Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Kebersamaan Satria dan Alya, menyakiti hati Aditya.


__ADS_3

Satria dan Alya sama-sama menikmati makannya hari ini.


Alya melihat Satria begitu nikmat makan dengan tangan. "Kayaknya enak banget makan dengan tangan, begitu."


"Kamu mau coba, cuci tangan dulu ya."


"Alya mengangguk. lalu dia menaruh sendok dan mencuci tangan seperti perintah Satria.


Meski Alya dan Aditya Kakak beradik, tapi mereka memiliki gaya hidup pacaran yang berbeda. Satria suka tempat yang klasik tapi romantis, sedangkan Aditya dia suka keliling tempat mewah.


"Satria aku ingin katakan semua," kata Alya sambil makan pelan-pelan.


"Aku ingin jadi istri yang kamu inginkan. Tolong bantu aku?" kata Alya sambil menatap Satria.


Satria membalas menatap kedua bola mata indah dengan bulu lentik itu dengan dalam.


"Kamu yakin, bisa melupakan mas Aditya?"


"iya, Aku sudah jujur kalau aku memilih kamu."


"Terus janji kamu untuk tak mau disentuh olehku sampai Kinan melahirkan?"


"Aku tak perduli dengan keinginan dia, sekarang aku istri kamu, bukankah aku tak boleh memikirkan laki laki-lain. aku hanya boleh memikirkan kamu, Mas Satria."Senyum Alya mengembang.


Alya sadar diri, jika dia takut kalau Satria dekat dengan wanita lain, bukankah dia harus membuat Satria betah dengannya.


beberapa hari ini, atas kejadian yang menimpa dirinya, membuat Alya tahu kalau Satria adalah lelaki yang memiliki segala pesona, banyak wanita yang ingin menjadi wanitanya.


Alya menggenggam jemari Satria yang bertengger diatas meja. "Kamu tahu soal itu darimana?"


"Mas Aditya yang bilang, untuk tidak sentuh kamu, dan aku juga berulang kali dengar dia bilang langsung ke kamu."


Alya menggenggam jemari Satria lebih kuat. Satria menatap jemarinya dan kini dia merubah posisi, sekarang Satria yang menggenggam jemari Alya. Pacaran setelah menikah ternyata berbeda.


"Soal baju di kamar mandi kita, mungkin Mas Aditya sengaja supaya kamu terus mengambil kesimpulan yang bukan-bukan. Dan di pagi itu dia mencium pipiku, aku tidak tahu itu mas Aditya, aku hanya berfikir itu kamu, karena aku sedang tidur. Malamnya aku tak bisa tidur, aku menunggu kamu pulang, ternyata kamu tidur di rumah wanita itu."


"Ralat Alya supaya kamu nggak salah paham, aku tidur di rumah Mas Arka, bukan karena Elisa."


"Jadi kamu yakin pagi itu mas Aditya mencium kamu."


Alya mengangguk, "Tapi tolong lupakan saja Satria, aku sudah jujur supaya tak ada lagi kebohongan diantara kita, dan aku mulai memperbaiki semuanya." Alya memohon dengan mempertahankan tangan Satria.


"Aku yakin Elisa pasti cerita macam macam soal ban motor aku yang kempes." imbuh Alya lagi.


Satria mengangguk. dia sadar kalau selama ini sudah salah paham. "Alya benarkah kamu yakin akan buka hati kamu untukku?"

__ADS_1


Alya mengangguk. " Sekarang justru aku nggak yakin kamu bisa lupakan mantan kamu yang sering kesini, buktinya sekarang kamu ajak aku kesini."


"Wanita itu Rosa, kami memang pernah dekat, tapi hubungan nggak sampe pacaran."


"Andai kita tidak nikah?"


"Mungkin bisa jadi." Satria tertawa.


Alya mengerucutkan bibirnya.


"Jadi kamu dekat dengan Rosa dan Elisa, dua duanya. Em aku tahu kamu pasti bingung milih diantara dua wanita itu, selain itu kamu tidak mau persahabatan keduanya rusak."


"Kamu suka nebak kayak dukun aja."


"Tapi benar kan?"


"Kamu keberatan dengan masa lalu aku?"


"Tidak sama sekali, kalau kamu aja bisa nerima aku yang notabennya mantan kakak kamu, kenapa aku harus keberatan dengan masa lalu kalian."


"Benarkah?" Satria suka menggoda."


"Berarti kita nanti bisa ..." Satria mengedipkan sebelah matanya.


"Genit." Alya mengulurkan tangannya menjewer telinga Satria.


Bang Aryo yang dengar percakapan Satria hanya senyum-senyum sama istrinya.. "Neng geulis, hati hati sama dia."


"Tukang ngaco lu Bang, Lagi usaha juga."


Mereka berempat akhirnya tertawa.


Satria dan Alya saling melempar tatapan yang entah apa artinya, sepertinya diantara keduanya sudah saling memberi sinyal untuk saling merelakan.


Satria masih menggenggam jemari Alya, satu tangannya lagi terulur menangkup dagu Alya.


Satria ingin menatap dengan jelas raut wajah istrinya dengan jarak sedekat hari ini. "Kamu cantik sekali, Alya."


"Kamu baru sadar."


"Selama ini aku belum berani menatapmu sedekat ini, takut." kata Satria.


"Takut kenapa? bukan hantu". Alya mengerutkan keningnya."


"Takut nggak kuat nahan."

__ADS_1


Alya memalingkan wajahnya yang sudah bersemu, Satria yang suka ngegombal ternyata sudah kembali. Satria sempat jadi pendiam waktu Cemburu.


"Bang berapa makan kita berdua tadi?"


"Untuk pengantin baru, aku kasih gratis deh."


"Wah, makasih banget ya, tapi jangan gratislah, soalnya jadi sungkan kalau mau makan di sini lagi."


"Iya bener Bang Aryo, mungkin Aku dan Mas Satria akan sering mampir makan disini." kata Alya.


Alya dan Satria kembali menaiki motornya. Semenjak keluar dari kedai tadi, rasanya ada yang berbeda.


Satria mengendarai motornya pelan seolah dia sedang ingin menikmati perjalanan indahnya malam ini.


Alya berpegangan sangat erat, Satria sesekali menggenggam jemari Alya yang melingkar di pinggangnya.


"Alya kamu kedinginan ya, pake jaket aku dulu ya."


"Enggak kok, kamu pakai aja Sat, entar kamu yang kedinginan."


"Kamu pikir aku bisa lihat kamu kedinginan, sementara aku nggak, kamu itu baru sembuh dari sakit. Satria menghentikan motornya lalu memakaikan jaket kulitnya pada Alya. jaket Satria sangat wangi, bahkan diam-diam Alya suka sekali menghirup aroma punggung suaminya dan mrlihattengkuk Satria yang bersih dan putih.


Aditya yang melihat semua kelakuan sepasang insan itu kembali meradang, tapi apa yang bisa diperbuat, kalau Alya sekarang sudah memutuskan mau memulai hubungan dengan Satria.


Aditya menghentikan mobilnya di depan motor Satria. Lelaki itu segera turun dan mendekati dua pasangan suami istri yang sibuk membenarkan jaket.


"Satria, kayaknya Alya belum pulih betul, apa nggak sebaiknya naik mobil aku aja." ujar Aditya yang terlihat tulus.


"Makasi Mas, tawarannya, tapi aku bareng Satria saja," tolak Alya lembut.


Satria menatap Alya yang terlihat tak ada keraguan saat mengucapkannya.


"Kamu nggak biasa naik motor beginian Dek, pinggang kamu bisa sakit." ujar Aditya


"Nggak kok, Mas, kalau sama suami nggak akan sakit. aku bisa berpegangan sambil memeluknya dari belakang kuat-kuat. Makasi ya perhatiannya." Alya naik motor Satria dan memeluknya begitu erat dari belakang, Satria menyalakan motornya dan berlalu.


"Aaaaaaa." Aditya berteriak untuk membuat hatinya puas. Setelah motor Satria pergi jauh membawa Alya.


Kecerobohannya membuat dirinya kehilangan orang yang disayangi.


"Alyaaaaa." Aditya jongkok dengan lutut menyentuh tanah sambil meremas rambutnya.


Kenapa kamu tidak pernah beri aku kesempatan kedua, sampai kapanpun aku akan sayang sama kamu Alyaaaaa!"


Aditya berteriak seperti orang gila, sambil menghadap hamparan sawah yang luas, beberapa orang yang lewat memandanginya dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Satria tidak akan bisa membahagiakan kamu seperti aku, Dek. hanya aku yang bisa bahagaiakan kamu. Apa hebatnya dia, dibandingkan aku yang sudah memiliki segalanya!"


__ADS_2