
"Alya." Suara Satria terdengar bergetar.
"Iya Mas." Alya menatap wajah Satria tanpa berkedip.
"hujannya sudah reda, sampai kapan kau akan memelukku."
"Maaf, hujannya lebat banget, petirnya juga menakutkan.
"Iya, cepat tidur. aku akan duduk di sofa itu" jawab Satria lalu mengangkat tubuh tegapnya yang sejak tadi membungkuk dan condong di atas Alya.
Satria kembali menjauh, dia rupanya tak bisa menahan kantuknya. Besok pagi harus kuliah, dan sorenya mulai ke perusahaan.
Setengah jam berlalu, suara dengkuran halus yang berasal dari sofa sudah terdengar.
Alya kembali harus bersabar sebagai pengantin yang tak tersentuh. Alya akhirnya pulas juga setelah pikirannya terus berkelana memikirkan Satria yang kini malah menjaga jarak, saat dia sedang ingin memangkas jarak yang ada.
***
Esok hari telah tiba, Alarm berdering nyaring, membuat tidur Satria terganggu.
"Sudah jam berapa sekarang?" Tanya Satria yang masih malas bangun. Melihat sang istri sudah selesai mandi dan sholat.
"Jam lima, Mas. Jika kamu masih ngantuk, nggak apa tidur lagi, tapi jangan malas sholat dulu, aku akan buat sarapan bersama yang lain.
Alya turun ke bawah dan langsung menuju dapur, disana sudah ada Mbok Minah yang bangun lebih dulu.
"Alya, kamu sudah sehat rupanya." sapa mbok Minah, yang sibuk memeras santan untuk puding.
"Iya Mbok, bosan juga beberapa hari di kamar terus," jawab Alya sengaja bercanda.
"Neng Alya ini bisa aja, kalau bibi sih nggak bakal bosan kalau ada temannya Den Bagus, alias mas ganteng Satria."
"Gimana Non malam pertamanya sudah sukses belum." bibi dengan jahil menyenggol lengan Alya.
"Bibi ini, ada aja yang ditanyakan." Alya mulai malu membahas soal ranjang. Tapi apa yang mau dibahas coba, Satria saja belum menyentuhnya sama sekali.
"Non, malam pertama itu pasti sulit sekali dilupakan, ada sensasi sakit dan nikmat," canda Bibi yang yakin tak ada yang mendengarnya.
"Bi, udah ah. Malu di dengar yang lain. "Alya berharap Bibi tidak melanjutkan kalimat-kalimatnya yang menjurus ke arah sana. Soalnya alya memang belum pernah mencoba apalagi tau rasanya.
"Nggak apa-apa Non, nggak usah malu. Bibi sudah pernah ngalamin."
"Ehmmm bibi, Entahlah seperti apa, Alya gak bisa mengingatnya." sambung Alya berbohong.
"jadi bener Non Alya sudah ...."
"Iya Mbok," potong Alya pada mbok Minah.
Aditya diam-diam ikut bergabung di dapur. oleh sebab itu Alya sengaja menjawab demikian
__ADS_1
"Bi sarapannya masih lama ya?"
"Bentar lagi, Den,"
"Alya, kamu sudah sehat, rupanya, aku ikut senang lihatnya.
"Sudah Mas," jawab Alya lalu pergi meninggalkan Aditya.
Aditya hanya bisa terdiam seperti patung, tak percaya wanita yang dicintainya sudah merelakan tubuhnya untuk sang adik.
Alya pergi tanpa ada tegur sapa antara keduanya, meninggalkan semua orang yang ada di dapur.
Alya sepertinya benar-benar menghindari Aditya, tak ingin ada obrolan yang panjang lebar, apalagi saling bersitatap, Alya segera kembali ke kamar untuk menemui suaminya.
Satria rupanya sudah bangun, kali ini penampilan Satria terlihat rapi, tidak memakai celana sobek seperti biasanya.
"Mas kamu hari ini rapi banget?"
"Iya Al, mulai hari ini aku akan langsung bekerja setelah pulang kuliah.
Setelah Satria rapi, Alya dan Satria turun bersama menuju ruang makan.
Di ruang makan rupanya semua anggota keluarga sudah bergabung.
Bunda tak sedikitpun berkedip melihat Satria yang sedang menggandeng jemari alya.
"Wah makin lama kalian berdua makin serasi dan mesra aja." ujar Bunda menatap Satria dan Alya dengan senyum khasnya. Manis sekali.
"Duduklah Alya , Satria. bunda ingin ngomong sesuatu pada kalian semua."
"Iya Bunda." Alya duduk di sebelah bunda, sebelahnya lagi ada Satria.
"Alya, Satria, Bunda ini sudah tua. Bunda sudah tak sabar lagi ingin menggendong cucu dari kalian berdua. Kalau cuci dari Aditya bentar lagi bunda sudah bisa menggendongnya, tapi kamu Sat, kenapa istrimu belum ada tanda-tanda hamil?
"Uhuk." Satria tersedak dengan makanan di kerongkongannya.
"Mas, minum dulu." Alya memberi segelas air untuk Satria.
Satria terlihat bingung, dia menatap Alya yang juga menatapnya. Alya lalu tersenyum.
Anggukan kecil itu dilihat oleh semua orang, Ayah dan Bunda suka dengan perkembangan hubungan mereka.
"InshaAllah bunda, Alya dan mas Satria sedang berusaha untuk mengabulkan keinginan Ayah dan Bunda. iya kan Mas." Alya menggenggam jemari Satria yang menganggur di atas meja.
Satria mengangguk pelan, sambil menatap semua anggota keluarga bergantian
Aditya berulang kali meneguk salivanya menahan amarah, namun lelaki itu memilih diam daripada bicara.
Usai sarapan Alya bergegas mengambil tas milik Satria dan memberikan pada suaminya.
__ADS_1
"Ini mas tas kamu." kata Alya.
"Makasi." jawab Satria,
Alya terus saja tersenyum di depan Satria dan rona bahagia begitu kentara di wajahnya.
Satria membonceng Alya dengan motor besarnya seperti biasa, lalu melambaikan tangan pada ayah dan bunda yang mengantarnya hingga halaman.
"Satria hati-hati kalau bonceng istrimu, dia baru sembuh." teriak bunda.
"iya Bunda." Satria menyalakan motornya, dia tidak langsung menjalankan dulu, menunggu mesinnya sedikit panas.
'Semoga aja tuh motor mogok.' batin Aditya yang juga masih memanasi mesin mobilnya, dia bisa dengan jelas melihat Alya yang melingkarkan lengannya di pinggang Satria dengan sangat erat.
Satria juga merasakan hal yang sangat berbeda. jika biasanya dia harus merengek bahkan sedikit memaksa agar Alya berpegangan di pinggangnya, tapi kali ini dia justru merasakan dekapan tangan Alya begitu erat.
Satria bahkan merasakan dua benda kenyal itu menempel ketat di punggungnya. Sungguh, Sensasi empuknya membuat Satria jadi tak fokus mengemudikan motornya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya sepanjang jalan.
'Alya apa kau sengaja ingin menyiksaku.' batin Satria, sesekali menghembuskan nafas panjang, takut Alya bisa merasakan detak jantungnya yang seperti genderang.
Sampai di depan parkiran Alya segera turun, sedangkan Satria harus memarkirkan motornya.
Alya tidak langsung pergi, dia menunggu Satria keluar dari deretan sepeda.
"Mas, aku tidak keberatan teman teman tahu hubungan kita." kata Alya yang tidak mau ada wanita lain menggoda Satria.
"Kenapa berubah? bukanya kamu kemaren yang minta." kata Satria.
"Aku sekarang justru pengen mereka semua tahu. Biar tidak ada yang menggoda kamu lagi," kata Alya.
"Mas, aku ke kelas dulu, kalau nanti istirahat lebih dulu, jemput aku ya, aku pengen nanti ke kantinnya bareng kamu."
"okey." Satria tersenyum. Senyumnya sungguh manis, memperlihatkan cekungan di pipinya.
Alya menarik tengkuk Satria dan mengecup pipinya. Alya tak perduli jika ada satu atau dua mahasiswa yang melihatnya.
Rupanya aksi Alya mengecup pipi Satria diparkiran itu ada maksudnya, Alya sengaja memanasi hati duo Kunti yang baru saja tiba dengan mobil sport mewah.
"Alya, kamu nekat banget sih." Satria mengelus pipinya yang basah.
Alya hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan dari Satria. Alya juga urung ke kelas, dia ingin bersama Satria sampai dosen Adam datang. Mereka kini memesan teh hangat di kantin.
"Mas, Sepertinya permintaan bunda tadi pagi harus kita pikirkan."
"Maksudnya? permintaan yang mana" Satria balik bertanya. karena permintaan bunda akhir-akhir ini banyak banget.
"Permintaan supaya kita segera punya anak." jawab Alya, yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Uhuk." Satria tersedak lagi, hingga teh di mulutnya harus menyembur keluar.
__ADS_1
***