
"Alya ayo berikan kuncinya."
"Tidak akan, aku sudah menelnnya," jawab Alya sambil bersandar di dada Satria. memasang senyum nakal.
"Yang benar, ayo buka mulutmu?" Satria bersikap konyol meski tahu istrinya bercanda.
Alya memanyunkan bibirnya. Satria mengecup bibir merah Alya dengan gemas.
"Ayo berikan." Satria menangkup wajah Alya. Mereka kini saling bersitatap.
"Tidak boleh pergi, aku tidak perlu uang banyak, asal kita bersama."
"Kenapa?" Satria bingung, biasanya wanita akan suka sekali kalau suaminya kerja jauh dan dapat uang banyak.
"Aku khawatir kamu akan cari istri lagi. Disana wanitanya sangat cantik-cantik."
"Berfikir mu terlalu jauh. Bahkan aku sendiri tidak pernah memikirkan itu. Satu istri saja sudah sangat ...."
"Apa yang ingin kau katakan. Apakah satu istri sangat merepotkan?" Alya kembali mendorong Satria di ranjang, membuat laki-laki itu terjengkang kebelakang.
"Alya apa yang kau lakukan?" Satria heran dengan istrinya yang biasanya pemalu sekarang begitu agresif. Bahkan Alya kini duduk di pinggangnya menduduki basoka sakti yamg sudah menegang.
"Memberimu seorang anak, jika aku hamil, aku yakin kau tak akan berfikir meninggalkan aku sendiri, Mas."
"Alya, kau akan menodaiki." Satria kini terlentang pasrah sambil menatap langit-langit, tubuhnya meremang merasakan jemari Alya menggelitik di dada bidangnya.
Mata Satria merem-melek sesekali hingga. ******* kecil sengaja dia keluarkan. "Ahhhh."
"Aku benar benar akan menjadi laki-laki ternoda malam ini." Satria pasrah kemejanya dilucuti oleh Alya. Satu persatu kancing terlepas, tinggal menyisakan celana dan ikat pinggang.
"Sayang beri aku izin, pak Arya sudah menungguku."
"Tidak boleh berangkat, jika tak bersamaku, buat apa uang banyak jika kita tidak bisa menikmati bersama."
Alya bergerak menjauh, Satria sedikit kecewa, dikiranya Alya hanya nge-prank dirinya, tak tahunya kalau istrinya itu sedang mematikan lampu utama kamar. hingga menyisakan lampu kecil yang cahayanya lebih terang dari lilin.
Bahkan kini Alya kembali menindih tubuh Satria, Alya juga sudah tidak menggunakan baju lengkap seperti tadi, Satria bisa merasakan bukit empuk istrinya menyentuh dada bidangnya tanpa penghalang,
"Alya kamu sepertinya benar-benar serius?" kata Satria yang merasakan bukit empuk itu terasa menggesek dadanya.
"Aku selalu serius. Kenapa memangnya?" tanya Alya sambil mengelus rambut satria yang wangi.
"Serius mau hamil sekarang?" Tanya Satria lagi.
"Iya, Mau. Jangan pergi ya," ujar Alya yang nafasnya mulai menghangat.
"Alya bolehkah aku bertanya satu hal tanpa ada yang kau tutupi dariku lagi. Dan aku mau kamu jawabnya dengan jujur," tanya Satria terlihat serius hingga Alya menghentikan tangan nakalnya, yang menggelitik dada Satria.
"Tanyakan saja?"
"Kau tidak mau jauh dariku? Atau dia?" Satria bergoyang sedikit hingga basookanya menekan perut Alya.
"Keduanya," jawab Alya lalu mengecup bibir Satria. Satria menggelengkan kepala dalam kegelapan. Rupanya Alya benar-benar serius tidak mau ditinggal.
__ADS_1
Alya malam ini ingin memberi service terbaiknya pada Satria, Alya belajar memperlakukan Satria dengan lembut seperti Satria memperlakukan dirinya seperti biasa, dikecupnya seluruh tubuh atas Satria hingga torpedo lelaki itu menegang dengan cepat seperti Monas.
"Alya kau hebat sekali, darimana kau belajar, uhhh" Satria melenguh.
Satria malam ini benar-benar dibuat mati gaya oleh Alya. Satria tak mengira istrinya sangat hebat.
Alya meliuk-liuk seperti penari ular merasakan sensasi nikmat yang luar biasa.
Setelah Alya kelelahan dan mengalami klimak beberapa kali. Satria segera meminta permainan dihentikan meski Satria belum selesai dan masih ingin terus mengulang lagi.
Setelah beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga, kini Satria kembali ke ranjang.
"Satria mendorong tubuh Alya dan wanita itu gelagapan."
"Sayang bantu dia keluar, aku sudah tidak tahan." bisik Satria ditelinga Alya.
"Baiklah."
"Mulai besok jangan minum pil lagi. atau aku benar-benar pergi."
"Baiklah, aku akan berhenti meminumnya."
"Ya, sebaiknya sekarang harus minum vitamin agar cepat hamil saja," kata Satria sambil memainkan dua bukit milik Alya lalu menancapkan Basooka kembali setelah basah.
Alya dan Satria kembali bertempur usai pertengkaran kecil, bahkan hubungan mereka malam ini semakin mesra.
***
Satria lagi-lagi tak percaya Alya bisa seliar semalam. Bahkan Satria berkali-kali dibuat mengeluarkan suara erotis.
Sedangkan Alya merasakan tubuhnya lelah hingga dia bangun untuk sembahyang saja lalu tidur lagi.
Satria yang baru keluar kamar dia tidak ingin mengganggu tidur Alya.
Satria menyiapkan sendiri teh untuknya dan Alya, lalu segera menyiapkan nasi dan lauk seadanya.
Alya segera bangun begitu melihat jam di dinding, Sekarang dia bahkan bisa mencium aroma masakan yang harum.
Alya segera menyusul Satria di dapur dan ingin melihat masakan buatan suaminya.
"Mas, masak apa? harum banget." Alya mengendus-endus, mendekatkan tubuhnya pada sang suami, memeluk tubuh dempal suaminya dari belakang, sementara dia masih mengenakan piyama tidur tanpa kaca mata.
"Masak sambal terasi, Sayang. ini masih pagi, jangan buat dia bangun."
"Dia aja yang sensitif, aku nggak ngapa-ngapain kok. Alya penasaran dengan sambal terasi buatan suaminya. baunya sangat harum. apalagi Satria menambahkan terong lalap dan juga daun kemangi. Satria juga menggoreng empat Lele ukuran sedang.
"Mas, kenapa untuk sarapan kamu gorengnya empat."
"Iya, Dewi dan Sadewo mau mampir, jadi kita ajak sarapan sekalian."
"mereka mau kesini?"
"iya, emang kenapa? bukankah biasanya dia juga kesini."
__ADS_1
Alya terlihat buru-buru kembali berlari ke kamar.
"Alya, kamu kenapa?!" Satria merasa heran. dengan Alya yang tiba-tiba panik.
Satria baru mengerti kalau Alya rupanya mengambil kaos untuk dironya..
"Mas pake ini, cepat!!"
"Buat apa? nggak mau 'ah," Satria sengaja menolak memakai kaos.
"Mas, pokoknya pakai, aku nggak mau kamu masuk angin."
"Sayang gerah ah, lagi masak, Mas nggak mau." Satria sengaja mengerjai Alya. "Biar saja Sadewo melihatnya kalau aku sekarang punya banyak sekali tato."
"Baiklah, jika tidak mau pakai baju, malam nanti aku tidur di rumah umi."
"Kenapa sayang, kok tidur disana"
"Ya aku malu ketemu sama mereka, Mas."
"Kenapa malu." Satria terus menggoda.
"Pakai nanya." Alya mengerucutkan bibirnya.
"Aku aja nggak malu. Punya Istri super ...."
Lelah bicara sama Satria Alya akhirnya memakai cara lain.
Alya segera menghubungi Sadewo dan Dewi.
"Halo Wi, pagi ini sepertinya aku mendadak ada urusan. kamu nggak usah mampir dulu, ya?"
"Alya, nggak bisa, aku sudah di depan pintu rumah."
"Tapi Dewi ...." Suara alya terdengar panik dan gelisah campur aduk.
"Alya kamu baik-baik saja kan?" bukannya kembali ke mobil, tapi Dewi malah mengkhawatirkan kondisi Alya dengan berlebihan.
"Alya kamu dan Satria baik-baik saja kan? Aku Khawatir lho, kamu mengalami KDRT, soalnya suara kamu terdengar panik." Dewi menatap dua sejoli bergantian
"Yang baru saja jadi korban KDRT itu bukan Alya, tapi aku Wi," Satria keluar dari dapur, Alya bersyukur Satria sudah memakai kaos yang diambilkan tadi.
"Maksud kamu Sat?" Sadewo ikut bicara, dia tidak mengerti dengan kata-kata Satria barusaja.
"Ya semalam ada yang telah menganiaya dan menyiksa tubuhku tanpa ampun."
Alya yang geregetan segera mencubit pinggang Satria.
"Awww, Sakit sayang."
Setelah melihat Alya yang terlihat sedang mengancam Satria dengan tatapan matanya, Dewi dan Sadewo jadi paham.
"Oh jadi kalian semalam bertempur habis-habisan Makanya Satria nggak jadi berangkat kerja, mana bisa dia hidup disana sendiri kalau istrinya nggak ikut. Kalian kan sudah cinta sekonyong-konyong." imbuh Dewo yang kini tengah duduk di kursi yang ada di ruang makan.
__ADS_1