Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Mimpi paling liar.


__ADS_3

'Kenapa gadis itu tak pulang pulang, padahal ini kesempatan aku dan Alya memiliki banyak waktu untuk berdua, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan pada dia '


Aditya gelisah, dia mondar-mandir di dibawah tangga.


"Alya sebentar lagi malam, aku pulang dulu ya."


"Apa nggak nunggu Satria pulang, Wi."


"Maaf kayaknya nggak bisa Al, aku harus pulang, aku lupa kalau Sadewo entar malam mau ajak nonton. Kamu mau nonton bareng nggak?"


"Nggak deh, Satria belum pulang. dia kayaknya jadi lembur."


"Oh. kalau lembur artinya bulan depan siap panen uang dong."


"Uang melulu kamu ini Dew." Alya menjitak kening Satria.


"Hehehehe, apalagi coba, kerja pasti hubungannya dengan uang."


Alya mengantar Dewi sampai halaman. Setelah mobil Dewi menghilang dari pandangan, Alya segera masuk. tak terasa hari sudah mau gelap saja.


"Alya." Saat balik badan, lelaki pemilik tubuh jangkung itu sudah berdiri diambang pintu.


"Mas, Mbak Kinan mana?" Tanya Alya basa-basi.


"Dia tadi pamit ke rumah ibunya."


"Ouh." Alya berusaha tenang meski sekarang di rumah itu tinggal bertiga saja, Sedangkan Bi Minah sibuk di dapur menyiapkan makan malam.


Alya segera melewati Aditya dan hendak ke kamar, tapi Aditya menahan lengan Alya.


"Alya, temani aku minum dan ngobrol di gazebo ya, Sambil nunggu Satria pulang."


Oh, i-iya." Alya setuju saja. Lagian apa yang bisa dilakukan Aditya di gazebo. Jika dia berani macam macam Alya bisa berteriak atau berlari ke jalanan.


Aditya mengambil laptopnya dan membawa dua gelas minuman kesukaan Alya.


Soal apa yang disukai dan tidak disukai Alya, Aditya sudah hafal semua.


Alya dan Aditya kini sudah duduk di gazebo. Alya sibuk dengan ponselnya dan Aditya sibuk dengan laptopnya. Aditya sepertinya sedang melanjutkan pekerjaannya yang tidak selesai ketika di kantor tadi.

__ADS_1


Aditya sesekali meneguk jus Alpukat yang dibuatkan bibi tadi.


"Kamu suka sekali jus Alpukat yang ditambah susu coklat ini kan? kenapa nggak diminum," tanya Aditya.


"Iya entar aku minum. belum haus aja." jawab Alya sok sibuk dengan ponselnya.


"Satria pulang jam berapa?" Tanya Aditya lagi.


"Enggak tau, chat aku belum di balas.


Aditya lagi-lagi menyesap jus dalam gelas bertangkai satu itu, kelihatannya memang nikmat banget.


"Oh iya, selera kamu mungkin sudah berubah bukan jus Alpukat lagi, maaf aku lupa Alya."


"Alya tersenyum." Jujur Alya takut kalau dalam jus itu ada unsur lain selain alpukat susu dan gula. Sikap Aditya yang berubah drastis membuat Alya harus lebih hati-hati.


"Takut aku kasih obat ya?"


"Nggak, entar pasti aku habiskan."Alya masih punya perasaan untuk menjaga hati Aditya yang sudah repot membawakan ke gazebo.


Alya meneguk hingga setengahnya. Rasanya memang nikmat, sesuai dengan seleranya selama ini.


"Hoam," Alya menguap setelah dia selesai meneguk jus pemberian Aditya.


"Mas tiba-tiba kepalaku berat dan aku ngantuk banget."


"Kalau begitu kamu bisa tidur lebih dulu Al, kalau malas ke kamar pakai saja pangkuanku untuk bersandar." Aditya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, memberi ruang gerak untuk Alya merebahkan kepalanya.


Mata Alya msoin terasa berat, tapi masih berusaha menahan sebisanya untuk tetap terjaga.


Tidak Mas, aku ke kamar saja." tolak Aya sambil berdiri dan menggelengkan kepalang berusaha mengusir kantuk.


Alya masih bisa menolak perintah Aditya karena itu tidak benar. hanya mata yang mengantuk tapi akal masih bisa bekerja normal. Membedakan antara benar dan tidak.


Alya meninggalkan Aditya sambil berjalan hati-hati, Alya tahu Aditya benar benar memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.


'Sat pulanglah cepat, tolong aku.' batin Alya. Alya melihat tangga tak lagi berbentuk. Bentuknya meleot-leot. Dengan terus berdoa Alya berjalan sambil merangkak menaiki satu persatu anak tangga.


Aditya melihat Alya bertingkah demikian buruk segera membantunya. "Alya aku akan membantumu, kamu nanti tergelincir.

__ADS_1


"Pergi Mas, kamu jahat sama aku, jika karena kejadian ini aku dan Satria berpisah, aku tak akan pernah melupakan kamu sebagai orang yang kejam di dunia ini." Ancam Alya dengan tangan gemetar.


"Alya apa yang kamu katakan. Sampai detik ini aku masih berjuang untuk bisa kembali denganmu. Kamu ingkar dengan janji yang sudah kita sepakati, kamu dulu bilang dalam keadaan seperti apapun cinta kita akan terus bersama, hanya maut yang mampu memisahkan."


"Lepas!" Alya masih berusaha menolak bantuan Aditya. dihempadkan tangan yang terulur itu. Hatinya sakit, jiwanya hancur orang yang pernah disayangi akan menghancurkan pernikahannya.


Alya merasakan kepalanya makin pening dan matanya tak tertahan lagi akhirnya tubuhnya limbung. Aditya segera merengkuh tubuh Alya dan membopongnya ke kamar.


Alya tak mampu lagi menolak Perlakuan menyimpang Aditya selain pasrah lelaki itu membawa tubuhnya hingga depan kamar, diputarnya kenop pintu dan Aditya membuka dengan satu tendangan kaki.


Obat tidur dalam minuman itu sudah bereaksi penuh, rencana Aditya untuk membuat Alya tidur bersamanya kini sudah di depan mata.


Alya bagai boneka cantik yang pasrah. Namun, hati Aditya bimbang, akankah dia melanjutkan rencana ini jika Ancaman Alya masih terngiang terus di telinganya.


Membuat Alya tidur bersamanya dan menikmati surga berdua sudah lama menjadi ide gila di benaknya, Namun Aditya tidak ingin melakukan hal kejam itu pada Alya. hingga rencana itu berubah dengan memberi obat tidur saja lalu merekayasa seolah dirinya tidur di ranjang pengantin mereka berdua dengan posisi sangat intim, dirasa Adit itu masih lebih manusiawi.


Ketika Satria pulang nanti, dan memergoki dirinya dan Alya tidur bersama Satria akan marah dan menceraikan Alya.


Aditya membaringkan tubuh Alya, menyelimuti dengan selimut tebal yang sudah terlipat rapi di bawah kakinya.


Aditya mondar-mandir di kamar Satria, sesekali menatap wajah tanpa dosa bagaikan peri tidur itu.


'Alya, Aku telah dibutakan cinta, aku ingin memilikimu dengan berbagai cara. Namun, aku sadar itu juga menyakitimu.' Sisi baik Aditya mulai berkecamuk.


'Benarkah kamu mencintai Satria? jika harapan terakhir ingin bahagia bersamanya kenapa hati ini susah merelakan.' gumam Aditya.


Aditya berhenti mondar mandir, kini dia mengungkung tubuh Alya dan menatap Alya yang tertidur pulas itu dengan jarak sangat dekat.


Dibelainya kepala Alya berulang kali, lalu di sentuhnya seluruh wajah dengan jemarinya.


"Melepas bidadari sepertimu, seakan aku harus melepas separuh dari nafas ini, rasanya begitu sakit dan membuat jiwa ini merasakan kehilangan yang amat besar."


Kegamangan kini mulai menguasai pikiran Aditya, dia menghentikan aktifitasnya ketika tangannya berhasil membuka dua kancing baju Alya. Dada sekal itu mengintip membuat darah Aditya berdesir. Namun Aditya sadar hanya binatang yang memaksakan kehendaknya. ditutupi tubuh yang menggairahkan itu dengan selimut. Aditya urung melakukan pelecehan pada Alya.


Aditya berurai air mata, Dikecupnya bibir merah Alya, dua kelopak mata, pipi dan juga kening.


Dipeluknya tubuh Alya dengan erat sebagai ucapan perpisahan.


"huhuhuhu huhu." Aditya tergugu sambil memandangi wajah Alya yang tengah tertidur nyenyak, seperti bayi tanpa dosa.

__ADS_1


"Apa yang Mas lakukan!" Sorot tajam nan buas menatap ke arah ranjang. Tubuh lelaki mengungkung istrinya dengan jarak sangat dekat telah menyalakan percikan api permusuhan.


__ADS_2