
Setelah Dewo dan Arka pulang, Satria pergi ke toko perhiasan, dia akan menggadaikan cincin pernikahannya, Satria berjanji akan menebusnya setelah saat pekerjaan.
Satria tak ada pilihan lain, Cincin itu dari satunya yang bisa membantunya.
Satria mendapat uang yang lumayan, dia bisa membawa pulang Alya dengan hati tenang.
Satria! panggil Elisa ketika Satria keluar dari toko perhiasan.
Dilihat wajah cantik Elisa memakai kaos putih lumayan ketat dan rok selutut.
"Hei Lisa! Kamu disini?"
"Iya, aku denger Alya sakit, mau jengukin dan kebetulan lihat kamu disini, bisa minta bonceng, soalnya mobil aku tu!" Elisa menunjuk sebuah bengkel.
"Kok bisa kebetulan gini." Satria akhirnya mengemudikan motornya dan seperti biasa Elisa segera naik dan berpegangan di perut Satria.
Elisa kali ini berpegangan begitu kuat. membuat Satria risih, tapi dia juga tidak mau wanita yang menjadi sahabatnya itu jatuh.
"Satria kenapa kamu bertahan dengan pernikahan tanpa cinta itu?"
"Nanti cinta diantara kami juga akan tumbuh," jawab Satria enteng.
"Satria, kamu yakin Alya bisa lupakan Mas Aditya? waktu kamu ikut balap motor itu, dia janjian sama Kak Aditya lho, aku memergoki dia berdua di jalan."
"Kamu jangan asal nuduh, Nggak mungkinlah Alya kek gitu."
Elisa tertawa, "Nggak mungkin gimana, aku aja ada fotonya, kamu mau lihat.
Satria menepikan motornya. Elisa lalu menyodorkan ponsel miliknya mengizinkan untuk melihat.
Satria melihat sebentar lalu menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Aku sengaja mengambilnya biar kamu percaya, aku nggak berkata bohong. Ternyata kamu emang nggak percaya.
Satria menatap foto Aditya yang sedang memegang tangan Alya, Alya dan Aditya terlihat berhadapan dengan jarak hanya dipisahkan motor warna merah.
__ADS_1
"Kamu percaya kan sekarang Satria! Andaikan yang mengalami ini bukan kamu, mungkin aku akan diam saja dan tak perduli, tapi Satria, ini kamu, aku nggak bisa diam orang baik kayak kamu digini'in."
Satria hanya diam saja tak bergeming, tatapannya kosong ke jalanan, rasanya cinta sebesar apapun ditunjukkan pada Alya, akan percuma. Alya hanya cinta pada Mas Aditya.
"Naiklah!" Perintah Satria sebelum melajukan kendaraan lagi.
Kali ini Satria terlihat gelisah.
'Gue sadar, kali ini gue berada dimana, posisi gue hanyalah penghalang untuk mereka. baiklah Alya, lakukan apa yang kau inginkan, dan aku akan melakukan apa yang aku inginkan, mungkin itu lebih baik.' batin Satria masih menatap jalanan dengan tazapan kosong.
Elisa memeluk erat dari belakang, kepalanya menempel di punggung Satria, Elisa tahu Satria sedang terguncang melihat foto-foto yang diperlihatkan tadi. Dia kini senyum-senyum sendirian, betapa senangnya bisa membuat Satria goyah.
'Maafkan aku Satria, gue sayang sama Elo, gue cinta sama Elo. mana bisa aku melihat kamu bersanding dengan wanita lain. Aku adalah satu satunya yang paling sayang dan mengerti kamu.'
"Nggak usah terlalu dipikirkan Satria. Alya itu kelihatannya memang baik, tapi dia mau menikah dengan mas Aditya bukan semata cinta, tapi karena Mas Adit juga sudah mapan, coba aja kalau Mas Aditya belum kerja, pasti juga nggak bakalan mau dia."
"Sudahlah, aku malas bahas Mas Aditya. Tapi bagaimanapun Alya tanggung jawab aku sekarang, selama dia sah jadi istri aku."
"Kasihan banget, Sat. lelaki setia dan tulus harus di sakitin wanita kayak Alya."
Satria tidak menjawab lagi, dia diam sambil memarkirkan motornya di parkiran. terlalu banyak bicara membuat mereka terasa lebih cepat sampai.
Alya yang sudah bangun dia segera keluar ruangan untuk mencari Satria, lelaki itu biasanya menunggu di kursi.
Sampai di balkon rumah sakit, Alya melihat ke lantai bawah, dia justru melihat Elisa yang sedang menggamit lengannya.
"El, jalan sendiri-sendiri saja ya, gak usah gandengan jadi susah jalannya." kata Satria saat mau memasuki lift.
"Iya," Elisa melepas tangannya. Dia tersenyum, karena tadi Alya sudah melihat dirinya menggamit lengan kokoh nan berbulu itu.
Saat di lift, Elisa kembali cerita kejadian di kampus. " Sat kamu ingat ini apa?"
"Bukannya itu liontin yang kamu inginksn pas kita jalan-jalan di mall"
" Bener Sat, ini kamu yang beli, dan setelah Alya tahu ini kamu yang belikan dia menginjak injak, lalu membuangnya."
__ADS_1
"Masa sih, Alya kek gitu, kamu ngarang kali."Satria berusaha tak menelan mentah kalimat demi kalimat dari Elisa
"Sudahlah, nggak ada gunanya juga ngomong sama orang lagi bucin, tapi entar kalau tahu semuanya kamu akan nyesel."
"Sudahlah Elisa, kamu percaya sama aku, nggak usah terlalu khawatirkan keadaanku, aku bisa urus rumah tangga aku dengan Alya."
"Ya sudah, Aku nggak akan kasih tahu pada kamu apapun lagi, toh percuma, kamu nggak akan percaya tentang sifat aslinya."
Mereka kini hampir sampai, Alya yang melihat Satria pergi tanpa izin kini kembali malah membawa Elisa tentu saja sangat kesal. Alya kembali ke ranjang dan tidur memiringkan tubuhnya. Diam-diam air mata mengalir hingga menetes di bantal.
Tok! tok!
Tak ada sahutan, Satria langsung saja membuka pintu ruang rawat Alya.
"Alya, ada Elisa, dia ingin jenguk kamu." panggil Satria dengan lembut.
Alya tidak bergeming, wanita itu tetap saja tidur dengan memunggunginya.
Satria tipe orang yang tak mudah percaya pada omongan seseorang tanpa ada bukti, jika tak melihat sendiri. Maka dari itu dia tetep berusaha untuk bersikap lembut meski Elisa sudah mengadukan hal macam-macam.
"Elisa, maaf sepertinya Alya masih tidur."
"Coba bangunin sekali lagi Sat, mungkin dia belum dengar suara kamu."
Satria mengangguk. lalu kembali memanggil Alya dengan suara sedikit keras. " Alya, Ada Elisa ingin jenguk kamu, tapi kalau kamu tak mau diganggu, biarlah dia pulang lagi." Satria mulai curiga Alya memang sudah mendengar panggilannya, hanya saja dia sengaja bersikap demikian.
"Ya sudah Sat, aku pulang lagi aja, semoga Alya segera sembuh." Elisa menaruh keranjang buah di atas nakas, dengan langkah lesu dia segera berjalan mendekati pintu keluar.
"Tapi mobil kamu rusak, Lisa." Satria meraih tangan Elisa yang beranjak pergi.
"Aku akan naik taxi aja. Kasian kalau kamu harus antar aku sampai rumah, Alya gak ada yang temenin."
"Ya benar juga sih, ya sudah aku antar sampai parkiran."
"Makasi Sat."
__ADS_1
"Elisa dan Alya kembali keluar beriringan, Alya makin kesal dengan Elisa yang sengaja cari muka dengan pura-pura peduli di depan Satria.
Alya ingin sekali menarik tangan Satria kembali dan mengunci Elisa di luar, Jika bibit pelakor itu terus didiamkan saja, lama-lama Elisa akan menjadi penghalang bagi cinta mereka, Ya, Elisa akan menjadi racun dalam hubungan Satria dan Alya yang baru sebesar tunas itu.