
Sembilan bulan kemudian
Satria sudah pulang beberapa bulan yang lalu, dia sudah berhasil membangun rumah megah untuk dia tinggali bersama anak anaknya. Mobil mewah jiga sudah dia miliki.
Rumah yang dia tempati adalah keuntungan saat bekerja di negeri ginseng. Satria juga miliki banyak usaha kuliner yang di percayakan pada banyak asistennya. usaha kuliner Satria berkembang di seluruh kota bagai jamur di musim semi.
Satria juga memiliki satu sopir pribadi untuk Alya dan dua asisten rumah tangga bagian kebersihan dan memasak.
Kehidupan Satria yang dulu anak jalanan dan suka main balap motor sekarang berubah drastis, karena Kegigihan Satria dalam bekerja.
Alya beberapa hari lagi akan melahirkan bayi yang masih dirahasiakan jenis kelaminnya.
Satria kini menjadi suami siaga, dia selalu ada di dekat Alya, apapun yang Alya mau Satria selalu mengabulkan, dan pekerjaannya sebagai Arsitek masih tetap berjalan seperti biasanya.
Pagi ini Alya tiba tiba merasakan perutnya mulas.
"Mas, perutku sakit!"
"Kok, bisa? kata dokter kan masih satu minggu lagi sayang!" Satria terpaksa kembali membuka jas dan menaruh tas ke meja tamu begitu istrinya mengeluh saat mengantarnya ke mobil.
"Iya Mas, sakitnya belum seberapa, datang hilang, datang hilang."
"Nona, itu biasanya baru pembukaan sedikit, makanya sakitnya datang hilang." kata bibi yang mendengar obrolan majikannya.
"Jadi bener Bi, Alya mau melahirkan?"
"Bener tuan, sakitnya ya seperti itu jarang-jarang dulu. Tapi semakin lama nanti, sakitnya akan tambah parah," kata bibi.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang sayang."
"Iya Mas, aku siap-siap dulu." Alya kembali ke kamar, membawa perlengkapan yang perlu dibawa, lalu dimasukkan ke dalam tas kecil.
"Bibi tolong jaga rumah ya, kalau ada yang cari saya, kabari suruh langsung ke rumah bersalin Pelita Bunda."
Yang dimaksud Satria orang yang akan mencarinya adalah para manager restauran. Dia akan mengirim laporan langsung dan sharing setiap satu minggu sekali.
"Iya, Mas Satria."
"Sayang ayo kita berangkat sekarang, biar nanti umi dan bunda aku kabari saat di jalan saja. Pak Ilham, tolong siapkan mobil yang menurut bapak paling nyaman."
"Iya Mas," kata pak Ilham.
__ADS_1
Pak Ilham mengeluarkan mobil yang paling baru dan mahal. Pak Ilham juga segera membantu majikannya memasukkan segala sesuatu ke dalam bagasi.
Sedangkan Satria dan Alya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
"Mas, sakit, tapi aku juga senang, anak kita akan segera lahir."
"Sama, aku juga senang, tapi lihat kamu sakit, aku jadi pengen yang bawa sakitnya semua." Dibelainya kepala Alya yang tertutup hijab.
"Mas, kita berangkat sekarang, apa sudah yakin tak ada yang tertinggal?"
"Iya, Pak. kalau ditunda terus takutnya istri saya malah melahirkan di mobil. Bapak saya paksa jadi dokternya nanti."
"Mas, kamu apa'an sih. Orang lagi kesakitan bawaannya masih becanda melulu." Alya mengerucutkan bibirnya.
"Duh Mas, kalau nona ngambek saya nggak ikut ya," kata pak Ilham.
"Pak buruan, sakit Ni," Alya merasakan frekuensi sakitnya makin lama makin sering saja.
"Pak agak cepet dikit ya. tapi tolong tetep hati-hati."
"Iya Mas."
Dalam perjalanan Satria terus saja mengelus perut Alya dan membacakan ayat ayat suci Alquran. Semoga bayinya lahir dengan selamat dan juga ibunya.
"Umi Salma, Non Alya tadi sakit perut, bibi yakin non Alya pasti mau melahirkan."
"Yang bener Bi, tapi Satria kok nggak kasih tau."
"Den Satria tadi sudah panik, maklum saja Umi, ini pertama kalinya."
"Ya, umi akan segera ke sana." Umi Salma segera mematikan teleponnya dengan asisten di rumah Satria.
"Bi, Abi bangun Bi, Alya mau lahiran, duh Abi sejak nggak kerja di peternakan jadi pemalas gini. mentang mentang hidupnya sudah ditanggung menantu."
"Iya umi, Abi tadi baru aja mimpi ketemu sama gadis ... Umi main goyang-goyang tubuh Abi aja."
"Itu akibatnya, kalau habis sembahyang tidur lagi, yang datang itu bukannya gadis Bi, tapi tadi itu Syaiton."
"Iya Mi, Saytonnya cantik banget jadi Abi ya terbawa suasana."kata Abi bangkit dari ranjang dengan setengah hati.
"Dasar Abi."
__ADS_1
"Umi, tadi bilang anak kita mau lahiran?"
"Bukan, tapi tetangga sebelah," kata umi kesal, lalu keluar menghentikan angkot, sedangkan Abi buru-buru mengejar umi tanpa ganti baju, masih dengan kaos oblong dan sarung yang dilipat di perut.
Sedangkan Bunda Aisyah kebetulan main ke rumah Alya karena rindu, cahaya dan Aditya juga ikut, tapi Sampai di rumah hanya ada Asisten Satria yang sedang bekerja.
Mendengar kabar Alya sudah mau lahiran Aditya langsung banting setir menuju rumah sakit, Aditya ingin sekali memarahi Satria, kenapa kabar sebesar itu tak segera menghubungi keluarga.
"Mbak Alya, biarkan saya periksa berapa banyak pembukaan yang sudah anda lalui." kata Dokter yang datang dengan wajah nyaris tertutup masker.
"Memangnya ada berapa pembukaan dokter?" Satria tak sabar ingin tahu. Namun Satria juga seolah tak asing dengan suara wanita itu.
"Ada sepuluh, Mas," jawab Dokter ramah.
"Sebentar lagi bayi anda akan lahir, ada enam pembukaan yang sudah dilalui oleh Nona," kata Dokter membuat Alya dan Satria sedikit lega.
"Mas ini sakit sekali, tolonglah tetap disisiku." Alya mulai merasakan sakit yang luar biasa membuat Alya sedikit takut.
Dokter terus memperhatikan Satria dan Alya bergantian. Ada masalalu yang terpaksa dia lupakan bersama lelaki tampan di depannya dan mengikhlaskan untuk wanita yang sebentar lagi akan memberinya buah hati.
"Iya sayang, aku akan ada disini, terus menemani kamu sampai anak kita lahir," Satria terus didekat Alya seolah memberi dukungan dengan terus menggenggam jemari lentik milik istrinya dan mencium berulang kali.
Keletup!
"Wah ketubannya sudah pecah, ini bagus, pembukaan sudah bertambah," kata Dokter yang melihat lelehan air ketuban membasahi tubuh bawah Alya.
"Aaaa sakit, Mas." Alya terus merengek pada Satria, tentu saja Satria ikut panik dan terus memeluk dan mencium kening wanitanya hingga bertubi.
"Aku ada disini Sayang."
Satria mengabaikan rasa penasarannya pada dokter yang kini menangani Alya, sementara Satria ingin fokus pada istri dan bayinya.
"Terus Nona, mengejan lagi, bayinya sudah kelihatan rambutnya. sedikit lagi."
"Aaaaa." Alya terus mengejan sekuat tenaga, dia juga menggigit lengan Satria hingga membekas gigi. Bukan hanya di lengan, tengkuk dan rambutnya juga tak lepas dari cakaran Alya.
Keluarga yang baru datang tidak diizinkan masuk. Terpaksa keluarga hanya menunggu di luar dan mengintai dari kaca.
Aditya yang melihat Satria menjadi korban keganasan Alya dia tertawa terkekeh-kekeh.
"Adit, kamu kok malah senang gitu."
__ADS_1
Mereka lucu aja Bun, Satria bisa pasrah gitu dianiaya Alya." kata Aditya menahan tawa.