Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Berjuang demi cinta.


__ADS_3

Pulang sekolah Satria sudah menunggu Alya di parkiran motor, dia perhatikan satu persatu setiap makluk yang keluar dari kelas yang paling dekat dengan kantor dekan itu.  


"Alya kok belum keluar, Dew?" tanya Satria yang melihat Dewi sendirian.


"Belum, masih di dalam. Kayaknya lagi ngobrol sama dekan."


"Em, kamu nggak pulang Sat?" tanya Dewi balik.


"Nungguin Alya," jawab Satria singkat.


"Gue curiga, kamu perhatian banget sama Alya. Apa karena kekasihmu sedang liburan jadi kamu berani dekatin Alya?" tanya Dewi.


Satria hanya tersenyum.


Selama ini Satria memang dekat dengan Rosa, sampai-sampai teman-teman salah sangka sama kedekatan mereka.


 Rosa memang dekat dengan Satria, tapi kenyataan hubungan mereka hanya sebatas teman curhat. Rosa seolah menemukan sosok teman curhat yang tepat saat bersama Satria Sedangkan Satria selalu mendengarkan siapapun yang berbagi keluh kesah. 'open with anyone,s vent.' Satria tak pernah menolak seseorang yang ingin berteman atau curhat.


"Alya!"


Wajah Satria tiba-tiba menjadi berbinar, begitu Sosok yang dinanti sudah ada di depan mata. 


Segera diambil helm untuk Alya dan membantu memakainya. Tahu Dewi masih melihatnya. Alya segera mengambil tindakan. 


"Aku bisa sendiri, Sat!" 


Tak ada yang bisa Satria lakukan selain menurut. "Kamu malu hubungan kita diketahui oleh semua kawan kita? Kenapa Alya?  Aku siap jika mereka tahu semuanya. Tidak ada salahnya jika mereka tahu kita sudah menikah." 


Maaf Sat, biarlah semua orang tahu, jika dihati aku dan kamu sudah ada cinta. Aku berjanji kok jika rasa itu sudah ada aku tak ingin ada yang ditutupi lagi."


Satria hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang kali. 'Sabar Satria, mungkin dia bisa berkata demikian karena kamu hanya suami pengganti, nanti akan beda cerita jika dia sudah jatuh cinta padamu. Buat dia mencintaimu Satria, secepatnya kalau bisa,' batin Satria. 


Tak mau ketahuan kepo Dewi segera masuk, meski di hatinya terus diliputi rasa penasaran dengan kedekatan Satria dan Alya. 


Satria keluarkan motor besarnya dari barisan, segera menyalakan mesinnya, Satria meminta Alya naik dengan hati-hati. Seperti tadi, dia harus berpegangan pada pinggang Satria untuk bisa naik. 


"Jangan lupa pegangan Alya." Satria mengingatkan, tidak ada jawaban dari Alya, tapi kali ini dia menuruti perintah suami. 


Alya menatap punggung didepannya, beralih pada leher sang suami. Dia juga merasakan aroma parfum Satria yang maskulin. Dalam posisi sedekat ini Alya merasakan getaran aneh di dadanya. 


'Satria, maafkan aku, aku juga sedang berusaha keras untuk menerima kehadiranmu yang begitu tiba-tiba. Berat sekali rasanya menjadi aku saat ini, sudah lama bermimpi bersatu dengan orang yang kita sayangi, nyatanya malah menikah denganmu, laki-laki yang memiliki hubungan darah dengannya. Aku dilema Sat, aku masih bingung.


"Al, masih nggak mau pegangan? Atau kamu malu ya sebenarnya punya suami seperti aku, anak kuliahan, nggak punya kerjaan. Apa-apa masih minta orang tua. Memang sih Al, aku sangat berbeda  jika kau bandingkan dengan mas Aditya."

__ADS_1


"Enggak, Sat. Aku nggak bandingkan kamu sama mas Adit kok. hanya saja, aku perlu menata hati yang tadinya hancur aja."


Alya dan Satria kini sama-sama diam, yang dikatakan Alya memang benar, hati yang telah hancur berkeping, tak mudah untuk disatukan lagi. Harus ada lem perekat yang sangat kuat. Contohnya perhatian yang berarti yang membuat kepercayaan itu berlahan kembali terbangun. 


Uang lima ratus ribu pinjaman dari Sadewo akan dijadikan Satria untuk modal jalan-jalan sore ini. Selamat merayu istri Satria. Go Now!!


"Satria, mau kemana? Kamu ngantuk ya?" Tanya Alya ketika jalan menuju rumahnya sudah lewat. 


Kalau aku ngantuk tak mungkin lah Alya, ini masih siang, apalagi semalam aku nyenyak banget, ternyata tidur di dekat wanita itu membuat ion ion positif jadi bertambah lho."


"Modus!! Aku harap kamu tidak melakukannya lagi tanpa izinku Sat. 


"Iya aku janji." Kata Satria berusaha memberi rasa nyaman pada Alya.


Satria ternyata membawa Alya ke sebuah tempat liburan di dekat pantai. Disana terdapat Resort dilengkapi dengan cottage yang harganya lumayan murah untuk permalamnya.  


Meski bukan VIP cottage itu dilengkapi dengan kolam renang pribadi dan juga tempat untuk memadu kasih.


"Satria kenapa kita malah kesini?" Alya memperlihatkan raut kurang setuju.


"Jawabannya karena aku ingin, Alya. masuk dulu yuk, kita lihat dalamnya.


Alya menurut, dia mengekor di belakang Satria.


Satria menghempaskan tubuhnya di sofa, memerintahkan Alya duduk di dekatnya. Wanita itu menurut setelah menaruh tas selempangnya diatas meja.


Alya duduk sambil menyatukan tangannya di pangkuan. "Tapi Satria, kamu jadi boros, dapat uang darimana? Nggak mungkin kan dari gaji kamu kerja di restaurant yang baru dua hari itu." 


"Tenang Alya, aku ada tabungan kok" dusta Satria sambil melepas jaketnya. Dia tidak bisa jujur jika uang yang dipakai untuk sewa ternyata hasil ngutang. 


"Terus kita ngapain disini, Sat."


"Pacaran, Alya," goda Satria, sambil mencondongkan tubuhnya mendekati istri, sambil mengerling.


Alya yang melihat aksi nakal suaminya doa malah mendorong bahu Satria hingga roboh ke sisi yang lain. "Ide kamu konyol Sat. Orang rumah pasti akan mencari kita."


Orang rumah siapa? Umi dan Abi sudah tahu anaknya ikut suami. Ayah dan Bunda sudah juga sudah aku kirim pesan, barusan."


Mau tau nggak apa balasan Bunda. 


"Apa?"


"Semangat Satria, jangan kasih kendor si Alya !!!." 

__ADS_1


"Bunda ada-ada aja, apa maksudnya coba."


Alya menggelengkan kepala. Lalu beranjak hendak memesan minuman yang ada di luar cottage. 


"Mungkin yang paling panik adalah Mas Adit, jika kamu tidak ingin dia khawatir kamu bisa kirim pesan ke dia kok."


Alya tersinggung dengan kalimat Satria yang terakhir, meski Satria terkesan bercanda tapi dia tak mau Satria menyebut nama itu disaat berdua. Mood Alya jadi hancur, dia ingin pergi saja.


"Alya kemana?" Reflek, Satria menarik pergelangan tangan Alya dan menjatuhkan di pangkuan, sebenarnya hanya trik Satria melakukan hal seagresif itu. Dan akhirnya dia berhasil. 


Satria bisa melihat hasil kerja kerasnya, sekarang wanita cantik yang diam-diam dia kagumi sejak lama itu mendarat sempurna di pangkuannya. 


"Al, disini saja."


Satria menatap Alya dengan dalam-dalam, tapi ini bukan rencana lagi. Satria benar-benar ingin melihat lekukan indah wajah istrinya dari dekat. Dan dia berhasil melihatnya. 


Jantung Satria berdetak sangat kencang, sama sekali tidak bisa diajak kompromi, meski berusaha bersikap senormal mungkin tapi nyatanya tetap tidak bisa. 


Hal yang sama juga Alya rasakan, aksi saling menatap dalam keheningan ini berhasil membuat darahnya berdesir.  


"Satria le-le-paskan tanganku."


"Alya, diamlah sejenak, kamu takut banget seperti aku akan memangsamu saja."


Satria mengusap keringat dingin yang keluar di pelipis Alya.menahan kepalanya agar tak menoleh ke arah lain selain ke arah dirinya saja. 


Alya dan Satria kembali saling pandang dalam keheningan. 


Setelah suasana sedikit bersahabat, Satria memejamkan mata dan mendekatkan bibirnya ke bibir Alya. Hal yang tentu sudah sangat ditunggu oleh Satria. Merasakan manisnya bibir merah muda milik istrinya. 


Cup!! Satria melayangkan satu kecupan dan segera membuka matanya. 


Alya tersenyum melihat kekecewaan Satria, karna bibir suaminya hanya mendarat di telapak tangannya. 


"Aku haus, Sat, kamu mengajakku kesini tapi tidak memberiku minum."


Satria mengangguk, "Sorry, biar aku beli dulu Al. Tadinya aku sudah pesan. Tapi lama ternyata."


Satria bangkit dari sofa setelah Alya menggeser tubuhnya. Saat Satria pergi Alya menutup wajahnya dengan telapak tangan.


'Alya cobalah menerima Satria, Alya. Dia sudah baik banget.' batin Alya yang mulai merasa kalau sikapnya sungguh tak adil untuk lelaki yang kini sudah kembali dengan dua minuman kaleng dan ice cream itu. Dan dibelakangnya ada pelayan yang membawa dua mangkok mie ayam dan kelontong. 


Meski kurang mengenyangkan, tapi Satria tahu makanan itu favorit Alya. 

__ADS_1


  


 


__ADS_2