
Naina tersenyum lebar melihat wajah tampan Satria sudah terlihat
menuruni anak tangga,
Satria nampak begitu segar, rambutnya terlihat basah meski tidak ada titik air membasahi kemejanya.
Naina langsung berdiri dan menjabat tangan Satria, Satria mengulurkan tangannya pada Naina, dan juga pak Wira. tak lupa pada Arka yang entah kenapa seperti ada sesuatu yang ditutupi. Arka tak seperti biasanya kala bertemu dengan Satria.
"Ada apa?" Satria mencondongkan tubuhnya di dekat Arka. tetapi lelaki itu malah mengeluarkan ponselnya dan menulis sebuah pesan di aplikasi hijau dan mengirim pada Satria.
"Kalau mau main, pintu dikunci bro. bikin bulu kuduk berdiri aja. Kalau ada lawan main sih aman, Nah gue?"
"Apa maksud Abang? main apa?" Satria tidak menduga Arka pertanyaannya masuk ke arah saat dia bersama Alya.
"Dasar pikun, baru juga kamu bermain satu jam yang lalu dan melupakan mengunci pintu. tadi aku masuk, dan suara kalian bikin otakku traveling."
"Oh, jadi tadi Abang masuk?"
"Menurutmu?"
"Maaf aku lupa? Aku tidak akan lupa lagi, aku akan mengunci pintu."
"Ya. Semoga Satria junior cepat launching."
"Amin Do'a Senior semoga lebih mujarab."
"Semoga saja, jadi gak sabar ada yang panggil uncle."
"Hehehe. Siap paman"
"Terimakasih sudah menjaga Alya utuh sampai tepat tujuan."
"Lain kali harus lebih hati-hati. Istri cantik jangan dibiarkan sendiri."
" Terpaksa, dia ingin ikut saat semuanya masih di fase sulit."
"Sebentar lagi juga jadi orang sukses."
'Amin Bang, aku ingin dia bahagia."
"Sekarang bantu aku, buat Ku dekat dengan Naina."
"Abang suka Naina."
"Hm, kamu kira aku kesini untuk apa?"
"Baiklah, akan aku bantu sebisaku, Abang cocok sama dia."
Satria dan Arka terus saja Berbalas pesan.
Kegiatan mereka baru berakhir saat Pak Wira kembali membuka rapat malam ini. Sebelum rapat dimulai pak Wira berdo'a terlebih dahulu.
Naina yang tidak diajak bicara memilik melihat kedekatan mereka berdua dengan rasa penasaran ingin tahu lebih tinggi. Ya Naina penasaran dengan obrolan Arka dan Satria lewat gawai yang membuat mereka sesekali tersenyum kala menatap ponselnya..
__ADS_1
Tak sadar terus dilihatin oleh Naina, Satria sekarang mulai mencatat poin poin penting yang diucapkan oleh Pak Wiranto. Satria tidak mau ceroboh dalam proses pembuatan miniatur bangunan nanti.
Apalagi Satria sadar betul gaji yang akan dia terima tidak sedikit. Milyaran rupiah.
Saat sedikit menunduk karena membaca ulang catatan yang dibuat, di leher Satria jelas sekali terlihat banyak tanda merah.
Naina yang berada di sisi Satria tentu bisa melihatnya.
Naina penasaran siapa pemberi tanda itu, Naina sempat mengira kalau Satria sedang ada main dengan wanita malam, tanpa menduga kalau di kamar itu sedang ada belahan jiwanya.
Karena setahu dia hanya mereka berdua yang datang bersama, dan Arka baru sore ini, tak salah kalau Naina berpendapat Satria baru menyewa wanita.
Naina mencoba menurunkan tangannya di paha Satria,
Namun Satria menepisnya, meski pelan, tapi jelas sekali lelaki itu tak nyaman karena dia mengangkat tangan miliknya menjauh dari paha berbalut celana Chino hitam itu.
"Satria kau terus menolak ku seperti ini, kau membuat aku kecewa dengan penolakan mu yang terus menerus, tidak tahukah kamu aku begitu inginkan kamu, kenapa kau tak bisa sedikit saja berpaling dari wanita itu, sepertinya aku tidak terlalu buruk dibandingkan dia, penolakan ini semakin membuat aku penasaran saja.' batin Naina.
Naina makin menjadi dan makin gila, dia seakan tak berkedip melihat Satria yang fokus mencatat, otak Naina kini sedang dipenuhi ide- ide tak waras.
Selama di negara ini, sejak awal dia sudah berniat memiliki Satria seutuhnya, tapi saat melihat Arka ikut meting, dia sadar rencana akan makin sulit. Arka adalah penghalang. Naina juga mulai menyadari lelaki itu menaruh hati padanya.
"Gimana Satria? kamu sudah faham dengan gambaran bangunan yang saya inginkan?" tanya pak Wira.
"Iya sudah, tapi saya perlu belajar banyak hal, karena bangunan yang anda inginkan benar-benar luar biasa. Satria mulai melihat beberapa titik sulit yang akan dirinya hadapi.
Satria sangat fokus dengan pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya.
Saking seriusnya, tanpa sadar Arka meninggalkan dirinya, Ada pekerjaan lain untuk Arka dari om Wira.
"Oke pak."
Pak Wira berdiri lalu diikuti Arka, kini tinggal Naina dan Satria.
Tanpa mereka berdua. keadaan jadi hening.
"Satria, sambil nunggu mereka balik, kita dansa sebentar yuk."
"Nggak, ah. Aku lagi malas."
"Satria ayolah."
"Naina, aku bener-bener capek hari ini, maaf ya," tolak Satria. Selain fokus pada pekerjaan, Satria juga merasa permainannya tadi belum tuntas, membuat dia terus memikirkan Alya.
"Ya sudah aku pesen minum ya."
Satria mengangguk setuju.
Akhirnya Naina pesan empat minuman, dua untuk Arka dan Pak Wira. Dan dua lagi untuknya dan Satria dengan rasa yang berbeda.
"Mbak, yang untuk Mas yang duduk disana, nanti tolong tambahin ini ya, pasti sudah tahu kan, buat pacar saya, ingat ya satu saja, untuk dia." kata Naina pada bartender yang sibuk meracik minuman pesanannya. Bartender itu kini mengalihkan pandangannya menatap ke arah Satria.
"Sipp."Bartender menunjukkan dua jempolnya tanda siap. Naina memberi sedikit tips.
__ADS_1
Tak lama Arka dan Pak Wira kembali menghampiri Satria. Arka segera duduk ditempat semula, Naina juga kembali duduk di dekat Satria dengan wajah yang berbinar-binar.
"Em aku pamit ke toilet sebentar ya," ujar Satria yang langsung berdiri, hingga kursi kecilnya terdorong ke belakang menimbulkan Ferit panjang.
"Jangan lama-lama Sat,"
"Enggak, satu jam aja."
"Kamu pamit ke belakang atau pamit tidur? Dasar"
Arka dan Satria tertawa, mereka sering sekali bercanda, walau terdengar garing.
Tak lama bartender dengan baju seksi itu mendekat.
Dia segera memberikan gelas berisi minuman pesanan Alya dan tak lupa satu yang spesial untuk lelaki muda.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dengan tips tak sedikit itu, Bartender segera kembali.
Naina tak sabar lagi moment malam nanti terjadi. Naina menggunakan cara kedua untuk menjerat Satria karena cara pertama gagal, Satria tidak bisa dijerat dengan kecantikan dan pesonanya, terpaksa Satria harus ditaklukkan dengan menghabiskan malam berdua.
"Silahkan diminum, udara dinegara ini memang dingin sekali, kita butuh alkohol untuk menghangatkan tubuh." Naina menggosokkan telapak tangannya dan sesekali meniup.
"Baiklah kita bersulang."
"Cherrs."
Naina Arka dan om Wira minum sedikit Alkohol malam ini sekedar untuk menghilangkan rasa dingin yang memang seperti duri menusuk kulit.
"Ini nikmat sekali." Arka meneguknya hingga habis.
Sedangkan milik Satria masih utuh. Arka yang merasakan reaksi minuman tadi kini kembali haus, ingin di teguknya lagi hingga tandas ke perutnya minuman milik Satria, Namun Naina segera melarang.
"Ini untuk Satria, jika mau lagi, biarlah aku pesankan lagi."
"Nay, om harus kembali, sepertinya meting malam ini sudah selesai."
"Iya Om."
Satu orang sudah pergi, tinggal Naina dan Arka berdua, Sedangkan Satria kembali ke kamar karena Alya baru saja telepon, kalau dia takut ditinggal terlalu lama sendiri. Satria juga tidak sempat pamit pada Arka dan Naina, dia hanya mengirim pesan saja ke ponsel Arka.
Karena Arka pesan lagi, bertender membuat racikan yang sama seperti perintah Alya tadi. Bartender itu telah salah mengenali Satria dan Arka hingga minuman tadi salah sasaran.
Arka mulai merasakan sensasi lain ditubuhnya, ada sebuah gejolak yang membuat kewarasannya berkurang. Naina tak tahu itu reaksi obat yang diberinya, dia hanya mengira Arka sedang mabuk saja.
"Cantik tambah lagi yang banyak, aku ingin sekali minum yang banyak malam ini," ujar Arka pada bartender yang mendekat sambil membawa satu gelas minuman spesial untuknya, dan satu botol minuman racikan terbarunya.
"Nona, sepertinya kamu harus minum lagi ini satu gelas, biar malam kalian nanti tak akan terlupakan."
Naina tersenyum sambil mengangguk, sebenarnya satu gelas tadi sudah berhasil membuat tubuhnya lebih hangat.
"Boleh, aku mau satu gelas lagi." kata Naina. Tak ada salahnya sambil menunggu Satria kembali.
Naina sudah merasakan pening, tapi Satria belum juga kembali. Sedangkan Arka sudah gelisah, keringat mulai bermunculan membasahi kemejanya.
__ADS_1
"Nay, ikutlah aku." Arka menarik lengan Naina dan mengajaknya bergabung pada gerombolan lelaki dan perempuan yang tengah berjoget ria karena mabuk sudah menguasai akal sehatnya.