Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Obsesi Naina


__ADS_3

Naina menatap Satria penuh kekaguman, lelaki muda, memiliki ketampanan diatas rata-rata dan berbakat itu.


"Pak Satria, ini pertama kalinya aku berkarir, aku mohon anda untuk bersabar membimbing saya nantinya," ujarnya merendah.


"Sama Nona, aku juga masih baru, kita akan sama-sama belajar dengan sungguh-sungguh, Semoga proyek ini akan sukses tanpa kendala.


"Iya Pak Satria."


'Bener yang dibilang Papa, Satria pria yang sangat tampan, bertalenta dan memiliki skill yang bagus, berhadapan dengannya dengan jarak sejauh ini saja, sudah mampu membuat jantungku berdebar." Naina menggigit bibirnya, otaknya berkelana tentang lelaki pemilik sejuta pesona di depannya.


"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik Nona Naina." Satria tersenyum lalu mengulurkan tangan.


Naina segera meraih tangan Satria. Satria berusaha untuk profesional. Naina pun demikian, namun sebagai wanita Normal dia tetap saja tak bisa menolak pesona Satria.


"Em apa masih ada yang ingin anda bicarakan Nona?"


"Ti-dak ti-dak, sepertinya perkenalan ini cukup, aku akan keluar. Jika pak Satria butuh sesuatu, anda bisa datang langsung ke ruang saja, kebetulan kita bersebelahan."


"Iya, Nona. terimakasih." Satria berusaha ramah.


"Satria, Segera mengantar Naina hingga pintu, Setelah gadis itu keluar, Satria segera mengunci.


Satria kembali meneliti setiap lembar berkas di mejanya. Sepertinya semua sudah siap dikirim pada para mandor esok hari. "Syukurlah, semua bisa selesai dengan cepat. Aku bisa sedikit bersantai sekarang.


Satria tiba-tiba merindukan istrinya, dicarinya benda pipih yang sejak tadi diabaikan." Ternyata masih ada di dalam tas.


Baru saja akan menghubungi istrinya tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengetuk pintu.


"Hai Sat, email kamu sudah aku terima, karena kamu siang sampe sore lagi free. Tolong ya, temani Naina untuk keliling perusahaan dan sekalian ke lokasi pembangunan, dia mintanya kamu yang temanin,"


"Baik Pak Arya."


"Oke, Naina sudah ada di balkon, dia nunggu kamu."


"Iya Pak." Satria hanya bisa patuh pada atasannya, dikumpulkannya berkas di tangan pada sebuah map besar.


Satria bergegas berdiri dari duduknya dan merapikan pakaian.


Satria selalu memperhatikan penampilan, bagi lelaki satu itu stylist tetap selalu dia perhatikan. Merasa tak nyaman memakai Jas, Satria melepasnya. hingga tinggal kemeja warna pastel yang lengannya sengaja dilipat nyaris sampai siku, ditangannya melingkar Arloji mahal hadiah dari Rosa tempo hari.


Saat keluar ruangan, Satria bisa melihat Arka juga sedang bersantai, tapi kenapa harus dirinya, bukankah Arka memiliki jabatan paling dekat dengan Naina.


"Bang, Arka lagi santai."


"Iya, kenapa Sat?"


"Nggak, aku mau keliling sebentar lihat lapangan, kalau Abang berkenan kita bertiga pasti akan lebih seru."


"Bertiga? Sama Siapa Sat?"


"Ada anak Bos, dia kebetulan ingin terjun melihat langsung kondisi lapangan sebelum para pekerja menjamah lokasi itu."


"Repot banget ya dia, kalau aku sudah terima jadi aja, Sat."

__ADS_1


"Bagus donk, artinya dia calon pemimpin yang tidak asal terima jadi." Arka pun bersiap.


Dua lelaki muda itu menyusul Naina yang sudah menunggu di balkon.


Naina terkejut melihat Satria tidak sendiri, Satria dan Arka berjalan beriringan. Senyum di wajah Naina seketika memudar, harapannya untuk berdua dengan Satria sirna.


Nona Naina, kenalkan ini Bang Arka, dia seorang kepala divisi, mungkin pekerjaan anda nanti akan banyak berhubungan langsung dengan dia.


"Pak Arka, salam kenal, saya Naina." Naina mengangguk sopan.


Arka pun demikian.


Mereka bertiga menemani wanita cantik itu turun ke lapangan, disana terdapat banyak sekali bahan bangunan berserakan. Para mandor bangunan mondar-mandir sangat sibuk.


"Naina berjalan dengan santai seolah dia sangat menikmati perjalanan pagi ini. Di sisi kanan dan kiri terdapat dua cowok tampan Naina lebih percaya diri.


"Pak Satria."


"Panggil saya Satria saja Nona."


"Oh iya, Kalau gitu panggil aku Nai saja, biar kita lebih akrab dan kedengarannya santai."


"Mungkin itu lebih baik." Satrai terkekeh.


"Satria apakah cita-cita kamu selama ini memang ingin jadi seorang arsitek. Tanya Naina mulai membuka obrolan ringan.


"Bisa dibilang iya, pekerjaan ini paling membuatku nyaman."


"Padahal sangat menguras tenaga dan pikiran ya," kata Naina lagi.


"Kamu suka bercanda rupanya, Sat. kamu orang pertama paling menyenangkan yang aku kenal setelah aku kembali ke Indonesia."


"Ehem." Arka berdehem. Rupanya lelaki itu bisa melihat gelagat Naina yang mulai mendekati Satria. Arka tahu Satria tidak mungkin membagi cinta lagi.


Menurut Arka, Naina juga sangat cantik, dia akan mencoba membuka hati untuk wanita itu.


"Nai, makan dulu yuk." Arka merasa perutnya mulai lapar.


"Ehm, boleh, Sat kita Makan dulu ya, mumpung ada yang traktir. Nie"


"Boleh." Satria mengangguk.


Mereka bertiga mendekati kedai yang kebetulan jualan masakan Padang. Menunya sangat lengkap. Satria pasti tak bisa menolak daging rendang adalah favoritnya.


"Kebetulan kantin sedang sepi, Arka segera memesan makanan, Sedangkan Satria dan Naina memilih kursi kosong dan ternyaman.


Satria sudah memilih duduk yang lumayan jauh dari Naina, berharap kursi yang ada diantara mereka akan diisi oleh Arka, tapi lagi-lagi wanita itu menggeser duduknya.


Arka duduk di depan Satria sedangkan Naina tepat di sebelah Satria.


Arka mengulurkan ponselnya, yang terdapat beberapa ketikan. "Satria jangan buru-buru jujur kalau kamu sudah merried. Takutnya akan berpengaruh dengan pekerjaan kamu. pelan-pelan beri penjelasan pada dia. Nanti aku yang akan deketin dia."


"Tapi Bang, gue udah nikah, lebih cepat tau bukannya lebih baik. Aku nggak nyaman, Bang."

__ADS_1


"Makanya jadi orang jangan tampan tampan amat, Sat, standar aja."


"Sialan kamu Bang. Teman dapat Masalah bukannya di bantuin malah di ledekin. gue mau cabut duluan."


"Lanjutin makan sama dia, aku dukung kalau Abang suka."


"Kalian berdua nggak makan, kenapa malah sibuk mainan ponsel sih?"


"Enggak, Nai, aku kayaknya mau pergi sebentar kamu makan dulu aja ya sama Bang Arka." Satria memberi waktu pada Arka yang kelihatannya tertarik pada Naina.


"Satria, kamu pasti alasan." Naina menahan lengan Satria.


"Enggak, beneran. aku pergi sebentar. entar balik lagi."


Naina kelihatannya juga malas melanjutkan makan, hanya saja dia menghargai Arka yang sudah mengajaknya makan.


Satria memilih kembali melihat para mandor yang sibuk. Mereka senang sekali langsung bertemu dengan Arsitek yang sedang sibuk jadi perbincangan dikalangan karyawan itu.


Pantas saja Satria mendadak di kenal pada seluruh staf dan karyawan, rupanya gosip yang beredar ramai itu sudah mereka buktikan sendiri sekarang.


***


Satria bersiap pulang ketika jam menunjukkan angka dua. Satria buru-buru mengemudikan motornya. karena baru saja Alya mengirim pesan kalau dia meminta di jemput.


Wanita itu juga meneleponnya. "Mas, apakah kamu jadi jemput aku."


"Jadi, Sayang, tunggu sebentar ya, ini baru keluar"


Satria segera mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.


Sampai di jalan seorang wanita melambaikan tangan memohon pertolongan. "Satria!" pekik wanita itu.


Mendengar Namanya dipanghil, Satria mengutangi kecepatan motornya. "Naina!"


"Satria mobil aku tiba-tiba mogok, Aantarin aku pulang ya, aku ada janji." pintanya dengan nada manja.


"Tapi Naina, aku ...."


"Satria Please." Belum dapat persetujuan dari Satria, Naina sudah duduk di jok motornya dan memeluk pinggangnya sangat erat.


"Naina, maaf." Satria melonggarkan pelukan tangan Naina.


"Sudahlah Sat, aku takut jatuh kalau tidak berpegangan erat."


Satria bingung harus berkata apa, Naina sangat memaksa dan tidak menerima penjelasan apapun, sedangkan di tempat lain ada seorang istri sudah menunggunya.


'Alya, maafkan aku, aku melakukan ini karena terpaksa.'


Naina mendekap erat perut Satria, kepalanya menempel pada punggung bidang lelaki yang tidak dia pedulikan statusnya itu. Naina belum tahu status lelaki yang tengah di peluknya itu sudah beristri.


Naina hanya tahu melalui surat lamaran dimeja Papa Arya, status Satria masih lajang. Satria belum sempat merubahnya karena pernikahan waktu itu terjadi begitu spontan.


Naina menikmati parfum Satria yang aromanya begitu maskulin. Naina menghirupnya dalam-dalam hingga membuat dia begitu tenang dalam pelukan lelaki setampan Satria.

__ADS_1


'Satria, aku suka dengan semua yang ada pada dirimu, Satria apakah kau jodoh yang dikirim Tuhan untukku.' Batin Naina sambil mencium punggung Satria.


"


__ADS_2