
Alya kembali duduk didekat Satria, di atas kursi rodanya, usai dokter melakukan pemeriksaan pada dirinya.
'Mas kenapa kamu belum bangun juga? Sampai kapan kamu seperti ini Mas? tidak tahukah kalau aku sangat merindukanmu? Mas bisakah kamu dengar suaramu?' kata Alya sambil terus mengajak Satria bicara.
"Mas bangunlah demi aku!" Alya terus saja mengelus jemari Satria yang selalu dibuat untuk memanjakan dirinya diwaktu sehat.
Karena terlalu letih, kini kantung matanya terlihat menghitam, bobot tubuhnya berkurang.
Tanpa disadari Alya tertidur dengan posisi duduk di kursi roda dan kepala menempel pada tepi ranjang.
Merasakan Alya didekatnya Satria kini yang tak bisa tidur, dia ingin sekali membelai rambut lembut sang istri, tapi apa daya, menggerakkan satu jari saja tak mampu.
'Lihatlah Alya, betapa tak berguna diri ini, menghapus air matamu saja aku tak mampu, aku tak bisa menjadi lelaki terbaik untukmu,' batin Satria.
"Mas, jangan pergi!! aku mohon kembali Mas. Tunggu aku!! Hah hah hah." Alya bermimpi dalam tidurnya yang hanya sesaat, nafasnya ngos-ngosan karena ketakutan. mimpi yang dialaminya sangat buruk.
Dengan nafas tersengal, Alya segera menatap Satria yang masih terlentang dengan posisi ynag tak berubah. Tapi dalam mimpi itu Satria berpamitan akan pergi.
Alya menangis histeris usai bermimpi, dipeluknya tubuh Satria erat, dengan jantung masih berdegup kencang.
Dari belakang terdengar langkah kaki yang sengaja di pelankan menutup pintu pun dengan hati-hati. "Dek kamu pasti lelah sekali, sejak tadi duduk seperti itu, berbaringlah di ranjang milikmu, Satria biar aku yang menunggu."
"Aku akan tetap disini sampai Satria bangun, Mas," tolak Alya dengan suara lirih.
"Dek, Satria tidak ingin kamu seperti ini, dia pasti senang jika kamu mau beristirahat dan menjaga kondisi tubuhmu." Aditya mencoba bersabar menasehati Alya yang keras kepala.
"Aku bilang tidak ya tidak! jangan pernah memaksa aku." Alya meninggikan suaranya. tapi Aditya yang sudah memahami Alya lebih dari empat tahun tentu dia tidak kehilangan akal untuk membujuk.
"Baiklah, jika kamu keras kepala, aku akan pakai cara lain saja. karena kamu harus dipaksa" Aditya sudah bersiap akan menggendong tubuh Alya.
"Berhenti! jangan lakukan itu, baiklah aku akan istirahat, tapi Mas Aditya janji kabari aku kalau Satria sudah bangun," pinta Alya.
"Baiklah aku akan kabari, tapi sekarang istirahat dulu ya." Aditya dengan telaten mengantar Alya menuju ranjang pasien milik Alya. yang kebetulan berbeda ruangan.
__ADS_1
Sampai di depan ranjang, Aditya membantu Alya berbaring, menggendongnya dari kursi roda hingga Alya menemukan posisi berbaring yang enak, tak lupa Aditya juga menarik selimut Alya hingga sebatas dada.
"Istirahat ya."
"Iya Mas." Alya mengangguk. Aditya menatap wajah mantannya yang terlihat pucat.
"Maafkan aku, aku yang menyebabkan semua ini terjadi."
"Ini, sudah kehendak-Nya," jawab Alya sambil menatap langit-langit.
"Alya kamu sudah kembali," ujar Umi Salma yang baru datang dari arah luar. Memandang Aditya dan Alya bergantian.
"Aditya kenapa nggak panggil Umi, nggak enak jadi repotin, Nak Adit."
"Nggak repot kok, Umi. Aditya malah seneng kesini tadi ada gunanya." canda Aditya.
Umi menghembuskan nafasnya panjang. "Entahlah, kita tidak tahu kehendak Tuhan kali ini, Kemaren kalian mau nikah, batal. Sekarang Alya sudah mulai bahagia dengan Satria malah ada lagi musibah yang menimpa mereka. Bagaimana nasib Alya Nak Adit kalau Satria tak kunjung sembuh."
"Apa!" Umi Salma terkejut.
Alya yang mengantuk juga terkejut. "Mas Adit!" pekik Alya dengan ekspresi tidak suka.
"Maksud saya Umi, Alya, Aditya akan membantu kebutuhan materi untuk Alya, selama Satria belum siuman. Satria Adik saya, Umi. Sudah sepantasnya kalau saya bantu ringankan tanggung jawab Adik saya, siapa lagi kalau bukan saya." terang Aditya.
"Tidak bisa begitu Nak Aditya, Alya sama sekali bukan tanggung jawab Mak Aditya, selama Alya sakit, biarlah Alya akan Umi bawa pulang. jika Satria sudah sembuh, Satria boleh bawa Alya lagi tinggal di kontrakan.
Aditya akhirnya mengangguk setuju, ketika tawarannya ditolak oleh Umi. Namun dalam hatinya Aditya tetap akan melakukan yang menurutnya baik.
***
Saat Sendiri, Satria berusaha kuat untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Awalnya dia menggerakkan jemarinya pelan. ber9menuai kegagalan, Berlahan Satria bisa membuka kelopak matanya.
Satria menatap ke langit-langit yang berwarna putih, diterangi lampu besar, membuat pandangannya yang tadinya memudar berlahan menjadi jelas.
__ADS_1
'Tuhan, akhirnya aku kembali melihat dunia? Kenapa tidak kau biarkan aku pulang saja, jika kepulangan diriku membuat Kakak dan istriku bisa bersatu. Mereka masih mencintai satu sama lain.' batin Satria
"Mas Satria! anda siuman!" Dokter baru masuk, berapa terkejut dia melihat Satria sedang menatap langit-langit dengan mata terbuka normal.
"Satria enggan berbicara. Seolah dia menyesal bisa melihat dunia ini."
"Mas Satria, sebuah keajaiban sudah tuhan tunjukkan pada anda. coba gerakan bola mata Anda berputar?" pinta Dokter.
Satria mengikuti perintah dokter. matanya normal dia tak merasakan pandangannya buram. Dokter Lalau meriksa setiap organ inti Satria, dan syukurlah semua dalam keadaan baik.
Operasi di kepala Satria berjalan dengan baik, tak ada satupun organ penting yang kehilangan fungsinya.
Satria juga berbicara dengan jelas. "Dok-ter, be- rapa la-ma aku ter-tidur?"
"Mas Satria sudah hampir seminggu tertidur, dan syukurlah anda bangun lebih cepat daripada prediksi kami," kata dokter menampilkan deretan gigi putihnya sambil tersenyum.
Dokter mengisyaratkan supaya memberitahu kabar gembira ini pada keluarga, terutama istri dan Ibu kandungnya. Berulang kali Aisyah pingsan setiap kali melihat kondisi Satria, membuat Damar meminta istrinya untuk menunggu di ruang tunggu saja.
Saat Alya baru saja memejamkan mata. Aditya dan umi mendapatkan kabar gembira kalau Satria siuman.
Alya yang baru saja tidur ayam, langsung terkejut mendengar nama Satria disebut berulangkali.
"Mas Satria! Suamiku sudah kembali!" Alya langsung turun tapi tiba-tiba dia merasakan di persendian kakinya kembali ngilu.
Alya nyaris lupa kalau kakinya belum sembuh, Alya masih butuh kursi roda untuk beberapa hari ke depan.
"Dek, kenapa ceroboh sekali, Satria baru saja siuman, Dokter masih di dalam, memeriksanya." Aditya lagi-lagi membantu Alya turun dan menempati kursi roda.
Meski sedikit risih, Alya tak bisa menolak, tak mungkin meminta umi yang membantu memapah tubuhnya, umi sudah tua, bisa-bisa malah terjatuh.
Umi Salma , Aditya, dan Alya datang menuju ruang Satria, sebelum masuk mereka bertemu dengan Ayah Damar dan Bunda Aisyah yang terlihat kusut, penampilan acak acakan tak seperti biasanya yang rapi dan berwibawa.
Mereka tiba muncul bersama di hadapan Satria, " Mas!" Alya terlampau bahagia.
__ADS_1