
"Pagi! duh kalian berdua seger banget." Aditya menyapa Alya dan Satria yang rambut keduanya tentunya sedang basah.
Wajah ramah Aditya membuat Satria berfikir lelaki itu sudah berubah dan mulai menerima Kinan.
"Mas, mau makan pakai ikan apa?" usai mengambilkan nasi Kinan meminta pendapat Aditya tentang ikan yang disukai.
'Syukurlah mereka berdua sepertinya sudah saling menerima satu sama lain, atau Mas Aditya mulai sadar kalau Kinan dan calon bayinya adalah tanggung yang harus di prioritaskan.' batin Alya.
Alya dan Satria saling menatap dan seulas senyum kembali tercipta.
Satria dan Alya tentu senang dengan suasana pagi ini, tak ada lagi tatapan tajam dan mengintimidasi dari Aditya. Kalimat pedas dan hinaan juga tak terdengar.
Aditya sibuk menatap Kinan yang menyiapkan makanan untuk di bungkus ke kantor.
"Mas, lihatlah, kita bisa terlambat." Alya terkejut jarum jam paling gemuk menunjukkan angka delapan kurang.
"Ya Tuhan, pagi ini ada Dosen kiler itu Mas, aku harus berangkat sekarang." Alya panik dia hanya sarapan sedikit lalu berkemas.
Melihat istrinya berkemas Satria ikut segera berkemas juga mereka berdua lalu pamit dengan Kinan dan Aditya sembari berlari. Satria juga pamit dengan Bi Minah.
"Mas aku berangkat dulu, Bi aku berangkat dulu."
"Hati-hati Den," jawab Bi Minah.
"Ya, hati-hati, aku juga sebentar lagi berangkat," jawab Aditya dengan dengan nada santai sambil menyantap sarapan di piringnya.
"Maaf Alya, aku nggak tau kalau jam dikamar mati."
"Masih ada waktu beberapa menit Mas."
"Syukurlah." Satria segera menuntun motornya keluar bagasi.
Satria segera menstarter motor besarnya, hanya dengan satu sentakan suara motor besar itu sudah menggema. Namun ada yang aneh saat menuntunnya tadi, motornya makin berat dari biasanya.
"Sial." Satria mengumpat. Mendengar umpatan lelakinya, Alya terkejut.
"Alya, ban motorku kempes, kayaknya kamu harus naik angkot."
"Kok bisa sih Mas. kemaren baik-baik aja."
"Entahlah, kayaknya ada yang bocor." Satria memeriksa ban depan dan belakang bergantian. Satria terkejut Ban motornya robek, dan tak mungkin untuk ditambal, harus diganti. dan pasti butuh waktu beberapa menit atau bahkan bisa satu jam ditambah waktu yang dibutuhkan untuk mendorong ke bengkel.
Aditya baru keluar ketika Alya dan Satria sedang panik. Kinan mengantarnya Sampai di depan pintu dan terlihat mencium tangan Aditya.
"Mas kamu nanti pulang jam berapa? aku bawakan mangga muda ya," pinta Kinan manja.
"Iya, entar aku belikan" jawab Aditya singkat. kalau tidak ada mereka berdua, ogah Aditya bersikap manis seperti hari ini.
"Sat, kok belum berangkat, bukannya tadi buru-buru."
__ADS_1
Aditya membuka pintu mobilnya lalu segera masuk, tak lama mobil mewah itu melaju dan berhenti tepat di sebelah Satria.
"Mau bareng, nggak?"
"Alya kamu bareng Mas Adit ya, aku betulin motor dulu. Yang penting kamu sampai kampus dulu. Jam pertama kemungkinan aku kosong." Satria tak ada pilihan lain. Dia tahu Dosen Adam tidak main-main mengerjai siapapun yang telat. Satria takut Alya akan dipermalukan di depan kawan-kawannya.
Mata Alya menampilkan keraguan. Satria menarik dan mendekap tubuh istrinya. "Aku percaya sama kamu, please hari ini kamu bareng Mas Aditya. Hubungi aku jika dia macam-macam," bisik Satria lalu melepaskan dekapannya.
Lagi-lagi pemandangan menyakitkan yang disaksikan Aditya. Alya segera membuka pintu belakang. Namun Aditya membukakan pintu depan.
"Bangku belakang kotor, kamu bisa duduk di depan, di sebelahku," kata Aditya.
Alya melihat bangku belakang basah, entah minuman apa yang tumpah, tapi Aditya tak pernah jorok seperti itu sebelumnya.
Tak ada pilihan, Alya akhirnya duduk di depan, di sebelah Aditya.
Sepanjang perjalanan Alya diam dan fokus pada jalanan, sesekali dia menatap ke arah samping menikmati pemandangan yang dilalui.
"Kapan kalian berencana punya anak?" tanya Aditiya. Alya yang sedang melamun terkejut dengan pertanyaan Aditya yang tiba-tiba.
"Anak! Aku belum tahu." Jawab Alya gugup. Kalimat aneh itu lolos begitu saja.
"Kok nggak tau, bukanya kalian sudah rajin membuatnya."
'Syukurlah, kalau dia sudah tau aku dan Satria sudah melakukan kewajiban suami istri.'
"Kok diam." Aditya menatap Alya yang menoleh ke arah lain.
"Tapi Satria sudah ingin punya anak lho, dia itu suka sekali dengan anak kecil. Apa kamu minum pil penunda kehamilan tanpa sepengetahuan dia."
Alya menarik nafas panjang, menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Alya tidak suka tema obrolan pagi ini.
"Maaf, jika ini terlalu pribadi untuk aku ketahui."
"Nggak apa-apa, Mas."
Aditya makin yakin kalau Alya hanya melakukan kewajiban saja pada Satria, anak adalah harapan terbesar untuk pasangan suami istri sebagai bukti cinta, jika Alya tak mau hamil, Artinya Alya belum melupakan dirinya dan belum cinta sepenuhnya dengan Satria, begitulah yang dipikirkan Aditya.
"Di pakai sabuk pengamannya, Dek."
"Makasi sudah diingetin."Alya menoleh pada Aditya yang juga menatapnya.
"Soalnya kamu kebiasaan lupa." kata Aditya yang sudah biasa mengingatkan Alya.
Aditya tak berani lama-lama menatap Alya, takut wanita itu akan ilfil lagi dengannya, dan kesempatan seperti hari ini akan hilang.
Ting !
Sebuah notif pesan dari Satria masuk ke ponsel Alya.
__ADS_1
[Apa sudah sampai? apa kamu telat?]
[Ini sudah di depan kampus, sepertinya tidak telat] balas Alya, sambil menatap pada Dewi yang menunggunya di dekat parkir.
[Mas Aditya tidak macam-macam sama kamu Al?] tanya Satria lagi.
[Tidak Mas, Mas Aditya sepertinya sudah mulai bisa terima kenyataan]
[Syukurlah] balas Satria lega.
"Makasih Mas," ucap Alya ketika Aditya menghentikan mobilnya.
Sama-sama, kalau ada sesuatu jangan sungkan hubungi aku."
"Iya Mas. Alya segera turun. Namun Aditya kembali menghentikan gerakan tangan Alya.
"Kamu belum kasih peluk dan cium aku, Dek."
Alya tersentak dan nyaris marah, tapi Aditya malah tertawa. "Aku cuma bercanda, jangan dibawa serius."
Alya lega, lalu mengerucutkan bibirnya setelah ngedumel. "Kebiasaan buruk dipelihara."
"Alya!!" Dewi berlari mendekati Alya. Dewi tentu saja kepo kenapa Alya pagi ini justru bersama mantan pacar yang dimata Dewi lelaki tampan, tajir dan super perveck itu.
"Satria mana?" tanya Dewi.
Aditya yang belum menyalakan mobilnya mendengar pertanyaan Dewi langsung menjawab. "Mbak yang ada Aditya, kenapa malah cari Satria?"
"Hehehe, maaf Mas, habis Alya kan istrinya Satria."
"Satria masih dibelakang, bentar lagi juga datang, Mbak kita boleh tukar nomor telepon kan?"
"Bo-bo-boleh Mas."
"Wi!" Alya mencengkeram tangan Dewi, tapi gadis itu memang suka salah tingkah di depan lelaki tampan. Dewi tak menghiraukan tatapan mata Alya
Dewi tetap memberikan nomor ponsel pada Aditya. Dewi senang berteman dengan siapa saja, terutama teman-teman Alya.
"Dek, Mas pamit ya, kuliah yang pinter," kata Aditya setelah berhasil menyimpan nomor Dewi. Aditya suka sekali menggoda Dewi.
Setelah kepergian Aditya Alya berjalan cepat menuju kampus.
"Alya tunggu." Dewi berusaha mengejar Alya.
"Malas, gue kesal sama kamu, mas Aditya itu sudah menikah, kamu mau jadi pelakor, centil."
"Alya, lagian gue juga pengen kenal aja, gue nggak bakal jadi pelakor di rumah tangga dia. Lagian kamu ini punya pacar udah good looking, good rekening, dilepas gitu aja pada pelakor, harusnya kamu bertahan sama Mas Aditya dan Satria buat aku aja," canda Dewi.
Alya tak menghiraukan ucapan Dewi, dia memilih masuk kelas dan duduk tenang di bangku menanti Dosen Adam yang beberapa langkah dibelakangnya tadi.
__ADS_1
Alya mulai tenang melihat Satria tiba di halaman, lelaki itu tersenyum ke arahnya. Satria melambaikan tangan dan cium jauh. Alya hanya bisa membalas senyum Satria. Alhasil Alya yang tidak fokus mendapat teguran dari Dosen paling kiler di kampus.