
Satria melihat Alya diangkat oleh petugas rumah sakit dibawa masuk ke dalam ambulans. Sedangkan Bang Ojol, tidak terlalu parah dia bisa berjalan tertatih dibantu masuk ke ambulan satunya.
Hati Satria sudah tak menentu, dia hanya berdoa semoga Alya tidak parah.
Satria segera membuntuti mobil Ayla yang akan dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, Satria segera mendekati mobil ambulans, menyongsong Alya yang sedang meringis kesakitan.
"Alya." pekik Satria.
"Satria, maafkan aku."
Alya segera memeluk suaminya dengan rasa sesal yang tak terbendung lagi.
Maaf Sat, lagi-lagi aku menjadi pembawa sial dalam hidup kamu.
"Sudah jangan berpikir macam-macam, semoga luka kamu tidak parah." Satria melihat baju Alya bersimbah darah.
"Kamu tidak jadi ikut, pergilah, aku akan kuat." mohon Alya sambil menatap Satria dengan rasa kasihan.
"Kamu kira aku bisa ikut, kalau istri sedang mengalami musibah kek gini, apa itu nggak akan berbahaya buat aku juga."
"Sat, pergilah, aku akan menunggumu, kamu bisa menyusul aku nanti saja, tidak apa apa lihat kondisiku tidak parah." Alya berusaha tersenyum, luka diwajahnya memang tidak ada, tapi luka di tangan dan kaki lumayan banyak.
"Sudah terlambat Alya. Acara sudah dimulai sejak tadi" Satria mencubit hidung istrinya gemas.
"Kamu sedih kan, Sat?" Alya tahu Satria kecewa dengannya yang keras kepala. disuruh pulang harusnya pulang. Tapi lagi-lagi Satria tidak bisa marah, niat Alya baik, Satria tak akan menyalahkan siapapun selain dirinya sendiri.
"Tidak, aku justru akan sedih jika tidak bisa menemanimu disini."
"Maafkan aku Sat." Alya meremas jemari Satria, cincin berlian berwarna putih dengan inisial S dan A itu bersentuhan.
Alya menatap cincin itu lama. Tak menyangka beli dua cincin yang inisialnya sama-sama huruf A bersama Aditya, sekarang yang dia pakai huruf S.
"Tidak ada orang yang mau terluka, ini musibah Alya. Jika aku memang tak bisa ikut ini juga sudah rencana Tuhan, manusia bisa berencana, tapi tak bisa menentukan takdir," ujar Satria.
Semua kata- kata Satria memang benar, menurut Alya manusia hanya bisa berencana, seperti pernikahannya yang kandas, tinggal mengucap kata 'Sah' tapi jika tuhan berkehendak lain, maka hal itu akan gagal.
Selesai diperiksa, kini Alya sudah dibawa ke ruang perawatan. Tak ada luka parah ataupun berbahaya lainnya, hanya luka luar dan goresan yang lumayan banyak.
Alya menangis terisak, bukannya sakit, tapi malu selalu merepotkan Satria.
"Sudah ku bilang, tunggu aku di rumah Abi, tapi bandel." kata Satria memandang kasihan pada istrinya, sekarang harus diperban lagi kaki dan tangannya.
"Tadinya pengen kasih semangat, aku ingin datang ke sana dan jadi suporter kamu, kalau sahabat aja datang, masa istri nggak datang."
"Kamu cemburu sama Rosa dan Elisa ya?"
__ADS_1
"Iya lah, enak aja dia mau ganggu suami orang." Alya mengerucutkan bibirnya.
Satria terkekeh geli. Sepertinya Alya secara tidak langsung sudah mulai mengakui kalau ada benih cinta yang tumbuh di hatinya.
"Satria, menurutmu Elisa itu baik nggak?"
"Kenapa tanya ke aku, bukankah wanita justru bisa bicara dari hati ke hati?"
"Hanya ingin tahu saja, katanya kamu first love dia."
"Mikir itu cepat sembuh, biar-bisa kuliah lagi, kok malah mikirin Elisa," ujar Satria.
Lelaki tampan itu terus beranjak dari duduknya. Satria harus mengambil obat-obatan untuk Aluna selama disini, dan kembali menyerahkan pada dokter sesuai resep darinya.
Satria sudah sampai di ruang obat, seorang apoteker bertanya pada Satria dengan ramah.
"Mas mau bayar setiap pengambilan obat per hari, atau dibayar saat perawatan selesai?"
"Bayar diakhir aja, ya Sus,"jawab Satria.
"Baikkak, kalau begitutu "
Satria bingung, kemana lagi dapat uang, sepertinya dalam waktu dekat dia harus bekerja, apapun itu asalkan bisa menghasilkan uang, jangan sampai hina'an Aditya jadi kenyataan.
***
Sadewo tidak mendapat juara berapapun, selain persiapan yang kurang, kemampuan Sadewo juga tak sehebat Satria.
Sadewo minta maaf pada Arka karena dia yang sudah membiayai semuanya.
"Maaf Bang, aku tak sehebat Satria, jika Satria yang tampil sendiri, pasti setidaknya dia bisa masuk tiga besar, atau bahkan juara."
"Sudah santai saja, Belum rezeki dia."
Satria duduk di kursi kecil, Satria menunggu Alya yang tidur pulas karena suntikan obat.
Satria juga mengelap keringat Alya dengan hati-hati, lalu menggunakan tisu basah.
Tak lama Sadewo datang bersama Arka.
Arka ingin tahu kronologi kecelakaan itu bisa terjadi, Arka khawatir Elisa penyebabnya, karena dia menaruh hati dengan Satria.
Sampai di ruang rawat Alya yang sederhana, Satria segera menyambut Sadewo dan Arka.
"Maaf Bang jadi repot"
"Cuma pengen lihat istri kamu, kaget juga denger dari Dewo kalau kamu sudah menikah, biasa nongkrong barengan, tau- tau sudah nikah aja Lu, gak pake undang-undang Abang kamu ini."kata Arka.
__ADS_1
"Maaf banget Bang, acaranya memang dadakan." Satria serba salah.
Sadewo dan Arka melihat Alya yang sedang tidur pulas dengan posisi miring. Dia tidak mau mengganggu istri sahabatnya itu.
'Rupanya cantik banget istri Satria. Pantas saja dia mau menikahi wanita ini. meski tanpa pacaran.
Arka sejenak terpaku melihat wanita cantik yang sedang terlelap dalam mimpi dengan posisi miring itu, wajah Alya nampak imut .
Satria melihat Arka yang menatap Alya berlama-lama.
Satria merasa tatapan itu berlebihan
Lelaki tampan pemilik otot lengan kokoh itu segera membawa kawannya ke ruang tunggu pasien.
"Dia baru saja tidur, kita tunggu diluar aja ya, nggak enak kalau obrolan kita jadi ganggu istirahatnya.
-
Mereka di ruang tunggu hanya ngobrol seputar balap motor siang tadi.
Mereka menyayangkan sekali dengan kejadian hari ini, akhirnya pemenangnya di raih dari genk anak motor lain
Setelah sekitar setengah jam berbincang, Arka dan Sadewo pamit pulang. mereka nampak lelah dan butuh istirahat.
Satria mengantar kawan-kawan sampai parkiran.
Arka menjabat tangan Satria lebih dulu, sambil memberikan amplop, sebelum kembali menaiki motor besarnya.
"Apa-apa'an ini, Bang."
"Sudahlah, buat pegangan. Aku tahu kamu pasti butuh."
"Jadi ngerepotin berkali kali, aku makin nggak enak aja sama Abang.."
"Kamu kayak, kesiapa, Sat."
Arka mulai menyalakan motornya. sekarang giliran Sadewo mendekatinya dan memberi salam tempel. "Cuma sedikit, hanya cukup buat beli buah,"ujar lelaki itu.
"Beneran kan, jadi ngerepotin kawan berulang kali, nggak enak banget jadinya." Satria merasa selalu bikin repot sahabatnya.
"Nggak kok, lagian siapa yang merasa direpotin, semoga Si Alya cepat sembuh," kata Arka.
"Makasih, do'a nya. Kalian memang teman terbaik buat aku,
"Santai Bro, kita satu tim, satu keluarga, sudah pantas saling bahu-membahu."
__ADS_1