
Aditya menggendong cahaya yang terus merengek karena ada selang infus di tangannya. Namun saat Rosa membantu menenangkan dengan menggendongnya Cahaya langsung tidur lelap.
"Dokter, anda calon ibu yang hebat."
"Anda bisa saja, Mas. Oh iya dokter sepertinya kita sudah pernah bertemu sebelumnya." kata Aditya mencoba mengingat.
"Iya, anda Kakak nya Satria kan? Aku sahabatnya waktu kuliah."
"Oh, iya, aku ingat, Rosa!" kata Aditya semangat.
"Iya, itu saya Mas." Rosa senang Aditya mengingatnya.
Aditya lalu menatap pada cahaya yang terlihat tidur pulas. Aditya meminta perawat untuk menjaganya.
"Dokter putriku sepertinya sudah baikan, bolehkah aku berterima kasih dengan cara mengajak anda makan siang?"
"Anda berlebihan Mas Adit." Rosa terlihat malu-malu kucing. "Boleh kebetulan aku juga belum makan siang."
Aditya senang Rosa tidak menolaknya. Aditya tahu Rosa adalah wanita yang baru sembuh dari luka patah hati, sama seperti yang dialami dirinya.
Sampai di sebuah depot yang ada di rumah sakit, Aditya menarik sebuah kursi untuk Dokter Rosa, Lalu Aditya duduk di sebelah kursi tadi.
"Mas, Aditya apakah suka dengan lalapan seperti Satria."
"Tidak, urusan makanan aku dan Satria sangat berbeda."
Aditya melihat buku menu yang ada di meja, karena tidak ada yang sesuai seleranya maka diberikan buku itu pada Dokter Rosa.
"Kamu yang tentuin, aku ikut aja." kata Aditya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mas Aditya kok gitu sih, kan aku nggak tahu selera mas Adit."
"Untuk hari ini selera aku sama kayak kamu aja."
"Ehm, gitu ya Mas." Dokter Rosa memilih menu yang berkuah dan sehat.
Aditya begitu lahap menikmati makan siangnya. Sesekali melirik ke arah Rosa. Rosa pun demikian, dan pandangan mereka bertemu berakhir dengan tersenyum.
"Rosa bisa nggak kita tukar nomor ponsel, nggak akan ada yang marah kan?" tanya Aditya meski sedikit ragu
"Enggak kok mas. Siapa yang marah."
'Mas Aditya ini tampan juga, dia juga santun, wajahnya tidak jauh beda dengan Satria, tapi apa iya aku mulai tertarik dengan dia, Jangan-jangan aku tertarik karena dia mirip dengan Satria.'
"Rosa." panggil Aditya.
"Melamun aja."
"Sesuatu apa seseorang?"
Rosa hanya kembali tertawa terkekeh.
"Mas Aditya kita harus kembali, sebentar lagi aku akan periksa kondisi Alya," kata Rosa sambil mengambil tisu untuk mengelap bibirnya. Namun di salah satu sudut bibir ada yang tidak tersentuh oleh tisu.
"Rosa, diamlah." Aditya menarik dagu Rosa.
Darah Rosa berdesir semakin kencang. 'Perasaan apa ini, kenapa aku makin salah tingkah di depan Mas Aditya.'
Aditya mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka semakin dekat.
__ADS_1
"Maaf, Mas Aditya." Rosa membuyarkan suasana. Rosa takut detak jantungnya terdengar oleh Aditya.
Aditya juga bukan remaja labil lagi, dia faham betul apa yang dialami Rosa. Nervous saat bersamanya.
Usai makan siang, Rosa dan Aditya kembali ke ruang rawat dimana Alya berada. Aditya dan Rosa terlihat berjalan bersama-sama sambil sesekali terlihat malu-malu saat pandangan mereka bertemu.
Satria yang tak sengaja dari luar, membeli perlengkapan bayi. Sedikit terkejut melihat Aditya yang begitu akrab dengan Rosa.
Bahkan Aditya dengan berani, menggandeng lengan Rosa ketika koridor nampak sepi. Rosa juga terlihat tak menolak.
Saat mereka tahu Satria melihat semuanya, Aditya dan Rosa sama-sama melepas tautan jemarinya.
"Satria, darimana kamu?"
"Em, beli popok buat si kecil Mas. Maaf, aku duluan ya, Si kecil tadi sudah buang puf."
"Iya." jawab Aditya terlihat salah tingkah.
***
Umi Aisyah dan Bunda Salma kini sudah berkumpul di ruang rawat Alya. Mereka berebut menggendong cucunya dan ruangan menjadi berisik.
"Jeng Salma, kamu sudah gendong Raja sejak tadi, giliran saya donk."
"Jeng Aisyah, aku baru gendong beberapa menit, bentar lagi, tadi sampean juga sudah gendong lama."
Satria yang baru datang hanya bisa tersenyum melihat tingkah Umi dan Bunda mereka.
"Bunda, Umi. Biarkan digendong Alya saja ya, sambil Nen. Sepertinya Raja haus."
__ADS_1
"Iya, benar kata Satria Sebaiknya biarkan Raja minum asi," kata Bunda Aisyah yang tidak kebagian gendong raja.