Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Salah sasaran.


__ADS_3

Arka dan Naina berjoget bebas dibawah lampu remang-remang dan musik yang memekakkan telinga.


Naina telah setengah mabok, sedang Arka sudah mabok berat plus dadanya terus bergemuruh, dan sesuatu dibawah sana terus saja menegang setiap kali menatap wanita yang diam diam dia cintai itu.


cup! Arka mengecup Bibir Naina dengan rakus setiap kali lampu padam dan melepaskannya ketika lampu kembali terang.


Naina hanya bisa melenguh nikmat mendapat perlakuan Arka yang Agresif.


Mereka berdua sudah sama sama ditaklukkan dengan minuman pemberian bartender tadi.


Kini bukan hanya Arka saja yang mulai kehilangan kewarasan, tapi Naina juga.


"Naina, kau cantik sekali malam ini aku ingin jadi pacar mu." rancau Arka tanpa malu sambil membelai pipi Naina dan terus menghujani dengan kecupan.


Malam makin larut, "ballroom mulai sepi, satu bersatu dari penikmat dunia malam sudah beranjak dan menempati kamar masing-masing.


Arka dan Naina juga ingin kembali, tubuh mereka terus bergandengan dan berjalan sambil terhuyung -huyung.


"Kamarku lebih dekat baby, sebaiknya kau tidur di kamarku saja malam ini, pasti akan sangat seru."


"Hehehe, dimana kamarku? dimana aku sudah lupa? apakah yang ini, atau yang ini."Naina terus saja merancau tak jelas.


Arka mengetuk setiap pintu, dan mencoba kunci yang ada di tangannya, dan mengganggu para penghuni kamar, hingga akhirnya seorang security membantu Arka menemukan kamarnya.


Naina dan Arka masuk dalam kamar yang sama. Dia langsung menguncinya.


Oh, ini kamar kamu, ranjangnya empuk aku mau bobok." Naina segera berbaring dengan merentangkan tangannya keatas tubuhnya terasa panas, hingga wanita itu tanpa sadar melepas sendiri bajunya.


Arka berulang kali menelan salivanya, obat yang diminumnya sudah bereaksi penuh pada tubuhnya hingga dia tidak bisa melepas pandangannya dari tubuh Naina.


"Hai bodoh, mau apa kamu?" Naina risi dengan Arka yang ada diatasnya.


"Mencium kamu." Arka dengan tatapan sayu mulai memberi banyak tanda di leher dada dan tengkuk Naina.


Gadis itu hanya merancau saja dan sesekali mengumpat tanpa perlawanan.


Naina sesekali melenguh kala bibirnya disergap oleh bibir tebal Arka.


Kamu Nakal, menjauh sana, aku ingin tidur." Naina yang merasakan pening mendorong dorong tubuh Arka, tapi dorongan pelan itu seperti sebuah sentuhan halus saja bagi Arka.


"Aku mencintaimu jangan dorong aku."


"Tapi aku suka sama Satria. bukan kamu, Satria itu bodoh, seharusnya jangan menolak aku, aku cantik dan kaya."


"Satria bodoh, atau kamu yang bodoh hehehe. kamu itu milikku."


Mereka terus merancau seperti anak kecil hingga Arka tak lagi mampu menahan gejolak ditubuhnya.


Semua ini salah Naina kalau dia tidak memasukkan apapun ke dalam minuman Arka, pasti semuanya tidak akan seburuk saat ini


Hingga Arka dan Naina malam ini kehilangan kendali dan mereka melakukan penyatuan yang seharusnya tidak terjadi.


Arka dan begitu menikmati tubuh Wanita dibawahnya. mereka melakukan hingga berulang kali, tak sadar esok telah tiba.


Pagi hari Naina merasakan pening di kepalanya yang luar biasa. "Sial minuman semalam membuatku sangat pening," umpatnya sambil memegangi kepalanya.


"Dimana aku?" Naina segera membuka matanya meski terasa berat, dan sulit untuk mengerjab.


Setelah beberapa kali berusaha keras membuka kelopak matanya pandangan Naina kini mulai terang.


"Satria! apakah aku semalam dan Satria? tidak lelaki semalam bukan Satria." Naina memeriksa tubuhnya yang hanya tertutup selimut, tak ada lagi penutup di tubuhnya, lalu dia melihat pada lelaki yang kini tengah tertidur pulas memunggunginya.

__ADS_1


Naina segera menarik bahu lelaki yang masih pulas dan satu selimut dengannya itu.


"Tidak! Tidak mungkin!" Naina terkejut melihat lelaki yang sangat agresif semalam adalah Arka.


Melihat wanita disebelahnya begitu berisik, Arka segera bangun, kepalanya juga pening, dia tahu betul kalau jenis minuman yang diminumnya semalam tidak akan membuatnya mabuk separah ini, pasti ada campuran lainnya sengaja diberikan ke dalamnya.


"Naina menangis terisak ketika ingat pergulatan panas semalam. bagaimana tidak lelaki yang semalam bukanlah lelaki yang diharapkan. Justru malah sahabat lelaki yang dicintai itu.


Naina juga tidak bisa menjamin Arka akan diam dan tidak menceritakan semuanya.


Nayna, apakah semalam kau menambahkan sesuatu ke dalam minuman ku," kini justru Arka yang membombardir dirinya.


"Tidak, aku tidak menambahkan apapun," dusta Naina namun ekor matanya tetap tidak bisa berbohong. Wanita jika berbohong pasti tidak akan berani menatap matanya.


Arka bukanlah lelaki bodoh yang tidak mengerti ketika wanita sedang berbohong.


Arka segera bangkit dari duduknya dan menarik wajah Naina yang masih terisak dalam penyesalan.


Jawab yang jujur siapa yang menaruh sesuatu di dalam minuman itu, apa kamu sengaja akan menjebak ku, oh tidak mungkin aku, lelaki itu pasti Satria, jika kau mencintai Satria kau salah besar, apalagi berniat ingin memisahkan dia, Satria sangat mencintai Alya. Dan dia tidak mungkin lagi dapat dipisahkan, cinta mereka begitu kokoh."


Naina semakin tergugu, mendengar perkataan Arka barusan. Benarkah Satria dan Alya tak mungkin lagi bisa dipisahkan.


Naina memalingkan wajahnya, tak menyangka Arka bisa tahu lebih cepat sebelum dia berkata apapun.


"Jujur saja, kamu yang memasukkan obat ke dalam minuman Satria."


"Aku sangat mencintainya, salahkah jika aku ingin bersama dengan orang yang aku sayang?" kata Naina masih tak sudi menatap wajah Arka. ada rasa malu yang membuat dirinya tak memiliki keberanian menatap lelaki yang kini begitu dekat dengannya itu.


"Sudahlah, aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi, sekarang, pergi cepat dari sini." Naina mengusir Arka.


"Pergi? hei Nona, ini kamar siapa?" Arka mengibaskan tangannya di depan wajah Naina.


Naina semakin malu begitu melihat sekeliling, ternyata memang benar ini bukan kamar miliknya.


Tunggu Nona, jika kau bawa selimutnya tubuhku akan terekpos, beri aku waktu untuk memakai baju.


Naina hanya berdecak sebal. Dia memberi kesempatan Arka untuk memakai celana segitiga yang tergeletak dan bertumpuk dengan bajunya.


Usai memakai pelindung basookanya, Arka melepaskan selimut untuk Naina. Naina memakainya hingga kamar mandi lalu melempar kembali ke ranjang.


Saat melempar sembarangan, ternyata selimut itu mengenai wajah Arka. Lelaki itu hanya tersenyum smirk.


Naina mengguyur tubuhnya dengan air shower yang terus mengucur deras dari langit-langit.


Dilihat sekujur tubuhnya belang karena ulah gila Arka semalam, tapi bukan hanya tubuhnya, Naina juga melihat di leher Arka juga banyak terdapat bekas gigitan maha karyanya. .


"Bodoh, bodoh, kenapa bartender itu bodoh sekali, bukankah aku sudah memberinya bayaran mahal, tapi kenapa dia bersikap sangat bodoh, tidakkah bisa bedakan mana lelaki yang aku cintai, ketampanannya saja sudah sangat berbeda.


"Naina!" panggil Arka dari luar pintu kamar mandi.


"Pergi!" jawab Naina masih ingin melampiaskan amarahnya


"Naina aku hanya mengantar handuk, tapi jika kamu tidak mau tidak apa, aku hanya mencoba memedulikan kami."


Naina kini baru ingat kalau tak ada sehelai benang yang bisa dipakai saat keluar nanti.


"argggg, sial, kenapa aku selalu sial saat didekatnya, apakah dia itu pembawa kutukan dalam hidupku. batin Naina yang semakin membenci Arka.


Arka sebenarnya kasihan dengan Naina, semalam dia sudah menggempurnya berulang kali. wanita itu pasti sedang kesakitan.


Arka akhirnya berinisiatif untuk membelikan sarapan lewat sebuah aplikasi, meski dia sadar betul dia tak akan mau, namun Arka yakin usaha baik suatu saat akan membuahkan hal yang baik pula.

__ADS_1


Naina sekarang mulai kedinginan, tetapi terlambat untuk menyesali, akhirnya dia menurunkan sedikit egonya.


"Mas Arka ...." panggil Naina lirih.


Arka pura-pura tak mendengar. lelaki itu kini tengah mengaduk dua cangkir minuman ginseng madu dan menata sarapan pesanannya.


Arka mulai cemas karena Naina tak memanggilnya lagi. "Apakah dia pingsan?" gumam Arka sendiri shol mondar-mandir di dekat pintu.


Arka segera membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak dikunci oleh Naina, wanita itu bersandar dengan dinding dan wajahnya pucat.


"Naina, kenapa tidak katakan padaku kalau kamu sakit?" Arka segera menggendong tubuh Naina dan membalut tubuhnya dengan handuk baru lalu mengangkat tubuhnya ke ranjang.


"Naina kau sakit?"


"Naina mengangguk." Saat menyentuh air, tubuhku tiba-tiba menggigil, bukankah itu pertanda aku akan sakit. Andai bisa aku ingin mati saja, aku malu Arka, Aku malu pada diriku sendiri dan dunia.


Arka kembali memakaikan selimut pada Naina, dia tidak bisa membiarkan wanita itu menderita, Jika semalam mereka telah mereguk sesuatu yang sangat manis bersama.


"Jangan mengutuk kejadian semalam, jika kau mau aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu, dan jika mungkin ada bayi yang tumbuh di rahimmu, dia anakku, biarkan dia hidup."


"Siapa kau mengaturku?"


"Mungkin aku calon suamimu dan calon dari papa anakmu nanti, bisa jadi kita melakukannya disaat kau sedang masa subur." Arka bsrvanda, tapi justru Naina semakin sedih.


"Nay, jika Satria tidak akan mencintaimu, Ada aku yang mencintaimu, kau bisa mencoba melihatku yang tak pernah terlihat olehmu ini."


Naina hanya diam, bagaimana bisa dia menerima lelaki lain dengan begitu mudah, sementara cintanya pada Satria sejak pandangan pertama. Ah kenapa harus bertemu Satria disaat dia sudah memiliki yang lain.


Arka mengambil makanan yang tadi sempat dia siapkan di meja makan, Arka menawarkan terlebih dahulu pada Naina.


"Pernahkah kamu makan makanan murahan seperti ini?"


Naina mengangguk, perutnya memang terasa melilit, dia tak pernah sekalipun terlambat sarapan.


Arka senang bukan kepalang, Naina bersedia menerima suapan dari tangannya. Andai tidak sakit Naina pasti tidak akan sepatuh hari ini.


Naina, maafkan aku jika semalam sudah melakukannya dengan kasar, sampai kau jadi sakit seperti ini.


"Jangan dibahas lagi."


"Apa kau ingat kejadiannya?"


"Jangan dibahas atau akau tak akan sisi makan.


"Baiklah, kalau begitu buka mulutmu, nanti akan ada dokter datang kesini."


"Siapa suruh memanggil dokter?"


"Tidak ada, tapi aku sendiri yang berinisiatif."


Naina lagi-lagi dibuat terdiam oleh Arka. Naina tidak bisa menolak perhatian Arka karena saat ini dirinya memang butuh dokter untuk memeriksa kondisi tubuhnya.


Tak lama dokter laki-laki datang, dokter itu segera memeriksa kondisi tubuh Naina. "Nona anda sakit karena kelelahan, banyak istirahat dan minum vitamin dari saya."


Naina mengangguk. Setelah pemeriksaan dokter tak ada yang serius pada tubuh Naina, dokter segera pamit pulang.


Sebelum pulang dia membisikkan sesuatu pada Arka. Apakah anda suaminya?


'"I-i-iya."


Oleskan salep ini pada organ intinya yang terluka, demam di tubuhnya sebenarnya karena luka dibagian itu.

__ADS_1


Arka semakin bersalah mendengar pengakuan dokter tentang sakit Naina. Apakah semalam dia bermain sangat kasar, Sampai sampai wanita itu sakit dan terlihat sulit untuk berjalan.


__ADS_2