
Mereka berempat akhirnya sarapan bersama.
"Alya, masakan kamu enak sekali." Sadewo memuji Alya untuk masakan buatan Satria.
"Ini Satria yang buat." Alya tersenyum.
" Aku juga bisa masak seperti ini, Sayang," Dewi memamerkan kemampuannya kalau dia pandai memasak.
"Ya, kamu tidak akan menyesal menikah dengan dia," kata Alya yang ditujukan untuk Sadewo.
"Benarkah, kalau begitu aku harus segera meresmikan hubungan ini, aku tidak sabar bisa memakan masakannya."
"Kau tidak sabar memakan masakannya, atau memakan orangnya."
"ishh, Satria sepertinya mulutmu harus diberi rem, aku masih polos belum mengerti hal begituan " ujar Dewo.
"Gombal banget." Satria berdecih, menanggapi komentar Dewo yang sok lugu.
Semua yang ada di ruang makan hanya tersenyum. termasuk Dewi dan Alya yang bersebelahan.
"Semoga hubungan kalian nanti akan langgeng ya," kata Alya pada Dewi.
"Makasi ya, Al." Dewi meremas jemari Alya.
Usai sarapan menu penyet lele plus lalap ala Mas Satria, mereka semua mencuci tangannya di tempat yang disediakan. Sadewo terlihat puas sekali.
berulang kali mengelus perutnya yang kenyang.
"Alya aku berangkat ke kantor ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Iya, Mas." Alya segera berdiri begitu Satria meninggalkan kursi yang dia duduki. Alya membantu Satria memasang dasi.
"Hati-hati Mas," pesan Alya, Satria mengangguk. "Siap Sayang."
Tak lupa Satria mengecup kedua pipi Alya dan berakhir di kening. Sadewo dan Dewi terpaksa harus mengalihkan pandangannya sesaat dari dua pasangan yang lagi hangat itu.
Satria lalu keluar bersama Sadewo, Alya dan Dewi mengantarnya sampai teras depan, hanya saja dia mengendarai motornya masing-masing.
Sampai di kantor Satria segera menemui Pak Arya di ruang pribadinya untuk minta maaf.
Tok! Tok! Satria mengetuk pintu pelan.
"Masuk!" Pak Arya segera berdiri dan mempersilahkan Alya duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Pak Arya, aku minta maaf, karena membatalkan penerbangan semalam."
"Terus mau kamu gimana? Satria aku hanya ingin kamu memanfaatkan kesempatan ini, apalagi ini akan sangat menguntungkan bagi kamu."
"Iya, tapi!"
"Katakan kalau kamu siap, masih ada waktu beberapa hari untuk berfikir. Kamu bisa pulang seminggu sekali atau sebulan sekali."
__ADS_1
"Pak, anda sangat baik, tapi."
"Satria, aku mohon, jangan kecewakan aku." Pak Arya memohon, sampai dia memegang tangan Satria.
"Pak jangan seperti ini, aku takut bapak kecewa."
"Tolong kamu usahakan bisa Satria."
"Baiklah Pak. akan aku pikirkan lagi" Satria memilih keluar dari ruang pak Arya dan kembali ke ruang pribadinya.
Sampai disana dia terus berfikir keras untuk mencari jalan keluar, di satu sisi ada Alya yang sangat dia sayangi, disisi lain ada Pak Arya yang susah banyak membantunya.
***
Di tempat lain.
Naina baru saja melihat Satria keluar ruangan Papanya.
Naina segera menghampiri papa yang sedang sibuk di depan laptop.
Naina juga merahasiakan dari papanya, kalau Satria sudah berkeluarga. Naina takut kalau mengatakan Satria sudah berkeluarga papanya tidak lagi mendukung hubungan mereka.
Naina kini merengek pada papa Arya dan duduk di pegangan kursi sang papa, sambil melingkarkan lengannya di leher lelaki yang masih terlihat tampan diusianya setengah baya itu. "Pa, gimana hasilnya?"
"Hasil apa, Sayang?" Arya menatap mata putrinya yang selalu manja, Arya tidak pernah berkata tidak untuk Naina. karena dia adalah orang tua tunggal bagi putri semata wayangnya itu.
"Papa bujuk Satria tadi, hasilnya gimana?"
"Pa, aku pokoknya mau Satria terima tawaran om Wira." ujar Naina, yang memiliki niat buruk menjauhkan Satria dari Alya.
"Ya, kamu bujuk dia dong, Kalau kamu emang suka, ya berusaha, masa harus papa terus yang maju."
"Tapi Satria pasti nurut kalau sama, Papa."
"Baiklah, tapi papa hanya bantu, kalau hasilnya papa nggak bisa maksa, masalah hati itu sulit sayang." Arya mengecup kening putrinya.
"Jika boleh tahu apa yang membuat kamu tertarik pada lelaki itu."
"Semuanya, Pa. Satria baik, penyayang, dan juga tampan, serta dia memiliki tubuh yang ideal, pokoknya lelaki impian Nay ada pada Satria."
"Rupanya putri papa sudah besar, dia sudah tau cowok baik dan ganteng."
"Iya dong, Pah. Papa bantu ya."
Sambil berdiri, lelaki itu bersiap untuk meting dengan client.
Satria yang siap-siap meting kini tengah merapikan diri di depan cermin. Satria dikejutkan oleh suara Naina yang tiba-tiba masuk dan berada dibelakangnya dengan jarak sangat dekat.
"Satria ...."
"Naina, kau! kenapa tidak ketuk pintu dulu." Satria terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tapi pintunya tidak di tutup." jawab Naina.
Mungkin saja Satria lupa, tapi dia tadi sepertinya sudah menutup hanya tidak menguncinya karena akan keluar lagi.
"Oh, mungkin tadi aku lupa."
"Kenapa sih kamu dingin banget, Padahal aku ingin menjadi teman kamu, seorang teman nggak perlu formal kayak gini."
"Maaf tapi kamu tahu sendiri kan aku sudah menikah jadi aku harus menjaga batasanku sebagai seorang suami.
"Alya beruntung banget ya Sat, memiliki suami setia seperti kamu."
"Bukan Alya yang beruntung tapi aku."
Satria melirik arloji di pergelangan tangannya. Sepertinya sebentar lagi sudah masuk waktu meting.
"Sepertinya aku harus keluar," Satria membenarkan kerahnya lalu beranjak."
"Ehm, tunggu." Naina menahan lengan Satria.
"Ada apa?" Tanya Satria berekspresi datar.
"Ini, Dasi kamu miring, biar aku betulkan." Naina mendekat, bahkan jarak mereka kini tinggal satu jengkal.
"Oh, biar aku sendiri." Satria berusaha membenarkan dasinya tapi alhasil bukan malah bagus.
"Satria, bukan begitu, sini biar aku saja." Naina meminta Satria sedikit mendongak. Wanita cantik dan memakai baju yang sedikit menantang itu tangannya mulai menggelitik di dada dan leher Satria.
Satria merasa Naina sengaja ingin berlama lama berdua. dihempaskan pelan tangan putih dengan kuku panjang indah itu.
"Naina aku sudah terlambat. Aku harus pergi sekarang."
"Oh, iya. Sudah rapi kok. kamu makin tampan dengan kemeja dan dasi ini, pasti Alya yang memilihnya," puji Naina.
"Iya, selera dia selalu bagus."
Naina sekarang makin sering memuji Alya di depan Satria, Demi untuk membuat lelaki itu nyaman berada dengannya..
Saat Satria pergi, Naina menatap punggung Satria dan tersenyum.
Meting dimulai, ternyata pembahasan pagi ini menyangkut pekerjaan Satria. Pak Arya masih kekeuh ingin lelaki tampan pemilik hidung runcing itu menerima proyek Pak Wira sahabatnya, demi mengabulkan keinginan Naina.
"Bagaimana Satria?"
"Baiklah, aku setuju pergi." jawab Satria berusaha profesional.
Naina yang mendengar keputusan Satria sangat senang. Dia melonjak girang dalam ruangan pribadinya sambil melihat ke dalam laptop yang tersambung langsung dengan CCTV di ruang meting.
"Satria akhirnya kau akan menghabiskan banyak waktu untuk berdua saja denganku. aku yakin lambat laun kau akan membalas perasaan ini, Satria maafkan aku yang mencintaimu disaat kau tak sendiri lagi, tapi cinta ini begitu besar dan aku tak bisa terus membohongi diri ini."
Naina segera merapikan meja kerjanya dan memasukkan dokumen pada tas selempang miliknya. Naina akan menunggu Satria di parkiran dan minta tolong untuk diantar lagi. tentu dengan membuat ban mobilnya kempes lebih dulu.
__ADS_1
Sebelum keluar ruangan, Naina menyemprotkan farfum mahal kesukaannya sebanyak mungkin dan kenambah lipstik supaya bibirnya terlihat lebih merona.