Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Gangguan di malam hari.


__ADS_3

"Alya, hati-hati dong makannya." kata Aditya lembut.


Aditya memberi gelas minumnya yang isinya masih utuh.


Alya diam, tak menyentuh gelas air minum pemberian Aditya.


Alya memilih meminum air yang disodorkan oleh Satria.


"Makasi Mas." Alya tersenyum pada Satria.


Aditya kembali acuh dan melanjutkan makan malam seolah tak terjadi apa-apa. Dilanjut bunda dengan ngobrol tentang banyak hal. Alya juga tak lagi meluruskan kakinya. dia memilih melipat dibawah kursi.


***


Malam telah berlalu, semua anggota keluarga sudah merasa kenyang, Bi Minah mulai membersihkan piring dan gelas bekas makan malam.


Sejak tadi Alya lebih banyak diam, Alya mulai merasakan takut dengan kelakuan Aditya akhir-akhir ini.


Sampai di kamar Satria meminta Alya duduk di sebuah kursi. Satria membimbing tubuh Alya supaya lebih cepat tiba. "Aku ada hadiah untukmu, pejamkan mata sebentar ya."


"Apa hadiahnya? aku jadi penasaran, Mas," tanya Alya ketika Satria kembali mengucap soal hadiah.


"Alya, benda ini mungkin nilainya tidak seberapa, semoga kamu suka." ujar Satria sambil jongkok di depan Alya yang duduk di kursi sambil menghadap cermin.


Satria mengeluarkan gelang yang sangat cantik dan satu cincin yang terbuat dari emas putih.


"Mas, katakan ini semua bukan mimpi, dapat uang dari mana bisa beli semua ini belum lagi kado bunda tadi."


"Aku sudah gajian, maaf gaji pertama belum bisa langsung kasih ke kamu, ini cuma sisanya, ada banyak sekali hutang yang harus aku lunasi, sisanya ada di ATM ini, kamu pegang ya."


Alya terharu mendengar ucapan Satria, benar-benar lelaki yang jujur, dielusnya wajah Satria yang mendongak menatapnya.


"Kok malah nangis." Alya mengusap lelehan air mata Alya.


"Mas, kamu kok baik banget sih? kamu percayakan semuanya padaku, aku belum bisa mengelola keuangan, bagaimana kalau aku nanti boros."


"Kalau buat yang bermanfaat tidak apa-apa, Simpan dulu kartu ini, nanti kalau ada tambahan, kita cari kontrakan yang nyaman untuk kamu. kamui suka tinggal di perumahan atau di pinggir jalan raya aja"

__ADS_1


Alya makin terharu. "Mas tinggal di gubuk pun kalau sama kamu aku akan ikut. nggak perlu mewah, asal bisa kita tempati berdua." ujar Alya sungguh-sungguh.


"Masa aku ajak istri dan anakku nanti tinggal di gubuk."


Alya dan Satria tertawa. tawanya sayup-sayup sampai terdengar hingga balkon. Mengganggu ketentraman seorang laki-laki yang tengah dalam penyesalan.


Malam ini Aditya tak bisa tidur, dia masih meratapi nasibnya yang sangat bodoh. Wanita sebaik Alya yang sudah lama diimpikan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kini malah bahagia dengan adiknya. Selama ini nasibnya hanya menjaga jodoh Satria.


Ide-ide bodoh mulai berseliweran dalam benaknya. Aditya mulai membenci dirinya yang tak bisa menerima kenyataan.


"Mas, nggak tidur besok pagi kamu ada meeting?"


Aditya diam saja. Ucapan Kinan dia anggap sebagai embusan angin lewat yang tak perlu diberi jawaban.


"Kalau masih tetap mau disini, aku bawakan jaket," Kinan menempelkan jaket di punggung Aditya.


Kinan berusaha memeluk Aditya dari belakang, sebagai salah satu cara untuk melunakkan hati suaminya. Kinan tau Aditya lelaki yang baik, dan lembut sama halnya dengan Satria. Semua sudah Kinan saksikan sendiri saat memperlakukan Alya dulu.


Tapi diluar dugaan, Aditya malah menghempaskan jaketnya hingga jatuh ke lantai. Tak segan juga mendorong tubuh ringkih Kinan yang kini hamil tua.


"Mas, kamu kenapa kejam sekali padaku? tidakkah kau lihat aku sudah berusaha memberi perhatian padamu."


"Lalu siapa yang kau inginkan Mas?" Kinan dilanda amarah, perhatiannya tak pernah dihargai oleh Aditya.


"Kalau iya kenapa?"


"hahaha, jangan mimpi Mas, Alya saja sekarang tak sudi sama kamu, dia sudah bahagia dengan Satria, Satria lebih segalanya dari kamu, lebih ganteng, lebih muda, lebih menarik. Perdulikah dia sama kamu! Jika tidak percaya kamu bisa buktikan sendiri. Apakah dia perduli kamu yang sendiri merasakan sakit karena patah hati disini? jika iya dia pasti akan datang menghiburmu."


Kalimat Kinan memang benar, baru saja dia mendengar sayup suara tawa keduanya.


Aditya mengambil jaket miliknya yang terhempas bebas, menyampirkan ke pundak lalu pergi ke kamar.


Ucapan Kinan benar- benar membuat hatinya yang sudah remuk semakin luluh lantak.


-


Kinan segera mengekor di belakang Aditya, mengunci pintu kamar mereka setelah Aditya masuk. Aditya ketika sedang kacau akan mudah sekali di bujuk.

__ADS_1


Kinan membuatkan jahe hangat untuk Aditya, setelah selesai segera dibawanya ke kamar.


"Mas, ini wedang jahe, enak diminum selagi hangat."


"Bawa pergi! Aku tidak sudi minum apapun buatan kamu."


"Mas, kenapa kita tidak berdamai saja, sampai kapan terus seperti ini. aku tidak keberatan kamu tidak menganggap istri, tapi setidaknya kita bisa seperti sahabat. Kamu tidak perlu selalu emosi seperti ini, yang ada Alya makin menjauh, coba pakai cara lain. siapa tahu aku bisa membantu.


"Aditya tak percaya Kinan bicara demikian, bukankah selama ini dia sudah menghancurkan semuanya. tapi, apa yang dikatakan barusan, dasar ular. tapi idenya bisa juga."


Aditya mulai memikirkan cara yang di usulkan oleh Kinan tadi. Sedangkan Kinan diam-diam tersenyum, Meski di bibir dia seolah mendukung Aditya balik dengan Kinan, tapi hati kecilnya tak pernah rela.


***


"Mas, aku lelah." Alya mengeluh karena malam ini mereka terus saja berselancar mengarungi samudera cinta berdua. Sebagai pengantin baru keduanya tentu tak pernah melewati malam tanpa olahraga pemanasan, inti dan pendinginan. hingga berakhir terlelap tanpa sehelai benang.


"Baiklah, Sayang." Satria menghujamkan miliknya lebih dalam hingga seluruh bibit premiumnya masuk ke inti Alya seluruhnya tanpa sisa.


Setelah mereka berdua sudah saling mendapatkan pelepasan, yang entah ke berapa kalinya. Satria mengecup setiap inci wajah Alya lalu merebahkan diri ke samping tubuh seputih susu itu.


Satria lalu tidur setelah usai membersihkan sisa-sisa cairan cintanya, tapi tidak dengan Alya. kegelisahan mulai menghantuinya setiap saat.


Alya berinisiatif untuk mengambil minum. Lelah bercinta, membuat kerongkongannya jadi kering.


Alya ingin minum, tapi air di teko yang ada di kamar habis.


Alya tidak bisa menahan haus hingga esok hari. Akhirnya dia berinisiatif turun ke dapur sendiri. Alya tak ingin mengganggu tidur Satria yang sedang pulas.


Alya segera memakai kimono tidurnya dan bergegas turun dengan langkah hati-hati.


Saat sedang menuang air ke dalam teko, tiba-tiba dari arah belakang ada bayangan besar menghampiri.


Tanpa ada kesempatan untuk berlari, bayangan besar itu membekap mulut Alya dan menarik ke sudut ruangan.


"Emmphh." Alya tak bisa bicara, hanya mata saja yang membola.


"Jangan takut, Dek, aku hanya ingin bicara dengan kamu berdua saja sebentar."

__ADS_1


"Emphh." Alya menggeleng dan meronta, tapi apa daya, dia hanya wanita yang sedang letih.


"Jika kamu terus menolak, maka aku tak akan melepaskan kamu, Dek."Meski wajahnya terlihat tidak menakutkan. Namun kalimat itu tetap saja bernada ancaman.


__ADS_2