Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Terperangkap


__ADS_3

"Alya apakah langsung pulang atau main dulu?" tanya Dewi pada Alya ketika baru saja keluar kampus.


"Aku pulang aja kayaknya," ujar Alya sambil membenahi tas slempangnya. Alya tidak cerita kalau ingin menemui Satria di perusahaan. Dia tidak ingin mengganggu momen bahagia sahabatnya.


"Ya sudah aku mau jalan-jalan dulu, kebetulan Dewo ngajak aku main ke pantai."


Pantai? Andaikan Satria tidak bekerja pasti Alya akan mengajaknya ke pantai juga, tapi sayangnya Satria sangat sibuk. Alya jadi ingat waktu Satria dan Alya baru menikah dan mereka menginap di sebuah cottage. Sayangnya waktu itu cinta tunas-tunas cinta belum bersemi.


"Kalau gitu aku pergi dulu ya Alya, hati-hati di jalan."


"Kamu juga, hati-hati ya, berdua aja nie." goda Alya.


"Kalau kamu ikut, kita bisa berempat kok," jawab Dewi.


"Nggak ah, aku di rumah saja." Alya ingat kalau dia sudah kehabisan uang. Sebenarnya Aisyah, mertuanya meninggalkan amplop di bawah piring bekas makan malam waktu itu, tapi Alya belum cerita pada Satria.


Aisyah tadinya ingin memberinya pada Alya langsung, tapi dia tahu pasti menantunya akan menolak sesuai permintaan Satria.


Alya berjalan gontai menunggu angkot lewat.


kebetulan hari ini cuaca mendung, para penjual kaki lima berhamburan pulang karena takut hujan lebat akan segera turun.


Alya berdiri di pinggir jalan sambil mengamati kejauhan, berharap netranya bisa melihat angkot walaupun masih jauh.


Tanpa diduga ada mobil kijang hitam, berjalan cepat dan berhenti tepat di dekatnya. "Masuk! masuk! cepat!" dua lelaki buru-buru turun dari mobil, satu memegang bahu kanan dan satu memegang bahu kiri. Tanpa memberi kesempatan untuk Alya meronta.


"Siapa kalian!!"


"Sudah masuk saja, jangan banyak omong."


"Tidak mau! tolong! tolong!" Alya berteriak namun percuma tak ada satupun orang yang mendengar


Tangan lebar dan berbulu itu segera membungkam mulut Alya yang berisik.


"mpphh mpphh!"Alya tidak tahu harus berbuat apa, sepertinya lelaki bayaran itu tak membiarkan mangsanya mendapat kesempatan sedikitpun.


Sudah diam Nona, aku tidak ingin menyakitimu jika kamu mau bekerja sama, duduklah dengan tenang sampai kita akan sampai tujuan.


Diapit dua pria garang, Alya menuruti ucapan penculik, dia tenang dan berusaha tidak melawan.


Penculik juga melepaskan tangannya di mulut Alya. karena dia tahu, berteriak seperti apapun tak akan ada yang mendengar.


"Nah begini dong Nona, kita bekerja sama saja."


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Alya kemudian dengan suara bergetar.


"Nona nanti pasti akan bertemu dengan yang membayar kami. Sebenarnya sayang sekali wanita secantik anda harus berurusan dengan orang licik seperti dia.


"Katakan saja, siapa yang menyuruh kalian?"


"Sudahlah Diam jangan cerewet Nona, atau aku tak akan bersikap baik lagi seperti ini."


Aluna berusaha tenang meski sebenarnya dia takut luar biasa, Aluna beberapa kali membaca doa dengan mata terpejam.

__ADS_1


Saat Aluna diam justru dua lelaki yang mengapitnya mulai menatapnya dalam, menikmati kecantikannya. Lelaki yang sedang mengemudi membuka ucapan merendahkan lebih dulu.


"Haha, wanita berhijab ini terlihat cantik, bagaimana isi dalamnya ? pasti akan lebih mulus."


Mata Alya membola mendengar pengakuan para penculik.


Lelaki yang ada di sisi kanan Alya pun tertarik dengan kata-kata temannya.


"Benar juga. apa yang kamu katakan Sob. yang tertutup akan semakin menggairahkan." Lelaki itu menjulurkan lidahnya untuk menyapu bibirnya.


'Aku harus cari cara, aku tidak boleh lemah seperti ini, aku tidak pernah rela dia menyentuhku, tubuhku hanya milik suamiku.' batin Alya.


"Tolong perutku sakit Pak, aku mau ke toilet sebentar," kata Alya sambil memegangi perutnya.


"Duh ada-ada aja. Tahan dulu kenapa, pake mau ke toilet segala."


"Pak, anda mau saya buang puff disini? kalau anda tahan dengan aromanya ya terserah."


Alya sekarang benar-benar kentut dan aromanya kebetulan menyengat.


"Bau apa ini?"


"Jorok banget sih, cantik cantik kentutnya bau banget."


"Saya bilang apa, aku mau ke toilet sebentar, kalau anda nggak izinkan yang jangan salahkan aku Pak, soalnya perutku emang lagi sakit."


"Baiklah, awas kalau kabur, aku akan bertindak lebih kejam daripada hari ini."


"Berikan ponselnya!" bentaknya.


"Bohong, nggak mungkin ada manusia jaman sekarang nggak bawa ponsel," kata lelaki bertato dengan suara garang. sambil mengulurkan tangannya di depan Alya.


Alya segera merogoh ponselnya di saku dan memberikan pada dua orang suruhan.


"Kalau ke WC cepat!" bentaknya.


"Sob antar dia nanti kabur."


Lelaki bertato yang ada di sebelah kiri Alya ikut turun dan mengawal Luna dari belakang.


Alya segera turun sambil memegangi perutnya dengan pura-pura kesakitan.


Tiba di kamar mandi Alya bingung harus melakukan apa, dua orang bayaran masih mondar mandir di luar toilet.


Alya terus memutar otak. Bagaimana caranya bisa lolos.


"Lama amat Bos!"


"Diare kali dia."


"Hei, kamu nggak baca, ini toilet perempuan, kalau untuk laki-laki diujung sana! Noh! tulisannya gedhe banget nggak bisa baca ya?"


"Atau bapak mau mesum ya!"

__ADS_1


"Nggak buk, kami menunggu istriku di dalam."


"Tunggu ya diluar sana, emang bininya mau kabur."


"Iya Buk, kami lagi marahan, dia nggak mau pulang," dusta laki-laki bertato.


"Kalian penampilan aja kayak preman, aku yang udah tua aja ogah jadi bini lu," jawab ibu itu dengan nada ketus, sambil terus menggedor Alya yang di dalam.


"Siapa di dalam? buruan kenapa?"


Alya makin panik di luar makin antri. Alya akhirnya keluar dan segera berlari sebisanya.


Dua lelaki yang tadi menunggu terkejut melihat Alya berniat kabur.


"Tolong! tolong! tolong!" Alya berlari sebisanya.


"Heh jangan lari kamu!" dua preman bayaran mengejar Alya, dan berbohong pada semua orang kalau, Alya adalah istrinya dan mereka sedang mengalami masalah keluarga.


Sebuah mobil mewah berhenti mendekati Alya. Wanita itu segera membuka pintu depan.


Alya tak buang-buang waktu, dia segera naik ke mobil yang menghampirinya.


Alya lega akhirnya ada seorang wanita baik yang menolongnya.


"Alya kamu kelihatannya ketakutan sekali?" ujar wanita itu sambil mengemudikan mobilnya santai.


"Ya, aku takut sekali, terima kasih sudah menolongku."


Alya berulang kali menoleh kebelakang. Takut dua orang bayaran itu menyusulnya.


"Elisa, tolong kemudikan mobil lebih kencang lagi, aku takut mereka akan menangkap ku lagi."


"Tenang saja Alya, kamu akan baik-baik saja bersamaku," jawab Elisa santai tanpa menoleh. Tatapannya lurus kedepan.


Alya menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Berusaha percaya Elisa akan melindunginya.


"Emangnya kamu ada urusan apa sama mereka?"


"Aku juga tidak tahu, aku tidak kenal."


"Hah, pasti kamu sudah menyakiti hati seseorang, sampai-sampai mereka harus menyewa pembunuh bayaran itu, mereka terlihat tidak begitu menakutkan, tapi kalau bayaran yang diberikan sangat banyak, mereka bisa jadi pembunuh sadis di dunia."


"Kamu kenal mereka Elisa?"


"Hahahaha, tidak aku tidak kenal mereka tapi aku sering pakai jasa mereka, aku tidak perlu kenal baik dengan orang macam itu."


Alya merasakan ada sesuatu pada diri Elisa, dia terlihat dingin dan sikapnya juga aneh.


"Elisa apa aku bisa pinjam ponselmu, aku akan menghubungi Satria, dia pasti sudah menungguku."


"Ponsel? dimana ponselku ya? Astaga Alya ponselku rupanya ketinggalan." Elisa mencari ponselnya di atas dashboard tapi benda pipih itu tak ditemukan, kini tangannya merogoh ke dalam tas.


"Maaf Alya," Elisa memasang wajah bersalah.

__ADS_1


Alya melirik ke spion, benar saja dua preman bayaran itu membuntutinya.


__ADS_2