
Arka yang diam-diam memiliki perasaan dengan Naina, tentu saja saat ini sedang tak tenang melihat unggahan di medsos milik gadis yang dicintai itu.
unggahan Naina membuat Arka salah paham
Arka tak mau Naina dan Satria menjalani cinta terlarang. Hingga dia berfikir keras untuk membuat rencana supaya Naina tidak mencintai Satria lebih dalam lagi.
Arka terpaksa memutuskan untuk menyusul Satria dan Naina. Arka yang tadinya menolak ikut serta karena masih ada urusan , kini segera merubah keputusan dan menghubungi pak Arya.
Pak Arya tentu tidak menolak keinginan Arka. Karena keberadaan Arka disana akan sangat membantu Satria.
***
Hari berikutnya...
Arka berencana untuk langsung terbang ke negara ginseng dengan membawa koper besar di tangan.
Tak disangka sebuah kebetulan terjadi. Arka juga bertemu dengan Naina di bandara dan mereka duduk bersebelahan.
"Naina!"
"Mas Arka?"
"Kau rupanya?" mereka pun berjabat tangan.
"Iya, Mas." Alya tersenyum ramah.
"Mau kemana?"
"Kamu mau ke luar negeri menyusul Satria?" tanya Arka lagi.
"Iya, Kalau Mas mau kemana?"
"Tujuan kita sama, ya sudah kita kasih kejutan ke mereka," ujar Arka.
"Baiklah," Alya tersenyum, begitu juga Arka. mereka senang bisa bertemu dengan orang yang dikenalnya.
Arka terlihat begitu menghormati Alya sebagai istri sahabatnya. Selama dalam perjalanan tak sekalipun dia menggoda Alya. dia hanya sesekali memberi bantuan kala Alya butuh.
"Alya apakah kamu sangat bahagia bisa menikah dengan Satria?"
"Tentu sangat bahagia Mas. Satria tulus mencintai aku disaat hati ini masih terbelenggu cinta lama, dan Satria yang membebaskan aku dari cinta yang menyakitkan. Aku tidak ingin terluka kedua kali, aku harus selalu ada disisinya."
Arka tersenyum mendengar penuturan Alya, rupanya Alya sangat mencintai Satria begitu juga dengan Satria.
***
Arka dan Alya sudah sampai di Bandara Internasional Pyongyang. Arka membantu Alya membawakan koper besar hingga sampai di taksi yang akan mereka tumpangi. Alya segera naik taksi setelah barangnya dipastikan sudah tak ada yang tertinggal.
"Alya kita sudah sampai, apakah Satria janji akan menjemput."
"Iya Mas, tapi aku sengaja tidak bilang kalau sudah sampai, aku ingin ini jadi surprise." kata Alya pada Arka.
Alya dan Arka lalu naik taksi masing masing. "Pak kita ke hotel X." kata Alya memakai bahasa Inggris.
"Baiklah Nona." jawab sopir taksi dengan bahasa Inggris pula.
"Pak jalan, ikuti saja taksi yang di depan," kata Arka memerintahkan sopir taxi dengan bahasa Inggris pula. Memberi isyarat supaya mengekor pada taxi yang dinaiki oleh Alya.
Alya segera turun di depan hotel X yang terlihat mewah. Alya tak menyangka Satria tinggal di hotel semewah yang kini berdiri megah di depannya.
__ADS_1
Alya dan Arka berjalan bersama menyusuri halaman hotel.
Lalu mereka berpisah karena Arka harus pesan kamar, sedangkan Alya tinggal mencari nomor kamar yang ditempati Satria.
Hari telah beranjak sore, tetapi siang maupun sore nyaris tak ada beda, tetap saja dingin. Alya tak sabar ingin segera menemui Satria dan mencubit hidung lancip suaminya yang sangat dia rindukan.
Alya segera menemukan kamar Satria, segera diketuknya keras dan dia bersembunyi di balik dinding.
Tok! tok! tok!
Satria ogah-ogahan membuka pintu karena dia yakin yang paling suka mengganggunya ketika di negara ini hanyalah Naina.
Tok! tok!
Alya kembali mengetuk pintu karena khawatir Satria tidak mendengar ketukan pertama. dan Alya kembali bersembunyi.
Satria membuka pintu dan menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat dia bingung dengan dirinya sendiri, karena dia tadi mendengar orang mengetuk pintu. tapi ternyata tak ada orang. Satria khawatir pendengarannya terganggu.
"Nai! apakah itu kamu?" Satria mencoba memastikan kalau tak ada orang.
"Alya kesal karena Satria memanggil nama Naina. Bukan dirinya.
'Naina, huft ini aku mas, Alya. Keterlaluan,' batin Alya dalam persembunyiannya.
Setelah tak melihat ada orang di depan pintu, Satria kembali masuk dan kembali mengunci.
Alya dengan langkah pelan kembali mengetuk pintu.
Hal sama dilakukan Satria. Dia merasa tak sedang mimpi, atau indera pendengarannya sedang tak ada masalah. Satria tetap bersandar di dekat pintu. Satria memastikan sekali lagi ada orang mengetuk pintu kamarnya.
Begitu suara orang kembali mengetuk pintu, Satria segera membuka dan alangkah terkejutnya yang ada didepannya adalah wanita cantik yang sangat dia rindukan.
Dipeluknya tubuh Alya begitu erat hingga si pemilik tubuh kesulitan mengambil nafas.
"Mas aku harus bernafas dulu uhuk! uhuk!" Alya terbatuk-batuk berada dalam delapan Satria.
"Sayang kenapa kau tidak kabari aku kalau kau sudah tiba, aku akan menjemputmu." Satria terkejut sekaligus sangat senang, dirangkulnya rahang Alya hingga wajahnya mendongak.
"Yang penting aku sudah sampai."
"Tapi tetap saja, ini negara asing, kau harus hati-hati, Sayang."
"Tenang, tadi aku datang kesini bersama Mas Arka."
"Bang Arka kesini?" Satria terkejut. karena awalnya lelaki itu sudah menolak.
"iya."
Satria kini memeriksa tubuh istrinya lebih detail, seakan takut ada sesuatu yang kurang, setelah puas, Satria memeluk kembali dengan erat.
Mas, Bang Arka baik banget kok, dia terlihat sekali sangat menghargai wanita.
"Tujuh jam bersama dia sekarang kau sudah memujinya, kamu tidak memikirkan perasaanku, Sayang." Satria pura-pura merajuk.
"Hehehe Maaf, aku hanya berkata jujur."
"Iya, dia memang baik banget, aku tadi cuma bercanda." Satria kini memeluk istrinya dan menggendong tubuhnya, mereka sangat bahagia.
Satria menutup pintu dengan kaki tanpa mengunci lalu memutar tubuh Alya hingga beberapa putaran.
__ADS_1
"Mas, turunkan, aku pusing."
"Satria bandel, bukan diturunkan tubuh Alya tapi malah semakin keras memutar hingga Alya berteriak histeris diiringi gelak tawa, lalu direbahkan diranjang dan dikecupnya wajah cantik istrinya bertubi tanpa meninggalkan sisa.
"Mas dimana Naina?"
"Kenapa tanya dia?"
"Kamu kesini cuma sama dia kan? dan tadi kamu panggil dia saat membuka pintu."
"Iya, karena biasanya dia akan mengirim dokumen di malam hari untuk bahan besok."
"Serius Mas, tapi kenapa harus malam?"
"Entahlah, sudah jangan terlalu dipikirkan yang penting sampai saat ini aku hanya sayang kamu, dan aku ingin kita menikmati setiap malam yang akan kita lewati berdua.
Satria menjauhkan tubuhnya yang sedari tadi mengungkung tubuh Alya, menelepon pihak restaurant dan meminta dikirim langsung ke nomornya.
Sedangkan Alya beranjak dari ranjang empuk bernuansa putih dan wangi Woody.
Alya segera mengisi bathup hingga penuh dan memberikan aromaterapi kedalamnya. Alya sangat suka nuansa kamar mandi di hotel bintang lima ini, bersih dan terawat.
Alya melepaskan semua bajunya hingga tak tersisa, dia menenggelamkan tubuhnya di bathup hingga tersisa kepala saja yang menyembul.
Mandi di bathub jumbo terasa sangat nikmat. Alya tak bosan berlama-lama.
Satria sudah tak sabar menunggu Alya selesai mandi. apalagi makanan seafood pesanannya juga sudah siap.
ceklek!
Satria mencoba memutar kenop pintu kamar mandi, dan ternyata tidak terkunci.
Alya tidak menyadari kalau acara relaksasi di kamar mandi sedang diintip. Satria menelan salivanya ketika Alya tak memakai sehelai kain dan sedang sibuk mengusap seluruh tubuhnya dengan sponge.
Satria ikut melepas semua pakaiannya. padahal sore tadi dia sudah mandi, entah kenapa melihat Alya mendadak tubuhnya menjadi gerah kembali.
"Mas!" Alya mendesis ketika Satria tiba tiba ada diatas kepalanya dan langsung menyergap bibirnya yang dingin.
"Alya bolehkah aku ikut," bisik Satria ketika tautan bibir mereka terlepas.
Alya tak berkata sepatah kata, hanya saja tatapan dari mata indahnya mengatakan iya, dan bibirnya terus tersenyum.
Satria merebut sponge dari tangan Alya dan kini dia ikut masuk bathup dengan posisi memangku tubuh Alya.
Satria mulai membalur tubuh Alya dengan sabun, tubuh Alya dari bagian atas hingga bawah. Sesekali Satria memberi pijatan-pijatan lembut pada bagian yang disukai.
Alya mengambil satu sponge lagi dan mulai membalikkan tubuh hingga kini menghadap Satria.
Alya dan Satria saling membersihkan tubuh pasangannya. Pandangan mereka berdua semakin sayu hingga tautan bibir tak bisa terelakkan lagi.
Sesekali mereka melepaskan tautan untuk menghirup oksigen sedalam-dalamnya.
"Aku sangat rindu kamu, Mas." Alya tersenyum malu-malu.
"Aku juga. Maaf kemaren-kemaren aku sempat meragukan cintamu. Aku cemburu dengan kedekatan kamu dan mas Aditya."
" Tidak ada hubungan yang tersisa di antara kita, hubungan ku dengan Mas Aditya hanyalah masalalu, Tuhan tidak merestui aku dan dia bersatu."
"Kau jodohku, Sayang. kau ditakdirkan untuk menjadi ibu dari anak anakku." Satria kembali merangkum tubuh sang istri dalam dekapannya.
__ADS_1