
Tubuh Alya yang lemah membuat Satria kesulitan membawa nya naik motor. Sehingga Satria mempunyai ide untuk membopong lalu memangkunya di depan.
Alya kini duduk sambil berpegangan pada tangki motor besar Satria.
"Pegangan yang kuat, aku akan lewat jalur yang sepi untuk sampai rumah." Satria kembali mengingatkan Alya.
Alya mengangguk lemah, tubuhnya rasanya masih perih, dan luka di sekujur tubuhnya harus diabaikan untuk sementara waktu.
Segelas air kelapa yang diberikan bibi sebelum pulang tadi lumayan membantu. Bibi juga minta maaf pada Alya karena ikut membantu rencana Elisa.
Seperti anak kecil di pangkuan ayahnya, Alya duduk di depan pangkuan Satria, meski sedikit sulit namun Satria tetap saja bisa mengemudi dengan baik.
"Kita harus periksakan luka kamu." ujar Satria sambil menatap jalanan.
"Tidak perlu Mas, aku baik-baik saja." ujar Alya masih terlihat ketakutan.
"Yakin? Aku khawatirkan kamu, Sayang?"
"Iya Mas, aku baik saja hanya saja aku ingin minum," ujar Alya lagi. Bibir Alya terlihat kering. Satria segera menepikan motornya untuk membeli minuman.
"Baiklah, kita beli minum sebentar." Satria menurunkan Alya.
Tanpa diduga darimana datangnya, sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam tubuh mereka berdua sekuatnya.
Alya dan Satria terpental jauh hingga beberapa meter, tubuh Satria paling parah karena dia mendorong Alya agar menepi, namun terlambat menyelamatkan diri.
Mobil mewah itu segera berlari setelah berhasil melakukan aksinya.
"Woiii jangan lari." Salah seorang meneriaki, meminta untuk berhenti.
Alya yang masih dalam keadaan sadar tak kuasa melihat Satria tergeletak seolah tak bernyawa, dengan tubuh bersimbah darah.
"Maaaaaas!"
Sakit di tubuhnya tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan luka di tubuh Satria. Alya berusaha menggapai jemari Satria yang sudah lemah. "Mas bangun!! Mas, bangun jangan tinggalkan aku, Mas."
Alya bersusah payah berusaha menggeser tubuhnya hingga berhasil menggapai jemari Satria. Alya mengecup jemari Satria.
"Alya, maafkan aku," ujar Satria disisa-sisa kesadarannya.
Alya semakin histeris melihat Satria yang semakin lemah.
"Mas, bangun, kamu nggak boleh lemah seperti ini." Alya menggeser lagi tubuhnya agar lebih dekat dengan Satria, hingga Alya bisa mencapai wajah suaminya. Sambil menangis Alya kembali menepuk pipi satria. "Bangun Mas, aku mohon."
"Mas aku nggak bisa sendiri tanpa kamu, bukankah kamu sayang aku."
__ADS_1
Seseorang berkerumun, mereka kasihan melihat Alya yang begitu terpukul.
Ada beberapa orang yang lebih iba lagi melihat kondisi Satria yang mengenaskan, entah bisa diselamatkan atau tidak.
"Tolong bantu saya, tolong suami saya, dia harus hidup, dia nggak boleh pergi." Alya masih terus histeris, dia menatap satu persatu orang yang ada di dekatnya.
Mereka tak berani menolong sebelum polisi datang, ada diantara mereka yang terlihat mengotak Atik ponselnya, mungkin menghubungi Ambulance.
"Jangan sedih, Alya." Satria berusaha meraba wajah Alya.
Alya makin histeris.
"Jika aku pergi lebih dulu aku akan tetap menunggumu di surga."
"Tidaaaak, kamu tidak boleh pergiii! kamu harus kuat, kamu harus bertahan Mas!" Alya semakin takut melihat pandangan Satria yang semakin lemah. Dia tidak bisa membayangkan jika Satria pergi dari sisinya untuk selamanya.
Tak lama, ambulance dan polisi datang, Satria dan Alya segera dinaikkan ke dalam mobil warna putih dengan nopol warna merah itu secara terpisah.
Satria dan Alya dilarikan di sebuah rumah sakit umum dengan kondisi memprihatinkan.
Sepanjang perjalanan, Alya terus saja berdoa dalam tangisnya, semoga suaminya tetap ada disisinya seperti sedia kala.
Sirine mobil membelah pengendara, hingga mobil yang mengangkut mereka cepat sampai pada RS.
Dua brankar langsung menghampiri dua ambulance yang baru datang. Perawat mulai bekerja keras menurunkan tubuh Satria yang tak sadarkan diri dengan berlumur darah.
"Tolong tempatkan aku di ruang yang sama dengan suamiku."
"Baiklah Nona, jika itu memungkinkan." kata seorang wanita berpakaian putih yang kini mendorongnya.
'Mas kamu harus sembuh, aku janji setelah hari ini aku tidak akan menunda kehamilan lagi, kamu ingin anak dariku kan,' batin Alya sambil menatap brankar yang membawa Satria menuju ruang UGD.
Alya dan Satria sama-sama dalam ruang UGD, mereka hanya dipisahkan oleh sebuah tirai. Alya diperiksa oleh satu dokter ortopedi dan dua perawat. Sedangkan Satria diperiksa oleh banyak dokter ahli.
Alya melihat mereka bekerja seolah-olah dikejar oleh waktu, langkah yang cepat dan gerakan yang cekatan. Menandakan pasien sedang kritis.
Alya menangis sambil terus memanggil nama Satria di dalam do'anya. Ingin rasanya dia menyaksikan semuanya dan menggenggam tangannya. Membisikkan kata betapa dia sangat mencintainya. Tapi semua itu tak bisa dia lakukan saat ini.
Dia juga lemah, tubuhnya sakit semua meski tak separah Satria.
Dokter membawa Alya kembali ke luar UGD untuk menjalani foto rontgen yang ada di ruangan berbeda.
Sedangkan Satria masih stay, dengan mata terpejam dan tubuh membujur tak bergerak sedikitpun.
Beberapa kantong darah sudah disiapkan, dan semua usaha sudah dilakukan oleh dokter. Namun, usaha keras meraka sama sekali belum bisa membuat petugas kesehatan menghirup nafas lega.
__ADS_1
"Sus, apakah suami saya baik baik saja?" Tanya Alya sambil memegangi lengan perawat yang kini tengah menancapkan infus di pergelangan tangannya.
"Iya baik baik saja, Mbak. Banyak doa ya." ujarnya ramah. Yang dikatakan dokter semata hanya ingin membuat Alya agar tenang.
"Dokter, tolong upayakan kesembuhan suami saya semaksimal mungkin," ujar Alya, yang kini merengek pada dokter yang kembali memeriksanya usai menjalani foto rontgen.
***
Aisyah dan Damar dengan langkah buru-buru menghampiri Dokter yang baru saja keluar .
Aditya dan Kinan terlihat masih berjalan dibelakang.
"Apa yang terjadi dengan putraku, Dokter?" Aisyah nampak meraung setelah dia mendengar kabar Satria kritis. Dia mencekal lengan dokter wanita yang baru saja keluar untuk hal penting.
"Ibu yang sabar, keajaiban tuhan pasti ada untuk mereka yang berdoa penuh keyakinan," tuturnya penuh dengan kelembutan, kesabaran.
"Dokter aku ingin melihat putraku sekarang juga, izinkan aku masuk." Aisyah terus memaksa. Dia makin histeris ketika dokter melarangnya.
Terpaksa Dokter memberi pengertian pada Damar. "Pak tolong kuatkan hati istrinya. Kita semua sedang mengupayakan yang terbaik.
Damar mengamgguk, meski hatinya juga sama kalutnya dengan Sang Istri.
"Jika ibu di dalam, ibu akan mengganggu tim kami yang sedang bekerja, mohon ditunggu disini sebentar. Kami akan beri kabar secepatnya.
"Bunda, sabar ya, Anak kita pasti akan lekas siuman, daripada kita terus meratapi keadaan, mending kita minta pada Tuhan." Ujar Damar menenangkan istrinya. Damar dan Aisyah menuju masjid yang ada di rumah sakit dan berdo'a. Meminta pada sang khalik supaya Satria lekas diberikan kesadaran.
Aditya pun sama hancurnya seperti kedua orang tuanya, Aditya beberapa hari ini berusaha untuk melupakan Alya dengan menyibukkan diri di kantor dan berbagai kegiatan. Berharap Alya dan Satria akan bahagia hidup tanpa bayangan dirinya lagi. Tapi justru dia mendengar orang yang begitu dia sayangi kembali mendapatkan masalah yang baru lagi.
Aditya berjalan menuju ruang UGD. Namun, perlakuan yang sama yang dia dapatkan. Dokter tidak mengijinkan masuk dan dia harus tetap menunggu hingga operasi selesai.
Aditya segera menemui Alya yang sedang sendirian. Salma dan Rashidi belum tiba karena terjebak macet.
Ceklek!
Satria membuka pintu rawat yang ditempati Alya.
"Mas Adit." Alya menangis sesenggukan, ketika Aditya datang tangisnya semakin menjadi. Perawat yang menjaga Alya keluar setelah Aditya memberi kode untuk berbicara empat mata saja.
"Satria Mas. Dia belum sadar juga." ujar Alya pada Aditya yang menatapnya sendu.
"Sudahlah Alya, tenangkan diri kamu, Satria akan baik-baik saja, dia lelaki yang kuat, Dia pasti bisa berjuang melawan sakitnya." hibur Aditya pada Alya.
"Tapi Mas, kamu belum lihat kondisinya. Satria tidak sadarkan diri. Banyak sekali darah ditubuhnya. Aku ingin dia kembali Mas, aku sudah jatuh cinta padanya, aku tidak mau jauh dari suamiku. Alya kembali tersedu begitu ingat tatapan sayu Satria terakhir kali.
Aditya menggenggam jemari Alya yang terus bergetar karena trauma yang amat mendalam. Aditya tau Alya sedang syok berat. Belum pernah dia mendapati Alya hingga demikian.
__ADS_1
"Alya cukup! Berfikir positif, Adikku pasti akan sembuh." Aditya terbawa suasana, dia ikut sedih melihat Alya yang demikian. Aditya tak mampu lagi membendung airmatanya untuk tidak ikut tumpah.