Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Naina berulah.


__ADS_3

***


Nai buka pintunya Nai, aku ke sini ada yang harus kita bicarakan.


Karena kasihan akhirnya Naina membuka pintu untuk Arka.


"Mas tolonglah jangan temui aku lagi, jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, dan aku mohon lupakan apa yang telah terjadi diantara kita, please, oke aku mengakui, Kalau malam itu aku yang menaruh bubuk ke dalam minuman kamu melalui bartender, dan sayang sekali wanita itu salah memberikan bubuk itu pada minuman kamu, ya? kamu tahu kan? aku cinta sama Satria, jadi tidak ada hubungannya dengan kamu, jangan temui aku lagi." Naina segera menutup pintu kembali. Tapi sekuat tenaga Arka menahan pintu, dan dia merosot masuk.


Naina yang jengah melihat keberadaan Arka segera duduk di tepi ranjang.


"Aku ke sini tidak ingin bicara apapun, karena kamu lagi sakit, Aku bawakan bubur untukmu, Tadi kebetulan ada yang jualan di depan hotel ini, dan kamu pasti belum minum obat, lhoh, obatnya Kenapa di berantakin, aku ambil ya aku masukkan di nakas ini, yang kotak nomor satu, biar kamu mudah untuk mencarinya."


Naina hanya diam, membiarkan Arka bersikap semaunya. Namun, di lubuk hatinya yang paling kecil Naina sedikit tersentuh dengan perlakuan Arka.


"Masih sakit nggak?" tanya Arka ambigu.


"Apa?" Naina memasang wajah tidak mengerti


"Itu, masih sakit nggak?"aku Khawatir infeksi.


"Kamu pikir aku jorok apa sampai infeksi."


"Nggak, aku khawatir aja, aku salah ngomong ya."


"Iya, enak aja bilang infeksi, mending Mas diam aja. nggak usah ngomong."


"Ya udah makan ya! entar buburnya kalau dingin nggak enak lagi."


"Naina tetap terlihat jutek, dia tak ingin menunjukkan sikap baik sedikitpun pada Arka. karena Naina memang sama sekali belum ada perasaan dengan lelaki itu.


Tetapi kenapa lelaki itu malah gencar menunjukkan sikap baiknya, mau tidak mau hati kecil Naina merasa tersentuh.


"Mas, Aku sudah makan seperti keinginan kamu, aku juga sudah minum obat, kamu juga pasti capek urusin hal nggak berguna begini, pasti kamu bwrgikir ini semua buang buang waktu aja, sekarang mending mas kembali ke kamar, ya?"


Arka bukannya menuruti kata-kata Naina, tapi lelaki itu malah mengambil satu bantal di sebelah Naina dan membawanya ke sofa. "Malam ini aku tidur di sini saja."


"Nggak bisa Mas."


"Kenapa nggak bisa?"


"Karena aku nggak akan ijinin."


"Aku nggak minta izin kok."


"Mas, ayolah, please kerja samanya, berhenti buat kepalaku ingin pecah, kamu itu bikin aku nggak nyaman ngelakuin apapun tau?"


Arka tidak menggubris perkataan Naina, lelaki itu menata bantal dengan ujung sofa lalu tidur terlentang dengan tangan dilipat di dada.


Naina menggelengkan kepala. lama-lama dia bisa darah tinggi jika terus memikirkan Arga yang sepertinya bebal. tak pernah mau menuruti apa perkataannya.

__ADS_1


Naina akhirnya memilih untuk memakai kemeja lengan panjang yang memiliki panjang selutut, lalu keluar untuk melihat pemandangan kota lewat balkon.


Naina melihat pemandangan yang sangat indah di kejauhan, Naina suka sekali dengan kerlip lampu warna-warni menyerupai gugusan bintang.


Namun saat dia menoleh pada pemandangan yang berada saru lantai di bawahnya, ulu hati Naina seketika terasa nyeri.


Naina melihat Satria sedang mengejar seorang wanita cantik, yang wajahnya tidak asing lagi baginya, wanita itu adalah Alya.


Satria sedang mengejar Alya, ketika Alya tertangkap, Satria segera merengguhnya dari belakang, lalu mengecup pipinya bertubi-tubi, dan memutar tubuh mungil itu berulang kali. Tawa Alya pecah begitu lepas, ada ada kesedihan yang terlihat sedikit pun. Alya sangat bahagia, dunia seolah hanya miliknya berdua.


Setelah aksi kejar mengejar selesai, Satria memberikan tubuh alya di kursi panjang yang kebetulan ada di balkon, Satria duduk di bawahnya sambil terus membelai wajah Alya.


Alya diperlakukan oleh Satria begitu lembut seperti seorang Dewi, sesekali Satria mengecup bibir istrinya yang merah merona meski tanpa menggunakan pesona tambahan.


Dan adegan romantis terakhir membuat Naina semakin meradang, Satria menggigit buah melon, lalu memberikan pada Alya melalui bibirnya. mereka sama sekali tidak jijik ataupun ragu, hal seperti itu tidak hanya dilakukan satu kali, Satria melakukan berulang kali dengan menggunakan buah yang berbeda. sesekali mereka menggunakan anggur merah dan strawberry.


"Kalian memang manis sekali, tapi sayang kebahagiaan kalian berada di atas deritaku, Alya Andaikan saja kamu mau berbagi Satria sedikit saja denganku, mungkin aku akan menjadi sahabat yang sangat baik untukmu"


***


Udara di luar makin dingin, Satria meminta Alya untuk masuk ke kamar. Satria pamit sebentar untuk membelikan sesuatu buat teman begadang malam.


Alya menurut dia segera masuk ke kamar dan mengunci pintu.


Sedangkan baru beberapa langkah, menuju lift, Satria melihat Naina memanjat pagar pembatas.


"Naina, kamu sudah gila?"


"Nai kenapa kamu menghancurkan hidupmu seperti ini, apakah kamu tidak tahu bunuh diri itu dosanya besar.


Naina mengambil kesempatan dalam situasi ini, dipeluknya pinggang Satria dan dia menyandarkan kepalanya di bahu. Naina sangat merindukan aroma khas ini, dia ingin sedikit lebih lama lagi di dekat Satria.


"Naina, rupanya kau ada di sini, aku sejak tadi mencarimu." Arka menghampiri Naina dengan wajah bantalnya.


Satria segera menjauhkan diri dari tubuh Naina. Satria khawatir Arka akan salah paham.


"Mas, Naina tadi akan meloncat pagar ini, sepertinya jangan pernah tinggalkan dia sendirian, mungkin dia sedang mengalami syok berat."


" Maaf Sat, aku tadi sudah temani dia tapi ketiduran, Aku kira dia kembali tidur, tidak tahunya malah keluar."


"Naina, ikutlah dengan Mas Arka, kamu lebih baik bersama dia. Mas Arka sepertinya lelaki yang tepat untuk mu, dia tulus mencintaimu."


Benar dugaan Naina, Satria pasti sudah mencium hubungan dekat dirinya dan Arka. Buktinya Begitu ada Arka. Satria langsung dari tanggung jawab menjaga dirinya kepada Arka.


"Makasih ya Sat, sudah nolongin Naina.


"Iya Bang, Bang Arka jagain dia bener-bener ya. Aku kembali dulu. Alya sepertinya sudah menelepon.


Naina terlihat puas bisa memeluk Satria, meski sebentar paling tidak bisa mengobati kerinduannya pada lelaki itu.

__ADS_1


Tak lama Satria sudah tiba lagi di kamar, dia membawakan Alya makanan dan Snack untuk teman nonton tv. tak lupa sedikit minuman penghangat yang tidak mengandung alkohol.


Alya membuka pintu dengan cepat ketika mendengar Satria mengetuk pintu berulang kali.


Segera dipeluknya tubuh suaminya yang tetap rapi seperti saat meninggalkannya tadi.


"Ada apa sayang? Kau sepertinya sudah sangat merindukan aku lagi. hm katakan Sayang"


"Jangan GR, aku cuma takut sendirian, aku belum terbiasa dengan kamar ini."


'Baiklah aku percaya, pada istriku," Satria menggendong Alya setelah mengunci pintu, dihempaskan ya tubuh putih dan sintal itu ke kasur hingga tubuhnya memantul berulang kali.


Dikungkung nya tubuh yang sudah menjadi candu itu, dikecupnya berulang kalo. "Apa aku boleh memintanya lagi?" dia sudah penuh lagi, gara-gara kita bermain di taman tadi."


"Dasar mesum." Alya mencubit pipi Satria


Alya mengangguk pasrah, malam ini dia adalah milik suaminya, Alya tidak ingin sekalipun menolak permintaan Satria.


Satria segera melepas semua yang menempel ditubuh Alya. Lalu menutup tubuh indah dengan selimut putih berbulu empuk. Satria juga ikut masuk kedalam Selimut. pergulatan di dalam selimut telah dimulai.


Satria dan alya melakukan penyatuan dengan sangat panas, melebihi saat Arka masuk tempo hari. Alya dan Satria benar benar menikmati bukan madunya di negara ginseng ini.


Tanda merah yang kemarin baru saja memudar, kini sudah ada tanda baru yang lebih banyak. bahkan tidak hanya di dada dan leher, di paha dan perut juga ada.


***


Pagi hari Alya segera bangun, dia merasa perutnya sangat lapar, Alya segera beranjak dari ranjang, memasak banyak makanan untuk sarapan.


Satria yang mencium aroma masakan, dia segera bangun.


Satria mencuci muka dan telapak tangan lalu menyusul Alya yang tengah memasak di dapur.


"Ummm."Satria menghirup tubuh Alya yang sudah wangi. Alya memang selalu mandi lebih dulu sebelum memasak.


Satria menggesek kumisnya yang baru dicukur ke tengkuk Alya. Alya tentu saja merasa geli.


"Mas, geli ah."


"Entahlah aku selalu gemes sama kamu, Sayang. Satria mempererat pelukannya di perut Alya. mengusap perut istrinya yang datar.


"Sayang, apakah sudah ada bayi di dalam sini."


"Entahlah aku baru saja telat satu minggu, semoga saja Satria junior sudah ada," kata Alya sambil sibuk mencuci sayur


Satria tak mau melepaskan Alya sama sekali, tubuhnya menempel kemanapun Alya bergerak.


"Mas aku harus memasak, Jika kamu seperti ini nanti masakannya nggak enak.


"Siapa bilang? masakannya buatan istriku yang paling enak."

__ADS_1


"Kan, pagi sudah ngegombal aja, Bagaimana kalau aku masaknya cuma dikasih garam aja? apa masih yang paling enak," canda Alya.


__ADS_2