Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Usaha yang sia-sia


__ADS_3

Alya segera meninggalkan kampus ketika mata pelajaran sudah selesai. Dia berjalan menuju jalan raya supaya segera mendapat angkot, 


Menurut pesan yang dikirim Aditya, Motor yang mogok baru selesai di servicenya besok siang. 


Elisa yang tak percaya kalung itu sudah tak ada, dia segera mencekal pergelangan tangan Alya dari arah belakang. 


"Alya, berhenti," pinta Elisa.


"Ada apa lagi? Kata Alya, menghentikan langkahnya. 


"Alya, kalung itu ada di kamu kan?" tanya Elisa. 


"Kamu masih menuduhku mengambil kalung itu Elisa. Atau kamu memang sengaja memasukannya karena ingin mempermalukan aku?" jawab Alya dengan nada tinggi, Alya tidak pernah semarah ini sebelumnya.


"Jika kalung itu berharga untukmu dan itu kenang-kenangan terindah kamu dan Satria, harusnya kamu jaga dengan baik, dan jika tujuannya untuk memamerkan kedekatan kamu dan Datria, aku tidak akan cemburu, toh Satria itu suami sah aku. Dia menikahi aku di hadapan penghulu." Alya menunjukkan cincin ditangannya yang berinisial huruf S itu.


Alya melanjutkan langkahnya, dia mengabaikan Elisa karena masih kesal. 


Elisa kembali menahan langkah Alya. Kali ini pegangan tangannya lebih kuat. Alya bahkan merasakan sakit.


"Kembalikan padaku!" Kata-katanya lirih dan tajam.


"Lepas." Alya meronta. 


"Kembalikan." Elisa semakin kuat mencengkeram tangannya.


Alya akhirnya melepas sepatunya, dia malas berurusan dengan Elisa. Sebenarnya sejak tadi Alya menyimpannya dalam kaos kaki. 


Alya curiga sejak dia mengambil tasnya, dia membuka tas yang paling kecil dan ternyata benda itu mang ada disana. Untuk menyelamatkan diri Alya menyembunyikan di kaos kakinya. Dan rupanya kawanan Elisa memang tidak mencurigai kalau Alya menyembunyikan di dalam kaos kaki.


Alya melempar benda itu ke lantai,  Elisa melotot karena kalung itu ditaruh di tempat tak hormat oleh Alya. 


"Kamu! Kenapa kamu menaruhnya di kaki, menjijikkan." Elisa meraih kalung yang tergeletak dengan ekspresi jijik. 


Elisa mengambilnya dengan Jijik karena terkena bekas kaki Alya.


Alya tersenyum, "Aku taruh dimana pun, terserahlah, kamu harusnya merasa beruntung aku tidak membuangnya ke toilet, lain kali seharusnya pakai cara yang lebih cantik, biar usaha tidak mengkhianati hasil."


Alya kembali berjalan meninggalkan Elisa yang jongkok memungut kalungnya, karena dia tak mau lebih lama lagi meladeni gadis yang tengah dibutakan cinta pada suaminya itu.

__ADS_1


Elisa mengepalkan tangannya, tadinya menganggap Alya gadis miskin yang bodoh, tapi nyatanya dia sangat cerdik.


Elisa segera kembali ke parkiran, dia kendarai mobil sport warna putih miliknya dengan kencang dan membunyikan klakson cepat- cepat.  Supaya mahasiswi minggir karena dia mau lewat.


"Elisa banyak berubah ya, dia sekarang jadi sombong," eluh mahasiswi yang kebetulan sedang berjalan kaki. 


Sampai di dalam Angkot, Alya segera melihat ponselnya, ada beberapa pesan dari Satria yang baru saja terkirim. 


Rupanya  Satria khawatir dengan keadaan Alya. 


Satria:{Al, apa kamu sudah pulang?" Ingat pesan aku, pulang ke rumah Abi dulu, aku tidak mau nas Adit ganggu kamu lagi. Kecuali kamunya memang suka.}


"Ish kejam banget dia menuduhku. Meski aku mantan Mas Aditya, tapi aku istrinya, tentu aku tidak suka dia menggangguku," sungut Alya ketika selesai membaca pesan pertama. 


Alya melanjutkan membaca pesan kedua. 


Satria: {Al, jika sudah sampai rumah kabari aku}


Alya kecewa dengan pesan kedua, yang singkat padat jelas, tadinya Alya berharap satria menyelipkan kata 'I Love you sayang,' atau 'I Miss you,' biar berasa kalau sedang chat dengan istri, ternyata hanya sesingkat itu.


Alya kini berubah pikiran, jika acara balapnya masih nanti jam tiga, masih ada waktu setengah jam lagi untuk sampai ke area balap.


Alya mendatangi ojol dan memintanya untuk mengantar ke tempat acara. rupanya jalan menuju ke lokasi sudah sangat ramai. 


Satria dan kawan-kawan sudah stanby, Semua sudah memberinya dukungan mental dan semangat. 


"Aku sangat yakin kamu akan jadi pemenangnya, Bro." Arka menepuk bahu Satria yang sudah memakai atribut balap dengan lengkap.


 Lelaki yang sudah memfasilitasi Satria terlihat puas, apalagi saingan Satria kelihatannya juga tak berat-berat amat, mereka belum terlalu banyak meraih prestasi.


"Semoga saja Bang," jawab Satria dengan anggukan dan berusaha percaya pada kemampuan diri. 


Sadewo juga memberi semangat, dia menyodorkan botol berisi air mineral. "Minum dulu Sat, jangan sampai kamu kehausan. 


"Terimakasih," Satria meneguk minuman dari tangan Sadewo. Sadewo memeluknya. Satria membalas pelukan Satria. Lalu Satria memeluk Arka. 


Arka sangat baik dengan Satria, mereka punya hobi yang sama dan saat bicara suka nyambung dan klop. 


Acara sudah akan dimulai, penonton sudah berteriak histeria sepanjang rute yang akan dilalui, Satria segera bergabung untuk mengambil nomor, dan lelaki itu berhasil mendapat nomor urut lima.

__ADS_1


Satria dan kawan-kawan sudah siaga, tapi tiba-tiba ponsel Satria yang ada di tangan Dewo terus berdering. 


Dewo menghampiri Satria dan membisikkan sesuatu di telinga Satria 


"Apa! Tidak mungkin!"


"Benar Sat, ojol ini memakai ponsel Alya untuk menghubungi kamu." Dewo menyerahkan ponsel Satria 


Satria  bicara sebentar dengan Alya di ponsel, namun yang terdengar hanya suara gaduh 


"Dewo, kalau begitu gue nggak bisa lanjutin ini semua, elo aja yang lanjutin." kata Satria mulai gusar. 


"Satria, Biar aku yang urus Alya, kompetisi sebentar lagi dimulai." kata Arka.


"Maaf Bang, gue bener bener nggak bisa, Alya sedang terkena musibah, bagaimana aku bisa tenang."


Arka mengerti, jika Satria saja sekarang panik, mana mungkin dia bisa menang.


"Ya sudahlah, kalau begitu biar Sadewo yang maju."Akhirnya keputusan terakhir Arka, Satria di ganti dengan Sadewo.


"Maafkan aku Bang."


"Iya tidak apa-apa, aku mengerti, Masih ada kesempatan lagi," ujar Arka sambil membantu melepas Atribut yang dipakai oleh Satria dan memakaikan pada Sadewo. 


Semua peserta sudah siap, Sadewo dengan tergopoh memasuki arena. Banyak suporter Satria kecewa, terutama Rosa dan Elisa yang berhasil menempati barisan paling depan.


Sadewo kini menjadi peserta nomor lima. Lelaki itu berusaha siap, toh balapan memang sudah jadi kebiasaannya.


Seorang gadis cantik memakai baju pres tanpa lengan dengan rok pendek jauh diatas lutut mulai memberi komando.


"Tiga, dua, satu, start." ucapnya dengan lantang.


Para peserta segera menunjukkan kemahirannya berkendara motor. Suara penonton sepanjang rute tak henti-hentinya berteriak histeris.


Ada diantara mereka yang hanya diam saja, karena jagoan yang diandalkan sudah mundur sebelum bertanding.


"Satria tidak jadi ikut," eluhnya.


"Pasti ada masalah besar yang sedang dihadapi, tak biasanya dia seperti ini," jawab gadis manis berambut pirang.

__ADS_1


Elisa dan Rosa nampak kecewa berat, dia langsung meninggalkan arena balap. Dua gadis itu akan mencari Satria sampai ketemu.


__ADS_2