
"Ini baju siapa?" tanya Satria saat ingin ganti baju kerja dengan baju santai.
Alya mengira itu Baju Satria, dia mencucinya lalu menata bersama baju Satria dan masukkan ke dalam lemari. "Baju itu ada di kamar mandi, aku menemukannya beberapa hari yang lalu."
"Apa ada lagi selain kemeja ini, maksudku yang tertinggal di kamar mandi."
"Ada. Alya mengambil pelindung bazooka dan singlet."
"Yakin ada di kamar mandi ini."
"Iya, apa bukan punya kamu? berarti punya Mas Adit."
"Apa kamu tahu kapan dia mandi disini?"
"Saat kamu tidak pulang, setelah aku bangun kamar mandi sudah basah," jawab Alya mulai merasa di interogasi.
Alya kembali mengambil baju lainnya, kali ini pilihannya jatuh pada piyama panjang. "Kalau gitu pake piyama ini aja."
Satria mengambil dari tangan Alya dan membawanya pergi ke kamar sebelah.
Satria memakai piyama tidurnya di ruang kerja saja.
Merasa ada yang mengganjal, Alya segera menyusul.
"Tidurlah, tidak usah menunggu ku." kata Satria kembali duduk dan memandangi lukisannya.
"Mas, nggak tidur di kamar."
"Lihat aja nanti, aku nggak ngantuk." kata Satria yang tiba-tiba menjadi dingin. Ya sejak tahu foto mereka berpegangan tangan di jalan, ditambah kejadian Aditya mandi di kamar mandi pribadinya dan meninggalkan pakaian.
Satria akan terus mengira Alya masih mencintai Aditya dan masih suka bertemu setiap ada kesempatan..
"Baiklah, aku ke kamar dulu, kalau butuh sesuatu bisa panggil aku." Alya menatap Satria yang mulai mengerjakan sesuatu.
"Butuh apa? malam begini kayaknya nggak ada yang aku butuhkan, nanti aku akan ambil sendiri. Kamu tidur sana, habis sakit nggak boleh begadang. Obatnya juga diminum." kata Satria lalu menatap Alya yang tak kunjung menuruti kata- katanya.
"Ya, aku akan tidur." Alya pergi, sambil terus berfikir, satria mendadak begitu dingin. padahal dia dulu suka sekali menggodanya, dia ramah dan suka tertawa.
Alya membaringkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut hingga sebatas dada. Alya tak bisa tidur, sungguh ada yang mengganjal di hatinya.
Alya meraba cincin di jemarinya. tanpa sadar dia tersenyum.
'Sat, sungguh aku tak menyangka aku bisa jatuh cinta lagi, aku pikir aku tak bisa hidup tanpa Mas Aditya, sekarang aku tak bisa tidur hanya memikirkan kamu yang tiba-tiba bersikap dingin.'
Alya menatap foto pernikahan mereka berdua, diambil dari dinding dan dipeluknya untuk dibawa ke alam mimpi.
__ADS_1
***
Di kamar sebelah Satria pun sedang dilanda gelisah. Cemburu yang dipendam sendiri ternyata menyisakan rasa sakit yang amat dalam, bertanya pun gengsi.
"Ngapain aja Mas Aditya di kamar bersama Alya, pas nggak ada aku, apa dia ...."
Satria meremas rambutnya frustasi, kesal pada pikirannya yang kotor. tiba-tiba dia merasa haus, Satria mengisi gelas hingga terisi setengah, dan membawanya mondar mandir keliling ruangan.
"Apakah aku harus tanya pada Alya, tapi bagaimana jika dia mengira aku lelaki yang pencemburu, aku tidak percaya padanya."
Satria yang gelisah ternyata memancing Ayah Damar untuk mendekatinya.
"Satria jam segini belum tidur," tanya Ayah.
Ayah lalu melirik pada tumpukan pekerjaan di meja.
"Wah, udah dapat job aja."
"Satria minta job ini pada teman, yah. Do'akan Semoga Pak Arya suka."
"Arya! papa dulu punya teman namanya Arya. Tapi mungkin hanya nama saja yang sama." kata Damar lalu duduk di dekat putranya.
"Papa lihat kamu dan Alya masih jaga jarak. kenapa Nak? apa Alya tidak menarik dimata kamu?"
"Nggak kok pa, soal fisik jujur Satria tertarik. Tapi Alya belum bisa melupakan Mas Aditya. Bagaimana Satria bisa masuk dan mencuri hatinya, kalau disana masih ada penjaganya."
"Ayah dan Bunda berdo'a semoga kamu dan Aditya bisa saling ikhlas menerima pasangan masing-masing."
Satria terdiam, rasanya masih susah untuk menerima semuanya. jika tadinya Satria sudah siap lahir batin menerima Alya, ternyata sampai disini dia ingin menyerah saja.
"Ayah nggak tidur!"
"Ayah kepikiran kamu."
"Baiklah Satria akan ke kamar." Demi menyenangkan hati Ayah Satria harus tidur lagi se kamar dengan Alya. Satria berharap Alya sudah tidur.
Satria melangkah pelan menuju kamar, dibuka pelan pintu agar tak berderit.
Satria melihat Alya sudah lelap dan memeluk foto.
Satria mengambil foto di pelukan wanitanya. Satria tersenyum melihat foto dirinya yang tengah bersanding dengan Alya.
'Alya kamu cantik, jujur aku jatuh cinta sebelum kita menikah, tapi ketidak jujuranmu membuat aku ragu, kamu diam-diam sering bertemu dengan Mas Aditya.'
Satria mendengkus kesal. Lalu mengambil Foto di pelukan Alya.
__ADS_1
Satria kembali memandang wajah istrinya yang terlihat imut dan lebih muda dari usianya.
Ketika libido Satria mulai bangkit laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya dan hendak memasang kembali foto di tempatnya.
tiba tiba tangan AlyA menahannya. "Mas, mau kemana." Alya memaksa membuka matanya yang masih terasa berat.
"Kukira kamu tadi sudah pulas."
"Iya Mas, aku sudah pulas, tapi aku terbangun karena merasakan gerakan tanganmu membenarkan selimut tadi."
"Ya sudah tidurlah, aku mau kembalikan ini."
Alya mengangguk dan melepaskan tangan Satria dengan perasaan berat.
Ingin rasanya Alya mengatakan kalau, 'tidurlah di sampingku Mas, aku sudah siap menjadi istrimu sesungguhnya, tapi lagi-lagi Alya tak berani," keinginan itu hanya sebatas sampai di hati saja.
Alya harus pura-pura tidur nyenyak. sedangkan Satria terlihat gelisah, bingung apa yang harus dilakukan di malam ini. Bazooka mulai sulit untuk dikendalikan. Setiap hari hanya bisa melihat wanita bertubuh bak gitar spanyol menggeliat di depan matanya.
"Mas, kamu nggak ingin tidur?"
"Belum, kan masih benerin foto."
"Kamu kalau ngantuk tidur dulu aja." kata Satria.
"Iya sebentar lagi."
"Mas malaam ini dingin banget, apa di luar hujan?"
"Iya, diluar sedang hujan angin."
"Mas, aku takut pada suara petir."
Satria mengernyit. Benarkah Alya takut suara petir. Kalau sama petir makhluk di dunia ini semua takut, tapi kalau sama suaranya bukanlah sudah biasa menggelegar. lagi pula Alya bukan anak SMP atau SMA lagi.
Duarrr!
Petir menggelegar sangat kencang setelah cahaya terang, saking terangnya hingga bisa terlihat jelas dari celah-celah dinding.
Alya yang takut dengan suara petir seketika melompat dari ranjang dan duduk dipangkuan Satria.
Satria mendekap tubuh Alya dan menutup telinga, hingga tangan Satria dan Alya bertumpu.
Satria merasakan Basookanya semakin mengeras merasakan tubuh Alya bergerak gerak di pangkuannya.
Alya meringkuk dalam dekapan Satria karena petir terus saja bersahutan. Satria bisa merasakan Alya benar-benar ketakutan.
__ADS_1
Setelah hujan reda, Satria menggendong tubuh Alya dan membaringkan diatas ranjang. Alya dan Satria sama sama tak bisa tidur hingga larut malam. Malam ini ada yang mengganggu pikiran mereka berdua hingga sulit tidur.