Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Menginap dimana?


__ADS_3

"Horeeee! hebat Sat!" Elisa segera menghampiri Satria dan menghadiahi kecupan singkat dipipi lelaki yang madih duduk di atas motor dan baru saja mematikan mesin.


Satria tak memiliki kesempatan menolak secara reflek, Elisa sepertinya sengaja melakukannya dengan cepat.


"Selamat, kamu masih yang paling hebat, besok ada acara balap tingkat ibukota daerah kamu mau ikut nggak? Hadiahnya lumayan. Kalau mau nanti aku bilangin Abang biar didaftarkan, harus cepat, semoga masih ada, soalnya kuota peserta yang dibutuhkan gak banyak." kata Elisa sambil menyelipkan lengannya di pinggang Satria.


"Maaf, Lisa kayaknya kalau tingkat daerah ibukota, aku belum berani, aku pasti kalah apapun dari mereka. Secara finansial alat yang aku miliki masih belum memadai. 


"Bicara gitu kayak ke siapa, Sat, gue dukung elo, gue siap bantu."


Elisa makin nempel dia sandarkan kepalanya di lengan Satria. 


"Udah Sat, Si Elisa dukung elu, berangkat aja, kalau kamu dapat juara lumayan, bisa buat beli satu rumah idaman beserta tanahnya. Bisa jadi aset masa depan.


Satria duduk sambil berfikir, hadiahnya memang besar kalau jadi juara, tapi apa iya, kalau tahu dia sudah menikah Elisa masih sebaik ini. 


"El, kita ngomong berdua yuk, aku harus bicara banyak sama kamu."


"Ngomong apa Sat, kok aku jadi deg deg'an."


"Biar motor kamu diantar anak-anak lain aja, kamu aku bonceng ya. Aku anterin pulang sambil kita ngobrol."


"Oke, seneng banget malahan." Elisa mendadak bahagia, wajahnya terus saja tersenyum.


Elisa naik di boncengan Satria, dia melingkarkan kedua lengan di pinggang Satria hingga tak menyisakan jarak keduanya. 


"Bro kita pulang duluan ya!"


"Ya, hati-hati bawa anak orang, jangan dibawa belok-belok," goda Sadewo lagi. 


"Nggak belok bisa nabrak, Bro" Jawab Satria yang menanggapi ucapan Sadewo dengan canda.


Motor Satria segera melesat ke aspal hitam, melewati ruko-ruko yang mulai tutup dan rumah makan yang sudah sepi. 


"Satria," ujar Elisa yang sepertinya ingin bicara.


"Elisa, Aku mau ngomong."


"Ya udah kamu ngomong aja dulu, Sat." Jawab Elisa sambil mempererat dekapan tangannya. Dagunya menempel di pundak Satria.

__ADS_1


"Kamu duluan Sat!"


"Nggak deh kamu duluan, kayaknya penting banget." Satria mengalah.


"Sat, Aku denger kamu sudah merried, karena terpaksa menyelamatkan calon istri kakak kamu dari rasa malu, Si Alya kan nama istri kamu, anak AKBID."


"Kata siapa?" 


"Kamu nggak perlu tahu Sat, yang jelas aku kecewa, kamu tahu nggak itu nggak adil buat kamu, kamu berhak bahagia dengan wanita yang mencintai kamu, loving each other Satria."


"Kamu nggak cinta kan sama dia?dia nggak cinta sama kamu? Terus bagaimana dengan wanita yang mencintaimu dengan tulus, Satria?"


"Tadinya saingan gue cuma Rosa, nggak taunya Rosa juga bakal patah hati sama kayak gue." Wanita itu terisak di punggung Satria. Satria bisa merasakan ada yang merembes ke punggungnya hingga basah.


"Kamu sudah tau semuanya sekarang kan? I am no longer a single man."


"Ya aku mengerti, tapi tetep aja gue nggak ikhlas ngelepas kamu Sat, masalahnya kalian nggak saling cinta."


"Aku akan belajar mencintai dia, dia pasti tidak mengecewakan aku, kamu tenang aja." Satria meregangkan lengan Elisa dari pinggangnya, Satria dan Elisa sudah tiba di depan rumah mewah lantai tiga milik keluarga wanita itu. 


Elisa turun dari motor Satria, segera mendekati Satria dan menatapnya penuh rasa tidak rela, Elisa terus mengamati ketika laki-laki itu melepas helmnya.


"Apapun status ku saat ini, kita tetap teman. Kamu, Rosa teman terbaikku," kata Satria memotong kalimat Elisa, Satria tahu saat ini Elisa sedang kecewa berat, tapi dia harus tahu kenyataan yang ada. Dia tidak mau memberi harapan sekecil apapun pada Elisa. 


"Satria masuk, yuk Abang sudah menunggu." wanita itu mengalihkan pembicaraan 


"Elisa menggamit lengan Satria dan mengajaknya masuk.


Sikap Elisa tak berubah sedikitpun meski tahu satria sudah menikah. Wanita itu tidak bisa terima dengan pernikahan Satria, yang membuat sahabatnya terlihat tidak bahagia. 


-


-


Asyik sekali ngobrol panjang lebar, ngalor-ngidul dengan Abang Elisa yang bernama Bang Arka itu membuat Satria lupa waktu. 


Obrolan mereka seru dan sesekali tertawa, Bang Arka suka sekali dengan Satria, sebagai anak muda selalu bersikap apa adanya dan tak meninggalkan adab kesopanan. 


"Bang, gak terasa sudah jam dua, kayaknya aku harus pulang."

__ADS_1


"Sudah larut bahkan menjelang pagi Sat, mending kamu pulang pagi sekalian. Besok lagian kamu libur kuliah kan? Jarang banget kamu datang kesini, kalau gak ada perlunya begini."


Satria tak enak hati dengan Bang Arka yang kebaikannya sudah seperti kakaknya sendiri. Sayangnya sekarang kakak kandungnya sudah berubah. 


**


Alya dan bunda di rumah sedang cemas dengan keadaan Satria.


"Satria sepertinya menginap di rumah Sadewo, Al. Kalau jam satu nggak pulang biasanya dia pulang pagi." Bunda berkata sambil menguap, kantuk bunda sudah tak tertolong lagi. 


"Sepertinya bunda benar, kuota Satria kayaknya juga habis, aku telepon tidak nyambung, Bunda."


"Sudah kebiasaan, Dia jarang cek ponsel kalau lagi sama temannya, Bunda hafal kelakuan dia, Al." Bunda kembali menguap. Sepertinya kantuk sudah tak bisa ditahan lagi. 


"Bunda, tidur dulu aja, Alya juga mau ke kamar, kok bun," bujuk Alya yang tak enak hati mengajak begadang mertuanya. 


Setelah Bunda Aisyah ke kamar, Alya berjalan menuju balkon dia melihat langit berwarna biru gelap dan bintang berkelip, udara begitu dingin menusuk kulit. 


Berulang kali Alya mengamati waktu yang terus berjalan dari layar ponselnya. Harapan Alya belum pupus, Dia masih berharap Satria pulang dan memaafkan dirinya. 


"Satria pulang, dong. Aku minta maaf." Lirih Alya sambil berpegangan pada besi teralis yang menjadi pembatas. Alya terus menatap ke pintu gerbang lantai satu yang tertutup rapat. "Please Satria pulang dong."


Alya lalu duduk di kursi rotan yang digunakan kala bersantai. Wanita yang kini tengah kedinginan serta diserang kantuk tak mampu lagi berjaga. Entah jam berapa dia terlelap di kursi rotan yang ada di balkon itu. Tidurnya sangat pulas.


-


-


Waktu berlalu dengan cepat, esok paginya Alya sudah tak lagi di balkon, dia sudah tidur di ranjang yang ada di kamarnya dan tubuh berbalut selimut sebatas dada. 


Alya segera bangkit dan berusaha mengingat yang terjadi semalam. Ya, dia samar-samar mulai mengingat Satria membawanya ke dalam kamar dan mengecup pipinya sebelah kanan. Rasa itu masih begitu terasa, Alya menyentuh pipi yang terasa bekas kecupan bibir basah semalam. 


"Satria, dia sudah pulang, tapi dimana dia?" Alya beranjak, netranya mulai menyisir kamar.


"Satria! Satria! Apa kamu di kamar mandi?" 


Alya menguping kamar mandi yang tertutup, tak ada tanda-tanda orang di dalamnya. Alya segera keluar kamar, dilihatnya punggung lebar lelaki yang memakai kaos putih, sedang mengamati pemandangan nun jauh pada kebun teh, rambutnya basah, dan di lehernya ada handuk kecil yang sudah setengah basah. Lelaki itu baru saja mandi dan keramas. 


"Sa-Sa-tria, kamu pulang jam berapa semalam." Dengan langkah ragu Alya mendekati punggung lebar lelaki yang membelakanginya.

__ADS_1


__ADS_2