Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Malam yang dinanti


__ADS_3

Aditya meninggalkan makan malam dan pergi entah kemana. Lelaki itu tak kuat lagi terus merasakan sakit yang setiap hari dia rasakan sendiri.


Hari demi hari Alya semakin dekat dengan Satria, bahkan Satria tahu betul mereka habis melakukan apa. Bibir Alya terluka hingga berdarah.


'Ciuman seperti apa yang mereka lakukan sampai demikian gila, Alya sepertinya benar-benar melupakan cintanya padaku selama ini. Dia sudah berpaling pada Satria. secepat itukah Alya, setega ini"


"Si*l!"


"Si*l!"


"Si*l!"


Aditya memukul kemudi mobilnya berulang kali. Setelah dia menepikan mobilnya di pinggir jalan depan hamparan lahan kosong.


Aditya beberapa kali berusaha menetralkan nafasnya. Namunbayangsn menyakitkan terus saja menghantui.


Seorang wanita dengan perut besar turun dengan buru-buru dari atas motor diantar oleh ojek.


"Mas! Mas!"


"Ngapain kamu kesini?" Bentak Aditya pada wanita itu.


"Aku kesini khawatirkan kamu Mas." Kinan mengintip Aditya dari luar kaca.


"Aku tidak pernah butuh simpati kamu, aku hanya ingin kamu segera lahirkan anak itu, dan pergiii ! Akan aku buktikan kalau kamu sesungguhnya wanita seperti apa."


"Mas, ini anak kamu, aku nggak bohong, aku hanya ngelakuinnya sama kamu."


"Bushit ! wanita sepertimu itu banyak Kinan, yang rela menyerahkan tubuhnya dan berkata hamil, supaya dinikahi oleh pria sukses, dan hebatnya rencana kamu berhasil, kamu memang hebat, tapi sampai saat ini aku tak percaya kalau itu anakku."


"Mas, kamu tak bisa menerima kenyataan karena kamu masih berharap Alya kembali padamu, tapi aku yakin Alya dan Satria sekarang sudah saling mencintai, dia akan bahagia dan jangan heran kalau sebentar lagi kita semua akan mendengar kabar bahwa dia hamil.


"Aaaaaa."


"Aku akan membuat mereka terpisah, aku akan ambil Alya dari tangan Satria, dan kamu jangan pernah berharap akan mendapat kebahagiaan secuilpin dari pernikahan ini, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah menganggap kamu istri. Selain hanya wanita licik." Aditya terus saja memaki Kinan. Kinan ternyata sangat kuat.


"Tapi jika ini anakmu? karena meski satu malam kita sudah melakukannya berulang kali, dan bisa saja saat itu aku sedang subur."


"Terserah kamu mau berfikir apa. tapi yang jelas aku tak percaya, yang tahu semuanya hanya kamu Dan Tuhan saja."


"Baiklah jika ini memang bukan anakmu, kamu bisa mengusirku dari rumah kalau perlu kita tak akan pernah bertemu lagi seumur hidup, Tapi jika ini anakmu aku minta kamu berubah, kamu harus menyayanginya dan lupakan Alya Mas." Kinan memberi pilihan pada Aditya yang cukup adil.


Aditya diam, lalu dia mengangguk.


Kinan lalu kembali pulang, karena ojek Online yang dinaiki Kinan tadi sudah pergi, wanita itu memilih untuk jalan kaki.


Aditya melihat Kinan terus berjalan dengan memegangi perutnya yang besar lewat spion, ada rasa sedikit tak tega melihat wanita tengah hamil besar harus pulang hingga sejauh itu.


Aditya segera memutar mobilnya dan berhenti tepat di dekat Kinan.

__ADS_1


"Masuk!" perintah Aditya.


Kinan menuruti meski Aditya meminta dengan sengit.


"Kinan akhirnya duduk di sebelah Aditya. Kinan yakin Aditya tak akan tega melihat dirinya jalan kaki, Kinan tau lelaki di sampingnya sebenarnya lelaki yang baik, hanya saja ketika patah hati dia lebih, mengutamakan emosi daripada akal.


"Mas Adit."


"Apa!" bentak Adit. "Diam kamu, nggak usah banyak omong."


"Aku cuma mau tanya."


"Tanya apa?" Adit menoleh sekilas lalu kembali menatap ke jalanan.


"Kamu mau anak ini laki-laki atau perempuan."


"Andai aku bisa memilih, aku berharap anak itu tak pernah ada, jadi kamu tidak punya senjata untuk menggagalkan pernikahan ku dengan Alya."


Mendengar jawaban Aditya, Kinan memilih diam. Aditya masih keras kepala. padahal Kinan sudah berbulan-bulan tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain setelah putus dengan pacarnya, lelaki terakhir yang bersamanya hanya Aditya.


Sampai di rumah Aditya dan kinan masuk, mereka berjalan berjauh jauhan. Aditya tidak Sudi di dekati Kinan.


Bahkan tidur saja mereka juga berpisah, Aditya engisi kamarnya dengan dua ranjang satu untuk Kinan dan satu untuk dirinya. Kadang Aditya memilih tidur di kantor.


sebelum tiba di kamarnya, Aditya melewati kamar Satria.


Aditya melambatkan langkahnya begitu mendengar dua insan di dalam kamarnya.


Mas, sakit banget!


"Padahal Mas, udah pelan-pelan, kayaknya lubangnya kekecilan ini."


"Iya Mas, pelan soalnya sedang terluka."


Udah pelan banget, apa dicabut lagi aja ya, daripada nanti berdarah.


"Udah nggak apa-apa dipaksa sedikit Mas, soalnya aku nggak mau malam ini kedinginan, malam ini dingin banget.


"Ya udah kamu diam aja ya, biar aku yang bekerja."


"Iya Mas."


"Udah masuk setengahnya Al."


"Iya, Aku bisa merasakan Mas. Sakit Mas."


"Aku sudah pelan, masa masih sakit sih."


"Sekarang udah mending Mas, masuknya lebih enak daripada tadi.

__ADS_1


"Syukurlah, akhirnya bisa masuk juga."


"Iya."


"Kalau gini rasanyab jadi hangat."


Setelah mereka berhasil menyelesaikan aktifitasnya, tiba-tiba kamar jadi sepi.


Kinan menarik lengan Aditya. "Kamu dengar sendiri kan? mereka sudah bahagia dan nggak pernah memikirkan perasaan kamu, tapi kenapa kamu terus menyiksa diri sendiri. Move on Mas, Move on." Kata Kinan setengah mengejek.


Jakun Aditya naik turun menahan sesak di dada. Dia tidak ingin terlihat cengeng di depan Kinan, sebisa mungkin Aditya menahan airmatanya agar tak tumpah.


Aditya melanjutkan langkahnya dengan pelan, dia tak mau mengganggu pasangan suami istri yang diduganya sedang melewati malam hangat mereka, padahal Alya hanya merasa kedinginan, dan Satria membantu memakaikan kaos kaki yang masih baru supaya merasa nyaman saat belajar, kaki Alya yang luka sedikit sakit saat benda itu kekecilan.


Sedangkan Satria masih menyelesaikan pekerjaannya untuk besok siang. Satria tidak mau menyiakan waktu sedikitpun.


Setelah pekerjaan Satria selesai, Satria segera menghampiri istrinya yang masih di depan laptop.


"Susah ya? mana yang susah, kok lama amat ngerjainnya."


"Cuma tinggal dua nomor aja Mas."


"Boleh aku lihat. Satria membungkuk melihat soal milik Alya."


Alya kini berdiri dan meminta supaya Satria yang duduk karena kursi di depan hanya muat untuk satu orang.


Satria duduk, tapi diluar dugaan, dia menarik Alya ke pangkuan.


"Mas!!" pekik Alya.


"Sudah, diam saja, aku akan mengajari kamu pelajaran yang kamu anggap sangat sulit ini "


"Tapi Mas, masa belajar seperti ini. kalau tiba-tiba bunda atau yang lainnya masuk gimana?"


"Ya nggak gimana gimana? apa ada yang salah jika aku memilih memangkumu."


Alya tersenyum, lalu mulai memperhatikan Satria yang menjelaskan panjang lebar soal yang tengah dia hadapi.


"Mas, ternyata caranya semudah ini, kok aku nggak bisa ya?" Alya mulai mengerjakan. Sedangkan Satria kembali gelisah.


"Mas, aku sudah selesai."


"Baiklah, sekarang waktunya pelajaran selanjutnya." Satria mengerling.


Alya mencubit bulatan hitam di dada Satria yang tercetak jelas karena kaos tipis yang dipakai.


"Jangan dicubit terus."


"Biarin, biar nggak genit."

__ADS_1


"Nggak apa-apa sih, tapi yang bawah jadi bangun." Satria mengeratkan pelukannya. lalu menautkan kembali lidah mereka.


Alya dan Satria sama-sama suka dan menikmati, tubuh mereka berlahan menghangat seiring dengan nafasnya yang kian memburu.


__ADS_2