Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Selalu ada dia


__ADS_3

Alya tidur sangat pulas, baru Satria berani mendekat. Satria memegang keningnya, bersyukur tidak panas. 


Satria menarik kursi kecil yang terbuat dari kayu jati, lalu dibuatnya duduk, berharap bisa menatap wajah cantik wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


'Alya, Jujur aku bahagia banget bisa menjadi suami kamu, tapi di sisi lain aku juga kasihan kamu harus menderita setiap saat, karena kesalahan Mas Aditya. Jujur, andaikan saja waktu bisa diputar ulang, aku lebih bahagia melihat kamu yang dulu, meski harus bersama mas Aditya, melihat kamu senang, aku juga ikut senang Alya. Sayang sekali kenapa tiba-tiba ada Kinan diantara kalian.'


Satria mencoba menggenggam tangan Alya yang dingin. Rupanya Alya benar-benar tidur, tak ada reaksi apapun dari Alya ketika tangan itu digenggam dan bahkan di kecup oleh Satria.


Tring! tring!


"Ada apalagi sih Mas Adit. Gak sadar apa kalau sudah punya istri dan mau punya anak." Satria ogah ogahan mengambil ponselnya yang dia tinggalkan di atas meja tempat membuat teh tadi.


Ternyata si penelepon bukan lagi Aditya melainkan Rosa. 


"Halo Satria, aku sudah pulang, ketemu yuk, Mama belikan oleh-oleh untuk kamu nie."


"Udah pulang ya? Kayaknya nggak bisa sekarang Ros, maaf ya. Aku lagi nggak di rumah"


"Ih, nyebelin banget sih Sat. Aku baru pulang dan kangen sama kamu, tapi kami ogah-ogahan ketemu aku."


"Hehehe, bukan gitu, aku emang lagi gak bisa. Lain kali aja ya, dan makasi udah ingat aku, pake dibelikan oleh-oleh segala." 


"Ya sudah, aku mau istirahat, besok siang kamu kesini ya."


"Aku usahain."


"pokoknya datang, titik." Rosa menutup panggilan lebih dulu. Rosa sangat capek, dia ingin segera tidur. 


Rosa tahu Satria tidak mencintainya. Tapi wanita itu sedang berjuang mendapatkan cintanya. Menurut Rosa, Satria itu pantas diperjuangkan, dia lelaki yang sangat mengayomi wanita.


karena bukan hanya sekali dua kali Satria menjadi pelindung Rosa. 


Satria mengantongi ponselnya lagi. Kantuk mulai hinggap di kedua kelopak matanya hingga rasanya jadi berat untuk terus berjaga. 


Satria meninggalkan kursi kecil lalu tiduran di sofa sambil baca-baca chat dari grub BAM(balapan anak motor) yang lagi heboh bahas acara balap selanjutnya.


Salah seorang teman ada yang tiba-tiba tag dirinya. 


[Satria, oi. Jangan diam aja, Lo setuju minggu besok kan?"]


[Terserah, gue ngikut aja]


[Tapi elo pasti datang kan? Acara nggak akan seru tanpa elo] 


[Hahaha, gue pasti datang]

__ADS_1


Grub masih rame, tapi Satria sudah keluar lagi dari obrolan. Kepalanya dia angkat sedikit untuk memastikan Alya sudah nyenyak tidurnya.


****


tiba tiba Alya berteriak ketika malam sudah larut. "Mas Adit! Mas! Mas Adit, jangan pergi Mas!"


Mendengar Alya yang sedang ngigau, Satria segera meloncat dari sofa menuju ranjang. 


"Alya! Bangun Alya, kamu sedang mimpi Al."


Setelah membuka mata, Alya segera memeluk Satria.  Dia baru sadar kalau Adit hanya ada dalam mimpinya. 


"Satria, maafkan aku."


"Iya, nggak apa-apa. Kamu tadi mimpi. Mimpi buruk ya sampai ngos-ngosan begitu." 


Alya mengangguk lalu mengurai pelukannya, Alya segera menarik selimut dan kembali tidur. 


"Satria kamu marah aku panggil nama Mas Aditya?"


"Kenapa merah, itu hanya mimpi, kamu bisa tidur lagi," kata Satria tanpa menatap wajah Alya yang kini sedang menatapnya dengan segudang rasa bersalah.


"Maaf Sat, kami sudah bersama empat tahun, jadi tak mudah aku melupakan begitu saja semua kenangan yang kita lalui, apalagi terakhir ini aku sedang sayang-sayangnya dan memutuskan untuk menikah, aku butuh kekuatan besar untuk melupakan semua dan perlahan menggeser namanya dari hati ini."


"Sudah jangan terlalu memikirkan aku."  Kata Satria mengelus rambut istrinya dan memberanikan diri mengecup kening. Alya memejamkan mata ketika bibir lembut nan basah itu mendarat di dahinya. "Aku akan selalu mengerti.


***


Pagi telah tiba, matahari bersinar kemerahan di ufuk timur, Alya sudah bangun lebih dulu dan membuatkan kopi untuk Satria dan teh hangat untuk dirinya sendiri.


Satria tiba-tiba tidur di atas ranjang dan Memakai selimut yang sama dengan yang dipakai Alya semalam. 


Tapi Alya kelihatannya tak protes seperti kemaren, bisa jadi Satria baru pindah ke ranjang ketika Alya sudah bangun. 


Menunggu Satria bangun, Alya menyalakan ponselnya yang sejak semalam dimatikan. 


Banyak panggilan dari Aditya dan beberapa kali dari dewi serta puluhan notif pesan terus saja masuk membuat benda pipih itu tak berhenti bergetar. 


Alya ogah-ogahan melihat pesan yang dikirim mantan kekasihnya, dia yakin pasti isinya khawatir yang tak jelas dan meminta agar jauh-jauh dari Satria. 


Sambil menunggu Satria bangun Alya memilih jalan-jalan keluar cottage. Menghirup sejuknya udara pagi di tepi pantai dan melihat burung burung yang berterbangan dengan riang.


Sebenarnya Alya masih betah tinggal di cottage ini. Tapi apa boleh buat. Satria hanya bilang akan tinggal semalam saja.


Kembali ke rumah dan bertatap muka dengan mantan adalah hal yang berat buat Alya.

__ADS_1


"Alya, kamu suka disini?" Lelaki yang diduga masih tidur menempelkan kemejanya, takut Alya kedinginan seperti semalam. 


"Iya, daripada di rumah, aku takut kalau …."


"Mas Aditya akan mengganggumu?"


"Tenang ada aku, ada ayah dan bunda, dia tidak akan berani macam-macam."


"Baiklah, aku percaya pada kamu Satria, terima kasih." Alya tersenyum. 


Satria membalas senyum, lalu mereka berdua sama-sama melihat bola api merah yang mulai berubah warna. 


"Satria, pake bajunya nanti kamu masuk angin."


"Angin akan menyerah dengan lelaki sepertiku Alya," canda Satria.


"Kalau begitu apakah air juga tidak akan bisa membasahi tubuhmu." Alya berlari pada ombak kecil. Mengambil air dan dilemparnya ke arah Satria. 


"Alya, aku basah!!" 


"Nggak apa apa, sekalian kamu mandi. pasti belom mandi kan?"


Alya, kamu yang mulai, jangan salahkan aku jika aku membalasnya. 


Satria ikut mengambil air dan melempar ke arah Alya. Baju Alya basah. Alya lupa kalau dia tidak berpelindung.


 


"Satria sudah! cukup! Aku belum ada baju ganti" Alya menghindari Satria, dia berlari menghindar dengan sangat cepat. Tapi Satria tak kalah cepatnya. Dia menarik Alya ke dalam dekapan dan memutar tubuhnya berulang kali. 


ini pertama kalinya Alya tertawa lepas, Satria baru tahu Alya suka sekali dengan pantai.


Alya dan Satria terjatuh bersama, gulungan ombak yang lumayan besar datang dan menerjang  tubuhnya. Mereka berdua kini basah. 


"Aaa! aku basah kan." Alya mengerucutkan bibirnya. Membayangkan harus menunggu siang hari baru baju ganti mereka akan kering. 


Satria hanya bisa tertawa lalu mengulurkan tangan pada Alya. Tapi Alya malah tak mau. Dia melengos kesal. 


***


Alya dan Satria tidak tahu kalau di seberang sana ada dua bola mata yang menatapnya dengan nanar. 


"Satria kamu benar-benar membuat kesabaran kakakmu ini habis, kamu benar-benar ingin merebut Alya dariku. Percayalah aku akan mengambil Alya lagi darimu, karena wanita itu tidak akan pernah bisa kau miliki. Dia hanya cinta sama aku, Sat. Aku cinta pertama dan terakhirnya."


"Mas Adit!" pekik Alya, terkejut.

__ADS_1


"Iya Alya, aku tadi sengaja mampir kesini sebelum ke kantor, entah kenapa tiba-tiba saja ingin datang kesini, mungkin ini kode dari Tuhan, karena kita sehati."


Satria membuang muka mendengar kakaknya berbicara sok bijak, tapi pada dasarnya tak ada akhlak. 


__ADS_2