Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
perhatian Alya.


__ADS_3

Alya memejamkan mata, dia masih menunggu Satria mengecup bibirnya.


Satria merasa kali ini Alya terlalu memaksakan diri. Dia tidak seperti ini sebelumnya.


"Alya ada cicak!" bujuk Satria.


"Satria mana!" Alya membuka matanya dan langsung reflwk memelik tubuh Satria


"Itu." Satria menunjuk cicak Yang ada di dinding.


Alya memukul pelan dada Satria. "tidak lucu." gerutunya sbol bibirnya mengerucut.


Karena malu Alya lalu beranjak pergi dan mencari angin segar di balkon. Satria hari ini berhasil membuat harga dirinya turun hingga lima puluh persen di depan serang laki-laki.


Sebagai wanita, Alya malu telah memberi tawaran supaya Satria menciumnya. Alya sempat mengira Satria akan langsung mengambil ciuman pertama darinya dengan senang hati. Tapi laki-laki itu malah mengerjainya.


"Alya, kamu ngapain disitu?" tanya Satria.


"Nggak ngapa ngapain, aku cuma cari angin segar saja." Alya menoleh lalu kembali melihat pemandangan kebun teh seperti biasa.


Satria mendekat, kini dia sudah berpakaian rapi ala anak jalanan.


"Alya besok kamu ke kampus sendirian, dan pulangnya ke rumah umi saja, besok aku akan ikut lomba balap yang diadakan di kota, aku khawatir kamu tidak amsn disini l."


"Satria tapi ...." Alya terlihat keberatan, selain menurutnya sangat berbahaya, Elisa pasti akan datang menemui Satria di tempat balap, dan mereka akan selalu dekat.


Prasangka Alya mulai buruk pada Elisa, menurut pemikiran Alya, gadis itu akan tetap berusaha mendekati Satria, dia seolah tak peduli meski Satria sudah menjadi miliknya.


"Sudahlah Alya, Ini memang hobi ku sejak dulu, tolong jangan halangi aku."


"Baiklah, tapi aku mohon jangan lupa hubungi aku ya?" Alya merubah posisinya, kini menghadap Satria. Sambil bersandar dengan pagar besi.


"Sepertinya ada yang mulai nggak bisa jauh-jauh nie!" Celetuk Satria sambil menengadahkan kepalanya menatap langit biru. "Mungkin sudah takdir hakiki, menjadi cowok ganteng, jadi wanita mudah jatuh cinta," candanya lagi.


"Tau ah, punya suami kok pedenya selangit." Alya mengerucutkan bibirnya.


Satria mengacak rambut Alya dengan gemas. lalu dia pergi untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Alya berharap satria mengecup puncak kepalanya, tapi Sayang harapan itu sebatas keinginan Alya sendiri yang kandas.


'Satria apa kamu tidak tertarik menyentuhku lagi, karena kejadian kemarin, sungguh aku tidak tahu jika itu Mas Aditya. Aku berharap itu kamu Satria, meski Mas Adit selalu bilang kalau aku tidak boleh mencintaimu, tapi nyatanya hati ini mulai berkhianat, aku mulai senang, ' ada di dekatmu Sat."


Alya menatap Satria yang mulai memasukkan semua peralatan di ranselnya. Alya memilih menunggu, hingga dia tak tahu pukul berapa mulai ketiduran.


Saat melihat sang istri terlelap, Satria terus memandangi wajah Alya yang tanpa make'up tetapi tetap cantik itu.


'Alya, aku maklum kamu belum bisa mencintaiku, Aku hanya lelaki yang punya cinta tapi tak punya harta, Alya, saat ini aku masih tak berdaya, bisa saja aku bekerja, tapi aku juga harus kuliah, jadi maafkan aku yang tak akan menyentuhmu selama aku belum bisa bahagiakan kamu.'


Satria akan mengecup pipi Alya, tapi rasanya tak sopan jika mencuri kecupan disaat pemiliknya masih terlelap.


**


Pagi buta Alya sudah bangun, dia siapkan sarapan untuk Satria dan keluarga lainnya bersama Bi Minah, sebelum kuliah, Sedangkan Satria bolos karena akan ikut kompetisi.


Dimeja makan terdapat Aditya dan Satria yang kebetulan ingin sarapan. sedangkan anggota yang lainnya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Satria ingin mengambil tahu goreng tapi Aditya segera mengambil dan memakannya.


"Mas, apa kamu sengaja." protes Satria


"Apa maksud kamu, aku hanya haus, kenapa kamu protes saat aku ingin mengambilnya lebih dulu."


"Tapi kamu aneh Mas." Satria menggebrak meja membuat Alya dan Bi Minah di dapur langsung menoleh.


Satria akhirnya memutuskan untuk tak makan apa-apa, dia abaikan kakaknya yang terus menatapnya dengan tatapan aneh.


Aditya sengaja memancing emosi Satria dan sedang ingin mencari gara-gara.


"Bagaimana Sat, kamu pasti kesal dan ingin marah jika milikmu diambil orang lain."


Satria kini membisikkan kata-kata pada adiknya dengan mendekatkan jarak diantara mereka berdua. Aditya mendekatkan tubuhnya hingga dadanya menempel ketat dengan tepi meja.


"Alya adalah milikku, tapi kamu telah mengambilnya dariku, kamu pikir aku tidak sakit, hanya adik tak tahu diri yang bisa menyakiti kakak kandung yang sudah menyayanginya hingga besar" Bisik Aditya sambil matanya melirik ke segala arah takut ada yang mendengar kalimat bernada ancaman baru saja.


"Selama ini aku baru sadar, kalau aku memiliki seorang kakak yang buta, kakak selalu bilang cinta, cinta dan cinta, tapi ternyata Kakak khianati, lalu apa cinta setega itu kak?" Satria berkata dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengkhianati Alya, akan aku buktikan semuanya setelah bayi itu lahir."


Satria sekarang diam, dia tak lagi ingin berdebat masalah pernikahan, tapi jika memang anak itu bukan anak Aditya kasihan juga dia.


Satria urung sarapan bersama, selera makannya mendadak hilang. Lelaki berhati lapang itu tak mau keluarga ikut merasakan ketegangan yang diciptakan oleh Aditya dan dirinya.


Dihampiri sang istri yang masih memasak. "Alya, aku berangkat dulu, berangkat ke kampus nanti naik motor aja, aku nggak ijinin kamu bareng mas Adit.


"Baik Sat, kenapa kamu melupakan sarapan? tunggu sebentar lagi kenapa?" Alya menahan langkah Satria dengan memegangi satu tangannya.


"Nanti aja, aku lagi biru buru, lokasinya jauh, aku tak mau terjebak macet." Meski hanya alasan tapi cerita Satria masuk akal juga.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati," Alya mencium pipi Satria lebih dulu. tak peduli Bi ah akan melihatnya.


Bi Minah yang tadinya hendak membawa menu makanan ke meja makan, terpaksa kembali membalikkan badan.


"Terimakasih." Satria menyentuh bekas kecupan Alya.


"Sama sama." Alya nampak malu.


"Jadi makin semangat." Satria terlihat bahagia.


"Jika ada cewek yang menggoda, jangan kamu ladeni ya?" Alya mulai posesif.


"Tergantung."


"Ishhh, sebel." Alya mencubit pinggang Satria.


Satria meringis, tentu keromantisan pasangan pengantin baru itu membuat hati Aditya semakin berdenyut nyeri.


Alya juga memberi Satria bekal dalam sebuah kotak makan."kalau nggak mau sarapan di rumah, ini bisa dimakan kalau sudah tiba."


"Pengertian banget sih, kamu Al, Makasi semuanya ya, aku berangkat dulu." pamit Satria.


Kali ini Satria benar-benar pergi. Suara motor besar terdengar semakin menjauh.


Tanpa Satria, Alya kehilangan semangatnya, kehadiran lelaki itu mulai penting di hati Alya. Satria yang selalu membuat orang-orang didekatnya nya tersenyum, sekarang dia berjuang demi untuk bisa memiliki mimpi.

__ADS_1


__ADS_2