak berdaya waktu itu.


"Satria hiks! hiks!" Elisa menangis di  persembunyiannya seorqnh diri.


Elisa mondar mandir dalam ruangan gelap seperti orang gila, tanpa mendapat kabar tentang Satria sedikitpun.


Ingin keluar, takut polisi akan meringkusnya, berdiam di persembunyian membuat hatinya tak tenang. 


Elisa sesekali melihat foto Satria dan dirinya dari dalam ponsel. Dia terus berbicara dengan foto itu sambil berjalan bolak balik di sebuah gudang.


"Satria harusnya kamu biarkan saja Alya mati, dia telah menghalangi hubungan kita, Sayang. Hiks hiks hiks."Elisa kadang menangis kadang tertawa. Ketakutan dan rasa bersalah membuatnya syok berat. 


Elisa tiba-tiba mendengar pintu rumah persembunyiannya di ketuk. Gadis itu semakin ketakutan luar biasa. 


Dari dalam dia berteriak. "Pergi! Pergi! Aku bukan pembunuh, pergi!"


"El, buka pintunya, Elisa aku mohon buka! Ini aku Kakak," teriak Arga dari luar sambil terus menggedor pintu.


Arga terlihat marah mendengar Satria mengalami kecelakaan, sedangkan mobil yang menabraknya sudah jelas mobil milik keluarganya. 


Tidak sulit bagi Arga menemukan Elisa, gadis itu selalu bersembunyi di gudang kosong milik keluarganya setiap kali dapat masalah.


"Tidak mau! Kakak pergi saja. Aku nggak mau ketemu siapapun," jawab Elisa dari dalam.


"Percuma kamu terus berbunyi, semua tidak akan merubah keadaan kalau kamu sudah menabrak Satria hingga meregang nyawa."


"Tidak, bukan aku! Mana mungkin aku menabrak laki -aki yang aku sayangi. Pasti orang lain," kilah Elisa. Kali ini dia mendekati 


"Keluar kamu, kamu pikir aku bodoh. Cepatt!!"


Mendengar teriakan Arka yang terlihat begitu marah membuat Elisa jadi bingung. Dibuka takut kakaknya akan memukulnya. Jika makin lama membiarkan Arka diluar dia pasti bisa masuk dengan cara lain. 

__ADS_1


Ceklek!


Dengan tangan bergetar, Elisa membukakan pintu untuk kakaknya. 


Elisa segera mundur hingga menempel tembok dengan wajah ketakutan. 


Arka segera mencekal kedua lengan Elisa dan mengunci tubuh adiknya itu. 


"Apa yang ku lakukan pada Satria? Kenapa kamu tega sama dia? Ayo jawab!" Bentak Arka yang notabene sudah dianggap Kakak oleh Satria. Tentu lelaki itu juga ikut terpukul dengan sohibnya yang kini tak berdaya.


"Aku ingin menghabisi wanita jahat itu Kak, tapi Satria malah melindunginya. Aku benci Alya. Karena dia, Satria tidak begitu respect lagi sama aku, dia nggak pernah peduli aku lagi, padahal Aku sudah cinta banget sama dia, aku patah hati Kak? Kamu tahukan bagaimana sakitnya patah hati?" Elisa menangis sambil terus bicara, berharap Arka akan luluh dengan air matanya.


"Elisa, cinta yang kamu miliki itu cinta gila, Memaksa orang supaya mencintai kamu, sedangkan dia memilih wanita lain, harusnya ikhlasin saja Satria memilih Alya. Jika seperti ini keuntungan apa yang kamu dapatkan?"


Elisa tertunduk lesu, tak lama tubuhnya merosot ke lantai. Ada sebuah penyesalan yang tak bisa diungkapkan.


"Kak bantu aku menemui Satria, aku harus minta maaf." ujarnya kemudian dengan mata berkaca. 


"Bagaimana jika polisi menangkap ku," tanya Elisa konyol.


"Sudah pasti polisi akan menangkapmu." kata Arka membuat Elisa semakin ketakutan.


"Kak apa yang harus aku lakukan?"


"Temui Satria lalu serahkan diri ke polisi, Kakak berharap hukuman kamu akan lebih ringan. Daripada kamu terus berlari seperti ini." 


Elisa diam, tak pernah terbersit di otaknya sedikitpun kalau dia harus mendekam di jeruji.


"Baiklah Kak." Elisa mengangguk, meski dia tidak yakin akan siap menyerahkan diri pada polisi. 


Arga menggandeng Elisa keluar gudang. Lalu mengajaknya menuju rumah sakit dimana Satria dirawat. Sampai di halaman, Elisa kembali merasakan takut. 


"Kak, aku belum siap bertemu keluarga Satria. Aku hanya ingin bertemu Satria saja tanpa bertemu yang lainnya."

__ADS_1


"Pakai ini." Arga melempar masker dan wig, berharap penyamaran Elisa tidak diketahui oleh siapapun.


Arga tahu kalau Elisa pasti tidak akan siap bertemu keluarga Satria dan Alya, dia tidak mungkin memiliki keberanian sebesar itu. 


Sampai di ruangan tempat Satria dirawat, Arga meminta izin perawat untuk masuk dan mengaku kerabat dekatnya, Perawat mengizinkan namun hanya sebentar. 


Elisa terkejut, tubuhnya mendadak kehilangan tenaga hingga terhuyung melihat Satria yang terbaring lemah diatas ranjang dengan mata tertutup rapat. 


Untung Arga dengan sigap menangkap tubuh Elisa.


Nebulizer menancap di hidung Satria, layar EKG menunjukkan kalau kerja jantung Satria sedang tidak stabil, selain dua alat itu, masih banyak lagi Alat yang menancap di tubuh Satria dengan fungsi yang berbeda. 


"Satria!!" Elisa menutup mulutnya yang menganga, dengan kedua telapak tangan. "Sat, bangun Satria! Maafin gua." Elisa kembali histeris setelah tahu Satria tak mampu melakukan hal sekecil apapun, selain tergolek lemah tak berdaya. 


Arga yang melihat Satria sedemikian menyedihkan dia ikut meneteskan airmata. "Sat, kamu kuat, kamu pasti bisa melawan semua ini. Elisa akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Cepet sembuh Sat."


"Satria kamu juga sayang banget sama Alya, apa kamu yakin akan terus seperti ini dan melihat dia sedih."


Alam bawah sadar Satria mendengar semua ucapan Arga. Tapi entah kenapa, andai bisa memilih, Satria ingin pergi saja dari dunia ini, melihat Aditya dan Alya kembali bersatu adalah harapan terbesarnya saat ini.


Satria tidak mau jadi penghalang kebahagiaan kakaknya yang masih ingin Alya kembali, apalagi kakaknya sudah menduda. Fakta yang lebih mengejutkan lagi buat Satria adalah Cahaya bukan Darah daging Aditya. Satria kini merasa dirinya seperti orang ketiga diantara masalalu cinta Alya dan Aditya yang begitu besar. 


'Bang Arka, apa nggak lebih baik aku pergi aja, bukankah membiarkan orang yang kita sayangi mendapatkan cinta sejatinya itu lebih menyenangkan, Kalian nggak usah sedih, aku akan pergi dengan tenang.' ucap Satria dari alam bawah sadarnya.


"Satria, cepet sembuh ya, maaf nggak bisa lama, aku harus antarin Elisa menyerahkan dirinya ke polisi." Arka pamit pada Satria, digenggamnya tangan lemah Satria yang terbuka. Arga tak mau kedatangan Elisa akan memperkeruh keadaan jika sampai Alya atau yang lain memergoki.


Sebelum Alya kembali usai menjalani pemeriksaan, Arga dan Elisa lebih dulu pergi, Arga tak mau Elisa mendapatkan perlakuan buruk keluarga Satria, apalagi Alya.


"Kita semua sudah nggak sabar main balap motor lagi sama kamu Sat, Please kamu harus kembali demi kita semua, Alya istri kamu terus menangis, belum lagi pekerjaan dan tanggung jawab di kantor yang belum selesai." Arka menggenggam jemari Satria. Satria ingin sekali membalas genggaman tangan Arga, tapi apa daya bergerak sedikitpun tak mampu. 


'Maaf Mas, aku tak mungkin bisa bertahan jika rasanya sekarang saja sesakit ini.' Satria terus berkata di dalam alam bawah sadarnya, dia telah putus asa.


 

__ADS_1


__ADS_2