
Satria segera menemui teman-temannya yang sudah menunggu di markas. Gudang kosong milik keluarga Elisa yang di gunakan anak-anak BEM berkumpul untuk sekedar pertemuan rutin atau pembahasan sebuah masalah.
"Kamu terlambat lima menit bro." ujar Arka yang paling semangat, lelaki itu seratus persen mendukung Satria.
Satria, Dewo dan Arka segera berangkat, Arka tak mau Satria sampai kehilangan kesempatan emasnya.
Sedangkan Alya pagi ini berangkat sendiri ke kampus, dengan membawa motor matic merah kesukaannya, pembelian Abi Rashidi tahun lalu kala panen ikannya lumayan banyak.
Sampai di jalan, motor Alya tiba- tiba ngambek, bannya kempes, Alya bingung, jika terus seperti ini, Alya bisa terlambat. Bengkel terdekat baru buka jam delapan.
"Red, kenapa harus ngambek sih, sudah tahu Satria nggak ada, kenapa pake acara ngambek segala sih." Gerutu Alya sambil menuntun motornya.
Pagi-pagi Alya sudah bekerja keras. Gadis memakai kaos putih dengan motif tulisan kecil di dada dan cardigan hitam, serta celana kain warna hitam juga itu terpaksa harus menuntun sepedanya ketika jam kuliah nyaris akan dimulai.
Keringat mulai keluar dari setiap pori-pori, membuat penampilan pagi ini begitu berbeda.
Tin! tin! Mobil Aditya menepi dan menghadang langkah Alya, dengan gegas lelaki itu turun, menghampiri Alya dengan langkah lebar, wajahnya terlihat panik.
"Alya, apa yang terjadi?" Satria bersimpati dengan keadaan Alya.
"Mas kenapa tanya, sudah melihatnya kan, ban motorku kempes." Jawab Alya tak selembut biasanya.
"Dek, sebaiknya ikut Mas, saja. Sebentar lagi Dosen Adam akan mengisi mata kuliah kamu lho, Mas nggak mau kamu kena hukuman, Dek."
Andaikan itu dulu, sebelum kenyataan Kinan hamil, pasti Alya akan sangat senang, bahkan sejauh ini Aditya masih hafal siapa dosen yang akan mengisi di tiap paginya.
"Mas tak perlu khawatir, Aku akan baik-baik saja, pergilah, jangan pernah khawatirkan aku" Alya segera mempercepat laju langkah lakinya.
"Dek, kamu jangan keras kepala, Kamu nanti bisa dapat hukuman." Aditya mengejar Alya dan berusaha menghentikan langkah Alya dengan meraih pergelangan tangan.
"Kamu jangan keterlaluan Mas, singkirkan tangan Mas dari tanganku." Alya menolak lebih keras lagi. dia menatap keras ke arah tangannya di atas setir motor
"Tidak! Aku sayang kamu, aku tak akan membuatmu dalam masalah." Aditya keras kepala.
__ADS_1
Plak! plak!
Alya menampar pipi lelaki memakai jas kantor nan tampan itu dengan tangan kirinya. ketika Aditya tak bersedia menarik lengannya.
Soal meluluhkan hati dan membuat wanita mabuk kepayang. Aditya memang ahlinya. Mungkin karena kebaikan dan perhatian yang berlebihan membuat kaum hawa selalu nyaman di dekatnya.
"Dek!!" Aditya menggeleng tak percaya. Dipegangnya pipi yang terasa perih.
Usai menampar Aditya tangan Alya gemetar, melakukan kekerasan pada laki-laki sangat bertentangan dengan sikapnya.
"Maaf Mas, aku bilang minggir tapi kau tetap menghalangi aku, jadi jangan salahkan aku jika aku melakukannya, mulai hari ini tolong jauhi aku Mas, aku sudah terima nasibku menjadi istri Satria, Aku akan belajar menjadi istri yang baik untuk dia, jika mas terus hadir diantara aku dan Satria sama saja Mas Adit telah membuat aku terus menderita."
"Tidak Dek, kamu tidak boleh menyerah, beberapa minggu lagi Kinan akan melahirkan, aku akan melakukan test DNA pada bayi itu. Setelah semuanya jelas, aku akan membawamu pergi dari sini, supaya kamu tak meragukan lagi kalau aku sebenarnya sedang ditipu oleh dia."
"Aku tak perduli dengan semua itu lagi Mas, yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku bisa menjaga rumah tanggaku yang nanti akan aku pertanggung jawabkan pada yang kuasa. Pernikahan bukanlah lelucon, jika tuhan berkehendak, maka semua akan terjadi, termasuk pernikahan ku dan Satria, semua ada campur tangan Tuhan." Alya berkata dengan hati yang sudah ditata sejak lama. Akhirnya dia berani mengucapkan semua ini juga.
"Alya, kenapa masih disini."
Alya tersenyum kala mobil Elisa berhenti tepat di depannya dan Aditya. Alya berharap Elisa akan memberi tumpangan, hingga dia bisa terbebas dari Aditya.
"Tidak Elisa, kamu salah paham, aku tidak janjian, tapi dia sedang menawarkan bantuan, bolehkah aku ikut denganmu saja."
"Tentu boleh Alya, kamu jangan sungkan."
Alya sangat senang ketika Elisa mengizinkan naik mobilnya, solusi sepertinya selesai.
Mas, terimakasih sudah mau membantu. Mas tadi bilang tak mau aku terlambat kan. Tolong bawa motor ini."
"Lho kok malah pergi, Dek." protes Aditya.
" Tadi Mas, yang ngotot mau bantuin, sekali lagi terimakasih ya."
Alya nampak bahagia akhirnya dia bisa berangkat bersama Elisa sekaligus mengerjai Aditya.
__ADS_1
Adit mau tidak mau terpaksa mengantar motor Alya hingga sampai bengkel, keberadaannya lumayan jauh lagi. lumayan buat Aditya untuk olahraga pagi, fan berkeringat ria.
Sampai di kantor, Aditya segera mandi sekaligus ganti baju, Dia harus selalu perveck dia client dan rekan bisnisnya.
***
"Alya, bukannya tadi itu Aditya kakaknya Satria? tanya Elisa.
"Iya."
"Dia kelihatan masih suka sama kamu."
"iya." jawab Alya singkat, Alya tak mau bercerita tentang kehidupan pribadinya pada Elisa. Alya dan Elisa merasa belum terlalu dekat.
"Mirip juga sama Satria, makanya kami nggak dapat abangnya, ambil adiknya."
"Bukan aku yang menghendaki El, tapi ini sudah rencana Tuhan, Tuhan beritahu aku, bahwa Satria jauh lebih baik dan dewasa dari kakaknya."
"Kamu suka sama Satria?"
"Aku belajar menyukainya, Dia suamiku, sudah sewajarnya aku mencintainya. Satri sangat baik, bahkan kebaikannya terlalu besar untuk aku ketahui semuanya."
"Apakah kamu sudah, menjalankan kewajiban suami istri?"
"Elisa, apa yang kamu tanyakan?" Alya tersenyum menanggapi pertanyaan Elisa yang menurutnya itu terlalu privasi untuk diketahui oleh orang lain. lagian Elisa tidak boleh tahu hubungan tidak sehat ini, Alya takut Elisa akan mencari celah dan masuk menjadi orang ke tiga diantara rumah tangga Satria dan dirinya.
"Jawab aja Alya, bukankah suami istri harus melakukan semuanya, kalau kalian saling cinta pasti sudah dong."
"Sorry Elisa. kalau yang satu itu gue nggak mau jawab, tidak terlalu penting buat kamu, dan itu rahasia kami." ungkap Alya kekeuh, meski Alya menjawab dengan santai.
"Oke, tak mau jawab nggak apa-apa, selamat ya, aku ikut senang kamu bisa mendapatkan Satria, lelaki yang menurutku spesial juga buat aku, meski kata special itu artinya tentu berbeda dalam porsi seorang sahabat dan istri, dia sahabat yang istimewa buat aku, dia selalu ada buat aku, bahkan dia tak pernah mengecewakan aku sekalipun. sampai-sampai karena perhatian dia yang besar, aku mengira dia suka sama aku, nyatanya perhatian kita hanya sebatas sahabat, dan selamanya akan jadi sahabat." Elisa bercerita tanpa menoleh ke arah Alya, airmatanya berkaca kaca, Alya tahu Elisa pasti berat banget menerima kenyataan, lelaki yang dicintai tiba-tiba menikah dengan gadis lain.
Lalu Rosa, wanita itu juga mencintai Satria, gadis yang suka mengirim hadiah spesial. seberapa berarti Satria dimata Rosa.
__ADS_1
Sampai kampus Alya segera turun dari mobil Elisa, gadis itupun segera menyusul Alya setelah memarkirkan dengan benar dan memasukkan kunci ke dalam tas.
tak lupa Alya berterimakasih pada Elisa dan masuk kelas masing masing. Alya nyaris saja terlambat, Elisa pagi ini sudah menyelamatkan hidupnya.